Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Kedatangan Ibu dan Bapak


__ADS_3

"Wulan!" panggilnya sumringah.


"Kamu tahu darimana kost-an aku?"


"Gue nanya ke temen Elu yang di coffe shop."


"Hah, apa? Kapan? Coffe shop kan belum buka?"


"Gue nanya pas salah satu dari temen Elu hendak masuk untuk bersiap-siap." Dia menyengir lebar.


"Gue tungguin Elu di apartemen, tapi gak ada tanda-tanda Elu ada di dalamnya."


"Dimas, aku masih beberes barang-barang yang ada di sini. Mungkin, hari ini belum tidur di sana, biasa, ngumpul sama keluarga saudara ortu, bisa jadi besok atau lusa." Aku hanya menebak segala kemungkinan yang terjadi agar dia tidak menunggu.


"Gue bantuin ya, biar cepet ngepaknya." Dia menawarkan diri.


Aku menolaknya, bukan karena tidak mau, tapi, ada Tante Iren di sana. Mereka berdua pasti kenal karena Dimas sahabat Damar, bisa-bisa perjodohan ini terbongkar.


"Kenapa gak mau? Kan biar cepet."


"Ada Ibu dan Bapak juga di dalam, gak enak sama mereka."


"Gak apa-apa, kan biar gue kenalan sama mereka. Siapa tahu bisa sekalian izin mau deketin anaknya."


"Dimas, apaan sih."


"Wulan, kamu ketemu siapa Sayang?" Suara Tante Iren yang terdengar membuatku tersentak.


Aku menarik lengan Dimas dan berjalan cepat meninggalkan pagar kost.


"Lan, kita mau ke mana?" Aku acuh padanya, pandanganku sesekali menatap ke arah bangunan itu, semoga saja Tante Iren tidak tahu kalau Dimas yang menemuiku. Aku membawanya ke gang sempit yang hanya bisa dilalui oleh kendaraan roda dua.


"Lan, kenapa kita pindah ke sini?"


"Maaf ya, aku gak boleh lama-lama mengobrol. Kerjaanku masih banyak." Aku melepaskan genggaman tangan.


"Dimas, aku harus kembali." Dia malah semakin menggenggam erat tangan ini dan tak mau dilepas.


"Gue izinin Elu pergi, tapi ada syaratnya."


"Dih, gak mau. Pake izin segala, siapa kamu?" Aku mendengus kesal.


"Gue? Gue itu calon pacar Elu, gimana?" Dia tersenyum lebar sambil mengerling sebelah mata.


"Dimas, lepasin!" Aku menggigit tangannya.


"Wulan, jangan di sini kalau mau gigit! Di sini nih!" Dia mengelus punggung tangan bekas gigitanku sambil menunjuk lehernya.


"Dahlah, aku gak mau banyak omong lagi. Aku harus pergi." Setengah berlari aku menuju kost-an.


Sesampainya di bangunan dua lantai itu, Tante Iren menunggu di pos jaga.

__ADS_1


"Tante, kenapa menunggu Wulan di sini?"


"Tante penasaran siapa yang menemuimu tadi, mana dia?"


"Gak ada Tan, ayo kita ke kamar!" Kami berjalan beriringan.


"Kamu ketemu siapa tadi?" Ternyata, Ibu Damar ini masih penasaran.


"Salah orang, Tan. Bukan ketemu Wulan, tapi gadis lain yang kebetulan nama belakangnya sama."


"Oh ... tapi kok lama?"


"Tadi Wulan membantu temen nyari kuncinya yang ilang. Kasian, Tan sendirian lihat-lihat jalanan."


"Owh, begitu. Mami pikir kamu itu punya pacar, makanya menolak dijodohkan."


"Wulan gak punya pacar, Tan. Tapi, walau begitu, Wulan gak mau dijodohkan karena belum siap ajah berumah tangga."


Kami masuk kembali ke kamar.


"Alah, gak usah dipikirin! Nanti juga ngerti lama-lama kalau sudah suami istri."


"Tapi, Tan-,"


"Udah deh, buruan beres-beres lagi! Kita langsung ke apartemen setelah ini." Aku diam tak menanggapi, hanya memasukkan pakaian lebih cepat ke dalam koper.


Akhirnya selesai juga setelah beberapa puluh menit berlalu.


Deg


Astaga, kenapa aku lupa kalau Pak Dadang ada di parkiran tadi. Duh, ketahuan gak ya? Semoga ajah gak deh.


