
Kedua orang tua kami melihat kami bergantian. Mereka menggeleng kepala beberapa kali.
"Kalian berdua tidak berhak menolaknya! Coba kalian ingat lagi masa kecil kalian yang dulu sering bermain bersama, bahkan pernah hilang bersama juga. Kalian itu sudah ditakdirkan berjodoh sejak dalam kandungan." Tante Iren begitu keukeh.
"Tapi, Mam. Semua rencana Damar bisa berantakan karena perjodohan ini."
"Diam kalian!" suara Om Purnomo melengking.
Kami semua terkejut karenanya, aku menjauh dari tubuh Tante Iren.
"Kalian berdua harus bertunangan dahulu sebelum menikah! Papa memberikan waktu bertunangan selama enam bulan agar kalian semakin dekat dan kembali mengingat masa kecil dulu. Pokoknya, ini adalah keputusan terakhir dari kami. Benar, kan Mam? Bu Iren dan Pak Ramli?"
Orang tuaku hanya mengangguk saja. Sementara Tante Iren begitu berbinar-binar.
"Bijak sekali pendapat Papa. Mama setuju banget kalau begini. Biarkan mereka dekat setelah pertunangan. Toh tesis Damar kurang lebih tiga bulan udah beres." Senyum sumringah begitu kentara sekali.
Bagaimana dengan perasaanku? Kenapa kalian malah acuh tentang perasaan ini? Ingin rasanya aku berteriak lantang. Tapi, aku hanya mampu berkata dalam hati saja.
"Kita akhiri tentang perjodohan ini sampai di sini! Dua bulan kemudian, kita akan kembali membicarakan pertunangan Damar dan Wulan."
"Asikkkkk, ada pesta lagi." Selena yang sejak tadi memperhatikan drama dua keluarga berteriak kencang. Sontak kami semua melirik ke arahnya.
"Duh, nih anak ngeselin banget." Damar menjitak kepala adiknya.
"Mas, sakit tau. Paan sih sampe jitak kepala segala." Selena mengusap kepalanya.
"Budu, Elu norak." Damar meninggalkan ruangan ini.
"Sel, panggilin Mbok Inem ya! Calon keluarga kita harus beristirahat."
"Beres, Mam." Gadis itu pamit pada kami sebelum melangkah pergi. Setidaknya dia menghargai keberadaan orang tuaku, bukan seperti Damar yang acuh.
"Kalian nanti ikuti Mbok Inem ke kamar tamu. Besok, aku akan memberikan baju kalian semua."
Aku dan Ibu tak percaya dengan ucapan wanita paru baya tersebut.
"Maksud Tante apa?" Aku harus memastikan.
__ADS_1
"Kalian dapat seragam keluarga. Kami sudah menyiapkan segalanya. Besok pagi biar Bi Inem saja yang membawa ke kamar kalian."
"Selamat beristirahat, kalian tidak perlu berpikir macam-macam!" Tante Iren dan suaminya pamit pada kami untuk beristirahat.
Selena berjalan bersama seorang wanita yang lebih tua dari Ibuku.
"Mbok Inem, anterin tamu kita ya! Calon besan Mama dan Papa nih." Selena kemudian pamit pada kami.
Kami diantar ke sebuah kamar tidur yang begitu besar.
Setelah itu beliau pergi dan kembali lagi dengan membawa nampan berisi makanan ringan dan minuman. Wanita itu pamit pada kami setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Kamar tamunya saja besar begini." Bapak mengusap spring bed yang belum pernah beliau lihat sebelumnya.
"Bapak dan Ibu ganti baju dulu nih! Tadi si Mbok bawa ini juga." Aku memberikan sebuah kantong kertas pada mereka.
"Wah, ada kamar mandinya juga, Pak." Ibuku membuka pintu kamar mandi. Mereka berdua tidak merespon ucapanku.
"Hadeuh, kelamaan hidup di kampung. Jadi begini deh." Entahlah, perkataan barusan itu menghina mereka atau sebagai rasa kasihan. Tanpa banyak bicara, aku merebahkan diri di atas ranjang yang ukurannya besar. Kami bertiga pasti muat tidur di ranjang empuk besar seperti ini.
Orang tuaku ternyata sudah selesai berganti baju dan mencuci wajahnya. Mereka berbaring di ranjang yang sama, Ibu tidur di tengah. Sementara aku membelakangi keduanya sambil memeluk guling.
