
Aku menghela napas panjang, bibir ini berusaha untuk tersenyum lebar membalas senyum beliau.
"Tante Iren."
"Wulan, jangan panggil Tante ah! Panggil Mama or Mommy." Beliau menerobos masuk tanpa kupersilakan terlebih dahulu.
"Kamu betah ya ngekost di sini? Padahal kamarnya sempit, kamar mandinya juga kecil. Duh, ranjangnya juga sudah goyang-goyang." Beliau mengomentari tentang isi kost-an. Pandangan beliau menelusuri setiap sudut kamar.
"Mau bagaimana lagi, Tan. Demi menghemat biaya hidup, jadi, Wulan harus tahan hidup seperti ini. Ini saja sudah termasuk lebih dari cukup untuk orang seperti Wulan." Aku berkata jujur. Buatku, kamar ini sudah termasuk luas. Aku malah bersyukur sekali karena tinggal di tempat ini.
"Kamu tahan dulu selama sebulan! Setelah pertunangan kalian, Mama akan pindahkan kamu ke rumah kontrakan." Mendengar itu, sontak bola mata ini melebar.
"Tante, tidak usah! Terima kasih banyak tapi, tidak perlu repot-repot. Wulan sudah nyaman dan tenang berada di sini." Aku menolak.
"Gak ada tapi-tapian! Kamu harus pindah setelah bertunangan."
"Wulan gak punya kendaraan, Tan. Kalau pindah dari sini, pasti jauh dari tempat kerja." Aku berusaha memberikan alasan yang tepat.
"Memangnya kamu kerja di mana?"
"Di coffe shop dekat sini, Tan."
"Kalau itu gampang. Nanti Mama cariin yang dekat sini. Setelah kalian menikah, kamu berhenti bekerja saja! Tinggal di rumah Mama."
Duh, belum apa-apa sudah direncanakan dari A-Z oleh Tante Iren. Alamat bakalan jadi mertua yang cukup merepotkan. Maaf Tante, aku berpikiran seperti ini.
Tante Iren melihat reaksiku. Sungguh tak nyaman ditatap sedemikian rupa oleh beliau. Apalagi kini, tatapan mata beliau menelusuri seluruh tubuhku. Dari atas rambut sampai ujung kaki dipandang oleh beliau.
"Kamu udah mandi belum?" tanya beliau seraya mengerutkan kening.
Aku menggeleng pelan, malu rasanya karena sudah siang menjelang sore seperti ini masih belum mandi juga.
"Mama tunggu di mobil! Sekarang juga mandi dan ikut Mama pergi." Aku terperangah mendengar ucapan beliau.
__ADS_1
"Maksudnya?" Aku tidak bisa mencerna perkataan wanita paru baya ini dengan baik.
"Kita pergi siap-siap untuk makan malam nanti di restoran. Sekarang, kamu cepetan mandi! Jangan lupa keramas! Rambutmu udah lepek tuh." Beliau tersenyum tipis kemudian pergi meninggalkan kamar ini.
"Makan malam?" Sebaiknya aku ikuti saja ucapan beliau. Daripada nantinya Ibu mengomel via telepon.
Selesai mandi, aku memakai baju kasual. Memadupadankan celana jeans dan kaos croft top. Rambutku masih lembab karena memang aku tidak punya alat pengering rambut. Aku menggosok lagi rambut ini menggunakan handuk. Menggerai rambut dan memakai bedak serta lipstik yang kupunya.
Aku tidak pernah punya pakaian mahal, apalagi sepatu bagus. Aku hanya bisa memakai sandal jepit, sepatu kerja tidak boleh dipakai sembarangan. Sudah setahun ini aku membelinya, sepatu itu harus bisa bertahan lebih lama.
Kukunci pintu kamar ini, menyusul Tante Iren yang ada di luar pagar. Ternyata beliau melihatku, kaca jendela mobil terbuka, beliau melambaikan tangannya padaku. Spontan kaki ini melangkah mendekati pintu kendaraan. Satu hal yang mengganjal, sejak kapan Tante Iren tahu kost-an ini Jangan-jangan ini semua ulah kedua orang tuaku. Aku hanya bisa menerka tanpa tahu jawaban yang sebenarnya.
Aku masuk, duduk di sebelah Tante Iren. Kendaraan ini meluncur memecah jalanan ketika pintu tertutup. Tak ada percakapan diantara kami. Tante Iren sibuk dengan layar hapenya. Aku melirik hape yang ada di dalam tas. Sudah hampir satu jam aku berada di dalam mobil.
