Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Mencari Kenangan Yang Hilang


__ADS_3

POV Damar


Selena mengajakku turun ke lantai satu untuk makan bersama. Kami berdua menuruni anak tangga sambil bersenda gurau. Mami dan Papi ternyata sudah duduk berdampingan di ruang makan. Mereka menunggu kami.


"Damar, kamu tuh ya, selalu saja harus diingetin. Panggil Wulan dan keluarganya sana!"


"Hem," sahutku acuh melangkah menjauh dari mereka.


Aku berjalan malas ke arah kamar tamu, ingin segera mengetuk pintu, namun urung aku lakukan. Pintu itu sedikit terbuka, aku menajamkan telinga, mendengar perbincangan orang tua dan anak itu. Aku tersentak mendengar perkataan yang ke luar dari mulut Ibu Ningsih.


"Sejak kapan gue dan Wulan dekat? Memangnya kita pernah bertemu di waktu kecil? Kenapa gue gak ingat apa-apa, sama seperti Wulan? Aneh, gue yakin ada yang mereka sembunyikan.


Aku sampai terlonjak dari tempat berdiri, wanita seumuran Mami jtu berteriak kencang memanggil anak anaknya. Kaki bergegas masuk ke dalam kamar tanpa permisi.


"Ada apa, Bu? Kenapa Wulan bisa pingsan?" Tubuh Wulan tergeletak di sisi ranjang dengan kaki terjulur menjuntai ke lantai.


"Ibu, Bapak, boleh tolong Damar ambilkan minyak angin di kotak obat? Bisa minta ke Bi Inem."


"Wulan, gimana dengannya, Nak?" Ibu Ningsih terisak, air mata ke luar dari sudut mata.


"Biar Damar atur posisinya."


"Ayo, Bu!" Mereka berdua meninggalkan kami. Aku meraih pinggang gadis ini, menggendongnya seperti bayi kemudian diletakkan pada posisi yang benar di atas ranjang. Wajahnya begitu pucat, aku menepuk pipinya berulang kali sambil memanggil namanya.


"Lan, Elu kenapa pingsan begini? Lan, bangun! Besok acara pertunangan kita, masa iya Elu bisa pingsan." Kucoba membuatnya emosi, mana tahu telinganya bisa mendengar. Tapi, hasilnya nihil. Kelopak matanya saja tidak menyipit.


"Ini, Mar. Usapkan ke lubang hidungnya!" Ibu Ningsih menyerahkan minyak kayu putih, aku mengoleskan minyak itu pada area hidung Wulan.


"Lan, bangun! Saatnya kita makan malam, ayo bangun!" Aku berusaha mengguncang pundaknya.


"Nak Damar, jangan digituin anak Ibu. Kasihan, Nak."


"Tenang saja, Bu! Dia itu gadis bar-bar dan kuat. Gak akan mati kalau cuma begini."

__ADS_1


"Damar, Wulan kenapa?" Mami, Papi dan Selena masuk menghampiri ranjang.


"Ck, kenapa semuanya ke sini? Damar minta tolong pada semuanya, Wulan perlu bernapas dengan baik, biar Damar yang menjaga Wulan di sini. Kalian semua makan saja! Suruh Bibi antarkan dua porsi makanan untuk kami."


"Damar, Wulan pingsan malah bercanda. Kamu gimana sih?" Mami memarahiku.


"Sudahlah, Mam! Memang benar apa yang dia katakan. Orang pingsan gak boleh dikerubungi, ayo kita pergi ke meja makan! Ada damar yang bisa mengatasinya." Papi mengerti keputusanku.


Akhirnya hanya ada kami berdua di sini, aku penasaran ingin menanyakan hal penting padanya. Semoga saja tidak berlarut-larut perempuan ini dalam pingsannya.


Aku menjepit hidungnya dengan ibu jari dan jari telunjuk. Kepalanya mulai bergerak perlahan, kulepaskan jepitan di hidungnya.


"Lan, bangun woi!" Aku kembali menepuk pipinya bergantian.


Suara Bibi terdengar, aku menyuruhnya untuk meletakkan nampan berisi dua piring dan dua gelas itu di atas meja rias. Wanita tua itu kembali ke tempat asalnya.


Aku kembali mencoba memencet hidungnya berulang kali.


"Eumh," Dia mulai tersadar. Syukurlah dia mulai sadarkan diri.


