
Mereka berdua meninggalkan tempat duduknya, mencari keberadaanku. Aku mundur, mengendap-endap agar tidak ketahuan.
"Arrrggh," teriak seseorang yang tidak aku ketahui. Dua pria itu saling berpandangan kemudian berlari masuk ke dalam bangunan.
Saatnya kesempatanku untuk masuk, pintu itu sedikit terbuka. Aku masuk tanpa ba-bi-bu lagi, berusaha mencari tempat persembunyian di dalam sana. Ada tumpukan palet kayu yang tersusun tinggi. Aku bersembunyi di belakangnya. Lampu di tempat ini menyala terang, aku tidak boleh gegabah menentukan pilihan agar tidak ketahuan. Mata ini awas menatap sekeliling.
"Berani-beraninya Elu gigit jari gue!"
Plak!
Suara tamparan begitu keras, aku berusaha untuk melihat apa yang terjadi. Mata ini menangkap sosok Wulan, dia duduk di sebuah kursi dengan tangan dan kaki terikat.
"Wulan," geramku melihat seorang pria yang kukenal.
"Baj!ngan Elu, Zayn! Bisa-bisanya menculik Wulan. Nyesel gue gak bunuh Elu waktu di parkiran." Tangan ini mengepal erat. Aku tidak akan pernah memaafkannya, tangan kotornya itu berani sekali menampar perempuan tersayangku.
Kulihat dua orang tadi menggeleng cepat. Mereka berdua pamit pergi menjauh dari sana. Aku berusaha mendekati Zayn yang seorang diri. Tapi, tunggu dulu, dia tidak sendirian. Ada dua orang yang tengah memakai masker dan topi duduk di belakang kursi Wulan. Jaraknya kira-kira puluhan meter. Tadi, mereka tidak sempat terlihat.
Aku harus menghubungi polisi untuk meminta bantuan. Bisa saja aku membunuh semua orang yang ada di sini, tapi, aku tidak mau Wulan menyaksikannya langsung. Tidak, aku tidak ingin dia kecewa karena amarahku yang meledak-ledak. Sekuat mungkin aku harus bisa menahannya. Kurogoh hape di kantong celana. Sial, ternyata baterainya habis. Terpaksa aku harus menunggu Selena, entah dia ada di mana sekarang ini. Semoga saja dia tidak tertangkap basah oleh mereka berdua di luar sana. Bisa-bisa dia juga disekap kalau menampakkan diri.
***
POV Wulan
Aku tersadar dengan kondisi tangan dan kaki terikat, duduk di kursi kayu yang ada sandarannya, kursi jaman dulu. Mulut ini disumpal, mata menelisik sekeliling dengan liar. Ada seseorang yang aku kenal tengah memegang pisau lipat. Dia berdiri sambil memainkan pisau itu. Telinga mendengar suara cekikikan antara seorang pria dan wanita. Tapi, aku tidak tahu di mana sumber suara tersebut.
Zayn, kenapa dia melakukan ini padaku? Apakah dia menaruh dendam pada Damar? Jadi, aku yang dibekapnya untuk membuat emosi Damar naik.
__ADS_1
"Ternyata Elu udah sadar." Senyumnya begitu lebar, tidak, bukan senyum menurutku, tapi menyeringai lebar.
"Kenapa? Kaget karena ada di sini? Makanya, jadi cewek itu jangan sok iyes! Elu pikir Damar suka sama Elu? Dia itu sudah kurang ajar, mau merebut Lusi dari gue." Tangannya terulur, menurunkan kain yang menyumpal mulutku.
"Lusi? Jadi, kamu seperti ini karena cewek ganjen itu?" Aku membalas ocehannya.
"Apa Elu bilang? Lusi ganjen? Elu yang sok cantik." Dia menjambak rambutku, tubuhnya berjongkok tepat di depanku.
"Dia yang mengatakan suka dan cinta pada Damar. Aku melihatnya sendiri waktu pesta pertunangan kami. Dia mengakui perasaannya pada tunanganku, jadi, dia yang ganjen karena sudah lancang mengatakan hal yang tidak seharusnya dia katakan." Suaraku mulai meninggi, tarikan rambut semakin kuat. Zayn ternyata sudah berada di puncak emosinya.
