Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pernikahan Mutia


__ADS_3

Wulan bingung harus bersikap bagaimana. Kenal saja baru kali ini, tapi, kenapa seperti sok akrab begitu.


"Iren, kok bisa lupa sih sama Wulan? Nama dia tuh Wulan." Ningsih mulai mencair karena dia lega setelah bertemu langsung dengan sahabatnya. Sikap sahabatnya masih sama seperti dulu.


"Tuh dia udah datang, Mam." Suara Selena membuat perhatian mereka teralihkan.


"Kalian duduk dulu ya! Nanti aku susul sebelum akad nikah Mutia." Iren mempersilakan para tamu pentingnya agar duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Mas, kenapa kamu telat banget datangnya?" Selena gemas pada seorang pria yang baru saja sampai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


"Berisik!" Pria itu malah mencubit pipi Selena.


Iren menarik lengan anaknya agar masuk ke sebuah ruangan di mana ada Wulan dan keluarganya.


"Mama apaan nih? Kenapa tanganku ditarik segala?" Pria yang baru datang tadi merasa heran dengan sikap sang Ibu.


"Mama punya kejutan untukmu. Kamu inget gak sih kalau waktu kamu SD dulu punya teman sepermainan. Dia sekarang ada di dalam sana dengan orang tuanya."


Kening pria itu berkerut, dia berusaha untuk kembali mengingat masa kecilnya. Namun, dia tidak bisa mengingatnya.


"Memangnya siapa, Mam? Kok aku gak ingat ya?" Pria itu berjalan mendekati sebuah ruangan.


"Kenalan ajah dulu, siapa tahu nanti kamu bisa ingat dia lagi." Selena, Iren dan pria itu masuk bergantian.


Keluarga Wulan memutuskan untuk sholat Maghrib berjamaah. Beruntung di sana disediakan mukenah. Wulan yang baru saja melepas mukenahnya melihat Iren dan dua orang lainnya masuk. Dengan cepat dia melipat mukena tersebut. Karena dia berdandan seadanya, cuma bedaknya saja yang luntur. Itu tidak menjadi masalah untuk Wulan.


"Kalian sudah selesai sholatnya?" Iren menyapa tamunya. Ningsih mengangguk sebagai jawaban.


"Papa mana, Mam?" Pria itu menanyakan keberadaan sang kepala keluarga.


"Sholat berjamaah di sana. Mama dan Selen kebetulan lagi dapet, jadi kami santai. Kakakmu tuh yang ribet karena sebentar lagi dia harus melakukan prosesi akad."


"Oh iya, kalian kenalan dulu dong!" Iren mendorong tubuh anaknya untuk mendekati Wulan.


Wulan menatap wajah pria yang baru saja masuk tersebut. Gadis itu mencoba untuk berpikir keras.

__ADS_1


Pria itu bersalaman dengan orang tua Wulan secara bergantian. Kini, tatapan keduanya saling beradu pandang.


"Tunggu dulu, gue kayak pernah lihat Elu. Tapi, di mana ya?" Pria itu menatap Wulan dari atas sampai ke bawah.


"Kalian pernah ketemu?" Iren tidak menyangka bahwa mereka ternyata pernah bertemu sebelumnya.


"Ah iya, Elu cewek bar-bar yang rebutan tas sama gue." Damar akhirnya mengingatnya.


"Owh, aku ingat sekarang. Jadi, kamu itu cowok angkuh dan gak punya perasaan yang ninggalin aku di minimarket setelah nuker duit." Wulan tidak mau kalah mengemukakan pendapatnya.


Iren dan kedua orang tua Wulan terperangah mendengar perkataan dari anaknya.


"Pfffftt, kayaknya cocok nih." Selena berusaha untuk menahan tawa.


"Kalian saling kenal?" Iren menatap mereka bergantian.


"Damar gak kenal, Mam. Dia ajah tuh yang sok kenal sama orang."


"Yeee, apaan. Aku juga gak kenal kamu kok. Dasar cowok angkuh."


"Kalian berdua itu teman dari kecil. Malah kami berdua berjanji untuk menjodohkan kalian ketika dewasa." Iren menambahkan.


Wulan dan Damar terbelalak, Wulan menatap sang Ibu yang masih tenang.


"Mama gak salah? Damar tuh bisa nyari cewek untuk jadi pendamping hidup. Ngapain pakai cara perjodohan segala?" Damar menolak untuk dijodohkan.


