
"Bisa, catat plat nomornya! Kita bisa lacak keberadaan mobil yang membawa Wulan." Aditya berusaha melihat monitor, dia meraih hape dan mengetik sesuatu.
"Kita pergi sekarang!" ajaknya tergopoh.
"Pergi? Biar gue yang cari keberadaan Wulan. Elu pulang ajah sana! Gue bisa cari dia, melacak plat kendaraan." Kutarik kerah bajunya.
"Mas Damar, bukan waktunya bertengkar! Kita harus bekerja sama untuk menemukan Kak Wulan." Selena melerai seranganku pada Adit.
"Ck, gue gak suka dia deket-deket Wulan. Dia suka sama Wulan, Sel." Tunjukku pada dadanya.
"Udah deh, Mas! Gak usah ribut-ribut! Ayo kita cari Kak Wulan sebelum ada apa-apa. Kalau kelamaan gue takut ada apa-apa." Lagi-lagi Selena menyeretku ke luar dari ruangan pantauan cctv ini.
Sesekali Selena melirik Aditya, kupergoki mereka berdua yang saling beradu pandang sepersekian detik.
"Awas aja, Elu! Gak boleh suka sama dia!" ucapku tepat di daun telinganya.
"Mas Damar, fokus sama Kak Wulan. Kenapa malah gue yang Elu damprat?" Dia menepis lenganku kasar.
Kami berempat masuk ke dalam taksi yang diberhentikan karyawan Aditya. Adit menelpon seseorang, sebenarnya aku juga bisa menghubungi Roni, Andre atau pun Dimas. Mereka pasti mau membantu. Selena selalu menyudutkan aku agar ikut saja apa yang Aditya lakukan. Aku tunangan Wulan, bukan dia. Kenapa malah terlalu ikut campur begini? Jujur saja, aku tidak suka padanya.
"Berhasil, ketemu. Mobil itu terekam kamera cctv, kendaraan itu kini terparkir di sebelah gudang penyimpanan barang bekas yang sudah tidak digunakan lagi. Lokasinya dekat dengan jembatan layang Casablanca." Adit menyodorkan hapenya padaku. Aku melirik sekilas, di sana ada mobil hitam yang mengebut.
Aditya menyuruh taksi pergi ke lokasi itu. Aku tidak sabar ingin mengetahui siapa yang menculik Wulan. Sepuluh hari lagi acara pernikahan kita akan dilangsungkan. Tapi, masalah ini mendadak muncul. Konsentrasi pada pekerjaan seketika pecah.
"Mas, Mami nelpon nih." Selena menyadarkan lamunanku.
"Kenapa gak nelpon ke nomor gue ajah," gerutuku sambil meraih hape itu.
"Mas Damar hapenya off, makanya Mami nelpon gue." Setelah mengatakan itu, Selena melengos.
Aku menempelkan benda pipih itu di daun telinga.
"Iya, Mam?"
"Damar, mana Wulan? Dia sudah ketemu, kan? Papi dan Mami ke kantor polisi ajah kalau dia belum ketemu." Nada suara beliau bergetar hebat.
"Tidak perlu, Mam! Kami sekarang menemukan kendaraan yang membawa Wulan. Kami sekarang ke lokasi, Mami dan Papi tidak perlu gegabah." Aku berusaha menenangkan beliau.
__ADS_1
"Tapi, kalian harus hubungi anggota kepolisian. Jangan sampai ada hal buruk lainnya," usul Mami.
"Iya, Mam. Damar akan melaporkan kejadian ini pada kepolisian. Sudah dulu, ya Mam! Mami beristirahat saja dulu!" Tanpa menunggu sahutan beliau, aku langsung memutuskan panggilan.
Kulihat Aditya yang sejak tadi sibuk mengetik sesuatu di layar hapenya. Rasa ingin tahu meningkat, tapi Selena malah menyikut.
"Di sana, Pak!" Tunjuk Adit pada pak sopir.
Kendaraan ini sekarang ada di jalanan yang terpencil, tak banyak kendaraan yang berlalu-lalang.
"Tempat ini aneh sekali." Selena melihat ke luar jendela.
"Ini kawasan industri yang terbengkalai sejak sepuluh tahun terakhir," timpal Adit.
"Di sini, lokasi terakhir yang dikirim temanku ada di sekitar sini." Aditya menghentikan sopir taksi.
