
"Ngapain kamu di sini? Mau ke mana sebenarnya?"
"Owh, saya mau mengambil alat pel, Pak. Maaf permisi." Lebih baik aku menghindarinya. Aku segera membuka pintu tanpa mendengar perkataan yang ada di dalam kamar mandi. Tanpa basa-basi, aku lekas membersihkan cairan desinfektan yang tercecer. Meletakkan alat pel kembali setelah membersihkannya.
Jam sudah menunjukkan angka delapan, saatnya coffe shop ini buka sebelum gedung perkantoran terisi penuh oleh karyawan mereka. Biasanya yang datang di pagi hari kebanyakan pekerja kantoran di kawasan ini. Kami sibuk dengan pekerjaan masing-masing hingga jam istirahat tiba. Rekan kerjaku yang masuk shift siang sudah datang, mereka menggantikan posisi kami agar kami bisa beristirahat sejenak untuk makan siang dan mengumpulkan tenaga.
Aku makan di warteg langganan seorang diri. Mereka selalu saja beralasan tidak mau makan di tempat ini karena sepi pelanggan, tapi, aku menjadi pelanggan tetap di sini. Pemiliknya begitu ramah, harganya murah dan rasanya enak. Hanya saja tempat ini memang lebih kecil dari lainnya.
Seperti biasa, aku makan dengan lahap. Ada yang duduk di sebelahku, setelah menoleh, bola mata ini terbelalak. Mulutku berhenti mengunyah, sepersekian detik pandangan kami bertemu.
"Mas Riki," Aku menatapnya tak percaya.
"Ditelen dulu itu makanannya! Sampai muncrat gini, kan." Dia meraup wajahnya. Aku tidak sengaja menyembur wajahnya itu. Saking syok dengan adanya dia di sini. Aku menelan makananku kemudian minum untuk menormalkan kembali detak jantung.
"Mas Riki ngapain di sini? Bukannya selalu saja makan siang bersama mereka?" tanyaku tak percaya.
Dia tampak sibuk memilih lauk pauk, tak menggubris pertanyaan yang kulontarkan. Dia mulai menyendok makanan ke mulutnya, melirikku yang kini memperhatikannya.
"Kamu gak lanjut makan?" Dia malah bertanya balik.
"Makan saja dulu! Nanti saja ngobrolnya!" Aku melanjutkan makan siangku.
Sepuluh menit berlalu, kami berdua sudah selesai dengan makanan kami. Ada beberapa orang masuk ke warteg ini. Syukurlah ada lagi pelanggan yang datang. Warteg ini tidak sesepi kemarin. Aku tidak bisa berbuat banyak, hanya mampu membeli sesuai kebutuhan. Orang tuaku juga membutuhkan uang yang kupunya. Jadi, aku hanya bisa membeli tanpa membayar lebih dari harga jual. Meliha warteg ini didatangi pelanggan lain, membuatku bahagia.
Aku beralih menatap mas Riki. Tatapan kami beradu beberapa detik, tatapannya yang begitu lekat membuatku salah tingkah.
"Wulan, katakan apa hubungan kamu dengan Bos kita!" Aku menelan ludah dengan berat, dia begitu ceplas-ceplos. Tanpa basa-basi dia langsung menodongku dengan pertanyaan itu.
"Eum," Aku bingung harus menjawab apa padanya.
__ADS_1
Haruskah aku jujur? Bukankah Mas Riki mengaku kalau dia sudah punya pacar. Buktinya, waktu itu kita pernah ketemu di salah satu pusat perbelanjaan.
"Katakan saja! Aku tidak akan pernah menghakimi kamu karena berhubungan dengan Bos pemilik coffe shop."
Deg, jantung ini memacu lebih cepat. Isi kepala segera menangkap maksud ucapannya itu.
"Maksud Mas Riki apa? Menghakimi yang bagaimana?"
"Jangan banyak beralasan, kamu dan Bos Damar memiliki hubungan khusus. Misalnya, hubungan ranjang." Aku tidak menyangka bahwa dia berpikir terlalu jauh. Tega dia menudingku melakukan hal diluar batas dengan seorang pria.
