
Selena menyengir lebar. Aku tidak mengerti kenapa dia ada di kolong meja kami. Sejak kapan dia masuk ke ruangan ini?
"Gue tadi tuh udah manggil kalian berdua. Tapi, malah sibuk dengan makanan masing-masing. Jadi, ya udah deh, gue masuk ajah dan ngumpet di kolong meja sambil ngumpetin makanan kalian. Kejutan gue berhasil, kan?" Selena terkekeh geli.
Kenapa menurutnya begitu lucu? Memangnya apa yang lucu? Malahan terlihat aneh menurutku. Aku tidak mengerti apa yang dia pikirkan.
"Elu manggilnya pasti bisik-bisik, makanya gue gak denger." Damar mencubit pipi adiknya yang usil.
Jantungku tadi hampir saja lepas dari tempatnya karena terkejut. Ini karena Selena yang kepalanya menyembul dari bawah meja.
"Aku pulang duluan ... besok harus bekerja lagi." Tanpa memperhatikan keduanya, kaki ini langsung meninggalkan ruangan ini.
"Yah, kupikir acaranya sampai berjam-jam. Gue baru datang lho." Suara Selena yang mengeluh terdengar.
Aku semakin menjauh, ingin rasanya sepatu ini aku buka saja agar cara berjalanku lebih gampang. Definisi terpaksa yang menyiksa diri.
Maaf Tante Iren, aku jadi dongkol sama Tante kalau begini caranya.
Seharusnya aku sudah bisa pulang, tapi sebaiknya aku berganti pakaian dulu. Tidak mungkin aku pulang ke kost-an dengan gaun mencolok begini.
"Duh, sial ... Tante sama Om malah ke sini." Aku gugup, malu harus menghadapi mereka.
"Malem, Om." Aku harus menyapa beliau.
"Mau ke mana kamu?" Tante menyipitkan matanya.
"Eum ... acaranya sudah selesai, Tan. Wulan harus pulang." Dengan suara pelan, akhirnya aku berhasil mengatakannya.
"Kata siapa sudah selesai? Om bahkan belum bergabung." Beliau menatapku dan istrinya bergantian.
"Kata Tante tadi cuma dua jam saja?" Aku mengernyitkan kening.
"Owh, itu waktu khusus untuk kalian berdua. Sekarang ini Tante sudah menyuruh karyawan sini agar mengatur ulang kursi dan mejanya. Ayo masuk lagi, Sayang!" ajak beliau.
Aku mengembuskan napas panjang. Ada-ada saja ide Tante Iren. Mana kaki sudah letih karena harus memakai sepatu hak tinggi. Terpaksa aku mengikuti kemauan mereka.
__ADS_1
Setibanya di ruangan itu, Selena memiringkan kepalanya. Bola matanya memutar cepat dan menatapku.
"Kak Wulan balik lagi?" Aku mengangguk lemas.
"Ayo duduk! Saatnya kita berkumpul sekeluarga!"
Tante menarik kursi agar aku duduk di sebelah anaknya. Aku duduk begitu canggung. Maunya keluarga ini begitu banyak.
Sabar Wulan, turuti saja kemauan mereka sebelum kamu benar-benar mempunyai rencana bagus untuk menghindari perjodohan ini.
Aku hanya bisa menenangkan diri dan pikiran ini agar tidak stress. Aku duduk di apit kursi Damar dan Selena. Sementara kuris Tante dan Om berseberangan.
Entah sudah berapa lama aku duduk dengan rasa tak nyaman di tempat ini. Akhirnya acara keluarga ini selesai juga walaupun Kak Mutiara tidak dapat hadir. Dari informasi yang aku tahu, anak sulung keluarga ini baru bisa hadir ketika acara wisuda Damar.
Kami ke luar dari ruangan ini, ternyata di lobi masih saja ada orang yang berlalu lalang. Tante mengajakku dan Selena naik ke lantai lima, kalau tidak salah ingat, kamar hotel tadi saat aku berganti pakaian.
"Nah, Kamu nginep di sini saja! Kalian berdua bisa kan tidur di kamar ini?" Setibanya di sana, aku dibuat tersentak oleh Tante Iren.
"Wulan mau pulang, Tan. Besok harus bekerja." Nada suaraku berubah tegas. Sampai kapan aku harus menjadi boneka wanita ini? Tidak, hidupku harus aku sendiri yang menentukan.
