Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Sisi Lain Damar


__ADS_3

Aku berhasil menggigit lidahnya, belitan Damar terlepas seiring rasa sakit yang dia rasakan.


"Elu." Suaranya cadel, melihatku nyalang.


Tanpa basa-basi lagi, aku membuka pintu kamar. Dengan keadaan yang berantakan, kaki ini berusaha melangkah cepat menjauh dari kamar itu. Terseok-seok karena merasa sakit.


"WULAAAN!" teriakan Damar membuatku semakin menjauh dan ketakutan. Selama ini, aku tidak pernah melihatnya yang seperti orang lain. Sifatnya berubah seperti monster. Pandangannya sungguh berbeda.


"Mau ke mana, kamu? Berani-beraninya kabur dariku. Berhenti WULAN!" Dengan suara beratnya dia memekik. Aku melihat tubuhnya berjalan mendekat. Kami berdua ada di koridor hotel.


"Tolong, tolong." Aku melihat ada sepasang kekasih yang berjalan mendekat.


"Mbak kenapa? Ada apa?" Wanita itu menenangkan aku.


"Dia, dia berusaha melecehkan aku." Tangan kanan menunjuk Damar yang semakin mendekat.


"Minggir kalian! Dia itu tunangan gue." Damar berhasil meraih tubuhku.


"Tolong, Mbak." Aku memohon pada keduanya. Si pria melarang kekasihnya untuk menolongku. Mereka berlalu pergi.


"Wulan, berhenti menangis! Kita selesaikan urusan kita." Dia menyeretku kembali ke kamar hotel.


"Damar, aku mohon. Aku sudah mengingat civman itu. Ya, aku sudah mengingatnya, aku yang menciummu duluan." Aku mengucapkan itu sambil terisak-isak. Air mata ini tidak berhenti mengalir. Sampai kapan dia akan menyiksaku dengan sentuhan-sentuhan itu? Aku merasa hina sebagai seorang perempuan.


Aku kembali dikecup olehnya, kecupan itu semakin intens. Ada dering hape yang membuat perhatiannya teralihkan. Akhirnya aku bisa bernapas kembali.


Dia berbicara dengan seseorang yang ada di telepon.


"Tenang saja, Mam. Wulan bareng gue, mau ngobrol sama dia?" Tatapannya beralih menatapku.


Bola matanya melebar melihatku. Dia melempar hape sembarangan di atas ranjang. Tangannya terulur, bergetar sambil memperhatikan aku yang tergolek di lantai.


"Wulan, ini semua karena gue?" Dia merengkuh tubuhku. Merapikan anak rambut, menyelipkannya di daun telinga. Dia kembali seperti Damar yang semula. Tatapan nyalang dan buas tadi sudah tidak terlihat.


"Damar, kamu jahat! Semua badanku sakit." Aku menangis sesenggukan.


"Ya Allah, apa yang sudah gue lakukan?" Dia mengacak-acak rambutnya dengan kasar.


"Lan, kita ngapain ajah tadi? Maaf, maafkan aku." Dia memelukku.

__ADS_1


"Lepaskan aku! Aku gak mau disentuh olehmu!" Aku mendorong tubuhnya dengan keras.


"Kamu, kamu sudah menciumku sembarangan. Kamu bukan manusia tapi binatang!" Tak tanggung-tanggung aku mengumpatnya, mencaci-maki.


"Lan, maaf. Gue pernah bilang sama Elu, kalau gue punya masalah dengan tingkat emosional. Gue punya ODD (oppositional Difial Disorder), karena itu gue selalu menghindari Zayn dan segala emosi yang bisa membuat gue meledak-ledak." Damar menjelaskan penyakitnya.


"Aku gak tahu apa itu, aku gak mau menjadi tunangan kamu lagi walau pun ini cuma pura-pura! Bawa aku pulang sekarang juga!" Aku memekik sampai suaraku serak.


"Lan, tolong, maafin gue! Gue mohon." Tatapannya mengiba. Kenapa dia bisa begini? Tadi, meledak-ledak sampai melecehkan aku, sekarang dia malah memohon, meminta maaf atas perbuatannya.


"Gak mau, aku gak bisa maafin kamu. Aku takut sama kamu, kamu sudah seperti monster. Hanya karena aku gak ingat ciuman itu, kamu membawaku ke sini." Badanku rasanya sakit semua. Apa ini efek karena ditindih tadi?


"Kamu itu gila! Harus pergi ke rumah sakit jiwa." Aku tak kuasa lagi menahan tangis. Kepalaku menunduk dalam, memeluk lutut dan menangis sesenggukan.


"Lan, maaf. Aku menyesal, aku gak akan menyakitimu lagi asalkan kamu gak jalan bareng Adit." Mendengar nama Adit yang dia sebut, kepala mendongak.


"Memangnya ada apa dengan Adit? Dia itu temen sekolah aku, kita lama gak ketemu. Bukankah wajar kalau mengobrol dengan teman sendiri?" Apa mungkin yang dikatakan Tante Iren itu benar adanya? Benarkah dia cemburu pada Adit? Tapi, apakah dengan cara ini yang harus dia lampiaskan padaku karena rasa cemburunya? Tidak, aku tidak mau berdekatan dengan pria ini lagi.


