
Tanganku berhasil menjambak rambutnya.
"Argh, sakit ogeb." Sontak saja bekapan itu terlepas. Aku berbalik arah, menatapnya kemudian memukul dada bidangnya berulang kali.
"Kamu tuh ya, ngagetin orang ajah. Aku takut banget tadi." Aku lega karena dia adalah Damar.
"Shutttt! Diam! Ada Zayn yang menunggu di depan mobil gue. Gue males ladenin orang itu, pasti ujung-ujungnya berantem."
"Owh, ternyata kamu bisa juga mengalah."
"Elu belum tahu kalau gue marah tuh kayak apa. Bisa-bisa dia diangkut ke rumah sakit, dibawa ambulans." Damar melipat kedua tangannya di dada.
"Terus, sekarang kita ngapain? Masa iya nunggu di sini?" gerutuku.
"Eum ... gimana ya. Aha, coba Elu ajah deh yang usir dia. Atau kita pura-pura ajah gak lihat."
"Bodo amat deh, aku udah mau pulang. Ayo kita ke mobil ajah!" Aku meninggalkan Damar di belakang. Buat apa menunggu di sini, lebih baik bicara langsung saja dengan orangnya. Syukurlah pria itu mengekori langkahku.
Aku mencari keberadaan mobil Damar, seingatku tadi terletak di parkiran B5. Benar apa kata Damar, dia duduk di body mobil bagian depan.
"Hei, Elu belum pulang ya? Gue pikir Elu balik duluan." Pria yang kuketahui bernama Zayn itu melihat di balik punggungku.
"Nah, ini Damar. Sengaja gue tungguin kalian di sini." Kali ini tangannya berkacak pinggang. Senyumannya seakan mengejek Damar.
"Kami mau pulang. Sebaiknya Elu juga pulang, udah malam ini." Dengan tenang Damar menghadapi pria itu.
"Gue mau ngobrol tentang Lusi. Elu jangan berkelit!"
Dia menghampiri Damar, mereka saling berhadapan.
"Kalian berdua jangan seperti anak kecil! Ayo kita pulang, Mar!" Aku menarik lengan Damar tapi Zayn malah mendorong tubuhku dengan keras. Beruntung Damar berhasil menangkap tubuhku.
"Heh, Elu jangan kasar sama cewek ya! Elu cowok apa b4nci?" Tatapan Damar mulai tak biasa. Rahangnya mengeras, tangan kirinya mengepal sampai uratnya bertonjolan. Damar mendorong tubuhku agar berada di belakang punggungnya.
Bilangnya kasar sama cewek, dia juga sama kayak si Zayn. Sama-sama kasar.
"Alah, cewek itu cuma pelampiasan sebentar doang. Ngapain Elu jagain? Lusi ajah gak Elu jagain sampe segitunya." Zayn mengejek.
__ADS_1
"Bacot Elu tuh dijaga! Udah gue bilang kalau gue gak punya hubungan spesial dengan Lusi. Dia itu temen karena kelas gue sama dia selalu sama. Masa iya Elu gak paham dengan penjelasan gue."
"Itu cuma kedok kalian saja. Kalian berdua sama ajah, sama-sama vangke, busuk banget baunya."
"Hentikan! Damar, ayo kita pulang!" Aku tak tahan lagi mendengar perdebatan mereka. Sudah kayak cewek berantem saja.
Damar tidak meladeninya lagi, dia membuka pintu kendaraan.
Duaghh
"Damar!" Pria itu menendang punggung Damar.
"Si4lan Elu ya." Damar berusaha membalasnya.
Mereka berdua saling adu jotos, Zayn berusaha mengarahkan kepalan tangannya di wajah Damar. Syukurlah Damar bisa menghindarinya.
"Astaga, aku harus memanggil petugas bkeamanan." Segera aku berlari, mencari keberadaan petugas. Setelah ketemu, aku mengatakan ada perkelahian di basemen. Dua orang itu segera mengikuti langkahku.
"Pak, itu mereka. Tolong yang baju biru, Pak! Dia itu teman saya." Keduanya bergegas memisahkan Damar dan Zayn.
"Hentikan! Kalau kalian masih berbuat keributan, terpaksa akan kami panggilkan pihak berwajib." Mereka berdua diam, tidak saling melawan. Mulut keduanya juga tidak berkata-kata lagi.
