
"Kalian pergi saja dari sini!" Nenek malah mengusir kami.
"Mbah, kenapa? Mbah tidak senang kalau kami datang ke mari? Wulan baru tahu tentang kalian beberapa bulan terakhir, karena itu baru sekarang Wulan mencari kalian." Aku berjalan mendekati Mbah.
"Jadi, selama ini orang tuamu tidak memberitahu tentang kami?" Tangan wanita tua ini mengepal erat. Kepala menggeleng cepat.
"Kalian pergi dari sini! Kalau mau kamu datang ke pesta pernikahan kalian, bawa orang tuamu ke sini!" Si Mbah bangkit dari tempat duduk, mendorong tubuhku dengan tangan keriputnya kemudian berlalu pergi meninggalkan kami. Tak lupa juga beliau mendorong kursi roda Mbah Mustofa.
"Om, kenapa Mbah marah? Wulan tidak tahu apa-apa tentang ini," protesku.
"Orang tuamu yang salah, Lan. Om sudah tidak bisa membujuk Mbah Surti lagi, kalian berdua turuti saja kemauannya."
"Om, akad dan resepsi pernikahan kami sebentar lagi. Kalian harus datang, dan satu lagi yang ingin kami ketahui. Om tahu tentang orang tua Bapak? Wulan juga ingin melihat kondisi mereka." Aku mendekati Om Rohman.
Pria ini menghela napas panjang. Tatapannya begitu sulit diartikan.
"Om, cepat katakan saja di mana alamat rumahnya! Kami akan ke sana sekarang juga." Damar mendesak pria itu.
"Seharusnya kalian menikah saja tanpa mencari keberadaan kami. Orang tua kalian ternyata semudah itu melupakan kami." Om Rohman beranjak dari tempat duduk, tapi aku menarik lengannya agar pria ini mau memberitahu tentang alamat kakek nenek dari Bapak.
"Om, Wulan mohon! Setelah kami berdua tahu alamat kalian, kami akan mencari cara untuk menyatukan silaturahmi antar keluarga yang sudah lama terpisah." Tekadku semakin kuat. Aku tidak mau keluarga besar kami terpecah belah. Aku ingin tahu memiliki berapa sepupu, ingin tahu Om dan Tante yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku ingin mereka berkumpul kembali seperti dulu.
"Wulan, Om harus beristirahat. Kalian pulang saja!" Om Rohman malah mengusir.
__ADS_1
"Om, kami sudah jauh-jauh dari Jakarta ke sini, Om acuh begitu saja?" Kali ini Damar kembali berbicara.
"Kalian berdua mirip sekali dengan mereka. Sama-sama keras kepala dan tidak mau mendengar omongan orang lain. Kamu pantas jadi menantu Purnomo, watak kalian sama." Om Rohman menghampiri bufet yang ada di samping kami, tangannya terulur memegang sesuatu, pria itu tengah menuliskan sesuatu kemudian berjalan mendekati kami.
"Pergilah! Jangan pernah kembali lagi! Sebaiknya lakukan saja acara itu tanpa kedatangan kami." Beliau memberikan secarik kertas yang terlipat. Tangan kananku meraihnya.
"Om, makasih. Tapi, Wulan ingin memeluk Mbah Surti dan Mbah Mustofa sebelum kembali ke Jakarta." Aku mendesak masuk ke kamar tapi dihalangi oleh Om Rohman.
"Pulanglah! Bawa orang tuamu ke sini kalau ingin kami hadir." Om Rohman meninggalkan kami begitu saja. Ingin rasanya aku menangis, tapi tak bisa. Apakah yang aku lakukan di sini sia-sia belaka karena mereka tidak mau menghadiri acara pernikahan kami?
"Sayang, kita kembali ke hotel saja! Sudah hampir jam sembilan nih, Selena bisa curiga kalau kita terlambat pulang." Damar membimbingku. Kami berdua benar-benar melangkah pergi dari rumah ini. Berjalan di tengah halaman kemudian ke luar dari pagar bambu.
"Ini kertas yang Om berikan tadi." Kusodorkan secarik kertas itu padanya.
Aku mengangguk lemah.
