
Dimas, sedang apa dia di sini? Mana main nyelonong ajah.
"Damar, Elu juga ada di sini? Kenapa penampilan kalian berdua begitu? Apa jangan-jangan kalian," dia tidak meneruskan ucapan.
"Dimas, sebaiknya kamu ke luar saja!" seruku agar Damar tidak menghajarnya. Kulihat Damar yang berusaha meredam emosi.
"Dimas, katakan sekarang! Kenapa Elu tahu apartemen di mana Wulan tinggal? Kalian berdua sengaja mempermainkan gue?" Damar melirikku dan Dimas bergantian.
"Maksud Elu apa? Mempermainkan bagaimana? Sejak kapan urusan pekerja menjadi urusan seorang bos di luar konteks pekerjaan? Hubungan kalian bukannya hanya seorang karyawan dan atasan?" Dimas mulai meraba-raba tentang apa yang terjadi di sini.
"Jangan dekati Wulan! Dia itu tunangan gue." Damar mulai menarik tubuhku.
"Kalian, kalian berdua sudah bertunangan? Kapan?"
"Jangan dengarkan dia! Dia hanya bercanda. Kamu pergilah dulu! Nanti kita ngobrol." Kepalaku menyembul dari balik punggung Damar.
"Wulan, mana cincin pertunangan kita? Kamu memakainya, kan?" Damar mencengkram pergelangan tangan kiri. Dia menunjukkan cincin yang melingkar di jari manisku pada Dimas.
"Ini buktinya, kita berdua sudah bertunangan. Sebulan lagi kita akan menikah." Damar pun meregangkan tangan kiri dan memperlihatkan cincin yang dia pakai pada Dimas.
Dimas terpaku pada tempatnya berdiri. Dia terperangah menatap kami bergantian.
"Jadi, kalian berdua benar-benar sudah bertunangan? Damar, sejak kapan Elu pacaran sama Wulan? Gue pikir dia ini belum punya pacar, eh sekarang kalian berdua malah sudah bertunangan. Kenapa gak ngundang kita?" Dimas protes karena sahabatnya itu tidak mengundangnya.
"Kita berdua terpaksa karena dijodohkan." Aku menjawab pertanyaan Dimas.
"Kami berdua memang awalnya dijodohkan, tapi, sekarang ini kami saling menyukai." Damar menambahkan.
Deg, mendengar ucapan Damar membuatku tersentak. Sejak kapan dia blak-blakan memberitahu tentang perasaannya pada orang lain? Aku ingin menepis ucapannya, tapi, mulut ini terasa kelu, tak mampu berkata-kata.
"Maaf kalau mengganggu, gue pergi sekarang." Dengan tampang lesu Dimas meninggalkan kami berdua. Pintu tertutup rapat, kami berdua masih diam terpaku.
__ADS_1
"Lan, kamu bisa maafin aku, kan?" Pria ini berbalik arah. Kami berdua saling beradu pandang. Aku melengos tak mau menatap wajahnya yang menjengkelkan.
"Gak, aku gak mau maafin kamu. Kamu sudah keterlaluan, aku ini seorang perempuan, punya perasaan. Seenaknya saja menyentuhku tanpa izin." Aku tak mau menatap wajahnya.
"Apa yang harus aku lakukan untuk mendapatkan kata maaf darimu? Aku benar-benar khilaf, lain kali aku akan meminta izinmu." Kedua tangannya memegang pundakku.
"Gak, gak usah ngelakuin apa-apa! Aku malas ketemu sama kamu. Besok, aku gak mau melihat wajahmu ketika di tempat kerja." Mendadak teringat pembukaan cabang coffee shop yang baru.
"Besok itu pembukaan cabang baru, aku harus pergi memantaunya. Apa kamu gak usah pergi bekerja? Biar aku panggil orang lama untuk menggantikan kamu?" Ketika membicarakan pekerjaan, emosi yang kurasakan perlahan berkurang. Apa aku sudah tertular sifat manusia di depanku ini?
"Gak mau, aku harus bekerja. Aku sudah bosan di rumah terus." Damar membimbing tubuhku agar duduk di sofa.
"Yaudah, kamu kerja saja. Tapi ingat, jangan pernah gatal sama cowok-cowok di tempat kerja. Aku gak suka melihatmu dekat-dekat dengan cowok lain." Ucapan yang ke luar dari mulutnya membuatku keheranan.
"Apa maksudnya ini? Kamu itu siapa? Kenapa sampai mengaturku seperti itu? Protektif kok sama aku yang bukan siapa-siapa." Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dariku.
"Wulan, sudah aku katakan berulang kali kalau kita berdua itu sudah resmi bertunangan. Aku tahu kamu memiliki perasaan yang sama padaku, Selena bilang waktu pesta pertunangan kita, kamu sempat menangis ketika Lusi menyatakan perasaannya padaku." Wajahnya mendekati leherku, deru napasnya terasa panas menyentuh leher ini. Aku tergagap, tak mampu menyanggah ucapannya begitu saja.