"Kak Wulan," gumam Selena
Aku sudah capek menjadi orang lain. Apalagi dengan penampilan yang seperti ini. Kulepas sepatu hak tinggi tadi. Meraih baju yang terlipat di kisi-kisi ranjang, masuk ke dalam kamar mandi. Aku membersihkan wajah, mengganti gaun yang mencolok tadi dengan pakaianku sendiri. Setelah berganti pakaian, aku ke luar dan mencari keberadaan sandal selop. Tak kuhirauhkan keberadaan mereka berdua. Baju bekas pakai itu aku masukkan lagi ke dalam tas belanjaan. Aku tidak membawa tas belanjaan Setelah semuanya selesai, aku tidak membawa barang-barang yang Tante Iren belikan.
"Wulan pulang duluan, Tan." Tak kupedulikan mereka yang masih terdiam. Langkahku mantap meninggalkan tempat ini. Aku turun menggunakan lift sampai ke lobi hotel. Baru saja aku melangkah hendak ke arah pintu utama, Ada Damar dan Papinya.
"Duh, kenapa waktunya gak tepat ya?" Aku berusaha menghindar dari mereka. Beruntung mereka tidak melihatku. Sontak aku bersembunyi di balik tiang dekat pintu masuk. Kepala ini menyembul, mengintip apa yang mereka lakukan sekarang.
"Alhamdulillah, ternyata mereka udah gak ada." Aku bernapas lega.
Plak
Tepukan di pundak membuatku tersentak, kepala ini menoleh pada orang yang berada di belakang punggung.
"Ngapain Elu ngintip-ngintip? Bukannya tadi sudah pergi ke kamar sama Mama?" Damar dan Papanya berdiri mematung. Aku tersenyum pada pada pria paru baya sebelah Damar.
__ADS_1
"Eummm, aku harus pulang. Besok harus bekerja shift pagi. Wulan pulang dulu ya, Om." Aku menyalami tangan beliau sebagai tanda hormat.
"Tidak boleh!" Aku mengurungkan langkah.
"Tapi, Om--,"
"Tidak boleh pulang sendirian! Anak gadis tidak boleh pulang sendirian, apalagi ini sudah jam berapa? Hampir jam sebelas malam. Damar, antar Wulan pulang!" Pria itu melangkah pergi, meninggalkan kami berdua.
"Pap, kenapa harus Damar?" Pria paru baya itu berbalik arah.
"Gak usah protes atau jatah bulanan dipotong separuh!" Beliau kembali melanjutkan langkahnya.
"Ini semua gara-gara Elu." Dia menunjuk wajahku dengan telunjuk.
"Aku pulang sendiri juga bisa kok." Tergesa aku meninggalkan Damar, tak mau membuang waktu sedikit pun.
Tanganku ditarik seseorang, aku menatap orang itu.
"Apa-apaan ini, lepasin!" Aku menepis tangannya.
"Gue anterin, ayo ikuti gue! Daripada jatah bulanan dipotong." Dia menarik tanganku agar aku melangkah mengikutinya.
Sesampainya di basemen, dia membuka pintu mobil dan menarikku mendekati pintu yang terbuka.
"Masuk!" titahnya.
Aku sudah tidak bisa mengelak, bokong sudah menempel di kursi mobil. Pria itu segera masuk dan duduk di balik kemudi. Kendaraan ini sudah meluncur meninggalkan basemen. Tak ada percakapan diantara kami, entah berapa lama kami di perjalanan. Akhirnya bangunan kost terlihat jelas. Aku ke luar dari kendaraan tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku bersyukur sekali sudah berada di kamar kost. Seandainya masih di hotel, tentu saja tidurku tidak pulas.
***
Beberapa hari setelah makan malam itu, aku tetap bekerja seperti biasanya. Hari-hariku kembali seperti semula.
"Wulan, kamu siap-siap menyambut bos baru coffe shop ini ya! Ada Cindy dan Lena juga. Kalian bertiga harus menjamu bos tempat ini dengan baik!" titah Mas Riki—kepala coffe shop. Sebagai karyawan yang baik, aku pun menyanggupi. Sejak kemarin sudah ada berita diantara karyawan kalau pemilik usaha ini berganti nama.
Tibalah waktu untuk menyambut kedatangan bos baru. Aku tersentak bukan main ketika melihat pria yang kukenal.
__ADS_1
Kenapa bisa begini? Apa yang harus aku lakukan?