"Elu pingsan barusan, sekarang bangun! Ayo kita makan dulu!" Aku harus membuat perutnya terisi sebelum menanyakan perihal kenangan masa kecil kita berdua.


"Males, aku gak mau makan." Dia menolak ketika kusodorkan piring yang berisi nasi beserta lauk-pauknya.


"Kalau Elu nolak, gue bilangin Mami biar dia ke sini. Elu mau dengerin Mami gue ngomel?" Dia menggeleng cepat. Dengan tangan yang bergetar, dia mengambil piring ini.


Tampak sekali raut wajahnya terpaksa menelan makanan itu. Aku pun memakan makan malam di sini, di atas ranjang bersama Wulan. Mata kami sekilas beradu pandang, keningnya mengernyit heran.


"Kenapa kamu malah makan di sini juga?"


"Mau gimana lagi, gue disuruh jagain Elu. Daripada ujung-ujungnya ribut, gue nurut ajah." Aku menyuap makanan ini dengan santai.


Hening sejenak, yang terdengar hanya suara dentingan sendok garpu yang beradu dengan piring. Setelah makan dan minum, kami berbincang kembali. Tepatnya, aku yang memulai pembicaraan. Piring kotor dan gelas kosong aku singkirkan tepat di atas nakas.

__ADS_1


"Lan, Elu gak ingat kalau waktu kecil kita sudah bermain bersama?" Dia menggeleng lemah.


"Setiap aku mau mengingatnya, selalu saja kepalaku sakit dan hilang kesadaran. Aku tidak tahu ada apa denganku." Wajahnya lesu.


"Bukan cuma Elu, gue juga gak ingat apa-apa. Tapi, foto ini bukti tentang keberadaan kita yang biasa bermain waktu kecil." Aku berjalan menuju meja rias, menyambar pigura foto yang terbuat dari kaca. Aku tadi melihatnya sekilas ketika mengambil piring untuk Wulan.


"Ini, ini menjadi bukti yang kuat bahwa kita memang akrab waktu kecil dulu." Dia meraih foto itu. Kepalanya mengangguk lemah.


"Tapi, walau pun begitu, aku tidak bisa mengingatnya. kamu bilang juga gak ingat, jadi, kita harus bagaimana? Bukannya apa, aku merasa aneh kenapa kenangan masa SD dulu tidak ingat? Padahal, waktu aku SMP dan SMA, semuanya aku ingat."


"Sama, kita mengalami hal yang serupa. Bagaimana kalau kita selidiki semua ini berdua saja?"


"Ngapain? Tanya saja sama Ibu atau Tante, beres lho."


"Elu yakin? Mereka gak akan memberitahu apa yang terjadi dengan kita. Mereka menutupi sesuatu, orang tua kita menutupi rahasia besar pada kita berdua." Perempuan ini berpikir keras.


"Bener juga apa kata kamu. Jadi, apa yang harus kita lakukan?"


"Gue juga bingung, tapi, kita harus pergi ke tempat ini! Gue pernah denger kalau kita kembali ke tempat kenangan itu, kita bisa mengingatnya lagi secara berkala."


"Tempat ini? Rumah yang ada di kampung aku ini, bukan rumah Ibu dan Bapak, mungkin rumah ini rumah orang tuamu dulu." Dia menunjuk foto itu.


"Iya, kita berdua harus ke sana."


"Bagaimana caranya? Sementara besok acara pertunangan kita, lusa pembukaan coffee shop yang baru."


"Kenapa kita gak berpura-pura mengantar orang tua Elu pulang kampung? Orang tua Elu cuma sebulan saja di sini, kan? Kita bisa beralasan itu pada Mami, sekalian liburan."


"Eh iya, pinter juga kamu bohong ya." Dia berbinar-binar.


"Menghina apa muji, Lu? Kelakuan kok."


"Hehehe, maaf. Kamu mikirnya pas banget sih, pake nganterin pulang kampung segala. Semoga mereka gak curiga, soalnya kita itu selalu berantem eh malah mau liburan bareng." Ekspresi wajahnya membuatku gemas.

__ADS_1


"Setelah ini kita harus agak damai sedikit, biar mereka gak curiga."


"Curiga? Siapa yang curiga pada siapa?" Kami berdua melihat ke asal suara, aku menelan ludah dengan berat.


__ADS_2