Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Damar dan Aditya


__ADS_3

"Dia siapa, Lan? Kenapa dia berkata kasar begitu?" Adit menatap wajah Dimas yang seperti kepiting rebus.


"Dia tetangga sebelah, ayo kita pergi! Pintunya sudah terbuka." Aku melambaikan tangan pada Dimas. Mereka masih berpandangan, terpaksa aku mendorong tubuh Aditya.


"Wulan!" Dimas malah turun dari lift, mengikuti langkah kami berdua.


Ck, ngapain nih Dimas. Bikin orang kesel aja, kenapa dia harus mengikuti segala. Pasti banyak nanya nih.


"Maaf Dimas. Kami buru-buru mau pergi ke coffee shop yang baru. Kami ditunggu Pak Damar di sana." Setelah kami berdua menghindarinya, barulah pria itu berhenti mengikuti kami.


Tanpa menoleh sedikit pun ke arahnya, aku menarik lengan Aditya sampai ke lobi dan mendekati pintu utama gedung ini.


"Lan, tadi siapa? Tunangan kamu, bukan?" Aku menggeleng cepat.


"Dia tetangga sebelah."


"Jadi, dia tinggal di sini?"


"Eh, Wulan ... kita ke basemen! Motorku ada di sana," ucapnya lagi.


"Apa, motor? Kamu naik motor ke sini?" Aku melongo melihatnya.


"Iya, sengaja naik motor biar cepet sampe." Aku mengikuti langkah Aditya ke basemen. Dia memberikan sebuah helem padaku.


"Sengaja aku bawa dua helem karena mau jalan sama kamu." Aku masih memperhatikan motor yang dia punya. Seperti motor yang ada di televisi. Kalau tidak salah nama ajang balapannya, moto GP.


"Beneran motor, Kamu?" Dia mengangguk singkat.


"Pake nih helemnya!" Dia berinisiatif untuk memasangkan helem itu di kepala.


"Wah, motor kamu keren ya. Pasti mahal."


"Gak usah sok kagum, masih kredit ini. Hahaha, jangan percaya apa yang aku pakai." Tidak mungkin dia seperti ini, dia pasti merendah.


"Tapi, kalau kita jalan bareng Damar juga, gimana dong?"


"Ya udah, gak apa-apa. Dia bisa naik mobilnya, kan?"


"Eum, iya sih." Helem sudah dipasang. Aditya bersiap mengendarai motor. Suara mesin itu menderu.


"Ayo berangkat!" seruku selepas bokonng ini menempel di jok motor.


"Lan, peluk pinggangku! Nanti kamu bisa jatuh."


"Iiih, gak mau. Udah, berangkat ajah! Gak bakalan jatuh."


"Kita berangkat ke mana? Mau lihat gym aku di mana?"


"Boleh tuh, tapi, kayaknya harus ke coffee shop dulu deh. Bisa-bisa Bapak marah ketika aku pulang nanti. Kita harus menjemput Damar."


"Yakin mau jemput dia?"

__ADS_1


"Iya, buruan ke coffee shop!"


"Di mana tempatnya? Apa nama jalannya?"


"Astaga, aku lupa. Sebentar ya!" Aku merogoh hape yang ada di dalam tas selempang. Mencari nama lokasi coffee shop yang baru.


"Nah, ini dia alamatnya. Sudah ada di peta elektronik." Kusodorkan hape itu pada Aditya.


"Owh, di sini ya. Deket ini." Dia mengembalikan benda pipih itu padaku.


Tanpa aba-aba, Adit menancap gas menuju ke luar basemen. Aku hampir saja terpental, kupeluk dia erat karena refleks dari motornya.


"Ck, ini pasti akal-akalan Adit," lirihku seorang diri.


Tak sampai sepuluh menit, kami tiba di sebuah pelataran parkir. Aku langsung turun dari motornya, meletakkan helem yang sudah kulepas di sela pahanya.


"Lan, tunggu! Masa iya aku ditinggal."


"Cepet!" Aku tidak menggubris lagi panggilannya.


Mata ini melihat pemandangan yang tidak biasa. Kulihat Damar berdiri, berbincang dengan dua orang yang aku kenal.


"Ngapain mereka ada di sini?" Kaki ini berhenti melangkah.


"Lan, aku panggilin dari tadi. Lho, kenapa berhenti?" tanya Adit.


"Apa kita langsung pergi saja, ya?" Aku mulai ragu karena harus berhadapan dengan dua orang itu.


"Bagaimana kalau kita masuk sebentar? Izin dulu sama tunangan kamu. Yang mana tunangan kamu?" Adit mencari keberadaan Damar.


"Itu, yang pake kemeja hijau lumut!"


"Siapa namanya?"


"Damar."


"Owh, jadi dia yang namanya Damar. Lebih ganteng aku, kan Lan?" Adit menoel daguku.