"Lan, kamu belum tidur kan?" tanya Ibu. Tentu saja aku tidak menjawabnya. Aku harus berpura-pura tidur sampai akhirnya mata ini terpejam begitu saja.
***
Tubuhku diguncang, kelopak mata ini susah sekali untuk terbuka. Dengan berat, aku mencoba memicingkan mata.
"Bangun, Lan! Kita telat bangun shubuh nih." Suara Ibu terdengar serak.
Aku mengucek mata berulang kali, badan ini berbaring setengah duduk. Kulihat Ibu dan Bapak berjalan ke arah kamar mandi.
"Kalian sih telat tidurnya, jadi kesiangan deh." Aku lupa menyalakan hape. Kemarin, sengaja aku menonaktifkan hape agar tidak ada gangguan dari siapapun.
Rasanya malas sekali untuk beranjak dari tempat tidur. Ada suara ketukan pintu terdengar, dengan penampilan baru bangun tidur, aku berjalan ke arah pintu. Memutar kenop pintu dan membukanya.
"Maaf mengganggu, Non. Ini baju keluarga pengantinnya. Silakan mandi dan gang bajunya, dandannya kalau sudah tiba di hotel. Begitu pesan dari Nyonya." Mbok Inem menyodorkan tiga paket pakaian yang digantung dengan rapi.
__ADS_1
"Makasih ya, Mbok. Kita ke luar dari sini mungkin sepuluh menitan." Aku berusaha untuk tersenyum.
"Sarapannya sudah siap ya, Non. Langsung ke ruang makan saja sebelum berangkat ke hotel. Biar gak oleng ketika di dandani nantinya." Senyum beliau menampakkan keriput yang semakin kentara.
Aku hanya mengangguk saja. Beliau pergi untuk melanjutkan pekerjaan.
"Cepetan mandi, Lan! Kami sudah siap nih."
"Ngarang udah siap, tuh bajunya yang harus dipakai. Semoga saja muat." Wajah ini menampakkan raut masam. Aku merajuk pada mereka, merasa dikhianati karena mereka tidak membantah perjodohan ini.
"Lan, sejak kapan kamu bersikap begini? Kamu sudah bosan dengan kami?" Ibu mengambil gantungan baju yang sesuai ukurannya.
"Maaf, Bu. Wulan cuma kesel ajah karena dijodohin."
"Seharusnya kamu senang karena sebentar lagi kamu tidak perlu bekerja di coffe shop itu." Lagi-lagi Bapak mengungkap hal itu.
"Wulan mau mandi dulu, keburu telat nantinya." Aku menghentakkan langkah untuk menunjukkan kekesalan.
"Pantas saja Iren nanya ukuran baju kita sebelum kita ke Jakarta, Pak. Ternyata dia membuat seragam keluarga pengantin untuk kita." Aku mendengar sayup-sayup suara Ibu. Segera kututup pintu kamar mandi. Kebaya modern yang sesuai dengan ukuranku digantung di tempat yang aman.
Tak butuh waktu lama untukku. Sepuluh menit saja aku sudah mandi dan berganti dengan memakai kebaya ini. Kami sarapan bersama dengan menu roti sandwich dan susu hangat. Ibu dan Bapak yang tidak terbiasa dengan menu seperti ini saling menatap. Aku menyenggol lengan Ibu agar segera makan. Setelah sarapan, kami langsung masuk ke mobil untuk berangkat ke hotel Sriwijaya.
"Tunggu dulu! Wulan, kamu ikut Mama sebentar!" Tante Iren menarik paksa lengan ini.
"Mau ke mana, Tante?"
"Panggil Mama dong!" Pertanyaan dariku tidak beliau gubris.
Aku yang kewalahan karena memakai sepatu hak tinggi tidak bisa mengimbangi langkah wanita ini
"Kamu harus naik mobil ini!" Beliau membuka pintu depan untukku.
"Mobil siapa ini, Tan? Kenapa Wulan harus naik mobil ini?" Tante Iren menutup pintu setelah berhasil memaksaku naik.
"Dah, kamu tunggu di sini saja! Tante tinggal ya!" Beliau meninggalkan aku seorang diri.
"Duh, siapa nih sopirnya? Kenapa aku naik mobil ini sendirian?" Aku berusaha menenangkan diri.
__ADS_1