
"Damar, Elu cemburu sama gue—temen Elu sendiri?" Dimas menunjuk wajahnya.
Aku menarik tubuh Wulan agar mendekat padaku.
"Wulan, jangan sampai kamu pergi dengannya lagi! Dan buat Elu Dimas, Elu pikir gue gak tahu kelakuan Elu seperti apa? Jangan sampai Elu mendekati Wulan lagi atau gue bisa laporkan ini pada polisi!" Aku harus tegas padanya, walau pun dia itu sahabatku sendiri, tapi, untuk urusan yang satu ini, aku tidak akan membiarkannya. Dia sudah pernah melakukan pelecehan terhadap beberapa perempuan dan selalunya lolos dari hukum karena kurangnya bukti yang kuat. Dia selalu beralasan pada pihak hukum sebagai asas suka sama suka.
"Maaf ya, Dimas. Makasih atas tumpangannya untuk hari ini." Wulan masih saja berbicara padanya.
"Dimas, pergilah sekarang juga!" usirku tak sabaran.
"Easy, gue cabut dari sini Bro. Ah, Elu gak asik banget." Dia segera masuk ke dalam mobil dan berlalu pergi dari pelataran parkir.
"Wulan, kita masuk sekarang!" Aku menarik tangannya walau banyak mata yang memandang kami.
Kami berpapasan dengan beberapa pelanggan dan karyawan. Aku tetap menariknya hingga akhirnya kami tiba di depan sebuah pintu, kuputar kenop pintu ruang kerja itu.
"Masuk sekarang! Apa yang kamu lakukan dengan Dimas?" tanyaku memastikan.
"Kamu gak kenapa-kenapa, kan?" Aku mengecek kondisi tubuhnya.
"Iih, Damar. Apaan coba sampe buka jaketku segala." Dia menepis tanganku kasar.
"Maaf," ucapku akhirnya mengalah.
"Aku harus ganti baju. Mas Riki menghubungi agar aku bekerja sejam lebih awal. Hari ini aku kebagian sif siang, tapi karena permintaannya aku harus datang." Gadis di depanku ini menjelaskan.
"Mas Riki?" Dia mengangguk mengiyakan.
"Kenapa kamu malah memanggil dia, Mas? Sementara aku yang jelas-jelas tunanganmu sendiri malah dipanggil nama, mana kasar lagi kalau manggil." Tangan ini terlipat di dada, meminta penjelasan darinya.
"Usia kita tidak jauh, Mar. Sementara jarak umurku dengan Mas Riki terpaut dua tahun, wajar saja kalau aku memanggilnya 'Mas' sudah biasa di daerah kamu begitu." Dengan santainya dia menjelaskan.
__ADS_1
"Seharusnya kamu memanggilku dengan panggilan 'Mas' juga! Aku akan lebih senang kalau mulutmu itu menyebutkan panggilan mas."
"Iya, Mas Damar." Setelah mengucapkan itu, kepalanya melengos. Wajahnya bersemu merah.
"Aku harus bekerja." Tanpa aba-aba dariku dia pergi dari ruangan ini.
"Wulan, Wulan. Manggil mas saja susahnya minta ampun." Aku menggeleng pelan sambil tersenyum tipis.
Suara dering hape membuatku merogoh tas kerja. Ada sebuah nama yang kukenal.
"Pak dosen yang satu ini, tumben nelpon." Melihat nama di layar hape, tanpa basa-basi aku menjawab panggilan itu.
Setelah berbincang dua menit, panggilan terputus. Sialnya, jadwal hari ini dimajukan. Aku harus pergi ke kampus menggantikan beliau. Baru saja sampai di tempat kerja, sudah harus pergi ke kampus. Tugasku akhir-akhir ini tak mudah.
Aku harus pergi dari tempat ini. Berpesan pada Riki untuk menjaga situasi dan kondisi coffee shop agar lebih kondusif.
Baru saja membuka pintu, ada wajah yang membuatku muak. Dia tersenyum lebar, berusaha mendekati tubuhku.
"Laura, gue sibuk. Gue harus pergi ke kampus, gue harus pergi sekarang." Kuacuhkan dia begitu saja. Tak peduli pada panggilannya.
Sepuluh menit kemudian, kukendarai lagi mobil ini. Berhenti tepat di parkiran kampus. Aku segera berlari menuju ke ruangan di mana aku harus mengajar. Syukurlah waktunya kurang lima menit lagi, setidaknya, aku tepat waktu. Masuk sebelum waktunya.
