Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Rahasia Damar


__ADS_3

"Cepat katakan apa rencana itu?" tanyaku penasaran.


"Kuncinya ada pada Selena, dia harus bersama kita ketika kita pergi berwisata. Kita ajak saja dia tanpa memberitahu alasan yang sebenarnya. Aku yakin kalau dia pasti mau, bocah itu, kan demen keluyuran." Penjelasan dari Damar masuk akal.


"Jadi, kita berdua harus membujuknya?" tanyaku lagi


"Owh, tentu saja tidak. Kita tidak perlu membujuknya. Kita ajak saja dia pergi, toh bisa cuti kuliah selama dua hari. Mata kuliahnya juga tidak banyak akhir-akhir ini." Jelas Damar lagi.


"Kita coba bergantian mengajaknya. Kalau aku tidak berhasil, barulah kamu yang mengajaknya," tambahnya lagi.


"Tidak perlu, biar aku saja yang mengajaknya." Entah kenapa aku begitu percaya diri dengan rencana ini.


"Setelah kakek nenekmu ketemu, kita bicarakan pernikahan kita." Damar mengedip menatapku lekat.


"Itu lagi yang dibahas. Ayo pulang! Ibu dan Bapak bisa marah kalau kita kelamaan ke luarnya," ajakku.


"Baru jam sembilan malam lebih. Nanti jam dua belas aku pulangkan kamu ke apartemen. Sekarang kita pergi shopping dulu! Aku ingin bersiap untuk pergi ke Bojonegoro." Mendengar ucapannya membuatku terperangah.


"Shopping jam sembilan malam? Bentar lagi mall tutup," timpalku.


"Ya sudah, besok pagi saja. Kamu masuk sore ajah kerjanya!" Heran, dia ini seorang lelaki tapi suka sekali berbelanja. Mana kalau beli barang gak lihat-lihat harga. Padahal mereka selalu bilang kalau banyak orang yang lebih kaya dari keluarga mereka. Tapi, nyatanya, uang itu seperti tak ada habis-habisnya.


"Sayang! Kamu mikirin apa? Sampe bengong gitu." Tangannya melambai, menepuk udara kosong tepat di depan wajahku.


"Eh, enggak mikirin apa-apa. Ayo kita pulang!" ajakku merengek.


"Oke, fine. Tapi, ada syaratnya." Dia menunjuk pipi kanannya.


"Ck, ayolah!" Tanpa basa-basi lagi aku langsung beranjak dari tempat duduk.


Wajah Damar berubah datar, aku berjalan menuju ke lantai bawah, dia mengekori langkahku dengan lesu, sesekali aku meliriknya sekilas.

__ADS_1


Kami berdua kembali ke apartemen, dia yang masih marah, tak berucap sepatah kata pun. Tunanganku itu bergegas pergi dari ambang pintu, dia sepertinya enggan masuk. Ibu yang melihatnya sampai bertanya padaku tentang apa yang terjadi. Aku katakan saja bahwa Damar merajuk karena aku tidak bisa menemaninya berbelanja. Kami pun masuk ke dalam kamar masing-masing. Menikmati waktu istirahat.


***


Paginya, awan mendung menyelimuti langit ibu kota. Warnanya begitu pekat, kilatan petir beberapa kali terlihat jelas. Suara geledek pun saling bersahutan. Langit pun memuntahkan cairannya. Hujan turun dengan derasnya.


Seperti yang Damar bilang semalam, pagi ini kami harus berbelanja seperti yang dia inginkan. Aku tengah duduk menunggu kedatangannya di lobi. Hujan yang begitu deras tidak menyurutkan keinginannya untuk membeli barang-barang yang dia inginkan.


"Lan, kita pergi sekarang Yang!" Wajah itu terlihat. Dia mendekati tempat dudukku.


"Rambutmu basah, kena hujan ya?" tanyaku sambil merapikan rambutnya.


"Kena cipratan dikit sebelum masuk mobil. Sudah gak usah dibahas lagi, ayo kita pergi!" Dia menarik pinggangku, kami berjalan sambil berdempetan.


"Lho, ini arah basemen. Kenapa kita ke sini?" tanyaku.


"Mobilku terpaksa diparkir di sana, hujan, Yang. Makanya cari aman." Penjelasan dari Damar membuatku mengangguk singkat.


"Yang, kita sarapan bareng ya! Aku belum makan nih," ajaknya seraya melirikku sekilas.


"Aku udah sarapan tadi, ini sudah jam sembilan pagi. Masa iya belum sarapan?" Mana mau aku sarapan lagi, perut terasa penuh.


