Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Berusaha Acuh


__ADS_3

Tubuhku diam terpaku, kenapa di saat seperti ini harus ada dia di sini. Bukankah tadi Tante Iren bilang kalau makan malam ini bersamanya.


"Kenapa Elu ada di sini, gadis bar-bar? Siapa yang mengundang Elu di acara gue?" Tangannya terlipat di dada. Bola matanya menatapku nyalang.


"Aku juga gak tahu kenapa disuruh menunggu di sini." Aku bangkit dari kursi. Berusaha berjalan tertatih. Satu yang pasti, aku harus mencari keberadaan Tante Iren.


Aku ke luar dari ruangan, tangan ini meraba-raba dinding sebagai pegangan agar tubuhku tidak terjatuh saat berjalan. Ini semua karena sepatu hak tinggi yang kupakai.


"Lho, kenapa kamu ada di sini? Damar sudah masuk ke ruangan, kan? Ayo kita masuk!" Tante Iren malah datang menghampiri.


"Eum ... Wulan harus pulang, Tan. Ada kepentingan mendesak." Aku berusaha tersenyum.


"Gak bisa, pokoknya malam ini kalian harus makan malam bersama! Sudah dua bulan kalian tidak bertemu. Sekarang ini waktu yang tepat karena Damar sudah lulus Pascasarjana. Dua minggu ke depan, dia akan diwisuda. Kamu harus hadir di acara itu. Nah, sekarang ini salah satu proses mendekatkan kalian berdua." Tante Iren begitu bersemangat.


Aku, bagaimana denganku? Tak ada rasa suka bahkan cinta di hati ini. Kenapa perjodohan ini harus terjadi padaku? Kenapa? Aku membatin tak terima dengan keputusan mereka yang egois.


"Tapi ... Tan--," Aku tidak bisa menolak lagi.


Beliau sudah mendorong punggungku. Dengan wajah merengut, aku masuk kembali ditemani Tante Iren yang ada di belakang.


"Hei ... gadis bar-bar, ngapain Elu balik ke sini? Pergi sana!" Suara Damar memekakkan telinga. Aku tidak bergeming dari tempat berdiri.


Aku yakin seratus persen kalau Tante Iren mendengar suara anaknya yang mengusirku. Dengan tak sabar, beliau mendorongku agar masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang kamu bilang tadi, Hah? Siapa yang ngajarin kamu ngomong kasar sama perempuan? Katakan, siapa!" Baru kali ini aku mendengar suara teriakan Tante Iren. Dia begitu tersentak karena mendadak Ibunya ada di depan mata. Damar diam tak mampu berkutik. Sementara Tante melengos menatap anaknya, aku berusaha berdiri dengan hati-hati agar bisa bertahan memakai sepatu ini.


"Wulan, duduk sekarang! Kalian berdua harus sering bersama untuk mengakrabkan diri." Beliau membimbingku agar kembali duduk di tempat semula.


"Sorry," ucap Damar seperti terpaksa. Aku tidak tahu dia meminta maaf padaku atau pada Ibunya karena dia membuang muka padaku.

__ADS_1


"Damar, perlakukan Wulan dengan baik! Lihatlah dia, dia sudah memakai gaun terbaik, berdandan yang cantik hanya untuk acara ini."


What? Aku tertegun mendengar penjelasan beliau.


"Tante, semua ini kan ulah Tante. Tante yang memaksaku memakai gaun dan sepatu hak tinggi seperti ini." Tentu saja aku tidak terima dijadikan kambing hitam. Aku tidak mau harga diri sebagai perempuan yang tidak pernah mengejar pria tercoreng begitu saja.


"Hehehe, iyain saja kenapa sih, Sayang." Beliau malah menyengir kuda, menampakkan deretan gigi putihnya.


"Damar, Wulan, Mama tinggal ya, Nak. Mama kasih waktu dua jam barulah kalian boleh pergi dari sini." Wanita paru baya itu melambaikan tangannya. Kakinya melangkah menuju pintu ruangan.


"Jadi, semua ini ulah Mami gue?" Damar terkekeh geli.


"Kalau bukan Tante Iren, siapa lagi coba," jawabku malas.


"Gue pikir inisatif Elu sendiri yang beginian. Soalnya gak cocok banget sama modelan perempuan bar-bar kayak Elu." Dia mengejek penampilanku.