Setelah tiga jam berkutat dengan materi yang sama, akhirnya aku bisa bernapas lega. Satu jam untuk angkatan baru, satu jam lagi untuk angkatan semester akhir, satu jamnya lagi untuk angkatan satunya. Cukup melelahkan.
Aku masih bersandar di kepala kursi, berusaha menenangkan diri di kelas yang sudah kosong ini. Kupejamkan mata sejenak, setelah dirasa cukup beristirahat. Aku beranjak dari tempat duduk, berjalan dengan santai, menuju kantin sejenak untuk menghilangkan dahaga. Setelah membeli minuman, aku meneguknya dengan santai. Isi gelas sudah tandas, kaki ini pun bergerak kembali menuju parkiran.
"Damar, gue tungguin dari tadi." Suara itu, aku terperangah melihat kehadirannya di kampus ini.
"Elu keren banget pas ngajar tadi. Gue gak salah milih Elu sebagai calon suami gue." Senyumnya semakin lebar.
"Ra, Elu baru sembuh dari penyakit gila? Bisa-bisanya gak punya malu ngomong seperti itu." Aku mencemoohnya.
__ADS_1
"Damar, ayolah! Elu pasti masih suka sama gue. Dengar-dengar Elu terpaksa melakukan pertunangan itu karena perjodohan orang tua kalian." Dia tertawa puas.
Tahu darimana perempuan satu ini? Bukannya dia tidak punya teman selama bersekolah di ibu kota? Kira-kira siapa yang memberitahu dia?
"Sembarangan, itu dulu. Sekarang enggak, jangan halangi jalan!" Aku menerobos tubuhnya, mendorong ke samping agar aku bisa masuk ke dalam mobil.
"Damar," suara lainnya memanggil.
"Astaga, dua perempuan ini sama. Sama-sama membuatku pusing, ck," decakku kesal.
Aku tidak mengindahkan panggilan mereka berdua yang bersahutan. Beruntung saja pintu mobil segera aku kunci tadi. Jadi, mereka tidak akan bisa membukanya. Setelah berhasil berbelok, akhirnya aku terlepas dari dua mahkluk itu. Mereka berdua sungguh menjengkelkan.
Sudah hampir jam empat sore, aku harus kembali ke coffee shop yang baru. Sesampainya di sana, kondisinya lumayan sepi. Mungkin karena tea time sudah berakhir. Karyawanku membersihkan tempat ini. Ada yang mengelap kaca, membersihkan meja dan menyiram tanaman. Dedikasi mereka terhadap pekerjaan patut diacungi jempol. Mereka tidak hanya bekerja ketika ada bos yang melihat. Tapi, dalam kondisi seperti sekarang pun, mereka masih rajin bekerja.
Sengaja aku belum ke luar dari kendaraan. Mengawasi mereka dari dalam sini. Beberapa menit kemudian barulah aku ke luar mobil. Ada suara knalpot yang membuat telinga berdenging, beberapa motor menghampiri, mereka turun dari tempatnya dan berjalan masuk. Ada satu orang yang aku perhatikan. Badannya atletis, aku yang seorang pria saja cemburu karena dia memiliki tubuh seperti itu. Sementara tubuhku tidak berotot seperti itu. Otot bisepku belum menonjol sempurna karena kurangnya latihan.
Aku melihat pemandangan yang tidak biasa, tanpa basa-basi lagi aku masuk. Menatap mereka dengan tatapan mengintimidasi.
"Damar!" Suara itu lagi, aku mendorong tubuhnya keras.
"Hei, jangan kasar gitu sama seorang perempuan." Pria yang bersama Wulan menghampiri Laura yang terjatuh karena doronganku tadi.
"Dia pantas diperlakukan seperti itu. Dia selalu saja menempel, aku muak melihatnya." Tatapanku beralih pada Laura dan pria itu. Mereka berdua berdiri berdampingan, pria itu menjadi penopang Laura.
"Bukannya minta maaf, malah menghina seorang perempuan. Kamu ini lahir dari seorang perempuan apa lahir dari batu? Tidak perlu menghina kalau tidak suka." Dia sok sekali menasehati aku.
"Gak usah sok seperti pak ustadz, berceramah di tempat ini." Aku mencebik malas.
"Damar," perempuan itu akhirnya bersuara setelah beberapa menit berselang.
"Damar, minta maaf sama Laura!" Dia menghampiriku.
__ADS_1
"Kenapa aku harus meminta maaf padanya? Aku tidak salah." Dengan congkaknya melengos berbalik pergi.
"Damar, minta maaf sekarang atau aku tidak mau menuruti perintahmu lagi." Suara Wulan tidak main-main. Baru kali ini aku mendengar nada suaranya yang mengancam.