Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Acuh Pada Keluarga Wulan


__ADS_3

"Anjayyy, Damar ... ngapain Elu di sini?" Senyumnya merekah.


"Gue yang seharusnya nanya sama Elu, Elu ngapain lihat-lihat kamar apartemen orang? Apartemen ini kan udah gue se-," hampir saja aku membocorkan informasi pada dia.


"Udah Elu apa? Elu mau pindah ke tempat ini?" Kedua alisnya bertaut.


"Gue kenal penyewa unit apartemen ini. Masa iya pihak gedung memberikan kuncinya tanpa didampingi." Dia menatapku heran.


"Elu sendiri ngapain di sini? Mau beli apartemen atau mau nyewa?"


"Owh, gue cuma lihat-lihat saja, Mar. Mana tahu ada yang cocok sesuai selera gue interiornya." Dia menyengir lebar.


"Gue pikir Elu beli satu unit di sini." Dia menggeleng cepat.


"Elu dapat dari mana tuh kunci?"


"Gue cuma minjem bentar doang, katanya sih udah laku dan dibayar. Pas gue mau ke luar, Elu malah main masuk ajah."


"Sorry, gue penasaran karena pintunya setengah terbuka. Jadi, ya gue intip sebentar lama-lama malah rasa penasaran gue semakin tinggi."


"Ya udah, gue mau cabut nih, mau cari tempat lain."


"Oh iya silakan!" Dia malah menyuruhku ke luar.


"Woi, peak ... gimana ceritanya nih? Elu yang ke luar! Gue mau kunci ini tempat."


"Hehehe, sorry, saking nyamannya jadi betah di sini." Dia melangkah pergi.


Aku ke luar, mengunci pintu unit ini kembali. Kulihat Dimas yang masih menunggu, dia bersandar pada dinding.


"Gue duluan, mau balikin kunci ini." Aku tidak peduli padanya. Rasa letih membuatku malas mengobrol.


"Wait, Damar, tunggu dulu!"


"Kenapa, Mas?"


"Elu beneran gak jadi mau lihat unit lain?"


"Gak lah, males gue. Udah capek banget, gue cabut ya." Dimas mengangguk. Aku pergi meninggalkannya seorang diri. Tak ada orang lain di koridor apartemen selain kita berdua.


Aku turun, berpura-pura mengobrol dengan orang pemeliharaan gedung. Siapa tahu Dimas mengintip, dia kan temanku yang selalu saja ingin tahu tentang apa yang temannya lakukan. Aku melirik sekilas ke sekeliling, tak ada batang hidungnya. Syukurlah dia tidak kepo padaku.

__ADS_1


"Hampir saja gue ketahuan kalau sudah sewa satu unit di sini. Bisa-bisa dia ikutan sewa juga." Aku bernapas lega.


Kaki ini segera masuk ke dalam mobil, mengendarai kendaraan dan berusaha untuk tetap fokus walau pun letih menguasai diri. Beberapa menit berselang, pintu pagar sudah terlihat, pagarnya terbuka, kendaraan ini pun masuk begitu saja.


Aku bergegas turun dari mobil, melangkah ke dalam rumah. Tak ada siapa pun yang terlihat.


"Eheum, waalaikum salam," ucapnya sambil melipat kedua tangannya di dada.


"Tadi bingung mau ngasih salam apa enggak, gak ada orang di sini, Mam." Sebenarnya malas saja berdebat dengan Mami. Tanpa menghiraukan keberadaannya, aku bergegas naik ke lantai dua. Baru saja kaki menapak di anak tangga paling bawah, ada suara terdengar.


"Damar!" Aku berdecak pelan agar wanita yang melahirkan aku itu tidak marah.


"Ndalem, kanjeng ratu." Sengaja aku menempelkan kedua telapak tangan, kepala menunduk seperti seorang pelayan yang menghadapi ratu kerajaan.


"Sini kamu! Mami mau ngobrol malah main nyelonong ajah." Kali ini tangan Mami berkacak pinggang.


"Memangnya mau ngobrol apaan, Mam? Damar capek banget nih," keluhku jujur.


"Nanti bisa minta pijat sama calon mertua kamu kalau kecapean, dia pintar mijet."


"Alah, males banget. Cepetan apa yang mau Mami sampaikan?" Aku tidak sabar menghadapi wanita yang satu ini.


