
Mama berkacak pinggang, kelopak mata beliau menyipit menatapku. Memberikan kode dengan tatapan mata.
"Damar, Wulan, kalian berdua pergi secara terpisah, kan?" Entahlah, itu sebuah pertanyaan atau bahkan pernyataan beliau yang masih ragu.
"Gak usah dibahas, Mam! Toh dia juga udah ada di sini." Baru saja kaki ini melangkah sejengkal saja. Lenganku dicengkeram kuat oleh beliau.
"Damar, sejak kapan kami mengajari kamu untuk kurang ajar begini? Gandeng Wulan sekarang! Pokoknya, kalian berdua Mama hukum. Kalian tidak boleh berpisah selama acara berlangsung, mau ke toilet juga harus berdua, yang satunya bisa menunggu di luar toilet." titah beliau dengan hidung bergerak kembang kempis.
Mampus, Mama udah murka kalau begini. Ini semua gara-gara perempuan bar-bar itu. Sebelah tangan terkepal berusaha menahan emosi.
"Tante, kenapa kami harus bergandengan tangan segala?" Suara gadis itu terdengar. Aku malas melihat ke arahnya.
"Turutin perintah Mama atau Mama kasih hukuman yang lebih buruk dari ini!"
Tangan sebelah kananku ditarik, perempuan itu pun didorong oleh Mama. Kami kini berdekatan, tanganku diarahkan Mama untuk menggandeng lengannya. Kami berdua dipaksa untuk bergandengan tangan. Tapi, aku tidak tahu kalau perempuan yang bernama Wulan itu bisa saja girang di dalam hatinya. Secara, tampangku ini selalu menjadi pusat perhatian orang-orang sekitar. Ketika mengajar di kampus pun, banyak mahasiswi yang mengejar.
"Awas aja Elu ya, gue tekankan ke Elu. Jangan pernah jatuh cinta sama gue, camkan itu!" Aku berbisik tepat di daun telinganya. Kulihat mulutnya ingin berbicara tapi dia mengurungkannya.
"Nah, begini dong. Sekarang juga, kalian duduk bersebelahan di meja keluarga! Para tamu sudah mulai datang."
Mama pergi meninggalkan kami begitu saja. Aku melepaskan gandengan tangan. Menepis tangannya kasar.
"Damar!" Mama memekik dari jauh.
"Astaga, gak malu apa teriak begitu. Mana para tamu udah muka masuk." Dengan kesal aku meraih tangan perempuan ini dan menggandengnya lagi.
"Bisa alergi nih, tangan aku." Dia berjalan tanpa mengindahkan gandengan kami yang harus menempel karena hukuman dari Mama.
"Gue kali yang alergi."
"Kak Wulan! Ayo sini!" Selena malah memanggilnya bukan memanggilku yang jelas-jelas saudara kandungnya.
"Woi, jangan tarik tangan gue!" Aku tidak bisa mengimbangi langkah perempuan ini. Padahal dia menggunakan sepatu hak tinggi.
"Cieee, gandengan nih tangannya. Asik dong, pamer kemesraan. Kalah mesra nih Kak Mutia sama Bang Kelvin." Selena menggoda kami setelah melihat kami berdua yang menempel seperti ini.
__ADS_1
"Berisik amat nih bocah. Gue gampar Elu ya!" Sejak tadi aku berusaha meredam emosi.
"Eitsss, santai dong Mas! Senewen amat sih. Padahal Kak Wulan tuh anteng ajah lho. Santai ajah ngapa, nikmati momen begini." Lagi-lagi dia menggoda.
"Cerewet."
"Hai kalian!" sapa seorang wanita paru baya bersama pria seumuran. Pasti mereka relasi bisnis Papa.
"Om Di, Tante Yuni." Selena bersalaman dengan mereka dan memeluk keduanya bergantian. Aku dan Wulan hanya mampu menatap.
"Damar, kamu lupa sama kami ya?" Tante yang dipanggil dengan nama Yuni itu menatapku dan Wulan bergantian.
"Mas Damar memang agak pikun, Tan. Biasa, baru dapat pacar. Makanya suka lupa sama orang lama."
"Selena!" Mata ini melebar, menatapnya dengan penuh ancaman. Memangnya siapa mereka? Lagipula malas amat harus berurusan dengan relasi bisnis Papa.
Aku melepaskan gandengan sebentar untuk bersalaman dengan mereka. Begitupun Wulan, Selena mengenalkan Perempuan itu pada mereka berdua. Kami berbincang—tepatnya Selena dan mereka berdua, sambil melangkah ke arah meja makan.
