
POV Wulan
Dia bersikap kasar seperti ini, kesabaranku sudah habis karena tingkahnya yang keterlaluan. Seharusnya dia acuhkan saja kalau perempuan itu mengganggu, bukan malah di dorong sampai terjatuh. Mendengar teriakanku, dia terdiam dengan tampang yang terperangah.
"Wulan, kamu." Dia menarikku menjauh dari sana.
Aku menoleh pada Adit dan Laura. Mereka berdua menghampiri meja dan duduk di kursi yang tersedia.
"Aku harus bekerja! Lepasin gak?" Dia ini tidak punya rasa malu atau apa? Kenapa selalu saja membuat drama di tempat usahanya sendiri? Seharusnya tempat ini dikelola kak Mutia saja agar aman sentosa seperti coffee shop yang lama.
"Udah gak mau minta maaf, malah narik-narik lengan orang segala." Kutepis tangannya kasar.
"Damar, kalau gini terus aku pindah ajah ke tempat yang lama. Biar aku ngekost lagi di sana." Aku tidak main-main dengan apa yang kuucapkan. Aku ingin mencari ketenangan, bukan seperti ini setiap harinya. Adaaa, saja kelakuan Damar yang membuatku geleng-geleng kepala.
"Aku pusing, Lan. Jangan nambah lagi beban pikiranku. Kerjaanku numpuk. Kamu bisa gak? Dukung aku dengan memberikan semangat." Kami berdua berhenti melangkah di lorong sempit antara ruang kerjanya dan loker.
"Aku juga capek kalau harus terus-terusan begini." Kami berdua masih berdebat.
"Kalian berdua diam!" Kami berdua menatap ke asal suara. Mata ini melebar melihat sosok yang berdiri sambil berkacak pinggang.
"Mami."
"Kenapa? Kaget ada Mami di sini? Riki menelpon Mami, dia bilang kondisi di sini tidak kondusif. Jadi, Mami harus turun tangan. Mutia gak mungkin Mami suruh karena dia tengah mengandung." Sorot Mata Tante Iren membuatku terintimidasi.
Sorot mata itu lebih menakutkan daripada milik Damar. Kepala refleks menunduk dalam.
"Kalian berdua! Ikut Mami ke depan! Kita selesaikan ini mumpung masih ada orangnya." Dengan sekali tunjuk, kami mengekori langkah Wanita paru baya itu.
Aku menyikut pinggang Damar, dia balas menyikutku. Kami berdua berdiri di belakang punggung Mami. Di sana ada Laura dan Aditya. Mami memperkenalkan dirinya.
Wajah Aditya dan Laura terperangah mendengar setiap perkataan yang ke luar dari mulut Tante Iren. Wanita ini sangat pintar mencairkan suasana.
"Wulan, Damar, duduk!" titahnya menunjuk kursi.
Kami berdua duduk tanpa berucap sepatah kata pun.
"Minta maaf sama Laura, Mar! Minta maaf sama Aditya juga!" Ucapan Tante Iren seperti menelan harga diri anaknya sendiri. Kulihat Damar mengepal erat, rahangnya mengetat.
Lenganku menyikut pinggangnya karena sejak tadi masih diam.
__ADS_1
"Heum, gue minta maaf," tak ada keihklasan dari nada suaranya. Yang terdengar malah seperti orang yang jengkel.
Tante Iren bisa mengurus masalah anak-anak muda. Damar pasti beruntung sekali memiliki Ibu seperti beliau. Walau pun masih saja ada kekurangannya karena suka memaksa, hahaha.
Kami berlima mengobrol sebentar, aku masih bisa melihat raut wajah Damar yang menekuk. Dia memang tipikal orang yang malas untuk mengobrol dengan orang yang tidak disukai. Dulu saja di awal perkenalan, mulutnya itu diam seperti terkunci rapat. Dia betah berlama-lama tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tapi, kalau sudah mengenalnya lebih jauh, pria dingin dan cuek tak berlaku lagi disematkan untuknya.
Laura pulang karena hari ada panggilan telepon dari orang tuanya, sementara Adit kembali bergabung dengan teman-temannya tadi. Aku, Damar dan Tante Iren masih duduk mengutarakan meja ini.
"Ingat, ini terakhir kalinya ada drama di tempat ini! Lain kali Mami gak mau ngurusin urusan anak muda seperti kalian." Wanita ini memperingatkan kami.
"Ini lagi satu, udah tahu Damar orangnya cemburuan masih saja berbicara panjang lebar dengan cowok lain." Tante Iren menatapku lekat.
"Sekedar ngobrol, Tan. Say hai ajah, gak lebih." Aku membela diri.
"Damar juga tuh mau-mau ajah dipeluk temen. Katanya temen sekolah tapi sampai pelukan segala." Aku mengeluarkan uneg-uneg.
"Mau meluk kamu tapi kamunya bandel." Damar menimpali.
"Udah, stop kalian berdua! Kalau sudah jodoh memang begini. Perasaan kalian mulai kuat akhir-akhir ini, kapan nih pernikahannya berlangsung." Aku menelan ludah dengan berat mendengar pertanyaan konyol dari mulut beliau.