"Ck, Adit. Bisa gak sih kalau gak usil kayak dulu," decakku kesal.


"Maaf, lama gak ngelihat kamu tapi kamu malah seperti ini." Dia menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"Seperti ini bagaimana maksudmu? Tambah kusem dan dekil ya?"


"Sembarangan, kamu salah, Lan. Kamu tambah manis, bibirmu semakin seksi."


"Aditya!" Aku memukul pundaknya dengan keras sampai dia mengaduh kesakitan.


"Sakit, Lan."


"Bohong, kamu cuma pura-pura ajah."

__ADS_1


"Wulan? Ngapain Elu di sini? Bukannya istirahat untuk persiapan lusa, malah keluyuran." Suara Damar ketus seperti biasa.


"Easy, Bro! Kamu tunangan Wulan? Lan, model lakik beginian yang jadi tunangan kamu? Kasar banget mulutnya."


"Elu siapa? Kenapa kalian berdua ke sini bersamaan? Dan satu lagi, gue mau kasar atau kagak pada Wulan ... itu terserah gue, mengerti!"


"Damar, hentikan!" Aku mendorong tubuhnya agar menjauh dari Adit.


"Kita ke sini mau minta izin, kalau kamu mau ikutan juga boleh." Aku melanjutkan ucapan lagi.


"Izin? Izin apaan tuh?" Kedua alisnya bertaut, menatapku dan Aditya bergantian.


"Aku mau bawa tunangan kamu ke gym milikku yang ada di Menteng. Kalau kamu mau ikutan juga gak apa." Aditya yang menyahut.


"Gue gak nanya Elu!" Tunjuk Damar menggunakan dagunya.


"Damar, yang sopan dong sama temen sekolah aku!" Aku geram pada pria ini. Sifatnya sungguh keterlaluan.


"Kita pergi saja, Lan! Sudah ke sini baik-baik malah dapat omongan kasar. Lebih baik batalin ajah pertunangan kalian!" Setelah menatap tajam ke arah Damar, Aditya mencengkram pergelangan tangan ini dan menariknya sehingga tubuhku otomatis mengikuti langkahnya.


"Berhenti! Kalian berdua tidak boleh pergi begitu saja!" cegah Damar yang berlari, kedua tangannya telentang di depan kami berdua, menghalangi jalan kami.


"Damar, aku gak mau berantem di sini. Tuh lihat! Ada beberapa orang yang melihat kegaduhan ini." Aku berusaha melepaskan diri dari cengkeraman tangan Aditya.


"Wulan, sini kamu!" Damar menarik lenganku yang satunya. Tangan kanan dan kiriku dicengkeram kuat oleh mereka.


"Lepaskan Wulan!" Aditya menarikku, Damar pun tak mau kalah. Mereka tarik menarik, tak memperdulikan rasa sakit yang aku alami.


"Awh, sakit. Kalian berdua hentikan! Lepaskan tanganku!" jeritku sudah tidak tahan lagi.


Napas ini tersengal, pergelangan tanganku langsung dilepas oleh keduanya. Rasanya nyeri, kulihat bekas cengkraman itu berwarna merah.


"Pak Damar." Kulihat mereka berdua mendekat kami bertiga.


"Kalian berdua masuk! Jangan pernah ikut campur dalam urusan pemilik tempat ini!" Damar mengusir keduanya. Tak sengaja pandangan ini saling beradu, tapi, aku segera melengos tak mau berpandangan lama dengan mereka.


"Ayo Wulan, kita pergi!" ajak Adit tak sabar.


"Elu ini tuli atau emang gak bisa mikir? Wulan gak gue izinin pergi bareng Elu. Temen macam apa yang menarik tunangan orang, apalagi sampai berduaan dengan tunangan orang lain. Gue gak mau Elu bawa Wulan kalau tanpa gue di sampingnya." Damar menarik lenganku, tubuh ini pun tertarik karena tarikannya yang kencang.


Sebenarnya, aku malas berdebat. Tapi, melihat sikap Damar yang semena-mena begini membuatku tak terima. Seharusnya dia tahu kalau pertunangan itu hanya kamuflase saja agar orang tua kami tidak curiga apa pun setelah ini.


"Damar, sejak kapan aku menjadi tunangan yang harus kamu jaga? Sejak kapan, huh?"


"Aku dan Adit hanya pergi ke gym-nya di Menteng. Di sana juga banyak orang, kami juga ngajakin kamu untuk pergi ke sana. Jangan malah kayak anak kecil begini!" Aku menepis tangannya dengan kasar


"Ingat kalau pertunangan ini ter-,"


"Diam, Lan!" bentakknya kasar sebelum aku meneruskan ucapan.


Ada empat orang yang ke luar dari coffee shop. Mereka menghampiri kami.

__ADS_1


__ADS_2