
Lena, Riki dan dua orang pria yang tidak kukenal menghampiri kami. Ada satu orang yang berani merangkul leher Damar, berbisik pelan kemudian mereka masuk ke dalam coffee shop tanpa basa-basi dengan kami lagi. Pandangan Lena dan Riki tidak beralih, mereka berdua menatapku lekat sambil mengernyitkan kening.
"Mumpung dia sudah tenang, kita berangkat sekarang juga, Dit!" Kepala ini melengos, berbalik arah.
"Yakin?"
"Ayolah, sudah ada pawangnya dia. Biarin ajah begitu!" Aku berjalan santai ke arah pelataran parkir.
Helem yang ada di atas jok motor, kupakai kembali. Aku tidak ingin tahu kenapa Damar bisa menuruti pria tadi. Sekarang, yang aku inginkan, mengetahui tempat gym milik Aditya.
Pria itu mengulurkan helem, "Eh, biar aku ajah yang makein." Tangannya bergerak cepat memakaikan helem.
"Siapa yang menyuruh kalian berdua pergi!" Kepala ini menoleh ke asal suara, Damar bersedekap, menatapku sengit.
"Gak usah ngajak ribut, Mar! Aku capek ladenin kamu."
"Ayo, kita pergi Dit!" Adit bergerak, duduk di atas jok motor.
"Jangan, enak saja Elu naik motor ini bareng dia." Damar menarik lenganku.
"Hei, jangan kasar begitu!" Aditya bergerak cepat, turun dari motor dan menghadang Damar.
"Tunjukkan saja jalannya! Biar gue yang nganterin Wulan. Berikan helemnya!" Damar tak sabaran, dia melepaskan helem di kepala ini.
Helem itu dia sodorkan pada Aditya. Tatapannya begitu sengit.
"Gue gak mau berantem di tempat usaha gue sendiri. Sekarang, kalau Elu mau nunjukin tempat gym yang Elu maksud, silakan! Jalan duluan, kami akan menyusul." Damar menarik lenganku agar mengekori langkahnya. Sementara aku mengangguk pada Adit.
Pria itu berdecak, membawa helem tadi dan menggantungnya di setang motor. Pria itu menyalakan mesin kendaraan. Motornya bergerak cepat.
"Cepat, Mar! Bisa-bisa ditinggal." Aku melihat motor itu sudah menjauh pergi.
"Gak usah nyuruh-nyuruh gue." Kendaraan ini meluncur memecah jalanan ibu kota, berada di belakang motor Aditya.
Entah sudah berapa lama kami di jalan, akhirnya motor itu berbelok ke arah kiri dan berhenti tepat di pelataran parkir sebuah gedung bertingkat dua yang begitu megah.
"Wah, bagus ya gym milik Aditya. Pinter sekali dia sampai punya tempat seperti ini." Aku terkesima melihat bangunan di luar gym.
Aku dan Damar sudah ke luar dari mobil, kami melangkah bersama menuju undakan. Di sana, Aditya menunggu kedatangan kami.
__ADS_1
"Adit, gilaaak ... keren banget ini tempatnya. Aku gak sabar mau lihat yang ada di dalam."
"Boleh, ayo kita masuk!" Aditya bergegas masuk ketika ada yang membuka pintu untuknya.
Damar diam membisu, dia melangkah malas dan tak mau menatap benda-benda yang ada di tempat ini.
"Wah, lama gak olahraga. Jadi pengen nyoba latihan di sini." Aku mengangkat dumble yang tertulis angka lima.
"Jangan angkat beban, Lan! Nanti tanganmu berotot." Damar melarang.
"Biarkan saja! Malah bagus kalau perempuan latihan otot. Mereka pasti kuat dan bisa menjaga dirinya sendiri." Aditya menimpali.
"Kalian gak usah berdebat dulu! Lanjut nanti saja debatnya! Ajak aku berkeliling, Dit! Ada lantai dua juga." Aku mendongak, menatap kaca transparan yang menampakkan adanya treadmill yang berjejer rapi. Ada beberapa orang yang tengah berjalan dan berlari di sana.
"Gue bosen, gue tunggu di sini saja!" Damar duduk di sofa tunggu.
"Elu kalau mau keliling, silakan! Tapi, jangan jauh-jauh! Gue kasih waktu sepuluh menit." Ucapan Damar membuat Aditya menimpali.
"Udahlah, Dit! Gak usah ladenin dia." Aku mendorong punggung Adit, kami berdua melangkah pergi meninggalkan Damar. Aku tak mau kalau mereka berdebat hanya karena hal kecil seperti ini. Lebih baik mengalah saja, apalagi di sini banyak orang.
