
Aku menunggu lanjutan kalimat yang akan ke luar dari mulut Selena.
"Kak Wulan itu benar-benar cocok untuk Mas Damar. Kak Wulan gak suka barang mewah, beda sekali dengan Mas Damar yang doyan beli barang-barang mewah dan menghamburkan uang. Mami ketawa membandingkan kalian berdua. Mami bilang, kalian akan jadi pasangan suami istri yang ideal, saling melengkapi satu sama lain." Apa yang aku tebak ternyata tidak sesuai harapan.
Sialan, bisa-bisanya dia malah membuat Mami semakin ingin menikahkan aku dengannya. Awas saja dia, lain kali, aku beri pelajaran.
Tangan ini mengepal kuat sampai urat menonjol dan terlihat jelas karena kedua tangan berada di atas setir.
"Gak mungkin dia gak suka barang mewah, mungkin saja karena dia anak orang miskin dan kampungan. Makanya dia tahu diri kalau tidak bisa membeli barang-barang mewah."
"Mas Damar, sejak kapan keluarga kita peduli dengan status sosial? Selena aduin ke Papi nanti biar kena marah. Sama calon istri sendiri malah begitu. Buktinya, Kak Wulan tidak membawa pulang gaun, tas dan sepatu yang sudah dibelikan Mami untuknya." Selena mengerucutkan bibirnya padaku.
"Terserah gue. Dahlah, stop ngobrolnya. Gue mau fokus menyetir mobil." Aku melajukan kendaraan ini lagi ke arah rumah kami.
Masih kesal dengan sikap Selena karena dia malah membela perempuan bar-bar itu, bukannya membela kakak kandungnya sendiri.
Kami tiba di depan pintu pagar, ternyata, bibi membuka pintu pagar untuk kami. Kendaraan ini langsung saja melesat ke pekarangan rumah. Selena langsung ke luar tanpa berucap apa pun ketika mobil ini sudah berhenti.
"Ini masih sore, ke mana perginya pekerja Papi nih?" Pandanganku mengitari sekeliling pekarangan sampai taman samping rumah. Tak terlihat tanda-tanda mereka berada, kecuali bibi yang tadi membuka pagar.
"Sebaiknya istirahat bentar sebelum mandi," lirihku pada diri sendiri.
Kaki ini melangkah cepat, masuk ke dalam rumah dan menapaki anak tangga satu persatu. Aku merebahkan diri setelah melepas setelan formal ini. Pencapaian selanjutnya harus bisa melebarkan sayap membuka banyak cabang coffe shop di tiap kota besar.
Kucoba memejamkan mata, mencoba untuk mengosongkan pikiran, namun tak bisa.
"Wulan, lihat saja nanti ... aku akan membuat Mami dan Papi ilfeel padamu biar tidak sampai terjadinya pernikahan." Rencana ini harus aku susun sebaik-baiknya. Aku akan mencari tahu tentang kehidupan pribadinya. Membuat Papi dan Mami membatalkan pernikahan.
Apa aku sogok orang tuanya di kampung?
Sebuah ide menarik terlintas di kepala. Aku akan mencari tahu tentang alamat rumah gadis kampung itu. Aku harus bersabar dulu sampai pesta pertunangan kita dilaksanakan. Secara halus, aku harus membatalkan pernikahan. Seminggu lagi aku di wisuda program Pascasarjana, sebaiknya aku menghabiskan waktu bersama teman-teman tongkrongan sebelum benar-benar sibuk dengan pekerjaan menjadi asisten dosen dan seorang pemilik coffe shop.
__ADS_1
Ada tangan mengguncang tubuhku, mata ini tak sanggup membuka kelopaknya.
"Mas, bangun dong! Udah Maghrib ini, masa iya tidur di jam segini? Bangun!" Suara itu begitu familiar.
Kucoba membuka kelopak mata, memicing melihat siapa yang mengganggu.
"Sel, Elu ngapain gangguin gue yang tidur?" Suaraku berubah serak. Aku tidak sadar karena telah tertidur.
"Bangun, mandi dan sholat maghrib dulu! Apa mau Mami yang bangunin?" Tubuhku bangkit setengah duduk, kaki ini berselonjor, kepala menyandar di kepala ranjang, mencoba untuk mengumpulkan nyawa.
Aku menguap, Selena malah menepuk mulutku. Sontak aku terkejut dengan aksinya.
"Elu apa-apaan, Sel? Kurang ajar Elu ya, pake mukul mulut gue." Mata ini melotot tajam.
