Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Benda Turun Temurun


__ADS_3

"Ii-iya," sahutku gelagapan. Kucoba menyeka keringat yang bercucuran dari pelipis.


"Kamu mengenalnya?" tanya seorang pria yang berdiri dekat dengan Andre.


"Dia salah satu penghuni apartemen ini. Dekat dengan milik Dimas, sayang sekali dia tidak ada di tempatnya." Andre menggerutu.


"Andre, kamu tidak melihatnya? Dimas ada di depan sana! Coba kamu perhatikan!" Aku menunjuk Dimas yang terlihat karena pantulan lift.


"Eh iya, benar juga. Aku gak ngeh karena tempat ini sesak." Dia menjulurkan kepalanya, berusaha mencari keberadaan Dimas yang berdiri tepat di belakang pintu lift.


Tiiiiiing


Suara lift yang kutunggu akhirnya terdengar, karena aku berada pada posisi paling belakang, aku terakhir ke luar dari lift. Lega rasanya karena sudah tidak melihat dua orang itu lagi. Kaki ini bergerak cepat menuju lobi.


Dering hape yang mendadak membuat dadaku bergemuruh hebat.


"Duh, si bapak ojol ngagetin ajah." Kuelus dada ini berulang kali. Berbincang dengannya di ujung telepon. Aku segera berlari menuju pintu utama gedung. Dia sudah menunggu terlalu lama.


"Maaf ya, Pak. Ada yang ketinggalan tadi." Dengan terburu-buru aku memakai helem dan duduk di jok belakang. Sesekali kepala ini menoleh ke belakang sana.


"Syukurlah mereka sudah gak kelihatan," napasku lega.


Tak berapa lama akhirnya aku sampai di tempat kerja. Melakukan pekerjaan seperti biasanya. Tapi, yang berbeda adalah, aku merasa gerak-gerik selama bekerja merasa diawasi Riki. Awas saja dia kalau sampai bilang macam-macam tentangku pada Tante Iren. Selama ini aku bukan tipikal perempuan yang neko-neko.


Beberapa jam berkutat dengan pekerjaan akhirnya aku bisa bernapas lega. Waktunya pulang sudah tiba. Sore ini Damar menjemputku pulang.


"Lan, kita ke rumah dulu! Aku mau ganti baju. Sekalian kata Mami ada yang harus dibicarakan." Tatapannya serius.


"Memangnya mau ngobrolin apa lagi? Mami kamu itu banyak banget maunya."


"Aku gak tahu dia mau bilang apaan. Oh iya, untuk janjiku kemarin-kemarin, lusa aku akan mencari informasi, bertanya pada Mami agar kamu bisa menemukan keberadaan kedua kakek nenekmu." Mendengar ucapannya membuatku berbinar-binar.


"Kamu yakin?" Dia mengangguk tanpa menoleh ke arahku. Tatapannya fokus pada jalanan di depannya.


"Serahkan saja padaku! Aku bekerja sama dengan Selena. Aku mengancamnya, makanya dia mau ikut ambil bagian." Damar tersenyum puas.


"Mengancam Selena? Adik sendiri pake diancam segala." Damar benar-benar keterlaluan.


"Tak apa, biar dia bisa ambil bagian." Damar terkekeh kecil.


Rumah keluarga Purnomo berdiri megah di depan sana. Pintu pagar terbuka otomatis, kendaraan ini masuk, berhenti tepat di halaman yang ada di samping teras. Kami berdua berjalan beriringan.


"Selena, kamu ngapain? Serius gitu natap layar hape." Aku duduk di sampingnya sementara Damar melangkah pergi ke lantai dua.

__ADS_1


"Ini lho, Kak. Ada cerita bagus tentang kisah drama rumah tangga." Mulutnya berbicara tanpa menatapku.


"Memangnya kamu baca cerita itu di mana?" Melihatnya yang berkonsentrasi membuatku penasaran.


"Ini, novel online karya Author Black_Queen. Judulnya itu Aku Kembali. Kisah drama rumah tangga yang berbalut penculikan, percobaan pembvnuhan terhadap tokoh utama wanita. Duh, gak nyangka banget siapa tersangkanya." Selena geram sambil bercerita.


"Memangnya seru, Sel? Kamu sampai geregetan gitu." Kutatap wajah gadis di sebelah.


"Seru banget, Kak," jawabnya singkat.


"Novel online? Di aplikasi apa? Siapa tahu aku punya waktu luang, boleh juga tuh baca novel."


"Di aplikasi 'F' ketik saja nama pena Black_Queen, nanti novelnya yang di sana pasti terpampang semua."


Kepala ini mengangguk beberapa kali.


"Wulan, kamu datang bukannya nyari Mami malah ngobrol sama Selena." Kalau bukan Ibu Damar, siapa lagi yang berbicara seperti itu padaku.


"Maaf, Tante. Penasaran sama Selena karena sejak tadi mantengin hapenya mulu." Aku tersenyum tipis.


"Ikut Mami ke atas yuk! Ada sesuatu yang akan Mami berikan padamu!"


"Ke atas? Ke atas mana, Tan?" Bukannya kamar Tante Iren ada di bawah, kenapa harus naik ke atas segala?


