Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Perkelahian


__ADS_3

Aku takut setengah mati kalau Damar menghabisi pria ini di tempat. Aku tidak mau dia masuk penjara.


"Hei, cewek elu manggil tuh." Suara itu milik Zayn. Seketika Damar kembali ke tempat persembunyiannya.


"Mulut elu jaga, ya! Dia bukan cewek gue." Pria bermasker dan berkacamata hitam itu berlalu pergi dari hadapanku.


"Hei, apa lihat-lihat! Mau mampus?" Zayn mengacungkan pisau lipat padaku. Daguku dicengkeram kuat.


Aku berusaha bergerak melawan, berontak melepaskan diri. Dari belakang sana, Damar dengan cepat meraih tangan Zayn dan memelintir tangannya. Pisau lipat itu terjatuh ke lantai.


"Baj!ngan elu, Zayn. Berani-beraninya nyulik tunangan gue." Damar terlihat berang dan penuh amarah.


Bogeman mentah mendarat di pipi Zayn. Zayn berusaha melawan Damar sebisa mungkin. Mereka berdua bergulat di lantai.


"Kalian berdua, hentikan!" jerit seorang perempuan yang baru saja mendekati Zayn dan Damar.


"Jangan, hentikan mereka sekarang!" Ternyata dia berbicara pada seorang pria lainnya yang sudah berdiri di sampingnya. Mereka berdua terengah-engah, mungkin saja berlari karena mendengar suara baku hantam.


"Kita pergi dari sini! Kita sudah ketahuan, kita tidak bisa melanjutkan rencana ini lagi." Pria itu, aku tidak menyangka dia bisa berbuat sekejam ini padaku. Tangan pria itu menarik si perempuan, mereka menjauh dari kami. Sementara ada dua pria lainnya yang mendekat. Mereka berdua melerai Damar dan Zayn. Damar dibekuk oleh keduanya, dia berusaha melawan sekuat tenaga.


"Lepaskan dia! Aku sudah melaporkan kejadian ini pada pihak kepolisian. Kalian bertiga akan meringkuk di penjara," pekiknya lantang.


"Cuih, gue akan habisi elu duluan sebelum polisi datang." Zayn menyeringai lebar. Tubuhnya terhuyung, berusaha meraih pisau lipat yang ada di lantai.


Aku melihat segerombolan orang datang, ada Selena, Adit dan beberapa orang lainnya. Mereka tidak bisa berkutik lagi ketika ada tiga orang dari mereka mengacungkan senjata api.


"Lepaskan dia!" titahnya tegas.


Perlahan Damar berhasil menjauhkan diri. Dua orang itu dibekuk oleh seorang pria. Mereka diborgol, ternyata mereka berhasil menghubungi pihak kepolisian. Aku lega sekali melihat kedatangan mereka. Zayn berhasil kabur, dia berlari menjauh. Ada yang mengejarnya, telinga ini mendengar suara tembakan.


"Argh," jeritan itu sungguh nyaring.

__ADS_1


"Wulan," panggilnya seraya membuka ikatan tangan, kaki dan sumpalan kain.


"Kamu gak apa-apa? Ada yang sakit gak?" Damar memelukku erat. Napasku terasa sesak karena pelukannya itu.


"Napas, aku susah napas." Akhirnya dia melepaskan diri.


"Maaf." Tangannya merengkuh wajahku. Dua telapak tangannya memegang pipi kanan kiri. Tatapannya begitu dalam dan lekat.


"Syukurlah kamu tidak apa-apa." Tangannya mengusap-usap pipi ini.


"Mas, kita pergi dari sini! Kita harus ikut ke kantor polisi." Selena membuat pandangan kami beralih.


"Ayo kita pergi!" ajak Damar. Baru saja aku berusaha berdiri, dia malah langsung menggendongku seperti bayi berusia empat bulan.


"Mas, malu dilihat orang." Adit, Selena dan dua orang lainnya memperhatikan kami.


"Biar saja! Kakimu pasti kesakitan setelah diikat seperti tadi." Dia berjalan dengan santai.


Adit dan Selena seperti berbisik sesuatu. Dua orang polisi menyeret Zayn yang kakinya terkena luka tembak.


"Syukurlah polisi datang tepat waktu. Aku takut kalau kamu menghabisi nyawa Zayn." Kedua tanganku melingkar di lehernya.