"Jangan sembarangan kamu, Mas!" Nada suara meninggi. Tanganku mengepal, menahan emosi diri. Ingin rasanya aku memaki pria di samping ini.
"Kenapa dia bisa tahu kost-an kamu? Satu lagi, dia memberikan dua kantong tas belanjaan yang berlabel merek luar negeri yang harganya mahal. Jujur saja padaku!" Aku sontak berdiri, menampar pipi kirinya dengan keras. Sepertinya, menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi pun, dia tidak akan pernah mengerti.
"Wulan!" pekiknya tak terima. Aku tidak peduli kalau kami menjadi perhatian utama di tempat kecil ini.
Rasanya begitu perih, pedih tak terkira. Pria yang aku sukai menuduhku mempunyai hubungan khusus dengan laki-laki lain. Hatiku seperti tercabik-cabik mendengarnya. Aku dilanda kepedihan, belum pernah rasanya aku sesakit ini. Hal berharga yang selama ini aku perjuangkan selama di ibu kota ternyata dipandang sebelah mata ketika ada pria lain masuk ke dalam kehidupanku.
"Wulan, kamu kenapa?" Ada suara seorang perempuan. Aku tidak ingin mendongakkan kepala ini. Bisa-bisa mereka tahu kalau aku menangis di sudut pelataran parkir ini.
"Aku gak apa-apa!" jawabku berusaha mengendalikan nada suara.
"Wulan," panggilan itu tidak aku gubris. Aku tetap memeluk lutut tanpa menatap siapa yang tengah memanggil.
Air mataku seakan sudah tidak mampu menetes lagi. Aku mengusap sisa-sisa air mata dengan telapak tangan. Aku mendongak, tak ada siapa-siapa di sini kecuali aku. Kucoba menenangkan diri sejenak, sebelum masuk ke coffe shop.
Aku harus mencuci muka di kamar mandi, merapikan rambut yang agak berantakan. Beruntunglah ada topi yang menjadi penutup wajahku yang mungkin saja kali ini agak beda karena selesai menangis.
Aku menunduk saat masuk, tak mau ditatap dengan penuh pertanyaan. Tanpa tahu ada seseorang, aku menabrak dada bidang di depanku. Keningku menyentuh benda keras. Sontak aku menunduk lebih dalam, meminta maaf padanya tanpa tahu dia itu siapa. Aku menebak kalau dia itu pasti salah satu dari pelanggan.
__ADS_1
"Maaf ... maafkan saya, Pak." Setelah mengucapkannya, aku berlalu pergi. Kaki ini melangkah cepat ke arah kamar mandi. Ingin rasanya aku mengguyur wajah dengan air dingin.
Aku mencuci muka sebelum kembali bekerja. Tak peduli aku telat atau tidak, itu urusan nanti. Segera kaki ini melangkah ke ruang loker. Mengambil topiku yang sejak istirahat tadi aku letakkan di sana. Setelah rambut sudah tertutup. Aku ke luar dari ruang loker.
Bruaaakk
"Awww," Aku memekik tertahan. Badanku terasa tak bisa seimbang, aku membentur dinding ruangan loker. Bahuku begitu nyeri karena benturan yang keras.
"Maaf, aku tidak sengaja." Suara itu, suara yang aku kenal.
"Wulan ... ke-kenapa dengan itu? Wajahmu bengkak." Dia mengulurkan tangannya, mencoba meraih pipi kiri.
"Apa-apaan ini? Lepaskan!" Aku menepis tangannya dengan kasar.
"Ini di tempat kerja, berani sekali kamu menepis tanganku dengan kasar." Dia mendekati aku.
"Aku enggak peduli." Emosiku mulai membuncah.
Mendadak dia merapatkan tubuhnya padaku, aku disudutkan di tembok. Dia mengungkungku agar tak mampu bergerak.
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!"
"Diam atau aku--," Dia tidak melanjutkan ucapannya.
"Atau apa? Katakan saja! Tidak usah ditahan apa yang mau kamu ucapkan." Dadaku naik turun melihat tatapan matanya yang begitu tajam.
"Jawab aku, kenapa wajah ini bengkak?" Lagi, dia memberikan pertanyaan.
"Bukan urusanmu!" Aku mendorong tubuhnya agar menjauh.
__ADS_1