
"Eum, begini Pak. Tentang tawaran Bapak waktu itu. Bapak bilang kalau performa pekerjaan kami bagus, kami bisa naik pangkat dan di tempatkan ke gerai coffee shop yang baru." Riki tampak ragu.
"Kalau kalian berdua pindah, siapa yang akan menggantikan posisi kalian di tempat ini?" tanyaku meminta kejelasan.
"Bukannya Bapak ingin memangkas karyawan di sini, makanya kami diberikan kesempatan pindah?" Riki kembali bertanya.
"Duduk dulu! Biar ngobrolnya enak." Aku menyuruh keduanya duduk. Entah siapa nama karyawan perempuan ini. Yang kuhapal nama Riki saja karena pria itu selalu disebut oleh Wulan, dulunya ketika kami bertemu.
Kami bertiga mengobrol, mencoba untuk mencari solusi terbaik untuk kebaikan bersama. Mendengar keluh kesah mereka membuatku tersadar bahwa tidak mudah bertahan hidup di ibu kota. Mereka juga berharap bisa lama bekerja di coffee shop milikku ini. Doa yang meluncur dari bibir mereka begitu tulus, doa baik agar bisnis ini berkembang pesat agar mereka tidak kehilangan pekerjaan.
Banyak sekali coffee shop yang menjamur, persaingan produk, harga, dan pelayanan menjadi patokan utama di bidang usaha ini. Tak sedikit yang gulung tikar, mampu bertahan hanya hitungan bulan. Bersyukur sekali Kak Mutia bisa bertahan sampai setahun setengah menjalankan bisnis ini sebelum diambil alih olehku.
Setelah setengah jam kami berbincang, akhirnya aku bisa menarik kesimpulan.
"Riki, kamu jadi leader dulu di tempat yang baru. Setelah masa percobaan, barulah kamu diangkat jadi supervisor. Sementara kamu, siapa namanya?"
"Lena, Pak. Marlena."
"Nah iya, Lena. Kamu sementara harus dilatih dulu oleh Riki, menjalani masa percobaan selama dua bulan, setelah itu, kalau perkembangannya bagus, saya sendiri yang akan mengangkatmu jadi leader di tempat ini."
"Bagaimanapun dengan Wulan, Pak? Dia masih bekerja di tempat ini, kan?"
"Buat apa kamu ingin tahu tentang Wulan? Sudah, tidak perlu bahas dia! Dia itu urusan Mami, gak boleh diganggu gugat."
"Maaf kalau saya lancang, Pak." Riki tampak tak nyaman.
"Kalian berdua bisa bekerja kembali!" Aku menyeruput kopi ekspresso yang hampir habis.
"Besok, aku yang akan mengatur jadwal mereka. Mereka harus dipisahkan." Aku beranjak pergi dari tempat duduk. Harus kembali ke rumah untuk membicarakan tentang Wulan pada Mami. Tenaganya dibutuhkan setelah coffee shop yang baru sudah dibuka. Dia juga bisa sambil belajar dengan Lena untuk mengurus kasir dan bahan logistik.
Beberapa menit berselang, aku sudah tiba di depan rumah. Aku ke luar dari kendaraan dan bergegas mencari keberadaan Mami di ruang tengah. Tapi, tak ada seorang pun di sana.
__ADS_1
"Tumben sepi, baru jam sembilan lebih. Apa mereka udah pada tidur?" Aku menggaruk kepala yang tidak gatal. Lebih baik aku lanjutkan saja esok pagi, semoga Mami menyetujui saran dariku agar Wulan kembali bekerja sebelum aku mendapat karyawan baru.
Daripada harus sendiri di sini, aku memutuskan pergi ke kamar. Ada suara tawa cekikikan yang menggema dari kamar Selena. Kebetulan pintu itu sedikit terbuka. Dia berbicara sambil menggerakkan tangannya ke udara.
"Tumben nih anak, apa jangan-jangan telponan sama Robi—pria bajinguk itu?" Aku harus memastikan.
"Selena," panggilku langsung masuk begitu saja.
"Mas Damar. Eh, bukan, gue dipanggil Abang gue. Udah dulu ya." Dia buru-buru memutuskan panggilan teleponnya.