"Hampir saja dia kuhabisi, kalau bukan karena dua orang itu, aku pasti menghabisinya." Damar mengecup keningku sekilas.


"Ck, banyak orang masih saja jahil." Aku menepuk dadanya berulang kali.


"Ehem, mau ikutan mobil yang mana? Taksi tadi atau mobil polisi?" Aditya menyela pembicaraan kami.


Ada dua mobil polisi dan satu taksi. Zayn serta dua orang tadi masuk ke mobil salah satu mobil polisi, kendaraan itu berlalu pergi meninggalkan kami.


"Kami berdua naik mobil polisi saja." Damar melangkah cepat menuju kendaraan itu. Aku diturunkan olehnya. Sejak kedatangan mereka, aku bisa bernapas lega. Kami berdua masuk, ada dua orang anggota kepolisian di depan sana. Kendaraan ini meluncur memecah jalanan yang sunyi. Tempat ini seperti kuburan saja. Bedanya, kanan kiri kami ada gedung-gedung lama tak terpakai lagi. Kawasan industri yang sudah lama ditinggalkan.

__ADS_1


Setibanya di kantor polisi, aku dimintai keterangan sebagai korban dan saksi. Begitu pun Damar, dia juga diminta keterangan sebagai saksi. Hampir satu jam kami berada di sana, aku menceritakan tentang seorang pria dan wanita yang melarikan diri sebelum polisi datang. Mereka berdua harus diselidiki dan diringkus seperti Zayn. Setelah itu, kami bertiga pulang setelah berpamitan dengan Aditya dan seorang pria yang dia kenalkan. Aku sangat berterima kasih padanya, kalau bukan karena kerja samanya, aku mungkin masih belum ditemukan.


"Kita pulang ke rumahku saja!" Damar membuka pintu taksi untukku. Sementara Selena masuk ke bagian depan bersama pak sopir.


"Ibu dan bapak gimana? Mereka pasti khawatir." Aku mencemaskan mereka berdua.


"Masuk saja, Kak! Bapak dan Ibu ada di rumah kok," timpal Selena. Karena orang tuaku ada di sana, aku harus kembali ke rumah keluarga Damar.


Di dalam perjalanan, Damar memeluk pinggang ini tak mau lepas. Beberapa kali punggung tangan dikecup olehnya. Seandainya dia tahu siapa pria yang aku curigai tadi, apakah dia akan benar-benar menghabisinya? Aku bergidik memikirkannya.


"Kak Wulan, ada telpon dari Mami. Mau ngobrol." Selena menyodorkan hape padaku.


"Nanti saja di rumah, Sel. Bilang saja kalau keadaan kakak baik-baik saja," tolakku halus. Aku ingin berusaha menjernihkan pikiran sejenak sebelum diinterogasi oleh mereka nanti.


Damar mengerutkan keningnya karena aku menolak panggilan itu. Aku membalas pelukannya, kepala ini menempel pada ceruk lehernya. Aku merasakan kenyamanan saat dia ada di sini. Entah karena letih atau mungkin kehabisan tenaga, aku tertidur dalam pelukannya.


***


Aku mendengar suara beberapa orang berbincang. Perlahan kelopak mata ini menyipit, berusaha beradaptasi dengan cahaya lampu.


"Wulan, kamu baik-baik saja, Nak?" Ibu menghambur ke ranjang. Aku berada di ranjang kamar tamu. Semua orang berkumpul di sini. Perutku berbunyi tak karuan minta diisi.


"Bu, Wulan lapar," cengirku.


"Astaghfirullah, ibu pikir kamu minta apa. Syukurlah kamu baik-baik saja, Nak." Ibu menghambur ke pelukan setelah tubuhku bergerak duduk setengah berbaring dengan kepala bersandar pada kepala ranjang.


"Wulan, siapa yang menculikmu? Kamu pasti hapal dengan wajah mereka berdua yang masih buron." Tante Iren duduk di sisi ranjang satunya.


"Entahlah, Tante. Wulan tidak yakin, mereka berdua memakai masker wajah, kacamata hitam dan topi hitam. Wajah mereka tertutup.


"Kamu yakin tidak mengenalnya? Kenapa Zayn dengan mudahnya diciduk? Sementara mereka berdua tidak berani menampakkan diri." Kepala keluarga rumah ini mulai bersuara.

__ADS_1


"Atau mungkin jangan-jangan," Damar tak melanjutkan ucapannya. Dia menoleh padaku, menatapku lekat.


__ADS_2