"Jangan berbohong! Walau pun aku baru mengenalmu tak sampai enam bulan, aku sudah tahu mimik mukamu yang sedang berbohong itu." Dia menyentil hidungku.
"Ck, sakit," decakku kesal sambil memukul dadanya berulang kali.
"Ayolah, aku sudah mati-matian untuk jujur tentang perasaan ini. Kamu masih belum mau mengakuinya?" Dia mendesakku.
"Aku akan mengakui perasaan ini padamu, tapi, ada syaratnya." Aku menyeringai lebar.
"Syarat? Syarat apa itu? Aku akan mengabulkannya agar mulutmu itu mengucapkan rasa suka padaku." Yes, akhirnya aku bisa memanfaatkan Damar.
Aku berbisik di daun telinganya, "Kamu harus membantuku menemukan kedua kakek dan nenek di Bojonegoro." Damar mengernyit, menatapku lekat.
"Kakek nenekmu?" Aku membekap mulutnya, bisa-bisa Ibu dan Bapak mendengar suara pria ini. Telunjukku satunya berada di depan bibir, memberikan kode padanya agar dia diam.
__ADS_1
"Sekalian kita mencari tahu tentang apa yang terjadi pada masa sekolah dasar dulu. Aku belum pernah bertemu dengan kakek nenekku sampai sekarang. Aku ingin kamu mencari keberadaannya, yang aku tahu mereka ada di sebuah daerah yang ada di Jawa Timur, di Bojonegoro. Tapi, alamat lengkapnya aku tidak mengetahuinya." Semoga dengan ini aku berhasil menemukan kedua kakek nenek.
"Akan aku usahakan, demi kamu akan aku lakukan. Siapa nama kakek nenekmu?" Mendengar pertanyaannya aku menggeleng pelan, pundakku lemas karena tidak tahu informasi apa-apa tentang mereka.
"Bagaimana aku mencari mereka kalau namanya saja tidak tahu?" Damar menghela napasnya.
"Wulan, lebih baik kamu mandi dulu! Rambutmu sudah seperti Mak Lampir." Dia memperhatikan penampilanku.
"Gara-gara kamu rambutku jadi begini." Aku mengacak-acak rambutnya.
"Kita lakukan secara sadar yuk! Biar kita berdua sama-sama enak." Wajah Damar semakin mendekat. Tanganku diletakkan pada lehernya. Aku menutup mulut agar dia tidak bisa menciumku lagi.
"Wulan, ayolah." Dia mengiba padaku. Tatapannya membuatku seperti terhipnotis.
Kedua tanganku melingkari lehernya, sementara Damar melingkari pinggang ini. Kami berdua duduk setengah berbaring di sofa. Embusan napasnya terasa menggelitik wajah ini. Kepalanya semakin mendekat. Tanpa sadar mulut ini sedikit menganga, aku seperti seorang perempuan yang pasrah mau diapakan saja.
"Ehem." Baru saja bibir kami menempel, suara itu membuat kami berdua terlonjak dari sofa.
"Ngapain kalian? Kalau kalian sudah kebelet, malam ini juga Bapak panggil penghulu, kalian menikah siri saja dulu!" Suara Bapak membuat kami berdua salah tingkah.
"Maaf, Pak. Damar tidak bisa mengontrolnya." Pria itu tampak salah tingkah.
Aku beranjak dari tempat duduk, berlari menuju kamar tidur. Kubuka pintu sedikit untuk mengintip mereka berdua. Tak ada Ibu di sana, hanya Bapak seorang diri yang masih menasehati calon menantunya.
"Apa aku dan Damar mampu menjalani pernikahan? Sekarang saja emosional kita berdua masih dikatakan labil dan sering berdebat. Bagaimana nanti kalau kita berdua menikah?" Mendadak aku berpikir tentang apa yang terjadi ke depannya.
Kuintip mereka berdua, Damar akhirnya pergi dari rumah ini. Sayup-sayup terdengar suara adzan maghrib. Bapak berjalan ke arahku, cepat-cepat aku menutup pintu. Dadaku bergemuruh hebat, tangan ini memegang bibir yang sempat menempel dengan bibirnya. Rasanya begitu lembut.
"Wulan, ke luar sebentar! Ada yang harus Bapak dan Ibu sampaikan." Suara itu menyadarkanku.
Kubuka pintu kamar perlahan, ada Bapak berkacak pinggang tepat di depan pintu. Ibu menatapku tajam.
__ADS_1
Kenapa mereka menatapku seperti tak suka? Ada apa lagi ini? Apa karena kejadian tadi si sofa?