"Secepatnya, Mam. Sebulan lagi juga gak masalah." Dengan entengnya dia berucap demikian tanpa mau berbincang dulu denganku.
"Ehem, Wulan rasa nanti-nanti ajah, Tante. Ada hal penting yang harus Wulan lakukan." Aku berusaha memberikan kode pada Damar. Mengingatkan kembali janji yang harus dia tepati. Kusikut pinggangnya dengan keras. Dia mengaduh dan membalasku.
"Aku ingat, seminggu lagi aku akan mencarinya." Dia berbalas berbisik.
"Kalian berdua ngobrolin apa? Mami di sini berasa tak kasat mata, tak terlihat." Ibu Damar mendengus sebal.
"Sorry, Mam. Ini tentang pekerjaan." Damar yang menjawab.
"Mami pulang sekarang, sebaiknya kamu ikut Mami pulang, Mar! Biarkan Wulan bekerja dengan tenang! Kamu gak usah ngerecokin Wulan lagi!" Dia berdiri menarik kerah baju anaknya.
"Mam, malu kalau harus begini." Damar berusaha menahan amarah.
"Ups, sorry honey. Mami selalu lupa kalau kamu sekarang sudah dewasa." Wanita yang melahirkan Damar mengelus kepala anaknya. Sementara yang dielus menekuk wajahnya tak suka.
"Tapi, Mam, Wulan pulangnya gimana? Damar harus nganterin dia pulang." Dia mencari alasan agar bisa tetap di sini.
"Mami sudah berpesan pada Riki dan Lena, biar salah satu dari mereka yang mengantar Wulan."
__ADS_1
"Bye, Sayang. Maaf ya kami harus pulang duluan." Aku menyalami tangan Tante Iren. Mereka berdua berjalan menjauh dan pergi dari tempat ini.
"Lega juga rasanya," ujarku mengembuskan napas.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan, hingga akhirnya satu jam sebelum tutup, Aditya menghampiriku yang mengelap meja kosong di sebelah mejanya.
"Wulan, kamu yakin mau menikah dengan Damar yang labil itu? Emosinya susah terkontrol, kamu harus bisa bertahan hidup dengannya, bisa jadi kamu menderita ketika sudah menikah nanti." Tanpa basa-basi lebih dulu, pria ini berucap demikian. Namanya juga menjalani kehidupan rumah tangga, tidak akan pernah semulus jalan tol.
"Aku yakin dia bisa berubah seiring waktu. Beberapa minggu ini dia bisa mengontrol nafsu belanjanya." Akut tersenyum pada Adit.
"Owh begitu."
"Ngomong-ngomong, jangan sampai lupa ke tempat fitness aku! Sayang kalau kartu membernya dianggurin," lanjutnya lagi.
"Oek, siap. Tenang saja, kalau aku libur, aku pasti ke sana." Senyum ini merekah.
Dengan Bapak dan Ibu tentunya. Bisa gawat kalau ke sana seorang diri.
Adit dipanggil karena harus pergi dari tempat ini, mereka berempat berjalan pergi menjauh. Semua karyawan mulai beres-beres kemudian bersiap pulang. Ada seorang pria mendekat, kalau bukan Riki, siapa lagi. Dia yang akan mengantarku ke apartemen.
"Ayo kita pulang, Lan?" ajaknya.
Kami berboncengan sepeda motor, tak sampai sepuluh menit, akhirnya aku tiba di depan sebuah gedung bertingkat yang menjulang.
"Mas Riki harus berhati-hati, bisa-bisa kena marah Damar besok karena sudah menghubungi Tante Iren." Tanganku menyodorkan helem yang melekat di kepala tadi.
"Sudah resiko, tapi, aku harus bisa bertahan. Ini semua demi pekerjaan, aku dapat duit karena menjadi mata-mata Bu Bos." Riki tersenyum kecut.
"Mata-mata? Mas Riki sama Tante Iren bekerja sama?" Dia mengangguk singkat.
"Kamu lupa tentang pertemuan kita di salah satu pusat perbelanjaan beberapa bulan yang lalu?" Pertanyaannya membuatku mengingat sesuatu.
"Kapan ya?" tanyaku sambil mengingat.
"Waktu kamu membeli gaun di sebuah butik yang ada di sana. Waktu itu aku tengah menunggu pacarku membeli gaun, kamu gak ingat?" Mas Riki menjelaskan sedikit.
"Ah, acara makan malam bersama sebelum Damar di wisuda." Akhirnya ingat juga.
"Memangnya apa yang membuat Mas Riki mau bekerja sama dengan Tante Iren?" Aku penasaran sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka berdua.
__ADS_1
"Selain uang, ada yang harus aku lakukan untuk mendapatkan keuntungan lainnya." Pria ini tersenyum tipis namun penuh arti.
Mereka berdua mencurigakan, apa mungkin keduanya membuat perjanjian karena skandal yang harus ditutupi? Oh tidak, pikiranku sudah berserabut entah ke mana.