
Tanpa banyak berpikir lagi, aku membuka pintu itu agar terbuka lebar. Kaki ini menendang daun pintu.
"Pak Damar!" Seorang pria yang agak familiar duduk bersila di atas lantai yang beralaskan tikar sintetis. Dia terkejut karena kehadiranku. Begitu pun Wulan yang ada di sampingnya.
"Kamu, Kamu itu leader barista, kan? Ngapain Kamu di sini?" Wulan terlihat panik, dia sepertinya bingung hendak berkata apa.
"Ss-a-saya ada perlu dengan Wulan, Pak. Pak Bos sendiri ada perlu apa ke sini?" Dia malah bertanya balik.
"Kamu tidak perlu tahu tentang apa tujuanku. Kalau Kamu sudah selesai mengobrol dengannya, pulanglah dan jangan ke mari lagi!" Aku tidak suka kalau ada pria lain yang berbicara sedekat ini dengannya.
"Damar, Kamu apa-apaan sih?" Wulan malah membentak karena aku mengusir pria itu. Kalau tidak salah namanya Riki.
"Elu lupa kalau gue itu siapa? Mau gue kasih tahu Mami biar Mami ke sini ngelihat kelakuan Elu yang bawa masuk cowok ke kamar kost?" Entah kenapa aku bisa mengucapkan perkataan ini padanya. Sejak kapan aku kekanakan begini? Pikiran dan ucapanku tidak sinkron.
"Maaf semuanya, lebih baik saya permisi dulu. Mari Pak." Pria itu beranjak dari tempat duduknya. Dia berdiri dan melangkah mendekati aku yang masih ada di ambang pintu.
"Lan, aku pulang dulu ya. Besok kita bicarakan lagi." Dia seperti berbisik pada Wulan, padahal aku masih bisa mendengarnya
"Hei, apa lagi ini? Gak ada besok-besok! Kamu gak boleh ke kost-an cewek apalagi malam-malam begini."
"Iya, Bos. Saya salah bicara tadi, permisi." Dia meninggalkan kami berdua saja.
"Kamu ngapain sih ke sini? Tamuku jadi pulang tuh gara-gara kamu ngomongnya gak pake filter." Wulan mencaci. Aku melangkah mendekatinya yang kini sudah berdiri, dekat dengan ranjang yang Mami katakan sudah kumuh.
"Nih dari Mami, ogah gue ke sini kalau gak disuruh Mami." Alisnya bertaut kemudian beralih menatapku.
"Apaan itu?"
"Mana gue tahu." Aku meletakkan dua tas belanjaan yang besar di atas ranjangnya dan berbalik arah.
__ADS_1
"Tunggu dulu! Aku masih mau bicara sama kamu!" Nada suaranya mulai meninggi.
"Apaan? Gue gak punya waktu untuk itu. Gue pulang dulu." Aku tidak mau berlama-lama ada di tempat ini. Bangunan dua lantai ini membuatku tidak nyaman. Ada beberapa perempuan yang menatapku lekat seperti mangsanya saja. Aku melangkah cepat sebelum ada yang memperhatikan lebih jauh.
"Bang, godain kita dong! Jangan mau sama Wulan, Bang. Dia itu pelit banget gak mau diajak liburan bareng." Ada tiga orang perempuan duduk di kursi plastik, salah satunya berucap demikian.
Aku tidak menggubrisnya, bodo amat. Bukan urusanku. Setelah berterima kasih pada pak Penjaga, aku masuk ke dalam mobil dan melajukannya kembali ke rumah.
Mendadak ada suara telepon seluler membuyarkan konsentrasi menyetir.
"Ngapain nih manusia, tumbenan nelpon gue malem-malem." Aku memakai air pod dan menghubungkannya dengan telpon pintar kemudian menjawab panggilan ponsel.
"Apaan Ndre?"
"Damar, Elu ada di mana Bro?"
"Emangnya ngapa? Gue lagi di jalan nih, mau pulang."
"Woi, kalian gimana nih? Ngapa kagak bilang dari kemarin-kemarin? Parah emang." Aku mengutuk Andre karena dia tidak memberikan kabar ini lebih awal.
"Iya ... iya, makanya gue bilang sorry. Elu ke sini ya! Bentar lagi coffe shop Elu tutup nih." Aku memutuskan panggilan telepon begitu saja.