Kami berdua berkeliling, menelusuri setiap ruangan dan sudut. Beberapa instruktur tempat ini menyapa Bos mereka. Kalau bukan Adit, siapa lagi.
"Lumayan, rumah yang di kampung aku gadai dan aku gunakan untuk menjadi modal awal. Tabungan Ibu, Bapak dan tabunganku digabung menjadi modal usaha ini." Kami berdua berjalan beriringan.
"Pasti kamu bahagia sekali, memiliki orang tua yang mendukung anaknya. Terbukti sekarang, kamu berhasil mempunyai tempat usaha ini."
"Alhamdulillah, pinjaman uang di bank kurang enam bulan lagi selesai. Setelah itu, aku harus mengembalikan uang Bapak dan Ibu. Doakan saja member fitnes di sini semakin banyak agar cepat mengembalikan uang orang tuaku."
"Aamiin, aku gak bakalan berdoa yang buruk-buruk kalau sama temen sendiri." Kami berdua beradu pandang sambil tersenyum tipis.
"Wulan, kita pulang! Sudah sepuluh menit." Mendadak ada Damar di hadapan kami. Tatapannya masih sinis terhadap Adit.
"Belum selesai kelilingnya. Kata kamu tadi bosen, kalau pulang malah semakin bosen dan suntuk."
"Wulan, gak usah merengek seperti anak kecil! Kita pulang sekarang!"
"Damar, kenapa kamu selalu bersikap kasar sama Wulan? Kalian itu sudah bertunangan, lebih baik jangan mau sama dia, Lan! Kalau berumah tangga sama dia, bisa-bisa kamu depresi akut." Aditya tak terima dengan perlakuan Damar padaku.
"Kamu orang luar, tidak berhak ikut campur." Tanpa menunggu persetujuan dariku, dia menarik pinggangku, kami berdua berjalan berdampingan. Aku menoleh pada Adit, bibir ini mengucapkan kata maaf tanpa bersuara, tanganku mengisyaratkan tentang telepon. Pria itu mengangguk singkat.
__ADS_1
"Kalian berdua, tunggu!" Aditya berlari menyusul kami.
"Damar, berhenti dulu dong!" Aku melepaskan tangannya yang melingkari pinggang.
"Aku lupa memberikan kamu ini." Dia menyodorkan sebuah kartu berwarna emas dan ada tulisan dengan tinta hitam.
"Apa ini?" tanyaku seraya meraih kartu tersebut.
"Itu kartu member eksklusif, kamu bisa bawa Ibu juga kalau sedang senggang."
"Makasih banyak ya, Dit." Senyum ini mengembang sempurna.
"Aku tunggu kehadiran kalian di sini. Hati-hati! Kalau kamu butuh bantuan, kamu hubungi saja aku." Senyum Aditya membuatku terpana. Lesung pipi itu tidak lekang oleh waktu. Lesung pipinya menggemaskan sekali.
"Lama." Damar menarikku. Dia tidak berpamitan pada pemilik gedung.
"Kamu tuh gak ada sopan-sopannya. Katanya sebentar lagi jadi dosen, tapi kelakuannya kayak gini. Dosen apa kalau begini." Aku mencibir kelakuannya.
"Diem! Orang kesel itu gak ada hubungannya sama gelar," bentaknya.
Aku tidak membalas ucapan Damar. Kami masuk ke dalam mobil. Pria ini bergegas menyetir kendaraan.
"Damar, pelan-pelan!" Tanganku menggenggam pegangan pintu yang ada di atas. Gaya menyetirnya berbeda dari kemarin-kemarin.
"Damar, kamu kenapa? Hati-hati!" pekikku sedikit kencang.
Dada ini berdebar kencang, aku membaca doa di dalam hati. Berusaha membujuk Damar agar dia tidak mengendarai mobil dengan kecepatan penuh. Aku tidak fokus pada jalanan di kiri-kanan, mendadak dia berhenti di sebuah tempat yang aku tidak tahu apa itu. Tidak terlihat jelas dari dalam sini.
"Damar, lain kali aku gak mau kalau diajak naik mobil ini. Bahaya sekali tadi." Aku menghela napas lega karena kini mobil sudah berhenti.
Damar tak menggubris perkataanku, dia ke luar dari kendaraan. Melangkah cepat masuk ke dalam bangunan.
"Ini apaan sih? Ngapain kita ke sini?" tanyaku seorang diri.
Aku mengikuti langkah Damar, di dalam sana banyak yang berjejer, berwarna-warni dengan berbagai ukuran.
"Damar, kamu ngapain ke sini?"
"Gak usah banyak tanya! Masuk saja ke mobil!" Dia mendorongku dengan kasar.
__ADS_1