Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Dua Keluarga Berkumpul


__ADS_3

Ibu melipat kedua tangannya di dada. Baru kali ini ibu tampak tak ramah pada Damar.


"Ibu, kami ngomongin masalah-"


"Masalah pernikahan, Bu. Wulan nih maunya pake gaun seksi, jelas ajah Damar marah," sela Damar.


Aku melotot padanya, bisa-bisanya dia berbohong seperti ini. Padahal tadi kita membicarakan tentang gym, sebaiknya aku tidak memperpanjang tentang gym tadi, biar aku pergi tanpa sepengetahuannya.


"Wulan, apa yang dikatakan Damar benar? Gak boleh pake gaun seksi, banyak tamu undangan yang datang. Kalau kamu mau memakainya, pas sesi foto saja untuk kenangan." Ibu memarahiku.


"Hem, iya Bu," sahutku singkat. Tangan ini mencubit pantat Damar dari belakang, rasakan itu. Dia yang berbohong, aku yang kena semprot. Damar malah mempererat pelukannya di depan Ibu. Aku berusaha menjauh, malu dilihat Ibu, tapi, dia malah sengaja memamerkan kemesraan.


"Kalian berdua sudah gak sabar ya? Dari tadi berduaan mulu sampai lupa waktunya makan siang. Ayo masuk! Ibu ke sini untuk manggil kalian." Beliau menarikku agar bangkit dari tempat duduk. Aku menggandeng lengan Ibu kemudian mendorong tubuhnya dengan tangan satunya. Aku tertawa tanpa suara, mengejeknya. Dia berucap tanpa bersuara, 'awas aja nanti' katanya disertai bibirnya yang bergerak seperti ingin mencium.


"Bogem mau?" Ups, aku keceplosan.


"Lan, kamu ngomong sama siapa?"


"Eh, enggak kok, Bu. Ayo makan siang! Wulan udah laper banget nih." Kami bergegas menuju ke arah meja makan.


Kami, dua keluarga makan dengan santai sambil mengobrol. Tak lama, ada keluarga Bang Kelvin. Kami semua pindah tempat ke ruang tengah. Seperti biasa, sepupu dan saudara kandung Bang Kelvin melihatku seperti melihat kotoran yang harus dimusnahkan tanpa ampun.


"Tante Iren, kenapa mau sih nikahin Damar dengan dia! Gak banget lho, Tante." Saudara kandung Bang Kelvin menatapku jijik. Dia duduk tepat di samping Tante Iren, sebenarnya suaranya pelan, tapi karena aku duduk di sebelahnya, aku bisa mendengar apa yang dia ucapkan walau samar. Dia melengos ketika tatapan kami beradu. Kalau tidak salah ingat, namanya Vina.

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengan Wulan dan keluarganya? Kamu tidak usah banyak omong! Kamu tidak tahu apa-apa tentang keluarga sahabatku itu." Tante Iren mulai emosi karena ucapan Vina.


"Tante, kok kasar gitu sama Kak Vina?" Sepupu Bang Kelvin tak terima, namanya Anya, seingatku begitu.


"Kalian berdua bisa diam tidak? Ini rumah Mutia, jangan sembarangan ngomong." Bang Kelvin yang sejak tadi diam mulai bersuara. Kami semua terdiam, apalagi orang tuaku, mereka pasti tidak mendengar apa yang diucapkan oleh saudara bang Kelvin, tempat duduk mereka agak jauh dari kami.


"Kita pulang saja yuk, Kak! Males ada di sini, Bang Kelvin sama ajah sama mereka, norak, deketnya sama orang kampung." Mereka berdua pergi meninggalkan ruang tamu ini begitu saja.


Bang Kelvin menghela napasnya, dia meminta maaf padaku dan Tante Iren atas kelakuan Anya dan Vina. Damar sejak tadi menggeram, menggeretakkan gigi, namun aku berusaha untuk menenangkan emosinya. Dia duduk tepat di sampingku, jadi, dia pasti mendengar perkataan mereka berdua.


Suasana yang mulai canggung kembali dicairkan oleh kak Mutiara. Calon kakak iparku yang satu ini memang terlihat sempurna di mataku, perutnya mulai membesar, wajahnya berseri-seri, penampilannya anggun dan elegan, sifatnya begitu penyayang. Bang Kelvin beruntung sekali memilikinya. Pasti dia bahagia karena beberapa bulan lagi anak pertamanya akan lahir.