Kini konsentrasiku fokus pada jalanan di depan sana. Beruntunglah jarak kost-an Wulan dengan coffe shop-ku begitu dekat. Hanya butuh beberapa waktu, mobil ini sudah berada di pelataran parkir tempat usahaku.
Aku masuk, banyak karyawan yang menyapa. Aku begitu malas ketika di sapa para karyawan di sini. Beda dengan dahulu sebelum pengalihan kepemilikan. Aku tidak hadir dalam pembukaan awal tempat ini, waktu itu aku harus berada di luar kota untuk mengawasi beberapa mahasiswa yang mengadakan KKN. Jadi, karyawan sini tidak pernah tahu bahwa aku ini adalah adik dari pemilik coffe shop tempat di mana mereka bekerja.
Aku melihat ketiga orang itu, mereka tengah menunggu kedatanganku.
"****** emang, sejak kapan gue dilupain?"
__ADS_1
"Oh iya, selamat ya karena udah resmi menjadi pemilik coffe shop ini."
Aku menghentikan bahasan tentang itu, kami pun mengobrol sambil menunggu pesanan. Selang satu jam berlalu, coffee shop ini sebentar lagi tutup. Kami pun bubar ke rumah masing-masing.
Malam ini perasaanku begitu campur aduk. Ketika memejamkan mata, aku teringat kembali wajah itu. Wajah yang selalu muncul dalam tidurku, sebisa mungkin aku sudah menepisnya. Tapi, apa daya, wajah itu masih saja terbayang.
Kucoba lagi untuk memejamkan mata, mungkin karena terlalu letih dan banyak pikiran, akhirnya aku pun tertidur pulas.
***
POV Wulan
Pagi ini aku bangun dengan perasaan tak menentu. Satu doa yang aku panjatkan, semoga Damar tidak datang ke tempatku bekerja. Bisa-bisa dia yang membongkar rahasia perjodohan ini. Semalam saja dia malah membahas Tante Iren segala, emang rada-rada dia tuh.
Aku tidak peduli pada gaun dan beberapa barang yang Tante berikan. Aku masukkan saja semua itu ke dalam lemari tanpa membukanya dahulu. Aku menginginkan ketenangan, aku tidak mau hari-hariku diganggu oleh keluarga besar Damar, bahkan Damar sekali pun.
Cuaca pagi ini memang cerah tapi lumayan berangin. Aku memakai jaket yang lebih tebal dari biasanya. Berjalan di trotoar menuju tempat kerja. Sesampainya di sana, aku melihatnya. Kebetulan hari ini aku berada dalam satu shift yang sama dengan mas Riki. Dengan ragu aku menyapa, dia pun tersenyum kaku. Aku yakin sekali kalau dia pasti bertanya-tanya kenapa Damar bisa tahu tempat tinggalku selama ada di Jakarta.
Kami memulai pekerjaan tanpa ada perintah dari atasan. Kami sudah terbiasa kompak dalam bekerja sama antar tim. Kekeluargaan juga begitu terasa di tempat ini, makanya aku begitu betah dan bersemangat bekerja di sini. Tak ada saling sikut, tak ada saling mencari muka pada atasan. Kami selalu menekankan bahwa kita ini adalah kru kapal yang berlayar di laut lepas dan punya tugasnya masing-masing. Jadi, harus kompak agar kapal itu tidak goyah dalam kondisi apa pun.
Tak sengaja aku menumpahkan cairan desinfektan di lantai dekat dengan dapur. Aku harus membersihkannya. Kuhampiri kamar mandi untuk mengambil alat pel. Tak sengaja aku mendengar sayup-sayup suara perdebatan di dalam kamar mandi.
"Gak mungkinlah, kamu itu pasti salah denger."
Mereka ngomongin apa ya? Suaranya kayak suara Lena dan Cindy.
Plak
Seseorang menepuk pundak dari belakang, aku menoleh dan melihat orang itu tengah berkacak pinggang. Aku menyengir lebar sampai mulut ini kaku.
__ADS_1
Mampoos, hati-hati Wulan kalau sama dia. Jangan sampai kamu salah ucap!
Aku berusaha untuk menasehati diri sendiri.