Acara resepsi pernikahan Kak Mutiara sudah dimulai. Kami duduk di kursi masing-masing. Tamu undangan juga terlihat menduduki kursi yang mengitari meja yang sudah tersedia. Kira-kira ada seribu tamu yang hadir dari kedua belah pihak.
Seandainya aku bisa membantah hukuman Mama. Sejak tadi, aku pasti pergi dari ruangan ini. Susunan acara demi acara pernikahan sudah selesai, hanya kurang penutupan saja. Sejak tadi, aku tidak sempat membuka hape. Barangkali saja ada pesan masuk atau panggilan dari teman-teman.
Mama menatapku dari seberang meja, aku acuh pada tatapan beliau. Mana mungkin ketika kami duduk begini masih bergandengan. Jadi, aku santai saja dengan tatapan tajam Mama. Tangan ini merogoh saku blazer, mengeluarkan benda pipih yang sejak tadi aku acuhkan.
Perhatianku kini teralihkan pada layar hape. Ada pesan masuk yang membuatku begitu bahagia. Bulan depan, aku sudah bisa sidang tesis. Ternyata, perjuanganku selama ini tidak sia-sia. Menentukan judul, menyelesaikan proposal, mencari referensi. Waktuku selama beberapa bulan terakhir memang terkuras habis untuk ini.
"Kenapa senyum-senyum sendiri? Kayak orang gila saja." Suara perempuan di sebelahku, mengejek.
"Bukan urusan Elu, jangan sok mau tahu tentang apa yang gue lakukan, MENGERTI!" Aku memberikan nada penekanan agar dia sadar diri dengan posisinya saat ini.
"Tenang saja, aku gak kepo kok. Cuma, kalau kamu memang beneran gila, biar aku bisa hubungi rumah sakit jiwa agar membawamu ke sana." Si4lan nih perempuan, bisa-bisanya dari mulutnya keluar kalimat seperti itu.
"Kamu, awas saja kamu ya!"
"Ma, Mas Damar nih!" Selena tiba-tiba saja muncul di tengah-tengah kami.
__ADS_1
"Elu ngagetin ajah!"
Aku malas meladeni kelakuan bocah itu. Perhatianku kini tertuju pada layar hape lagi. Melihat jam digital yang ada di layar.
Sudah jam satu siang ternyata. Kapan sih acaranya kelar? Perasaan udah mulai dari jam sepuluh kurang.
Satu jam berlalu, akhirnya acara ini selesai juga. Dua keluarga besar tidak boleh pulang terlebih dahulu. Kami harus menginap di hotel ini dan melaksanakan makan malam bersama nanti malam.
Orang tua perempuan itu mendekati kursi kami.
"Nak Damar, kami pergi beristirahat dulu ya." Aku mengacuhkannya.
Mau istirahat ajah malah ngasih tahu orang. Gak penting amat. Sama ajah mereka bertiga, orang-orang yang merepotkan.
Akhirnya aku terbebas dari perempuan itu. Aku harus beristirahat di kamar hotel. Kudekati Mama untuk meminta akses kartu masuk. Sebaiknya aku tidur sebentar sebelum menelpon teman-teman satu tongkrongan.
"Mam, mana kartunya?" Tangan ini menengadah.
"Kartu apa?" Beliau malah bertanya balik.
"Kartu akses kamar hotel. Masa iya kartu kredit Papa." Aku tidak sabar karena mata ini sudah agak panas rasanya.
"Owh, itu. Kamu minta ajah ke Selena!"
"Dahlah, biar Damar telpon dia ajah." Aku menghubungi nomor ponsel Selena.
Dia menyuruhku agar ke lantai lima, di mana kamarku dan kamarnya bersebelahan. Nomor kamarnya masih dia rahasiakan.
Setibanya di lantai lima, aku menghubungi dia kembali.
"Masuk saja ke nomor 503, Mas! Pintunya gak dikunci kok." Panggilan telepon terputus begitu saja. Kaki ini melangkah cepat karena sudah tidak sabar mengambil akses kartu kamar.
"Mana kartu kamar gue?" Tanpa basa-basi aku masuk tanpa permisi. Tapi, yang ada di sana bukan Selena.
"ARRRGGGGGHHH." Teriakannya begitu kencang.
__ADS_1
Aku terpaku di tempat, tak bergeming sedikitpun melihat pemandangan yang ada di depan mata.