Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Efek Telat Bangun


__ADS_3

Beruntung sekali semua pelanggan sudah pulang, kalau saja mereka ribut diwaktu ada pelanggan, aku tidak akan memaafkan sikap keduanya yang kampungan.


"Damar, dia yang duluan ngedorong gue. Jadi babu ajah belagu." Laura bergelayut manja di lengan.


"Lepas!" Aku menepis tangannya kasar.


"Wulan tidak salah, Pak. Saya yang jadi saksinya. Nona itu menyiram minuman pada Wulan, tentu saja Wulan refleks mendorongnya." Lena maju di depan Wulan, melindungi rekan kerjanya.


"Riki, bawa Wulan ke belakang! Kalian semua bersiaplah untuk pulang! Sementara kamu, Wulan, tunggu aku di ruang kerja, mengerti!" Mereka serempak mengangguk, meninggalkan aku dan Laura, mereka semua menuruti ucapanku.


"Laura, kenapa Elu gak pulang ajah? Sudah gue bilang jangan temui gue lagi." Aku berkata tegas padanya.


"Damar, gue cuma ngasih pelajaran sama karyawan Elu tadi. Dia yang Elu peluk dari belakang, gue gak terima. Seharusnya dia itu sadar diri kalau dia hanya babu di tempat ini." Dengan congkaknya gadis ini menghina Wulan.


"Elu yang seharusnya dikasih pelajaran. Dia itu tunangan gue, wajar kalau gue peluk dia. Dan ingat satu hal, kita bukan siapa-siapa lagi." Aku meninggalkannya seorang diri.


Gadis itu masih saja memanggilku, mengekori langkah ini. Kuping terasa panas, dengan cepat aku berbalik arah.


"Elu bisa bahasa manusia gak? Cepat pergi dari sini! Enyah dari sini!" Aku mulai tidak bisa mengontrol emosi. Berteriak kencang mengusirnya.


"Damar, gue peringatkan sama Elu! Elu gak akan pernah bisa bahagia ketika hidup dengan perempuan lain selain aku. Camkan itu!" Akhirnya gadis itu pergi meninggalkan coffee shop.


Aku bisa bernapas lega, kaki ini bergerak ke ruang kerja. Wulan duduk di sana dengan penampilan yang berantakan.


"Wulan, Sayang, ayo kita pulang!" Dia berdiri tanpa menyahuti panggilanku.


Kami berdua melangkah beriringan. Aku memanggil Riki, uang dan semua stok opname aku serahkan pada Riki dahulu. Semua catatan yang tertera di komputer juga aku serahkan padanya. Dia akan menjadi supervisor setelah melatih Cindy di tempat yang lama. Cindy menjadi seorang kepala di coffee shop yang lama, sementara supervisor belum ada yang mengisinya. Lena akan menjadi kapten waiters dengan bantuan Riki. Mereka berdua orang kepercayaan karena etos kerja yang dimiliki. Aku sudah memantaunya sejak di coffee shop yang lama. Kak Mutia juga tidak keberatan ketika aku mengangkat jabatan keduanya.


"Kunci semua jendela dan pintu tanpa ada yang tersisa! Riki, bawa kunci itu! Selama seminggu kamu masuk bekerja penuh waktu. Kamu sanggup, kan?"


Pria itu bersemangat karena permintaanku.


"Tentu saja saya siap, Pak." Senyumnya lebar.


"Baiklah, kalau begitu selamat malam. Terima kasih untuk kerja samanya hari ini. Selamat beristirahat." Aku meninggalkan mereka.


Tangan ini menarik tangan Wulan, dia tidak berbicara sepatah kata pun. Apa dia marah karena pertengkaran dengan Laura? Wajahnya seperti ditekuk layaknya kanebo kering kerontang.

__ADS_1


Setibanya di dalam mobil, Wulan masih terdiam. Dia tidak mau menatapku.


"Lan, kamu kenapa? Kamu sakit? Wajahmu agak pucat, kita ke apotek sebentar ya?!" Aku berusaha meraih keningnya. Menempelkan telapak tangan di kening.


"Gak usah sok peduli." Dia menepis kasar.


"Kamu kenapa? Seharusnya kamu tidak meladeni tingkah Laura, gadis itu memang suka seenaknya."


"Owh, jadi kamu sangat mengenal gadis yang bernama 'Laura' itu? Bagus sekali ya." Dia bernada penuh penekanan.


"Udahlah, kita pulang sekarang! Nanti kita bicarakan lagi. Kamu pasti kecapekan setelah seharian bekerja." Aku tidak mau membahas tentang Laura. Melihat wajahnya yang lesu, membuatku tidak tega.


Kendaraan ini melaju cepat, kembali ke apartemen Wulan yang jaraknya hanya memakan waktu tak sampai sepuluh menit.


"Lho, kenapa turun di basemen?" Dia mulai bersuara.


"Aku ingin mengantarmu ke atas," jawabku jujur.


"Enggak usah! Sebaiknya kamu langsung pulang saja! Kamu juga pasti capek setelah bermesraan dengan gadis yang bernama Laura itu." Wulan segera ke luar dari mobil, dia menutup pintu mobil dengan keras sampai aku terlonjak kaget.