"Bu, tunggu dulu deh. Maksud Ibu tentang janji terikat seumur hidup tentang perjodohan?" Wulan meminta jawaban pada Ibunya.


Ningsih mengangguk sebagai jawaban. Damar dan Wulan bertatap muka sekilas dan langsung melengos secara bersamaan.


"Gak bisa gitu, Bu. Ini tentang rasa cinta, masa iya harus dijodohkan." Wulan tidak terima. Dia yang sudah lama menyukai leader di tempatnya bekerja merasa ini semua tidak adil.


"Siapa juga yang mau dijodohkan sama cewek bar-bar kayak Elu." Damar tidak mau kalah.


"Ma, semua sudah siap di depan. Ayo kita ke luar!" kepala keluarga datang menghentikan perdebatan Damar dan Wulan.

__ADS_1


"Lho, tamu kita sudah datang ternyata." Dia menyalami satu persatu tamunya.


"Keluarga Kelvin udah nunggu di depan. Bawaan mereka juga sudah di susun tuh." Lanjut ucapan Papa Damar.


Wulan mendekati Selena, dia berbisik pada adik Damar.


"Ayo, kita ke luar sekarang! Mutiara biar diantar sama periasnya saja." Mereka semua kecuali Wulan dan Selena berjalan menuju mimbar masjid karena di sanalah akad nikah Mutiara akan diadakan.


"Ini rompinya Kak." Selena memberikan sebuah rompi rajut pada Wulan.


"Makasih ya. Lumayan untuk nutupin lengan." Selena tersenyum tipis.


Wulan dan Selena berjalan beriringan, mereka duduk di samping keluarga masing-masing. Acara akad nikah dimulai setelah Mutiara datang menggunakan kebaya modern berwarna putih tulang. Jilbabnya begitu rapi dengan hiasan mahkota di kepala. Dia begitu anggun dan menawan sampai-sampai mempelai pria tak berkedip menatapnya yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.


Pembawa acara memulai acara akan nikah ini dengan doa dan sapaan pada kedua keluarga. Ketika acara inti dimulai, semua yang hadir sepertinya menahan napas melihat Kelvin yang berusaha untuk mengucap ijab kabul.


"Alhamdulillah, sah." Seru kedua saksi. Pak penghulu memimpin doa. Iren begitu terharu sekaligus berbahagia karena putri sulungnya sudah resmi menjadi istri orang. Keluarga Kelvin pun demikian, ada anggota keluarga baru yang akan hidup bersama mereka nantinya sebelum Kelvin siap untuk hidup berpisah dengan orang tuanya.


Malam itu menjadi momen membahagiakan bagi kedua keluarga. Setelah acara akad nikah selesai. Mereka semua memasuki kendaraan masing-masing untuk pergi ke hotel Sriwijaya yang tidak jauh dari masjid Istiqlal.


Sesampainya di ballroom hotel, semua keluarga besar beserta tamu yang mereka undang termasuk penghulu dan para saksi duduk di kursi masing-masing. Ada sekitar dua puluh meja yang berderet. Kursi yang mengelilingi sebuah meja berjumlah sepuluh. Orang tua Wulan berada satu meja dengan keluarga besar Iren.


Wulan merasa kaku dan tegang karena harus berhadapan dengan orang-orang yang tidak dia kenal.


"Ningsih, setelah ini kita bicarakan pernikahan mereka." Iren membuka percakapan setelah acara makan malam selesai.


"Maksud Mama apa nih?" Damar merasa terancam. Dia tidak mau menikah dengan seorang gadis yang tidak dicintai. Apalagi kesan pertama dengan Wulan begitu membuatnya kesal sampai kalah taruhan.


Wulan ingin bersuara, tapi, Ningsih yang mengetahui itu menepuk paha anaknya sebagai kode untuk diam.


"Pa, bilangin tuh sama Mama. Tesis Damar belum kelar, masa iya mau dijodohin." Damar kembali ngedumel.


"Wah, seru ya. Kak Mutia udah nikah, Kak Damar juga mau nikah. Tinggal aku sendiri anak Mama dan Papa di rumah, pasti seru banget." Selena bergumam seorang diri.


"Tante, kenapa Tante tidak bertanya dahulu pada saya?" Wulan sudah tidak bisa lagi menahannya.

__ADS_1


"Wulan!" Ningsih menghardik sang anak.


__ADS_2