"Tante, kita mau ke mana?" Kuberanikan diri untuk bertanya.
"Kita shopping dulu sebentar di Mall," sahut beliau tanpa melihat wajahku.
"Owh, Tante mau shopping." Aku mengangguk pelan. Ternyata beginilah kegiatan orang kaya, menghabiskan uangnya untuk membeli hal-hal yang sudah mereka punya. Menumpuk barang-barang yang sebenarnya sama tapi, hanya berbeda warna saja.
Aku menuruti perkataan Tante Iren. Ketika di hadapannya, bola mata beliau kembali melihatku dari atas sampai bawah.
"Wulan, kamu itu cantik dan manis. Tapi, sayang banget ketutup sama pakaian kamu yang terlalu sederhana. Ini kota besar Honey, bukan kampung halaman kita." Beliau menarik lengan ini. Terpaksa aku mengikuti langkah beliau.
Kami masuk ke salah satu tempat pakaian bermerek luar negeri. Itu seingatku saja, entah tebakanku benar atau salah, aku tidak tahu.
Tante Iren memilihkan beberapa gaun yang bisa dipakai untuk sehari-hari. Beliau juga memilih dua gaun pesta berwarna hijau toska dan peach.
"Kamu coba lima gaun ini! Tante mau lihat langsung kalau pakaian kamu berubah, pasti aura kecantikan kamu juga semakin bertambah." Beliau mendorong punggung ke arah kamar pas. Meletakkan lima gaun tadi di pundak.
"Tunggu apa lagi?" Beliau tak gemas melihatku yang tidak bergeming dari pintu ruang pas.
"Ehhh, iya Tante. Wulan masuk dulu."
__ADS_1
Aku memakai gaun tersebut satu persatu dan menunjukkan pada Tante Iren. Beliau menatap lebih lama. Kedua tangannya melipat di dada. Telunjuk beliau memegang dagu seperti posisi orang yang tengah berpikir keras.
"Coba pakai yang warna peach sama yang merah maroon. Kayaknya lebih cocok yang itu deh." Lima kali aku berganti pakaian, kini harus menuruti kemauan wanita paru baya ini.
Aku mengikuti kemauan beliau. Ke luar dari ruang pas.
"Tuh kan, excellent. Kamu emang cantik pakai gaun warna dua itu. Yang peach terlihat kalem dan manis. Yang warna maroon terlihat eye catching dan agak nakal ala gadis muda." Beliau tersenyum cerah.
"Mbak, ambil gaun yang dua ini ya!" titah Tante Iren pada pramuniaga outlet fashion ini.
Setelah membayar, aku pikir kami bisa pulang sekarang juga. Tapi, Tante Iren malah berbelok ke outlet tas dan sepatu.
"Ukuran kaki kamu berapa, Sayang?" Beliau memang ramah, tapi, aku tidak nyaman karena dibelikan barang-barang yang menurutku begitu mewah dan mahal.
"Memangnya kenapa, Tan?"
"Tante nanya malah balik nanya. Berapa ukurannya?"
"Empat puluh, Tan."
"Oh ... oke. Kamu tunggu di sini! Biar Tante yang mencari sepatu yang cocok untukmu." Beliau meninggalkan aku sendirian di tempat duduk ini. Aku mengitari ruangan, tas belanjaan kuletakkan di samping kursi.
Sekedar iseng, aku meraih salah satu sepatu yang dipajang di tempat ini.
"Apa? Sudah diskon pun, harganya sepuluh jutaan?" Sontak aku menutup mulut ini.
"Tante Iren boros sekali, apakah harus membeli barang seperti ini?" gumamku lirih. Pundak ini seketika lemas. Duduk pun sudah tidak nyaman.
"Lho, beneran Wulan ya?" Ada suara yang terdengar. Aku menoleh ke sumber suara yang menyebut namaku.
Kepala ini menoleh, melihat seorang pria yang tengah menenteng tas belanjaan. Pria tersebut menatapku dengan penuh tanda tanya. Ingin rasanya menyapa, tapi ketika ada seorang perempuan yang mendekatinya, aku urungkan niat untuk menyapa pria itu. Perempuan itu menatapku dengan tatapan tajam seolah aku ini adalah musuhnya.
"Kamu ngapain di sini, Beb? Kamu kenal sama cewek kampung ini ya? Fashionnya norak banget." Tangannya berkacak pinggang.
__ADS_1
"Menang dandanan menor ajah belagu," gumamku tak mau kalah.
"Apa maksud Elu, cewek kampungan?" Perempuan itu mendekati aku. Jarak kami berdua begitu dekat.