Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Penculikan atau Kabur?


__ADS_3

POV Damar


Sore ini baru saja aku sampai di rumah. Badan rasanya pegal-pegal tak karuan. Terlalu banyak kegiatan yang aku lakukan sebelum acara pernikahan. Seminggu sebelumnya aku akan beristirahat sejenak, memulihkan tenaga dan pikiran.


"Ada sisa tiga hari lagi sebelum beristirahat. Aku harus bisa memanfaatkan waktu sebaik-baiknya agar pekerjaan lekas selesai," gumamku seorang diri. Kurebahkan tubuh ini di atas ranjang. Karena terlalu letih, aku tertidur pulas.


Tubuhku diguncang kuat, kepala rasanya pusing.


"Ck, siapa sih gangguin orang tidur." Tanpa membuka kelopak mata aku mengucapkannya.


"Mas Damar, bangun, Mas! Kak Wulan belum pulang sampai sekarang sudah malam jam tujuh. Dicari ke mana-mana belum ketemu." Aku berusaha mencerna perkataan suara itu. Kelopak mata terbuka, Selena tepat ada di depan wajahku.


"Apaan, Sel? Elu bilang apa tadi? Wulan belum pulang?" Aku mengucek mata pelan, berusaha memulihkan kesadaran. Kuintip sekeliling, ternyata hari sudah malam.


"Iya, Ibu Ningsih baru saja ngabarin. Dia nanya apa Kak Wulan ke sini, Mas Damar gak ketemu Kak Wulan?" Raut wajah Selena cemas dan khawatir, aku pikir dia hanya mengerjaiku, tapi ternyata dia benar-benar serius.


"Iya, buruan cari Kak Wulan!" desaknya.


Tanpa basa-basi lagi aku meraih hape dan kunci motor.


"Mas, kenapa bawa motor? Naik mobil ajah, gue mau ikut." Dia menukar kunci motor dengan mobil.


"Ya udah, ayo buruan!" Aku bergegas turun, tak peduli penampilan yang entah seperti apa.


"Mami sudah nyuruh orang nyari. Mami pikir Kak Wulan mau kabur sebelum pernikahan." Kami berdua berjalan beriringan menuju pintu utama. Mobil itu masih terparkir pada tempatnya, kami berdua masuk setelah mendengar bunyi biip.


"Gak mungkin Wulan kabur. Dia tidak terpaksa lagi menikah dengan gue, gak mungkin dia kabur begitu saja." Tanpa banyak berpikir aku langsung menyalakan mesin kendaraan.


"Gimana dong, Mas? Bu Ningsih tadi nangis-nangis. Nomor telepon Kak Wulan juga belum bisa dihubungi." Selena kalut.


Aku harus bisa berpikir jernih agar cepat menemukannya. Aku harus pergi ke tempat terakhir Wulan berada.

__ADS_1


"Telepon Bu Ningsih! Tanyakan Wulan ke mana saja hari ini!" suruhku pada adik bungsu.


Selena melakukan apa yang kusuruh, sambil menyetir mobil, aku berusaha meredam emosi. Selena mengatakan bahwa Wulan belum pulang sejak pergi ke tempat gym Aditya.


"Sudah gue bilang gak boleh ke mana-mana, malah pergi ke sana tanpa izin," geramku seraya mengepal erat setir mobil.


"Sabar, Mas! Jangan marah-marah dulu! Kita fokus nyari Kak Wulan. Semua rekan kerjanya tidak tahu Kak Wulan di mana. Ibu Ningsih begitu khawatir." Selena lagi-lagi menjelaskan.


"Ck, Kakak iparmu itu bandel. Sudah dibilangin gak boleh ke sana." Aku masih ingat di mana alamat gym tersebut. Entah masih buka atau sudah tutup karena sudah jam tujuh malam lewat. Aku tidak memperhatikan jam operasional milik Aditya.


Setengah jam kemudian, akhirnya kami tiba di bangunan gym ini.


"Lho, kenapa ke sini, Mas?" tanya Selena.


"Tentu saja kita nanya Adit, dia yang bertemu Wulan terakhir kali." Aku ke luar dari kendaraan diikuti oleh Selena.


Beruntunglah tempat ini masih ramai, kucari keberadaan Aditya. Bertanya pada orang-orang yang ada di sini dengan tidak sabar.


"Siapa Anda? Masuk ke sini malah tidak bersikap sopan." Ada yang menegurku.