"Siapa itu, Sel?" selidikku seraya menyipitkan mata.
"Bukan siapa-siapa, Mas." Dia meletakkan benda pipih itu di sampingnya.
"Siapa dia? Bukan Robi, kan?" tatapku mengintimidasi.
"Beneran bukan." Dia menyanggah.
"Siniin hapenya!" Telapak tanganku menengadah.
Aku melihat daftar panggilan terbaru Selena. Keningku mengernyit melihat nama yang ada di sana.
"Siapa dia? Cowok baru lagi? Sebaiknya Elu gak usah akrab sama cowok lagi! Nunggu kalau udah lulus kuliah, biar skripsi Elu tahun depan bisa lulus tepat waktu."
"Dia cuma temen kampus, Mas. Gak ada yang spesial." Wajahnya merengut.
"Pokoknya Elu gak boleh bantah apa yang Mas katakan, cowok yang Elu kenal itu banyak cecunguknya. Bukan cowok baik-baik." Aku melempar hape itu di ranjang, tepat di kaki Selena.
"Mas Damar tuh mau balas dendam sama Selena, ya?" Napasnya memburu, dia marah padaku.
"Apa maksudmu, Sel? Gak usah aneh-aneh deh pikirannya!" hardikku tak mau kalah.
__ADS_1
"Ini semua demi kebaikan Elu! Jangan berpikir terlalu jauh sampai bahas balas dendam segala," lanjutku lagi.
"Bohong! Mas Damar tuh mau balas dendam karena gak bisa pacaran setelah dijodohkan oleh Mami, makanya mau balas dendam sama Selena biar Selena gak punya pacar, Mas Damar yang dijodohin, malah Selena yang kena getahnya." Hidungnya kembang kempis, tatapannya nyalang.
"Jangan salah paham! Mas gak kayak gitu."
"Alah, bilang ajah terus terang, Mas! Gak usah ngelak lagi!"
"Satu lagi, gue gak mau Mas Damar ikut campur urusan percintaan gue, ngerti!"
"Kurang ajar kamu, Sel. Dibilangin malah membangkang, ini semua demi kebaikan Elu!" hardikku tak mau kalah darinya. Dibilangin bukannya berterima kasih malah melawan.
"Gak usah sok peduli kek gitu, lah Mas. Gue males ladenin omongan orang kek Elu."
"Coba ajah gue gak ngikutin kalian waktu pergi ke pub, ilang udah mahkota berharga milik Elu dan Wulan. Elu mau tanggung jawab kalau Wulan ikutan kena getahnya?" Aku kembali mengingatkannya pada kejadian hampir dua mingguan silam.
"Bilang ajah semua itu Mas lakuin karena Kak Wulan. Bukan karena Selena."
"Gue itu ngikutin Robi ke pub, mau tahu lebih jauh apa saja yang dia lakukan kalau di luaran, eh ternyata feeling gue tuh tepat, dia bukan cowok baik-baik. Yang lebih kagetnya lagi, ada kalian berdua di sana." Kami berdua masih beradu argumen.
"Itu cuma kebetulan doang, Mas. Robi bukan cowok yang seperti Mas Damar bilang." Dia masih membela Robi.
Selena dan Lusi sama saja, mereka dibutakan oleh cinta tanpa mau melihat fakta dan bukti.
"Dasar bucin," umpatku dalam hati.
"Owh begitu, oke, kalau begitu lanjutkan saja hubungan kalian! Kalau Elu sampai hamil di luar nikah, jangan salahkan gue. Gue gak akan pernah merestui pernikahan kalian, gue akan bilang yang sesungguhnya sama orang tua kita. Camkan itu!"
"Siapa yang hamil di luar nikah?" Suara itu membuat kami berdua terhenyak. Aku bingung harus berkata apa. Sosok itu membawa nampan kosong. Tatapannya begitu lekat menatap kami bergantian.
"Eum, gg-gak ad-a yang hamil di luar nikah, kok." Selena terbata.
__ADS_1
"Ada apa sebenarnya? Coba jelaskan dari awal!" Lagi, ada sosok lain yang berdiri di belakang punggung sosok itu.
Selena menggigit bibirnya, raut wajahnya tampak bingung, gelisah dan cemas bercampur menjadi satu.