"Ada di kamar Damar sejak lama. Cuma anak itu gak tahu kalau Mami simpan di sana. Namanya juga anak cowok, mana mau dia bersih-bersih sampai sebegitunya." Aku patuh pada ucapan Tante Iren.


"Damar, kamu ke luar dulu, Nak! Biarkan kami berdua berbincang di dalam." Damar awalnya menolak karena ini kamarnya, tapi, Tante Iren tetap memaksa.


Kami berdua masuk, Tante Iren segera mengunci pintunya.


"Tante, kenapa pintunya dikunci segala?"


"Damar tidak boleh tahu tentang ini sampai anak lelaki kalian nantinya akan menikah."


Tunggu dulu, apa maksudnya ini? Kenapa hal ini menjadi rahasia? Apalagi ucapan Tante Iren tak masuk diakal, anak lelaki yang akan menikah?


"Tante, coba ceritakan dari awal! Wulan gak ngerti." Wanita itu membimbingku agar duduk di pinggiran ranjang.


"Begini, Lan. Ini dilakukan turun temurun oleh keluarga kami. Tepatnya keluarga Papimu. Kamu tunggu dulu di sini!" Wanita itu membuka laci, meraih sebuah kotak berwarna biru gelap. Tante Iren kembali menghampiri.


"Saatnya Tante menyerahkan padamu. Kamu harus merahasiakan ini pada Damar, kecuali kalau kalian punya anak lelaki yang akan menikah dan kamu sudah yakin pada pilihan anakmu." Aku masih kebingungan, berusaha mencerna apa yang beliau sampaikan.


"Maksud Tante, Tante memberikan sebuah benda berharga untuk Wulan, tapi, syaratnya Damar tidak boleh tahu kecuali kalau kami berdua sudah memiliki anak lelaki, kemudian anak lelaki itu menikah, barulah aku memberikannya pada istri anakku? Alias pada menantu perempuan?" Aku berusaha menyampaikan maksud Tante Iren.

__ADS_1


"Nah, begitulah. Ini sudah dilakukan sejak beberapa generasi. Tante yakin kalau kamu berjodoh dengan Damar, makanya Tante ingin kamu mengenakannya." Beliau membuka kotak kayu yang terkunci itu dengan sebuah kunci mungil.


Aku terpukau pada batu safir yang terpampang di depanku. Tali perhiasan leher itu seperti silver murahan pada umumnya, yang membedakan terletak pada liontinnya.


"Kamu harus menjaga ini dengan baik, mau kamu pakai boleh. Mau kamu simpan juga boleh, terserah kamu asalkan Damar tidak boleh tahu asal usul batu ini."


"Tante, apa ini gak berlebihan? Wulan belum sah menjadi menantu Tante." Aku tidak nyaman dengan hadiah warisan turun temurun keluarga Om Purnomo.


"Bawa saja! Kamu lebih berhak untuk menyimpannya!" Beliau memakaikan pada leherku.


"Cantik, cocok untukmu! Sepertinya lebih cocok dipakai." Beliau tersenyum tipis.


"Makasih, Tante." Sebenarnya aku masih ragu, tapi, daripada harus berdebat dengan Nyonya rumah ini, aku menurut saja.


"Buruan, Mam! Damar mau nganterin Wulan pulang." Pintu digedor-gedor dari luar.


"Ck, anak itu selalu saja gak sabaran."


"Ayo kita ke luar Sayang." Tante Iren membimbingku.


Kami berdua ke luar dari kamar Damar, dia menyuruhku untuk menunggunya di dalam mobil. Liontin kalung itu aku selipkan di dalam baju, sebaiknya disembunyikan saja agar aman dari bahaya.


Aku pamit pada Tante Iren dan Selena, menunggu di dalam mobil. Tak berapa lama tunanganku masuk dan bergegas menyetir kendaraan ini.


Kami terjebak macet, sudah jam lima sore, pantas saja jalanan begitu padat sampai menimbulkan kemacetan.


"Damar, sepertinya aku kenal di sebelahmu." Aku menunjuk kendaraan di sebelah kendaraan ini. Kacanya berwarna hitam tapi masih bisa terlihat dari sini.


"Dia Laura, kan?" Damar memastikan.


"Iya, dia Laura. Coba kamu lihat siapa yang ada di balik kemudi!" Aku menunjuk seorang pria yang kami kenal.


"Dia, kenapa mereka bisa bersama?" Damar menatapku lekat. Aku hanya mampu mengendikkan bahu. Aku juga penasaran tentang apa yang terjadi dengan mereka berdua. Aku pikir mereka tidak saling mengenal, tapi, mereka berdua begitu dekat.


"Kita ikuti ke mana mereka pergi." Damar mendadak berinisiatif.


"Oh iya, aku lupa. Pasti kamu khawatir pada Laura, ngaku ajah." Mendadak aku cemburu ketika dia ingin mencari tahu tentang Laura dan pria yang ada di balik kemudi.


"Wulan, kamu,"


Tiiin, tiiin.


Suara klakson yang bersahutan membuatku terlonjak. Ternyata di depan kami kendaraan mulai bergerak.

__ADS_1


"Kita ikuti saja mereka, bagaimana?" tanyanya meminta persetujuan dariku.


"Terserah." Mobil ini melaju dengan pelan, berusaha ada di belakang mobil itu.


__ADS_2