"Kita pergi ke sana sekarang juga! Kita harus secara menyelesaikan misi ini." Damar merogoh hape di dalam tas pinggang yang dia pakai. Kulihat layar hape, dia sibuk menggulir layar. Ternyata dia memesan taksi online.
"Gak jauh alamatnya, Yang. Gak sampe sepuluh menit." Kami menunggu kedatangan taksi tepat di depan gerbang rumah kakek nenek. Tak lama ada kendaraan yang berhenti. Ternyata kendaraan ini adalah taksi pesanan kami.
Kami berdua masuk tanpa ba-bi-bu lagi. Malam ini pikiranku kacau, aku harus bisa membujuk Ibu dan Bapak agar mereka mau kembali ke kampung halamannya.
Senggolan Damar membuatku tersentak dari lamunan. Kami tiba di depan rumah yang paling besar di antara yang lainnya.
__ADS_1
"Yang, rumah Kakekmu kali ini paling besar diantara yang lain." Damar melihat sekeliling.
"Sepertinya kamu bukan orang miskin. Lihat saja kehidupan kedua kakek nenekmu." Damar masih menatap rumah di depan sana. Di halamannya ada dua mobil dan tiga angkot. Bukannya mereka menjadi rentenir di kampung ini? Mungkin saja mereka pindah haluan.
"Masuk saja, yuk!" ajakku tanpa keraguan.
Ternyata kali ini berjalan mulus, orang tua Bapak malah menyambutku dengan penuh sukacita. Mereka memelukku erat, tangisan bahagia hinggap diantara kami. Alhamdulillah kedua kakek nenekku masih hidup, walau Mbah Mustofa mengalami stroke, setidaknya beliau masih bisa melihat kami.
Malam ini kami harus kembali ke hotel, mereka malah menyuruh kami menginap, tapi, aku tidak boleh menginap untuk sementara waktu karena Selena. Akhirnya kami berdua pamit kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, tak terasa sudah hampir tengah malam. Aku dan Damar masuk ke kamar masing-masing setelah menemui Selena dan berbincang dengannya. Selena menginterogasi kamu layaknya seorang polisi menanyakan tersangka. Dia pikir kami berdua pergi untuk melakukan ritual suami istri, padahal bukan itu kenyataannya. Dia cukup punya nyali bertanya hal seperti itu pada Abangnya.
Aku menatap langit-langit kamar hotel. Setelah beberapa menit kemudian, karena mengantuk aku pun tak sanggup lagi menahannya. Mata ini terpejam dan tertidur pulas.
***
Keesokan harinya kami berdua menceritakan apa yang terjadi pada Selena. Awalnya dia marah, merasa ditipu. Tapi, Abangnya memberikan alasan yang tepat untuk itu hingga akhirnya dia mengerti dan berangsur-angsur membaik.
Kami bertiga mengunjungi rumah dua kakek nenekku sebelum sore ini pulang ke Jakarta. Hal yang tidak disangka-sangka, ternyata orang tua Bapak ada di rumah orang tua Ibu. Mereka berenam berbicara dengan suara agak keras sampai-sampai kami yang masih berada di ambang pintu, mendengar apa yang mereka perdebatkan.
Mbah Surti masih keras kepala, aku pun berusaha untuk membujuk lagi. Lama kelamaan akhirnya beliau luluh juga. Aku tidak menyangka kedatanganku ke kampung ini bisa mendamaikan dua keluarga yang sudah lama tidak menyapa. Kali ini, usaha mencari keberadaan kakek nenek berhasil. Rasanya bahagia sekali karena mereka sudah berbaikan dan saling melengkapi.
Kami bertiga terpaksa pulang sore hari karena desakan mereka agar kami lebih lama di kampung ini. Siang ini kami berkeliling bersama menaiki mobil milik keluarga Bapak.
Kami dibawa mengunjungi rumah saudara kandung Bapak. Aku tidak sabar bertemu dengan sepupu sendiri. Aku merasa memiliki keluarga yang lengkap. Ternyata mereka berada tak jauh dari kampung ini. Rumah mereka hanya berbeda kecamatan saja.
__ADS_1
"Mas, coba lihat di sana!" pekikan Selena membuat kami yang ada di dalam mobil melihat ke arah telunjuknya.