"Lan, Wulan! Kamu melamun?" Tangan melambai-lambai di depan wajahku.


"Lan, besok pagi jangan lupa ke butik! Kita beli atau sewa tergantung kamu mau memakai apa. Mami dan Mutiara yang nganterin." Tante Iren menatapku lekat.


"Wulan ikut saja, Tan." Aku tersenyum kaku karena terpergok melamun.


"Tante lagi, Tante lagi. Kapan sih mau manggil Maminya?" Tante Iren melengos.


"Ningsih, anakmu nih bagaimana? Tante terus manggilnya." Tante Iren menatap Ibu, protes pada beliau.


"Wulan, dibiasakan manggil Mami mulai sekarang, Nak!" Ibu mah pasti menuruti kemauan sahabatnya.

__ADS_1


"Iya, Bu. Pelan-pelan nanti Wulan panggil Mami." Aku menghela napas sejenak.


Om Purnomo sepertinya sibuk, sejak tadi tak ada suara yang terdengar. Kelopak mata beliau tertuju pada layar hape. Pembahasan kali ini acak, aku tidak tahu harus menjawab apa setiap pertanyaan yang mereka tanyakan, jujur saja, lebih baik aku tidur daripada harus membahas kehidupan pribadiku sebelum berada di Jakarta. Kenangan masa kecil yang sampai sekarang tidak bisa aku ingat, kembali muncul karena percakapan Ibu dan Tante Iren. Bapak menatapku yang tengah gelisah, gelisah karena kembali teringat kenangan yang terlupakan. Ingin rasanya mengingat kembali kejadian yang telah lalu, apalagi waktu itu kenangan bersama Damar.


"Mas, kita pergi saja dari sini! Sudah sore lho." Bosan mulai menghinggapi.


"Kita pamit pada mereka, kita pergi beli es krim, mau gak?" Dia menawarkan aku.


"Mau, aku juga lagi pengen makan eskrim." Kelopak mata ini melebar, senang mendengarnya.


Aku dan Damar pamit, kemudian pergi ke salah satu pusat perbelanjaan. Di sana, kami masuk ke sebuah outlet eskrim yang baru buka. Aku pikir dia membelikan aku eskrim yang ada di toko-toko, ternyata dia malah membawaku ke sini. Aku syok melihat harganya yang diatas seratus ribu. Damar yang memilih rasa eskrim, kami mengobrol seperti pasangan yang lainnya sambil menyuapi eskrim ke dalam mulut.


***


Keesokan paginya, kami—para Srikandi dalam dua keluarga, pergi ke butik untuk mencoba baju pengantin. Kali ini aku harus menuruti kemauan mereka, dua kebaya, satu gaun muslimah, satu gaun terbuka ala western dan satu baju khas adat Jawa. Lima pakaian itu akan aku kenakan untuk acara akad dan resepsi kecuali untuk gaun western, hanya untuk sesi foto prewedding saja. Setelah selesai memilah dan memilih, rasanya lemas, tenagaku terkuras apalagi mendengar ocehan tiga orang perempuan berbeda umur itu. Kupingku rasanya benar-benar panas.


Kami berempat pergi ke sebuah restoran yang dekat dengan butik tadi. Aku tidak berbicara apa pun, menyantap hidangan ini dengan santai dan tenang. Rasanya enak, ingin nambah lagi tapi malu, hahaha.


Setelah satu jam di restoran, akhirnya mereka bertiga memutuskan untuk pulang saja karena hari sudah beranjak menjelang sore. Baru saja pantatku bergerak cepat meninggalkan kursi, ada seseorang yang menyapaku dan Ibu.


Dia ini, selalu saja datang di saat yang tidak tepat. Tante Iren sama Kak Mutia sampai menatapku lekat.


"Bu Ningsih, Wulan, kalian sudah mau pulang?" tanyanya basa-basi. Aku berpandangan dengan Ibu, kucoba untuk menghela napas sejenak.

__ADS_1


"Dia siapa, Ning? Kok tahu namamu?" Tante Iren menatap Ibuku.


__ADS_2