"Kalian berdua kenapa?" Aditya menghampiri kami bertiga. Selena menarik lenganku yang terulur, tanganku dicegah olehnya.


"Mana Wulan? Elu pasti tahu dia di mana, atau bisa saja elu yang merencanakan kehilangan Wulan." Aku memberondongnya dengan asumsiku sendiri.


"Wulan, kamu mencari Wulan jam segini di sini? Kamu tidak salah? Dia sudah pulang sejak sore tadi, sekitar pukul empat sore." Aditya mengernyit heran sambil menatapku.


"Dia belum pulang sampai sekarang," sahutku.


"Gak mungkin, dia pamit padaku karena kamu yang menjemputnya. Aku hendak mengantarnya pulang, tapi dia menolak. Kamu yang menjemputnya." Adit sepertinya tidak berbohong. Nada suaranya meyakinkan.


"Jadi, Wulan bilang aku yang menjemputnya pulang? Dia saja tidak gue izinkan berolahraga di tempat ini." Wulan sanggup berbohong hanya demi Aditya. Apakah dia memiliki perasaan pada Adit dan memilih pergi dariku? Sepersekian detik aku termenung.

__ADS_1


"Mas Damar, kita gak usah berdebat! Saatnya nyari Kak Wulan sebelum tengah malam," usul Selena.


"Aku ikutan mencari, kita mencari di sekitar sini saja dulu!" Aditya pun merasa cemas. Dia pasti terlalu menyukai Wulan sampai mengorbankan waktunya. Aku tidak suka dia menawarkan bantuan.


"Tidak perlu! Kami berdua akan mencari Wulan, Elu gak usah ikut campur dalam hal ini." Aku menarik lengan Selena, berbalik arah tapi Selena malah mengibaskan tangannya.


"Mas Damar, ada yang mau bantuin tapi malah menolak." Tatapannya tajam.


"Ayo Mas ikutan bantuin, soalnya Kak Wulan itu bukan tipikal perempuan yang neko-neko. Dia perempuan baik-baik, Selena takut terjadi apa-apa yang buruk padanya." Adikku itu menarik lengan Aditya.


"Ayo, aku ambil jaket dulu. Setelah ini kita pergi nyari Wulan." Dia bergegas pergi.


Sekembalinya Aditya, kami bertiga berpencar mencari keberadaan Wulan. Selena pergi bersama satu karyawan Aditya. Kami berpencar ke tiga arah berlawanan. Aku berjalan, kepala ini menatap lampu jalanan yang menyala terang. Ada kamera CCTV di sekitar sini. Aku bisa mencarinya dengan cepat kalau pergi ke kantor polisi lalu lintas. Di sekitar sini aku melihat beberapa kamera CCTV.


"Aku harus menyelidikinya saat ini juga," lirihku.


Aku menghubungi Selena, menyuruhnya ke tempatku. Setelah kami berkumpul, aku menunjukkan kamera cctv yang begitu kecil di atas sana. Ada lampu merah yang terpasang, tentu saja ada kamera pengawas. Aditya pun setuju dengan apa yang kuucapkan. Akhirnya kami berempat pergi ke kantor polisi lalu lintas terdekat.


Di sana, kami meminta izin untuk melihat rekaman kamera sekitar pukul empat sore sampai jam enam sore. Sebagai pelicin, aku memberikan petugas yang memantau layar beberapa lembar uang berwarna merah. Kalau tidak begini, mereka tidak akan mau menunjukkan rekamannya.


Aditya menunjuk Wulan yang berjalan di trotoar. Tunanganku itu tampak baik-baik saja. Dia masuk ke sebuah warung makan. Tak berapa lama kulihat Wulan mengelus perutnya.


"Astaga, Kak Wulan. Selesai olahraga malah makan, pantas saja ngembang lagi," ejek Selena.


"Sel, gak lucu. Kita lagi nyari keberadaan Wulan," hardikku.


"Maaf, Mas." Tatapan mata kami kembali beralih menatap monitor.


"Ini dia! Dia Wulan, dia diseret masuk ke dalam mobil!" Tunjuk Aditya.


"Hentikan dulu rekamannya!" seruku.

__ADS_1


Aku melihat mobil itu, melihat dua orang yang memakai masker hitam dan kaca mata hitam. Kuraih hape untuk mencari tahu sesuatu.


"Kita bisa melacaknya, kan?" tanyaku pada petugas tadi.


__ADS_2