"Mas Damar jorok ih, masa iya nguap tapi gak ditutup mulutnya. Gak sopan tahuuuu." Dia menarik lenganku dengan kuat.
"Nih, ngapain nih?"
"Pergi sana! Jauh-jauh dari gue!" Aku menepis tangannya. Terpaksa aku membersihkan diri agar Selena meninggalkan kamar ini. Badan ini diguyur pancuran air yang ada di kamar mandi.
"Segarnya," gumamku di sela membersihkan badan.
Entah berapa lama aku mandi, selesai mandi dan berwudhu, aku langsung melakukan kewajiban. Setelah berganti pakaian, langsung saja aku ke luar dari kamar. Menuruni anak tangga dan bergabung dengan anggota keluarga lainnya.
"Damar!" Kak Mutia menghampiriku.
"Apaan?" sahutku acuh.
"Elu anterin ini gih ke kost-an Wulan. Sekalian Elu cariin dia kost-an yang lebih layak huni." Kakak sulungku itu melempar tas belanjaan padaku. Tentu saja aku refleks menangkapnya.
"Mam, apa lagi ini?" Aku meminta penjelasan.
__ADS_1
Tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa aku harus berurusan dengan tempat tinggal gadis bar-bar itu?
Aku meletakkan tas tadi ke atas meja, Papi tampak sibuk dengan layar hape. Selena juga senyum-senyum sendiri melihat layar hape. Hanya ada Kak Mutia, Mas Kelvin dan Mami yang memperhatikan aku yang sudah duduk di sofa tunggal.
"Kamu cariin kost-kostan yang layak untuk Wulan. Kasihan dia tidur di ranjang yang sudah usang. Kamar mandinya juga sempit, apalagi lemari bajunya, kayunya itu lho udah dimakan rayap."
"Lantas, apa hubungannya dengan Damar?"
Plakk
Mami memukul kepalaku, "Sakit Mam ... kenapa lagi in i?" geramku.
"Oh, mau melawan Mami sekarang ya? Mulai berani sama Mami?" Ini yang aku tidak suka dengan Mami yang memaksaku.
"Enggak, tapi ... Damar harus tahu kenapa malah Damar yang harus mencari tempat tinggal untuknya? Sementara dia betah tuh hidup di sana." Aku menyandarkan punggung.
"Masih nanya kenapa? Kamu itu kan calon suaminya, jadi, harus peduli pada Wulan sejak sekarang." Mami sudah bertitah seperti seorang hakim ketua yang mengetuk palu di pengadilan.
Aku iyakan saja daripada berdebat dengan Mami. Kami dipanggil si mbok untuk makan malam. Makan malam sudah dipersiapkan. Kami sekeluarga berpindah tempat ke meja makan sambil mengobrol sejenak.
Malam ini juga, aku harus mengantar tas belanjaan ini pada gadis bar-bar itu. Lagi-lagi aku harus melihat wajahnya yang begitu mengesalkan. Sekitar jam sembilan malam, aku pergi seorang diri. Tadi mencoba untuk mengajak Selena tapi, dia tidak mau. Ketika dibutuhkan dia malah menolak.
Kubawa dua tas belanjaan yang begitu besar. Meletakkannya di kursi penumpang. Mobilku melaju seiring mesin kendaraan ini sudah menyala. Aku mengendarai mobil ini menjauh dari rumah. Baru satu kali ke kost-an Wulan, apakah aku ingat di mana alamatnya? Sebaiknya aku menelpon Mami terlebih dahulu, tadi, aku lupa agar beliau mengirmkan lokasi kost-an Wulan via aplikasi hijau.
Kami berbincang sejenak sebelum kuputuskan panggilan, setelah itu ada pesan masuk, langsung aku buka peta lokasi itu sambil menyetir. Melihat nama jalannya. Aku ingat sekarang di mana alamatnya.
Mungkin sekitar dua puluh menit, aku tiba di sebuah gedung kost-an berlantai dua. Turun dari mobil dan menanyakan kamar Wulan.
"Masuk saja, Mas! Tadi ada temannya juga yang datang. Kalau menerima tamu pria di kamar, pintunya harus terbuka." Aku mengangguk, mengerti dengan aturan sang penjaga gedung.
Kaki ini melangkah cepat, mencari nomor kamar yang sebutkan penjaga tadi.
__ADS_1
"Ini dia." Tapi, aku melihat pintunya setengah terbuka. Padahal, tadi pak penjaga bilang Wulan sedang menerima tamu pria. Tunggu dulu, siapa pria itu? Apa mungkin saja dia pacar Wulan selama ini?