"Damar, ayo pulang! Kamu masih bisa menyetir, kan?" Dia mengangguk.
Aku melihat Zayn yang masih terduduk di lantai basemen. Wajahnya sudah babak belur tidak karuan. Ternyata benar apa yang Damar bilang, kalau dia bisa kalap mata ketika berkelahi, karena itulah dia selalu menahan amarahnya agar tidak terpancing.
"Pelipismu luka tuh, rahangmu juga. Sini aku bersiin!" Aku mengambil tisu di atas dasbor, kemudian mengelap lukanya.
"Hentikan, Wulan! Perih. Kita pulang dulu saja!" Dia menyalakan mesin kendaraan, mobil ini meluncur ke luar dari basemen ke arah jalan utama.
Aku tak henti-hentinya menoleh pada Damar. Khawatir akan kondisinya. Entah berapa lama kami di perjalanan pulang, akhirnya kami tiba di depan rumahnya. Pintu otomatis terbuka karena ada pak penjaga di sana. Kendaraan ini masuk ke halaman rumah dan di parkir di depan garasi.
Aku bergegas turun dan mengitari kendaraan ini. Hendak membuka pintu untuk Damar, tapi, dia sudah membukanya duluan.
"Elu ngapain?"
"Aku cemas kalau kamu bisa pingsan kapan ajah."
__ADS_1
"Alah, gak usah sok perhatian." Dia menutup kembali pintu mobil. Melangkah cepat ke dalam rumah. Aku mengekorinya, Damar terburu-buru menapaki anak tangga.
"Wulan, kamu udah datang? Mana calon suamimu?" Tante Iren menatapku sambil tersenyum, aku membalas senyum beliau.
"Damar! Masa iya kamu udah mau ke kamar. Temenin Wulan dong! Ngobrol gitu, dia malam ini nginep di rumah kita." Damar berhenti bergerak, dia tidak berbalik arah. Aku bisa menebak kalau dia mau menyembunyikan luka dan lebamnya pada Tante Iren.
"Damar, kenapa diem ajah?"
"Tante, Damar pasti capek karena udah nganterin aku. Biar dia istirahat ajah dulu."
"Capek apanya, cuma nyetir doang terus dia mabar bareng temen-temennya."
"Damar." Dengan cepat Damar berbalik arah, dia menuruni anak tangga dan berhadapan langsung dengan Tante Iren. Maminya memegang dagu Damar, beliau menggerakkan ke kiri dan ke kanan.
"Kamu kenapa? Berantem lagi, ya?"
"Tante, ini bukan salah Damar." Aku takut dia kena marah, padahal dia tidak salah. Ini semua karena Zayn.
"Tadi sore bekas berantemnya belum ilang, malah ada bekas berantem lagi. Mau jadi apa kamu, Damar? Sudah berapa kali berkelahi selama seminggu ini?" Bukannya mengobati anaknya, beliau malah mengomel.
"Tante, kita obati dulu lukanya." Aku menghentikan omelan beliau.
"Bibi! Ambilin kotak P3K!" tak ada sahutan, namun, selang beberapa menit Bibi membawa kotak yang diminta Tante.
Tante Iren mendorong Damar agar duduk di kursi yang ada di ruang keluarga. Beliau mengobati Damar, mengoleskan krim anti memar.
"Lho, kok Mama sih yang ngobatin. Seharusnya kamu dong sebagai calon istrinya." Beliau meletakkan cotton bud di atas pahaku.
Aku terpaksa beringsut menghampiri Damar, posisi aku dan Tante Iren bertukar tempat. Aku mengoleskan krim ini pada luka yang sudah dibersihkan.
"Awh, perih." Mendengarnya spontan aku meniup pelipis Damar.
Mata kami saling beradu pandang, mulutku masih saja meniup tapi entah meniup apa.
"Lan, apaan sih? Kenapa malah mata gue yang Elu tiup?" Sepersekian detik tadi aku sempat melihat bibir itu, sudut bibirnya sedikit tergores.
"Maaf, gak sengaja." Aku berusaha fokus untuk mengobatinya, menempelkan plester luka.
__ADS_1
"Wulan, ini apa? Kenapa bisa begini?" Tante Iren mengejutkan kami berdua. Beliau memegang punggungku.