"Tidak mungkin Lusi seperti itu. Kamu pasti mengarang cerita, Lusi hanya mencintaiku, Damar yang merebutnya dariku." Tangannya melepaskan jambakan dengan kasar, kepalaku bergerak ke belakang seiring tangannya yang terlepas.
"Kalau tidak percaya, coba saja tanyakan padanya! Hubungi dia sekarang!" Aku menantangnya, pria ini mudah tersulut emosi.
"Kamu berdusta." Tangannya mencengkram daguku. Karena kesakitan, aku menggigit tangannya sekuat mungkin.
Plak!
Dia menamparku, rasanya nyeri dan panas.
"Berani-beraninya Elu gigit jari gue." Lagi-lagi tangannya mencengkram daguku. Setelah dia puas merapatkan rahangku, penyumpal mulut itu diletakkan kembali pada tempatnya.
"Makan tuh kain! Gak bisa ngebacot lagi sekarang, hahaha," tawanya melengking nyaring.
"Zayn, diam! Jangan berisik!" Suara seorang pria yang sepertinya pernah aku dengar. Suara itu familiar sekali.
"Oke, sorry. Gue geram sama perempuan ini." Zayn menendang kakiku dengan keras, rasanya nyeri.
__ADS_1
"Kalian berdua ngapain saja di sana? Gak mau nampangin muka sama ini perempuan murahan?" Kepala mencoba menoleh, mencari keberadaan orang yang berbincang dengan Zayn. Dua orang, ada dua orang lainnya yang merencanakan penculikan ini.
"Malas, kita tunggu sampai besok. Besok kita hubungi Damar." Suara itu semakin jelas, tapi aku masih belum yakin apakah tebakanku benar apa malah meleset.
"Kalian cemen, gak nampakin muka sama sekali. Kalian takut di penjara? Ini semua kan ide kalian, gue cuma bantuin doang." Ucapan Zayn membuatku tersentak. Jadi, dua orang itu dalang dari penculikan ini. Suara yang semula terdengar jelas, lambat laun mulai tak terdengar. Mungkin mereka berpindah tempat untuk berbincang lebih jauh. Aku tidak bisa menguping pembicaraan mereka lagi.
Tangan ini berusaha untuk berontak, berusaha melepaskan diri dari ikatan yang terbebat. Tapi, nihil, ikatan ini begitu kuat sampai-sampai tanganku lecet dan perih.
Aku berusaha bergerak, kursi ini pun bergerak seiring gerakanku. Sayangnya menimbulkan bunyi, tapi, aku harus berusaha agar ikatan ini terlepas.
"Heh, mau ke mana? Elu pikir bisa kabur dari tempat ini?" Dia seorang perempuan yang mengenakan masker hitam, kacamata hitam dan topi hitam. Wajahnya tidak terlihat sama sekali. Tapi, dari suaranya tampak tidak asing. Kenapa dia memakai masker dan kacamata itu? Mungkinkah aku mengenal mereka semua?
Aku berusaha berbicara walau mulut disumpal. Perempuan ini ternyata acuh padaku, dia cuma mendorong kepalaku dan pergi menjauh.
Semoga Damar bisa menemukanku, semoga dia membawa anggota kepolisian, aku tidak ingin dia ke tempat ini seorang diri. Aku tidak mau dia kenapa-kenapa. Tenagaku terkuras sejak berusaha melepaskan diri. Tak ada gunanya lagi aku bergerak, berusaha melepas ikatan yang terikat kuat.
"Ini, makan dulu!" Seorang pria lainnya membuka kain penyumpal. Tangannya terulur tepat di depan mulut ini. Dia menyuruhku makan.
"Tidak, aku tidak mau memakannya!" tolakku sambil meludah ke arahnya.
"Hahahaha, tak disangka kelakuanmu seperti ini, Wulan." Dia mencengkram daguku, membuka lebar-lebar mulut ini, kemudian memasukkan roti tadi ke dalam mulutku.
"Makan! Habiskan ini atau nyawamu yang akan aku habisi." Suaranya semakin lama semakin mengusikku.
"Kkk-kamu, enggak ... enggak mungkin." Aku berusaha menepis pikiran ini. Aku tahu suara itu, aku sudah ingat siapa pemilik suara ini.
Mendadak ada pergerakan yang tertangkap olehku. Tubuhnya mendekati kami berdua Kelopak mata ini terbelalak melihat kedatangannya, mendadak tubuhku bergetar hebat seperti orang yang menggigil kedinginan.
__ADS_1