Jantungku berpacu lebih cepat, bibir bawah kugigit berulang kali.


"Mana ini Pak Dadang? Kok gak dijawab?" Tante Iren kesal karena tak kunjung ada respon dari sang sopir.


"Biar Wulan ajah yang panggilin, Tan." Aku meninggalkan kamar ini, bergegas ke tempat parkir yang tersedia.


"Pak, Pak Dadang!" Kuketuk jendela mobil. Aku lega melihat pria tua itu yang menganga di dalam sana. Beliau tidur begitu pulas, syukurlah beliau tidak tahu tentang Dimas yang menemuiku.


"Pak!" Aku berusaha membangunkan beliau.


"Susah amat dibangunin." Aku berkacak pinggang, sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.


Aku tidak menyerah agar pria tua ini bangun. Akhirnya sopir keluarga Damar terbangun juga. Dia terkejut melihatku yang masih mengetuk kaca jendela. Kaca jendela turun, beliau mengucek mata kemudian menyapaku.


"Pak Dadang, dipanggil Tante Iren!"


"Beneran, Non?" Aku mengangguk. Pria tua itu tergopoh membuka pintu. Tanpa diperintah lagi, beliau berjalan ke kost-an. Aku mengekori langkahnya.


"Non, di mana, Nyonya?"

__ADS_1


"Di kamarku, Pak."


"Oh iya, Wulan lupa kalau Bapak belum tahu di mana kamarku." Aku berjalan di depannya sebagai penunjuk arah.


"Di sini, Pak."


Pak Dadang segera masuk, melakukan perintah Tante Iren setelah diomeli karena tidak menjawab panggilan telepon. Kami berdua menutup pintu kamar, menguncinya kemudian kembali ke tempat parkir mobil. Kami masuk ke dalam kendaraan, sebelum meninggalkan pagar, aku turun untuk menitipkan kunci pada Pak penjaga gedung ini.


Kendaraan ini melaju ke apartemen yang sudah disewa. Pak Dadang mengikuti kami sampai di depan unit apartemen sambil menggeret koper.


"Taruh ajah dulu di kamarmu! Kita ke butik dulu setelah ini."


"Butik?" Aku menautkan alis.


"Iya, fitting kebaya untuk pertunangan kalian. Acaranya lima hari lagi, Mami udah sewa gedung."


"Apa? Kenapa sampai sewa gedung segala, Tan? Apa gak berlebihan? Kenapa gak dihadiri dua keluarga besar saja?" Aku gelisah karena harus melakukan acara pertunangan ini.


"Kamu gak berhak mengatur Mami! Ini acara Damar juga, orang tuamu menyerahkan semuanya pada Mami. Jangan protes!" Aku lemas tak berdaya, semoga saja Damar tidak mengundang sahabatnya.


"Mam, karyawan coffe shop ada yang diundang gak?" Rasa penasaran begitu tinggi.


"Gak mungkin ngundang mereka, mereka mah kerja saja yang bener. Paling nanti Mami ambilkan catering buat mereka makan bareng di sana."


"Syukurlah," ucapku lega.


"Maksudmu?"


"Eh, enggak, Mam. Gak apa-apa. Wulan udah naruh barang-barang di kamar, ini bawa pakaian ganti aja buat tidur nanti malam."


"Oke, ayo berangkat ke butik!" Pundakku lemas seperti tak bertenaga.


Kami pergi ke butik, di tengah perjalanan ada telepon dari mereka. Rasanya malas mau menjawab panggilan itu. Hari mulai beranjak siang, perut sebenarnya sudah tidak sabar untuk diisi. Tapi, aku berusaha untuk mengendalikannya. Masih jam sebelas dan aku sudah lapar, benar-benar merepotkan ini perut.


"Angkat, Sayang! Siapa itu?"


"Biasa, Tan. Ibu dan Bapak."


"Angkat, jangan dibiarkan gitu! Dari tadi nelpon lho."


"Iya, Tan." Aku terpaksa menjawab panggilan itu.


"Eum, iya Bu."


"Lan, kamu di mana sekarang?" Suara Ibu bergetar hebat.


"Memangnya ada apa, Bu?" Nada suaranya tak seperti biasa.


"Lan, taksi yang kami tumpangi-," Ibu tidak melanjutkan ucapannya.


"Iya, Bu. Kenapa? Ibu di mana?" Aku mulai panik.

__ADS_1


__ADS_2