"Wulan, jangan sebut nama Adit lagi! Kalau kamu mau ketemu dia, kamu harus meminta izinku, aku harus pergi bersama kalian berdua." Dia berusaha meraih tanganku, tapi aku segera menepisnya.


"Damar, jangan sentuh aku!".


Aku tidak menjawabnya, suaraku serak dan hampir habis karena terlalu sering menjerit dan berteriak. Ada dering hape yang berbunyi, aku merogoh tas selempang yang sejak tadi melekat. Tak kuhiraukan ucapan Damar. Mata ini fokus melihat nama yang ada di layar hape. Aku menggulir layar, menjawab panggilan itu.


"Adit, tolong jemput aku! Aku ada di-"


"Wulan, kita pulang sekarang! Putuskan panggilan itu!" Dia mengatakan itu seraya merampas hape di genggaman tangan.


"Kembalikan! Aku tidak mau berbicara denganmu!" Aku berusaha untuk berdiri. Berjalan ke luar dari kamar ini. Tak kuhiraukan Damar yang tengah berbincang dengan Adit di telpon. Aku harus pergi dari sini.


Dengan tertatih, akhirnya aku berhasil masuk lift.


"Wulan, tunggu!" Kulihat Damar yang berlari kencang, bertepatan dengan tertutupnya pintu lift.


Aku tidak peduli pada penampilan lagi, yang ingin kulakukan hanya menjauh dari tempat ini. Menjauh dari damar. Aku berusaha menormalkan tekanan jantung. Aku harus memberitahu kedua orang tua tentang kejadian ini. Pertunangan ini harus dibatalkan.


Dengan terseok-seok kaki ini berusaha melangkah ke lobi, berjalan ke arah pintu utama. Kepala ini sesekali menoleh ke belakang. Aku berhasil melangkah pergi meninggalkan hotel ini. Seorang keamanan yang berdiri di depan pintu masuk menghampiri.


"Mbak, kenapa? Perlu bantuan?" Aku berhenti melangkah.

__ADS_1


"Pak, tolong saya! Carikan taksi sekarang!" Pria itu mengangguk mantap.


"Mbak tunggu di sini, ya!" Aku tidak bisa menunggu lebih lama.


"Wulan, ayo aku antar pulang!" Mendadak pria ini ada di depanku. Refleks aku menjauh darinya, menggeleng cepat.


"Lupakan kejadian tadi! Aku mohon maafkan aku!" Dia kembali memohon, kali ini dia bersimpuh di depanku. Ada beberapa orang yang berlalu-lalang menatap kami bergantian.


Mulut ini terkunci, diam seribu bahasa. Tak berapa lama ada taksi yang berhenti tepat di persimpangan jalan menuju arah basemen.


"Mbak, itu taksinya sudah datang." Bapak penjaga menatap Damar yang bersimpuh.


"Mas ini siapa?" Tak ada jawaban dari pria itu.


Kaki ini berusaha melangkah ke tempat taksi berhenti. Tapi, aku digotong oleh Damar. Tubuhku yang sudah tidak bertenaga tidak bisa melawan lagi.


"Pak, jangan hiraukan kami! Dia ini tunangan saya, suruh pergi saja itu taksinya! Aku akan membawanya pulang." Damar seperti seorang bapak yang tengah menggotong anak balitanya. Aku menggigit lehernya dengan keras agar dia mau melepaskan aku.


"Wulan, jangan buat aku emosi lagi. Kamu sudah pernah melihat Zayn yang babak belur. Aku tidak mau itu terjadi padamu." Dia turun ke basemen. Aku tidak peduli pada ucapannya. Apa yang bisa kugigit, aku gigit sekeras mungkin agar dia menurunkan tubuhku.


Damar berhasil membuka pintu mobil, tubuhku di dudukkan di samping kursi kemudi. Dia memasangkan sabuk pengaman dan menutup pintunya. Aku meringkuk memeluk lutut, tak mau melihat wajahnya.


Entah berapa lama kami ada di perjalanan, rasa letih membuatku gampang tertidur.


***


Aku merasa badanku seperti tergoncang. Aku berusaha membuka mata, mengitari sekeliling. Bola mata ini terbelalak setelah melihatnya yang menggendong tubuhku seperti bayi.


"Jangan bergerak! Sebentar lagi kita sampai di apartemenmu." Suaranya pelan.


Damar mengetuk pintu apartemen dengan kakinya, tepatnya mendobrak menggunakan kaki karena dua tangannya sibuk menggendongku.


"Siapa kamu? Gedor-gedor pintu orang segala." Ayah membuka pintu tanpa menatap kami.


"Lho, Damar, Wulan, kalian berdua kenapa?" Damar tidak menggubris pertanyaan bapak. Pria itu bergegas masuk.


Mataku terbelalak melihat ada seorang pria yang tengah duduk di ruang tamu. Kepala ini spontan menoleh pada Damar. Aku menggigit bibir bawah, berusaha mengendalikan emosi.


"Elu ngapain di sini? Pulang sana!" usirnya dengan suara bariton yang nyaring. Ibuku sampai terlonjak mendengar perkataannya.

__ADS_1


__ADS_2