
"Kami berdua menikah tanpa restu orang tua masing-masing. Kami berdua kabur dari rumah." Aku terhenyak mendengar perkataan Ibu.
"Jadi, pernikahan Ibu dan Bapak tidak sah?" Aku tidak menyangka bahwa mereka pernah berbuat salah.
"Awalnya iya, karena Bapak tidak mau menjadi wali nikah Ibu. Lama kelamaan mereka terpaksa mengiyakan pernikahan kami. Bapak dan Ibu menikah kembali dengan wali yang sah."
"Kami berdua merasa berdosa, setelah itu mereka pergi meninggalkan kami berdua." Bapak menambahkan.
"Orang tua kami lepas tangan tentang kehidupan rumah tangga kami berdua. Mereka juga tidak mau menyapa kami, kami juga tidak pernah diterima di rumah. Mereka bilang bahwa kami anak tak tahu berterima kasih. Padahal, kami berdua berniat baik untuk beribadah dalam pernikahan." Ibu menyeka sudut matanya.
"Kakek nenekmu dari Bapak adalah rentenir di kampung. Karena itulah Orang Tua Ibumu tidak setuju. Sementara kakek nenek dari Ibumu adalah salah satu peminjam dari orang tua Bapak." Aku berusaha mencerna perkataan Ibu.
"Tttt-tung-tunggu dulu! Jadi, orang tua Bapak adalah rentenir, sementara orang tua Ibu adalah peminjamnya? Karena itu kalian berdua tidak direstui?"
"Iya, begitulah. Mereka dengan gampangnya memutuskan tali silaturahmi. Sejak itu, Bapak dan Ibu tidak pernah mengunjungi orang tua kami lagi. Kami tidak tahu tentang kehidupan mereka sekarang. Kami tidak tahu mereka masih hidup atau tidak." Ibu berusaha untuk menormalkan isakan tangisnya.
"Berapa lama pernikahan itu tidak direstui, Bu?"
"Hampir dua tahun." Kali ini Bapak yang menjawabnya.
"Kampung kita itu, rumah kecil dan sederhana itu, bukan warisan dari kakek nenek seperti yang pernah kalian bilang?" Ibu menggeleng pelan.
"Bukan, kampung itu bukan tempat tinggal kami. Setelah tidak dianggap keluarga lagi oleh kakek nenekmu, kami berdua memutuskan untuk memulai dari awal. Pergi sejauh-jauhnya dari kampung asal kami berdua. Perjuangan kami berdua tidak mudah, Nak." Ibu menghela napasnya.
"Jadi, kalian berdua juga tidak tahu tentang kondisi kakek dan nenek Wulan? Di mana kampung mereka, Bu, Pak? Wulan ingin berjumpa dengan mereka semuanya."
"Entahlah, mungkin mereka sudah tidak di kampung lagi. Bisa saja mereka ikut anak lainnya. Ibumu ini tiga bersaudara, sementara Bapak dua bersaudara." Jelas Ibu lagi.
"Kampung Ibu dan Bapak sama, kan?" Keduanya mengangguk kompak.
"Berikan alamat lengkap rumah kakek dan nenek Wulan! Kalau ada waktu, biar Wulan yang mencari keberadaan mereka."
"Tidak perlu! Kamu jangan pernah ikut campur dalam masalah ini. Ini masalah orang tuamu, kamu hiduplah dengan tenang tanpa tahu di mana mereka sekarang."
"Bu." Bapak mengelus punggung tangan istrinya.
"Ibu dan Bapak mau kalau dicap sebagai anak durhaka? Mereka itu orang tua kalian, masa iya kalian tidak mau tahu tentang kondisi mereka berempat? Anak macam apa kalian ini?" Aku bangkit dari tempat duduk, berkata dengan suara keras.
"Wulan, kamu tidak tahu apa-apa tentang penderitaan kami berdua. Jadi, diam saja! Tidak perlu ikut campur dalam urusan kami!" Ibu tidak kalah keras.
__ADS_1
"Kalian berdua, berhenti! Malah bertengkar karena hal itu. Wulan, itu semua masa lalu, kami tidak mau mengungkitnya, Nak." Bapak berusaha menenangkan aku dan Ibu yang mulai tersulut emosi.
"Wulan mengerti, Pak. Walau bagaimana pun, mereka tetap orang tua dan mertua kalian. Pantas saja hidup kalian selalu serba kekurangan, jadi, ini alasannya. Tidak mau tahu tentang kondisi orang tua masing-masing."
"Jangan sembarangan kamu, Wulan!"
Plaaakkk
Ibu menampar pipi kiriku, rasanya berdenyut dan nyeri. Tapi, yang lebih sakit adalah hatiku yang baru tahu tentang masa lalu kelam kedua orang tuaku pun kedua kakek nenek.
"Ibu, jangan sampai emosi karena hal ini!" Bapak menenangkan istrinya.
"Mulutnya sudah kurang ajar, Pak. Tahu apa dia tentang rezeki? Sembarangan saja berbicara." Ibuku masih menggerutu, beliau tidak mau disalahkan.