"Bapak tunggu kami di sana! Jangan sampai terlihat, parkir di bawah pohon gelap atau di mana gitu." Aditya menyodorkan uang pada pak sopir
"Tidak, gue yang bayar." Aku menampik uang itu agar tidak diterima pak sopir.
"Bapak jangan ke mana-mana! Nanti aku tambah bayarannya." Pak sopir itu tentu saja senang, dia mengangguk takzim.
Kami berempat berpencar menjadi dua tim. Adit dan orang suruhannya, sementara aku dan Selena. Kami mencari keberadaan mobil yang membawa Wulan. Entah berapa lama kami berjalan, Selena sampai mengeluh.
"Mas, gue capek banget nih. Gak ketemu juga tuh mobil," keluhnya.
"Kita coba lagi, Sel." Aku berusaha membujuk.
"Nelpon Mas Adit ajah, mungkin dia sudah menemukan mobil itu," usul adikku ini.
"Gue gak punya nomornya. Kita coba cari lagi, keliling di tempat ini sebentar lagi." Kutarik lengannya agar kembali berjalan.
"Mas, tempat ini tuh bekas kawasan industri. Luas banget, betis gue udah pegel." Lagi-lagi Selena mengeluh.
"Ya sudah, Elu tunggu di sini! Biar gue yang cari mobil itu." Terpaksa aku mengiyakan permintaan Selena.
"Mas, gue takut sendirian." Dia menyusul langkahku.
__ADS_1
"Tadi bilang capek, sekarang bilangnya takut. Mau Elu apa, Sel?" Kesal juga lama-lama melihat tingkahnya.
"Gue capek dan takut. Gue pikir Mas Damar mau beristirahat bentar, ternyata enggak." Dengan gontai dia berusaha menyusul langkahku.
"Eh, Mas ... Di sana ada tiga mobil!" Tunjuk Selena pada tiga kendaraan yang terparkir sembarangan di sebuah pabrik kosong. Hanya ada satu lampu yang menerangi halaman yang luas di sana. Lampu itu terlihat suram. Pintu gerbangnya terlilit rantai dan digembok.
"Kita ke sana! Kita cari tahu dulu plat nomor kendaraan itu sama atau tidak dengan yang gue catat tadi." Aku melangkah lebih cepat, meninggalkan Selena.
Bersusah payah kulompati pagar. Kurogoh hape di dalam saku celana, mencari foto nomor plat kendaraan tadi. Aku mencocokkannya dengan ketiga mobil ini. Ketiga mobil ini sama-sama berwarna hitam.
"Sial, Wulan pasti ada di dalam." Aku berlari, mencari jalan masuk ke dalam sana. Sebisa mungkin aku tidak mengeluarkan suara agar tidak ada yang terganggu dengan kehadiranku.
Kaki ini mengitari gedung terbengkalai, mencari keberadaan pintu masuk. Kini, aku berada di bagian belakang bangunan, ada dua orang pria yang duduk sambil menikmati makanan di depan pintu yang tertutup.
"Pasti mereka yang menculik Wulan. Aku harus membuat perhatian mereka teralihkan agar bisa masuk ke dalam sana," lirihku hampir tidak terdengar.
Kucari benda yang bisa dilempar, ada batu-batu kecil yang teronggok di pinggiran pembatas dinding. Aku mengumpulkan batu itu dengan cepat. Kebetulan sekali mereka tengah menyantap hidangan, jadi, aku bisa memanfaatkan kesempatan.
Dua tanganku sudah penuh dengan batu-batu, tanpa menunggu lama, segera aku melempar beberapa batu sekaligus pada keduanya yang tengah asik menikmati makanannya.
"Bangk3, batu darimana ini? Bubur gue tinggal dikit, malah kemasukan kerikil," gerutu pria botak.
"Ck, punya gue juga." Yang satunya menyahut.
Tak menunggu lama aku kembali melempar beberapa batu pada mereka.
Yes, kena kepalanya si botak.
"Sialan, ini siapa yang lempar-lemparan batu?" Dia geram.
"Apa mungkin ulah makhluk halus? Tempat ini sudah lama tidak berpenghuni, kita masuk saja kalau begini!" ajak pria lainnya.
Aku kembali melempar, kali ini aku melempar batu-batu itu tanpa pandang bulu. Aku berusaha bersembunyi di tempat yang gelap agar tidak ketahuan.
"Tunggu, sepertinya ada bayangan di sana. Sebaiknya kita periksa dulu." Ucapan dari si botak membuatku waspada.
Ck, padahal gue udah berusaha untuk berhati-hati.
__ADS_1