Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pengakuan tak Langsung


__ADS_3

"Gue gak punya waktu untuk ini. Kalau kalian mau membahasnya, silakan! Gue pulang sekarang." Laura berbalik arah.


"Ra, tunggu! Elu harus menyusul Zayn di kantor polisi." Suara Damar mulai meninggi.


"Enggak, buat apa? Gue gak salah apa-apa. Ngapain gue harus repot-repot ke kantor polisi?" Tangan perempuan ini mengepal erat.


"Akui saja kalau kalian berdua yang menculikku." Tatapanku bergantian menatap mereka.


"Hahahaha, dasar cewek kampung! Gak sudi ngotorin tangan gue. Tanya sama Dimas sana! Gue mah ogah diajak dia begitu. Dia pernah ngajakin gue, tapi, gue tolak." Setelah mengucapkan itu, Laura meninggalkan kami bertiga.


"Dimas, jelaskan ini sekarang!" Nada suaraku mulai meninggi.


"Sorry, aku gak pernah ngelakuin itu. Itu hanya akal-akalan Laura dan Zayn." Pria itu menyusul Laura.


"Kita harus gimana? Mereka berdua gak ada yang mau mengakuinya. Kita salah langkah, seharusnya menunggu mereka berdua berdebat dulu." Rasa cemas menelusup karena rencana tadi sudah berantakan.


"Siapa bilang mereka tidak mengakuinya? Kamu ingat lagi apa yang mereka ucapkan! Mereka saling menyalahkan satu sama lain." Kening Dimas mengerjap beberapa kali.


"Jadi, kita sekarang harus apa?" Aku bingung dengan semua ini.


"Kita berikan hasil rekaman tadi pada polisi yang menangani kasus ini." Damar mengambil rekaman yang ditempelkan di balik meja. Kamera pun dia ambil dan dimasukkan kembali ke dalam saku blazer yang dia kenakan.


"Kamu yakin, Mas? Kalau mereka mengelak dan membayar agar lepas dari jeratan hukum, bagaimana? Mas tahu sendiri hukum di negeri ini seperti apa. Bisa dibeli asal banyak uang dan koneksi." Aku ragu kalau Laura dan Dimas mendekam di penjara. Laura anak seorang konglomerat, Dimas keponakan sang konglomerat. Tidak mungkin kalau mereka angkat tangan begitu saja, karena jelas-jelas menyangkut nama baik keluarga mereka.


"Kita serahkan saja dulu pada kepolisian. Hasil akhirnya apa, kita harus terima. Tak bisa berbuat banyak kalau dugaan kamu tadi bisa saja terjadi. Tapi, ada satu hal yang mereka dapatkan, kegagalan dalam merusak pernikahan kita." Damar meraih pinggangku, menariknya dan memeluk dari samping.


"Mas, ini tempat umum. Gak usah begini!" Tanganku berusaha melepaskan jeratannya.


"Kita pulang sekarang!" ajaknya.

__ADS_1


"Yah, makanannya sayang banget. Kita makan malam dulu deh, emosi juga butuh tenaga." Aku menyengir sampai gigi terlihat.


"Ck, kamu itu makan mulu. Awas aja gak gesit di tempat tidur setelah kita menikah." Dia mencubit pipiku yang mulai chubby.


"Gak selalu makan banyak kok." Aku duduk di kursi. Damar pun mengikutinya. Kami duduk bersebelahan, tak berapa lama ada dua pramusaji yang menghidangkan makanan dan minuman. Tanpa banyak basa-basi lagi, aku menyantapnya. Tenagaku seperti terkuras karena emosi ketika menghadapi Laura dan Dimas.


"Sudah aku bilang kamu tidak usah dekat-dekat Dimas. Sekarang, tahu 'kan dia seperti apa orangnya?" Damar membahas pria yang malas sekali ketika mendengar namanya.


"Udah deh, Mas! Gak usah sebut namanya, aku males bahas mereka lagi. Aku mau makan malam dengan tenang." Damar tersenyum tipis kemudian menambahkan salad buah di piringku.


Tak berapa lama setelah makan malam selesai, kami berdua kembali pulang. Malam ini kami sekeluarga masih berada di rumah keluarga besar Damar. Tante Iren tidak memperbolehkan kami kembali ke apartemen. Sehari sebelum pernikahan, barulah aku dan orang tuaku harus kembali ke sana untuk menyiapkan hal penting terkait pelaksanaan akad nikah dan resepsi pernikahan.