"Di mana kampung halaman Ibu dan Bapak? Kalau kalian berdua tidak mau mencari keberadaan kakek nenek, biar aku yang mencarinya sendirian." Aku pernah ditanya oleh temanku waktu SMP. Mereka bertanya tentang keberadaan kakek nenek. Setiap liburan sekolah, mereka selalu bercerita tentang enaknya tinggal bersama kakek neneknya. Jujur saja, mendengar cerita mereka aku merasa iri. Mereka juga selalu bertanya padaku, kenapa aku tidak menghabiskan waktu di kampung kakek nenekku? Rasa penasaran yang begitu besar, rasa penasaran yang sudah tersimpan sekian lama akhirnya bisa aku ungkapkan.
"Sudahlah, jangan ungkit mereka lagi! Mereka tidak akan pernah mengakuimu sebagai cucu. Pernikahan kami direstui karena terpaksa, mereka tidak mau kami bergelimang dosa karena menikah tanpa adanya wali yang sah. Kita hidup bertiga saja, Nak. Setelah kamu menikah dengan Damar, milikilah anak sebanyak-banyaknya!"
"Dih, Ibu ... memangnya Wulan ini mesin pembuat anak. Gak usah mengalihkan pembicaraan deh, tolong kasih tahu alamat kampung asal kalian!" Aku masih berusaha membujuk beliau.
"Nanti Bapak kasih tahu di mana kampung kita sebenarnya. Nama orang tua Bapak dan mertua Bapak. Tapi, ada syaratnya, setelah kamu menikah dengan Damar, Bapak akan memberikan informasi itu semua padamu."
"Wulan capek ngomong sama kalian." Syarat dari bapak terlampau berat. Aku dan Damar sudah memiliki rencana sendiri untuk itu.
Aku duduk di pinggiran ranjang, mencari solusi terbaik.
"Astaga, Tante Iren. Bapak pernah bilang kalau Tante ituh teman Ibu sejak kecil, otomatis mereka satu kampung. Aku harus bertanya pada Tante." Wajah ini menerbitkan senyum lebar.
"Yeeeah." Aku berlonjak kegirangan. Akhirnya aku memiliki jalan ke luar. Besok, aku harus pergi ke rumah Tante.
"Lan, makan siang dulu, Nak!" Ibu mengetuk pintu kamar.
"Males, Bu. Nanti saja."
Suara telepon membuatku mengalihkan perhatian. Kurogoh benda pipih yang ada di dalam tas selempang.
"Siapa ya? Namanya gak tersimpan." Aku menimbang-nimbang, haruskah aku menjawab panggilan telepon ini? Atau aku biarkan saja?
"Kalau ada telpon penting gimana, ya?" monologku seorang diri.
__ADS_1
Dering hape itu berhenti, tapi, selang beberapa detik kemudian, suaranya terdengar lagi.
"Sebaiknya aku jawab saja, deh. Mungkin temen atau siapa yang ganti nomor." Aku menggulir layar ke atas.
"Halo, ini beneran Wulan, kan?" Suara itu, tampak asing tapi seperti pernah mengenal.
"Kamu siapa, ya?"
"Masa kamu lupa sama suaraku? Mentang-mentang sekarang kerja di ibu kota. Jadi sombong ya."
"Loh, kamu tahu kalau aku kerja di Jakarta? Kamu siapa? Pasti temen sekolahku?" Aku menebak-nebak.
"Coba tebak! Aku memang teman sekolahmu. Tepatnya teman SMA."
"Siapa ya? Aku tidak banyak kenal teman sekolah dulu, apalagi kamu itu seorang lelaki. Aku lupa siapa ajah."
"Wulan, coba kamu ingat-ingat lagi! Aku ini teman yang selalu menjahili kamu di kelas. Pernah menyembunyikan buku PR-mu waktu pelajaran biologi sampai kamu kena hukum." Dia mengingatkan aku tentang zaman sekolah dulu.
"Siapa ya?" Aku berusaha mengingat kembali masa itu.
"Tunggu dulu, kamu itu kan Aditya. Cuma Adit yang jahat padaku."
"Woi, aku gak jahat. Usil sama jahat itu beda."
"Enggak, kamu itu jahat banget. Aku sampai dihukum."
"Sorry, waktu itu ada alasannya kenapa aku berbuat seperti itu padamu."
"Alasan? Memangnya apa alasannya?"
"Aku gak mau bercerita di telepon. Aku ingin bertemu langsung denganmu."
"Ingin bertemu langsung?"
"Iya."
"Tunggu dulu, kamu tahu darimana nomor telepon aku?"
"Kamu tidak perlu tahu! Sekarang aku naik ke lantai empat belas. Bukakan pintu apartemenmu untukku!"
__ADS_1
Panggilan terputus.
"Gilakk, Adit. Dia ada di Jakarta? Dan yang lebih gilanya lagi, dia ada di sini?" Aku menutup mulut yang tidak percaya dengan ucapannya di telepon tadi.