"Wulan." Aku berusaha mengejarnya.


"Lan," Aku bingung harus berbuat apa. Rasanya ingin sekali mengejarnya dan menjelaskan siapa Laura sebenarnya. Tapi, ini sudah malam, dia butuh istirahat yang cukup. Aku tidak mau mengganggu waktunya untuk beristirahat setelah pulang bekerja.


Aku membiarkan Wulan berlalu pergi. Setelah emosinya menurun dan dia tidak kecapekan, aku akan menjelaskan semuanya. Tak akan ada yang aku tutup-tutupi. Aku tidak mau dia salah paham tentang ini.


Malam ini aku kembali pulang dengan perasaan yang bercampur aduk. Masa lalu dan masa kini hadir di depan mata, berdekatan waktunya. Tentu saja kalau disuruh memilih, aku akan memilih masa kini untuk menjadikannya sebagai masa depan.


Setibanya di rumah, Selena menyapaku. Tapi, karena aku sudah letih, tak kuhiraukan panggilannya. Aku kembali ke kamar. Berbaring sebentar saja untuk memulihkan tenaga. Tak terasa mata ini terpejam begitu saja.


***


Suara itu mengusik pendengaran, suara ketukan—lebih tepatnya gedoran pintu membuatku berusaha membuka kelopak mata.


"Siapa sih malam-malam begini ngedor pintu." Aku menguap sambil mengucek mata perlahan.


"Mas Damar! Buruan bangun! Udah siang ini." Suara Selena yang menjerit membuat pendengaran tak nyaman.

__ADS_1


"Ngaco, udah siang dari mana. Baru ajah gue tidur." Aku bangkit dari tempat tidur. Berjalan sempoyongan ke arah pintu, memutar kenop pintu kemudian menariknya.


Aku menguap di depan wajah Selena.


"Hueeek, bau jigong ih, Mas." Kepalanya aku ketok pelan.


"Mas, bangun! Ngajar di kampus gak sih? Udah jam sepuluh ini." Dia mengguncang tubuhku.


"Berisik, gue baru tidur bentar. Masih tengah malem Elu bilang udah jam sepuluh." Aku berusaha membuka kelopak mata selebar mungkin.


"Lihat sinar matahari tuh!" Selena masuk ke kamarku, dia berjalan ke arah gorden, menggesernya cepat.


Bola mata ini terbelalak melihat sinar matahari yang menembus jendela kaca.


"Sial, jadi, beneran udah jam sepuluh?" Adikku itu mengangguk singkat.


"Gue harus mandi sekarang." Aku berlari masuk ke kamar mandi, membasuh semua tubuh, memakai sabun, menggosok gigi dan berkeramas. Tak butuh waktu lama, namanya juga lagi buru-buru. Tak sampai sepuluh menit beres.


Aku mengeringkan rambut menggunakan alat pengering rambut, memakai pakaian kerja, menyemprot parfum dan menggunakan jam tangan.


"Wulan pasti marah karena aku gak jemput dia. Sial, gue telat bangun." Aku masih menggerutu sambil bersiap.


Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat empat puluh menit. Kaki ini melangkah lebar, menuruni anak tangga dengan cepat.


"Damar, makan dulu sana!" Aku terserempak dengan Mami di ruang tengah.


"Gak sempet, Mam. Damar langsung berangkat saja." Kaki ini berusaha berlari cepat menuju garasi rumah.


Melihat motor yang ada di sana membuatku tergiur. Aku harus sekali-kali pergi bekerja menggunakan motor ini. Pasti terlihat keren dan jantan. Tanpa sadar senyum di bibir ini merekah sempurna.


"Tunggu aku, lusa kalau surat-surat sudah lengkap. Kamu akan selalu bersamaku, mengantarku dan Wulan." Dengan penuh semangat aku mengelus body motor.


Sayang sekali aku tidak bisa berlama-lama di sini, aku masuk ke dalam mobil, mengendarai kendaraan ini ke luar dari garasi dan meninggalkan rumah. Butuh waktu lebih dari sepuluh menit, akhirnya aku sampai di coffee shop. Pelanggan sudah ramai, meja terisi penuh. Kalau begini terus setiap harinya, modal yang aku keluarkan bisa kembali dengan cepat.


"Wulan, dia bersama siapa di tempat parkir? Kenapa dia tidak memakai seragam?" Aku melihat Wulan dari jendela kaca transparan yang mengelilingi tempat ini. Kaki ini bergegas pergi menghampiri.


"Wulan, kamu ngapain di sini?" Jujur saja, aku sudah berusaha untuk menenangkan emosi diri tapi, nada suara yang meninggi tak bisa aku kontrol. Dia mengobrol bersama pria yang aku kenal.

__ADS_1


"Damar, dia mengantarku karena kita gak sengaja bertemu." Wulan mendekati tubuhku.


"Kamu tidak patuh pada apa yang aku ucapkan kemarin." Mata ini menyipit, napasku memburu.


__ADS_2