Setibanya di rumah keluarga besar, kami duduk sejenak di ruang tamu. Tante Iren dan Selena mendekati kami.


"Gimana rencananya? Berhasil?" Selena begitu bersemangat.


"Coba saja, tidak ada salahnya mencoba. Setelah kalian berdua menikah dan hidup bersama, lebih baik kalian memiliki bodyguard agar mereka tidak bisa berbuat macam-macam lagi." Tante Iren mengusulkan.


"Uangnya? Mami yang bayar bodyguard, kan?" Damar mengerutkan keningnya.


"Gak malu masih minta duit? Untung coffee shop kurang banyak?" Tante Iren memukul lengan anaknya.


"Untungnya bisa dipake untuk modal buka cabang di tempat lain, Mam."


"Wulan istirahat duluan, ya. Capek nih." Aku menimpali perkataan mereka. Bukan karena letih tapi lebih ke rasa kecewa yang mendalam karena gagalnya rencana tadi. Entahlah, aku masih pesimis dengan pengakuan Dimas dan Laura.


Mereka menatapku yang mulai beranjak dari tempat duduk. Aku pun kembali ke kamar tamu, menyusul bapak dan ibu yang mungkin saja sudah terlelap. Tak kupedulikan panggilan Damar ketika aku hendak menutup pintu kamar. Besok saja aku berbincang lagi dengannya.


"Wulan, kamu sudah pulang?" Ibu menghampiri. Mendadak memelukku.

__ADS_1


"Ada apa, Bu? Kenapa cemas begitu?" Kuurai pelukan karena ekspresi ibu tak seperti biasanya.


"Ibu takut terjadi sesuatu yang tidak-tidak, padamu." Beliau membimbingku menuju ranjang.


"Gak ada apa-apa, Bu. Buktinya Wulan baik-baik saja, Ibu dan Bapak tidur saja duluan! Biar Wulan ganti baju tidur." Aku melangkah ke arah lemari, mengambil baju tidur dan melangkah ke kamar mandi.


Setelah selesai mencuci wajah sekaligus berganti pakaian, aku kembali ke ranjang, tidur bersama mereka. Ibu memeluk tubuhku yang ada di sampingnya seperti tak mau lepas. Aku jadi kepikiran tentang ini, sebentar lagi aku akan menikah. Masa-masa bersama dengan mereka tak akan seperti dulu. Sebisa mungkin aku manfaatkan waktu untuk menemani mereka berdua. Aku dan Ibu tidur sambil berpelukan.


***


Esok harinya, Damar menyerahkan rekaman video dan suara di restoran kemarin pada anggota kepolisian yang menangani kasus penculikanku. Aku menunggu di rumah karena Damar tidak mengizinkanku pergi. Damar pergi bersama Tante Iren dan Om Purnomo. Sementara Selena, seperti biasa sibuk dengan mata kuliahnya. Besok hari terakhirnya sebelum cuti karena acara pernikahanku dan abangnya. Dia membelikanku produk perawatan wajah sebulan sebelum acara pernikahan. Tapi, sayang sekali aku jarang memakainya.


Satu dua jam aku menunggu dengan perasaan kalut. Belum ada tanda-tanda kedatangan mereka, padahal hari sudah siang. Aku mendadak cemas, tiba-tiba saja jantungku berdegup kencang. Aku berinisiatif untuk menghubungi nomor Damar.


"Lan, kamu ngapain mondar mandir begitu?" Ibu datang menghampiri.


"Perasaan Wulan gak enak, Bu. Mendadak cemas tak karuan. Nih, Wulan nelpon mas Damar." Benda pipih ini masih menempel di daun telinga. Satu kali memanggil, belum ada jawaban.


"Cuma perasaan kamu ajah, Nduk. Gak usah terlalu dipikirkan, mereka tidak apa-apa." Ibu berusaha menenangkan pikiranku.


"Dua kali gak ada jawaban, Bu." Aku semakin lemas dan khawatir.


Kali ketiga, barulah panggilanku di jawab.


"Mas Damar ke mana aja sih? Aku hubungi dari tadi." Dengan suara bergetar, aku berusaha untuk menenangkan diri.


"Wulan, kami ...." Suara itu bukan milik Damar, melainkan suara Tante Iren.


"Tante, kalian kenapa? Mana Damar?" Nada suaraku bergetar hebat.

__ADS_1


__ADS_2