"Apa Kamu bilang? Sudah aku katakan kalau aku tuh tidak bar-bar." Aku membela diri. Enak saja dia selalu menyebutku dengan panggilan begitu. Tentu saja aku tidak terima.


"Kamu--," ucapanku terhenti karena ada ketukan pintu dari luar. Padahal, kulihat pintunya terbuka.


"Masuk!" seru pria di depanku ini.


Ada seorang wanita memakai seragam hotel ini. Dia mendorong troli yang tertutup. Meletakkan minuman dan beberapa menu makanan di atas meja.


"Selamat menikmati," ucapnya sambil berjalan mundur. Setelah mengucapkan terima kasih, pintu dia tutup.


Aku berusaha mengacuhkan keberadaan Damar. Melihat tampangnya yang seperti orang jutek itu membuatku malas. Jadi, aku harus menganggap pria di depanku ini tidak ada. Seperti makhluk tak kasat mata.


Tanpa basa-basi, aku memakan makanan yang tersaji di depanku. Lumayan, menu kali ini ada steak dan beberapa menu lainnya ala Prancis dan Italia.

__ADS_1


Lumayanlah ya, bisa makan enak dan gratis. Walaupun ditemani cowok modelan begini. Seandainya makan bersama Mas Riki.


Aku menyuapi mulut dengan perlahan. Bukannya sok jaim atau apa. Di tempat seperti ini, etika table manner amatlah penting. Walaupun aku bukan orang kaya, tapi, ketika menghadapi makanan harus tetap slay dan santun.


Aku menikmatinya, berusaha mengunyah seanggun mungkin. Kapan lagi mempraktekkan etika makan seperti ini. Di coffe shop kami harus makan cepat-cepat karena harus berpacu dengan waktu. Apalagi ketika weekend, rasanya hampir tidak sempat menikmati makan siang ataupun malam.


Kulirik Damar sekilas, dia duduk dengan tegap. Mengiris potongan daging steak dan menyuapi mulutnya. Kami berdua terlalu sibuk dengan makanan. Aku sengaja berlama-lama agar tidak memiliki waktu untuk berbicara dengannya.


"Uhukkk ... uhukkk!" Oh tidak, aku tersedak karena mulut ini penuh dengan kentang goreng.


"Bar-bar sih gaya makannya, makanya keselek." Dia masih makan dengan tenang. Sementara aku meraih gelas yang berisi air putih.


Fiuhhh, lega rasanya, batinku merasa lega.


Kami berdua ternyata sudah menghabiskan semua makanan tanpa sisa. Aku terbelalak melihat isi piring yang sudah ludes. Sebenarnya yang memakan ini semua aku atau dia, ya? Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Kebiasaan ini selalu aku lakukan kalau memikirkan sesuatu hal yang meragukan.


"Perasaan tadi aku memakan makanan yang ada di depan mata. Pasti bukan aku yang memakannya," lirihku sambil mengamati meja makan.


"Elu yang ngabisin, laper ya? Badan begini makannya kek kebo." Damar kembali mengoceh.


"Gak lah, bukan aku lho. Aku yakin kalau kamu yang memakannya." Aku tidak mau kalah. Dituduh menghabiskan makanan di atas meja, tentu saja aku tidak terima.


Kami berdua beradu mulut tak mau kalah. Mendadak ada kepala yang menyembul dari balik meja. Aku dan Damar sampai terlonjak dari tempat duduk. Aku terkejut dengan kehadirannya yang tiba-tiba. Keseimbanganku tidak maksimal, sepatu hak tinggi yang kugunakan membuatku oleng dan hampir terjatuh.


Beruntung saja Damar menangkap tubuhku. Gerakannya spontanitas. Gerakan kami berdua begitu cepat, tak sengaja kami berpelukan. Kepala yang menyembul tadi menampakkan wujudnya.


"Ngapain kamu di sini? Gangguin orang ajah!" bentaknya pada seseorang di depan sana.


"Dih, pelukan nih." Dia malah menggoda kami.

__ADS_1


"Ini semua karena Elu, ogeb banget jadi orang." Damar melepaskan tubuhku dari dekapannya. Dia menunjuk wajah yang kami kenal.


__ADS_2