"Sengaja gak sarapan, kan mau sarapan bareng."


"Aku temenin ajah nanti. Tapi ya, bukannya pusat perbelanjaan bukanya jam sepuluh? Kurang setengah jam lagi nih, waktunya masih lama, eh kamu malah nyuruh aku turun ke lobi," gerutuku kesal karena tadi sempat terburu-buru berganti pakaian.


"Aku belum sarapan, makanya pergi jam segini. Aku gak selera makan di food court yang ada di emall. Mau makan di warung makan sederhana." Seleranya sama denganku. Lebih suka makan masakan rumahan, selain enak pastinya murah. Padahal dia bisa membeli makanan dengan harga berapa pun, tapi seleranya tak berubah.


"Hei, kok bengong lagi?" hardiknya membuatku terkejut.


"Eh, enggak kok." Entah kenapa aku sering memikirkan kebiasaannya belakangan ini. Ada persamaan diantara kami berdua, tak sedikit pula perbedaan yang membuatku merasa tak pantas menikah dengannya. Semakin hari, pikiran ini mengakar dan membuatku berpikiran negatif. Apakah aku sanggup menjadi pasangannya? Aku—seorang perempuan kampung, tamatan SMA, pekerjaan pun menjadi server, pun tak ada yang bisa dibanggakan dari keluargaku karena keadaan kami yang serba kekurangan.

__ADS_1


"Yang, kamu kayaknya banyak pikiran. Sudah beberapa hari terakhir demen bengong," selidiknya. Mobil ini berhenti tepat di depan sebuah warung sederhana.


"Enggak apa-apa, mikirin keadaan kakek nenek yang di sana." Aku berusaha menampilkan senyum terbaik di depannya, terpaksa aku berbohong padanya.


"Tidak perlu berpikir macam-macam! Sebentar lagi kita pasti menemukan mereka. Aku yakin itu." Tunanganku mulai meraih tanganku, dia mengecup punggung tangan ini.


"Ayo, saatnya ke luar!" ajaknya.


Hujan masih mengguyur kota, beruntunglah pelataran parkir di sini tertutup terpal tebal, jadi, kami aman berjalan di bawahnya, tak terkena curahan air hujan. Aku menemaninya makan, sesekali menyuapinya. Selesai Damar makan, barulah kami melanjutkan perjalanan ke pusat perbelanjaan.


Kami berjalan beriringan, tangannya selalu saja menggandengku. Jauh sedikit saja aku berjalan, dia langsung menarik lenganku.


Kami masuk ke sebuah toko jam tangan. Tempatnya begitu luxury, Damar berucap pada karyawan agar mengeluarkan jam yang dia inginkan di etalase.


"Mas, jam kek gini berapaan harganya?" Aku penasaran dengan harganya, kubaca merek yang ada di toko, toko Rulex.


"Ini yang agak murah, ratusan juta," jawab Damar yang membuatku terlonjak dari tempat berdiri.


"Kamu yakin, Mas?" tanyaku memastikan. Agak murah saja harganya ratusan juta, bagaimana yang mahal?


"Iya. Tapi, tenang saja! Jam ini bisa juga sebagai investasi. Aku membelinya bukan hanya untuk mengkoleksi, tapi sebagai barang investasi." Tanpa menoleh padaku, tangannya sibuk memutar barang itu. Melihat tampilannya yang menurutku memang terlihat mewah.


Dia memilih beberapa jam untuk dijadikan perbandingan. Setelah berpikir keras, akhirnya dia memutuskan memilih jam tangan yang kedua tadi. Dia membayar menggunakan kartu ATM berwarna hitam.


Bukannya kartu itu untuk bertransaksi dengan nominal yang tidak terbatas. Kenapa dia mempunyai kartu kredit itu? Om Purnomo juga masih bekerja di perusahaan yang lama, beliau tidak memiliki perusahaan apa pun. Darimana Damar mendapatkan kartu ATM hitam ini?"


"Yang, melamun lagi? Ayo kita pindah ke toko lain!" Tanpa ba-bi-bu lagi dia segera menarik tanganku.


"Jangan kasih tahu Mami dan Papi tentang ini!" Dia menunjuk ATM tadi.


"Memangnya kenapa? Kamu dapat darimana ini? Apa sebenarnya usahamu, Mas?" Aku tidak bisa mengontrol rasa penasaran.

__ADS_1


Apa dia menyembunyikan sesuatu pada kami? Kenapa orang tuanya tidak tahu tentang ini?


__ADS_2