"Sana ke kamar tamu! Orang tua Wulan udah dateng tuh!"


"Awas ajah kalau nanti malam gak nyapa mereka! Uang bulanan potong 100 persen, makan tuh gaji asdos!"


"Terserah Mam." Aku bergegas menapaki anak tangga dengan cepat.


"Dasar tuh anak, punya anak laki satu-satunya, kelakuannya malah gak sopan," gerutu Mami yang masih tertangkap telinga.


"Salah sendiri, siapa suruh pake dijodohin segala." Sebelah sudut bibir terangkat naik.


Aku masuk ke kamar, melakukan aktivitas sore menjelang malam. Setelah sholat isya, barulah kami berkumpul di meja makan. Lirikan Mami membuatku tak nyaman, terpaksa aku menyalami tangan orang tua Wulan. Kami makan bersama dengan tiga orang asing, siapa lagi kalau bukan Wulan dan keluarganya.


Setengah jam berlalu, aku meninggalkan meja makan tanpa sepatah kata pun. Rasa letih masih melanda, besok harus kembali ke kampus untuk mengajar lagi.


***


Pagi harinya, tanpa basa-basi, aku segera berangkat ke kampus setelah sarapan. lima hari ini jadwal pekerjaan begitu padat. Mana ada acara tidak penting itu di hari minggu, niatnya mau rebahan seharian tapi tidak bisa.


Kini, aku sudah tiba di kampus. Aku meraih tas kerja, melangkah cepat menuju kelas fakultas ekonomi.

__ADS_1


"Damar!" Tak kuhiraukan panggilan itu karena sekarang sudah mepet waktu masuk kelas.


"Damar! Elu gitu amat, cuek banget semenjak punya pacar." Lusi menyamakan langkah.


"Pacar? Siapa yang punya pacar?" Kami berdua mengobrol sambil melangkah di koridor kampus.


"Cewek yang datang bareng Elu waktu wisuda."


"Oh, sepupu gue itu. Mereka semua salah paham." Aku terkekeh, terpaksa berbohong.


"Yakin? Mesra banget gitu kok, sampe ciuman kening segala." Dia masih saja menggali informasi.


"Elu ngapain ke kampus? Mau lanjut jadi profesor?" Aku mengalihkan pembicaraan.


"Kagak, mau ambil berkas penting. Mau ketemu sama dosen juga."


"Oh, gitu. Ya udah, gue masuk dulu ke kelas. Biar kalau ada yang telat, gua hukum mereka."


"Galak amat jadi asisten dosen, apalagi nanti kalau udah jadi dosen."


"Bawel." Kami berdua tidak searah lagi. Aku masuk ke kelas, melihat siapa yang masuk, yang telat dan absen.


Dua jam kemudian, mereka ke luar dari tempat ini. Lega rasanya karena bisa santai sejenak sebelum ada kelas lagi.


"Pak Damar, dipanggil Dekan, ke ruangan beliau sekarang!" Mahasiswa yang aku kenal memanggilku ketika aku duduk di kursi sambil bersandar.


"Dekan? Yakin gue dipanggil Dekan? Ngapain ya?"


"Iya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu." Dia pergi meninggalkan aku seorang diri di dalam kelas.


"Ngapain Pak Triono manggil ya?" Sambil melangkah, kepala ini berpikir keras.


Setibanya di ruang dekan, aku mengetuk daun pintu yang terbuka. Beliau menatapku dengan kacamata yang selalu menempel di hidung. Tatapannya aneh, seaneh orangnya. Aku merasakan hawa ancaman di sekeliling ruangan ini.


"Damar, kenapa melamun? Sini duduk!" titahnya menunjuk kursi di seberang mejanya.


"Iya, Pak." Aku menuruti perintahnya. Aku duduk di depan beliau, kami duduk dipisahkan oleh meja.


"Sudah berapa lama kamu menjadi asdos di universitas ini?" Tanpa basa-basi pria paru baya ini menatapku lekat.


Masa Bapak Tri lupa gue jadi asdos berapa lama, nih orang tua udah pikun apa ya?

__ADS_1


"Damar, jawab!" Tangannya menepuk meja dengan keras sampai aku terlonjak dari tempat duduk.


__ADS_2