Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Mencurigakan


__ADS_3

"Mas Riki, kenapa senyumnya beda? Memangnya ada yang Mas Riki sembunyikan? Apa dulu waktu Mas Riki nuduh aku sama Damar di kost juga rencana dari Tante Iren?" Aku teringat kejadian di warung dekat dari coffee shop lama.


"Tentu saja, aku sudah tahu karena Bos Iren sudah menjelaskan tentang perjodohan kalian. Aku sengaja menebak kalian berdua itu sepupuan, pasti kamu pikir aku tidak tahu?" Dia tertawa kecil.


"Jadi, semuanya sengaja karena kerja sama kalian?" Dia mengangguk.


"Memangnya apa yang kalian sembunyikan lagi pada kami?"


"Bukan urusanmu! Yang jelas, kalau ada apa-apa yang terjadi denganmu, Bos Iren mengetahuinya dariku. Kita berdua bekerja sama dalam hubungan yang saling menguntungkan. Beliau dapat informasi, aku dapat jabatan." Wah, dia tidak canggung sama sekali ketika membicarakan tentang hal ini.


"Mas Riki, jadi kamu beneran mau melakukan hal kotor seperti ini?"


"Hei, tentu saja yang kulakukan bukan hal kotor. Kinerjaku cukup baik selama ini, aku tidak bisa berkembang karena perut buncit itu yang selalu mencari muka sama Bos." Mas Riki mengungkit manajer kami yang lama.


"Sorry, Lan. Aku harus pergi, setelah ini, sebaiknya kamu berpikir ulang kalau melakukan hal yang aneh-aneh di tempat kerja." Dia bersiap untuk meninggalkan tempat ini.


"Apa maksudnya, Mas? Aneh-aneh gimana?" Aku mendengar ada nada ancaman pada perkataannya.


"Gak usah deket-deket cowok mana pun! Bukan hanya Damar yang over protektif, tapi ibunya juga." Suara deru motor mengaung, kendaraan roda dua itu menjauh dari tempatku berdiri.


"Sialan, selama ini aku tertipu. Mereka ternyata mengawasiku di tempat kerja." Kesal sekali rasanya. Entah apa yang ada di kepala Tante Iren sampai harus menyuruh mas Riki untuk mengawasi.


Aku berjalan ke lobi dengan langkah gontai, menekan tombol lift, menunggu pintunya terbuka. Aku masuk ke dalam lift, mungkin karena hari sudah malam, tak ada penghuni lainnya yang ke luar masuk. Aku hanya seorang diri berada di tempat ini.


Kaki berjalan dengan lesu menuju koridor, tepat di samping lift, ada dua orang yang tengah berbincang. Tak sengaja mengintip karena kedua orang itu aku kenal.


"Sapa, enggak. Sapa, enggak." Aku menimbang-nimbang haruskah menegur mereka atau tidak.


"Heum, sepertinya nguping dikit gak apa-apa nih." Dengan mengendap-endap mendekati mereka berdiri. Aku berjongkok di balik guci keramik besar yang berisi tanaman hias.


"Pokoknya, Elu harus menculiknya! Gue gak mau tahu. Gue udah gak mau nunggu lagi." Perkataan yang ke luar dari mulut gadis itu membuatku terkejut.


"Nyulik siapa? sepertinya aku menguping pembicaraan yang penting," gumamku tak terdengar.


"Sabar dulu! Kita tunggu waktu yang tepat untuk itu. Elu pikir gue gak muak harus bersandiwara selama itu? Elu memang selalu nyusahin gue." Pria menanggapi ucapan gadis di depannya.

__ADS_1


Tiiiiiing


Suara pintu lift terbuka, aku terlonjak dari tempat jongkok, mereka berdua menoleh padaku karena sempat tanganku menyenggol guci besar itu.


"Hehehe, maaf ... silakan dilanjutkan obrolannya." Sebelum mereka masuk menghentikan langkahku, kaki ini setengah berlari menuju unit apartemen.


Tanganku bergetar, mengetuk pintu yang belum dibuka juga.


"Ck, Ibu, Bapak, buruan buka!" Tangan masih mengetuk pintu tak sabar.


"Wulan, tunggu dulu!" Suara itu membuat kepala ini menoleh ke arahnya.


"Maaf, ini sudah malam. Aku juga ingin pergi ke kamar mandi. Aku duluan ya." Selesai mengatakan itu, pintu utama apartemen terbuka, aku bergegas masuk dan menutup daun pintunya dengan cepat.


Dadaku bergemuruh hebat, tangan kakiku gemetaran. Kepala ini berusaha menepis perbincangan yang aku dengar. Aku tidak boleh curiga pada orang yang tidak seberapa kukenal. Bisa saja aku salah dengar atau apa. Apalagi gadis tadi anak seorang konglomerat. Tidak mungkin dia mendalangi sebuah penculikan.


"WULAAAN!" teriakan ibu tepat di telinga, membuatku terlonjak kaget. Telinga ini pun berdenging hebat.


"Ibu, ngagetin Wulan ajah," jeritku yang tersentak karena panggilan beliau.


"Pasti karena Wulan memikirkan ucapan mereka," lirihku begitu pelan.


"Kamu ngomong apa barusan, Nak? Ibu gak denger." Wanita yang melahirkan aku itu mengguncang bahu.


"Eh, enggak ada apa-apa, Bu. Wulan ke kamar dulu ya. Mau mandi, gerah banget." Aku berusaha menghindar dari Ibu sampai melupakan hal yang terbiasa kulakukan.


"Nduk, Nduk, kenapa bisa lupa nyium tangan Ibu? Gak ngucap salam, langsung masuk nyelonong, gak salim juga." Aku mendengar suara Ibu yang dongkol.


Pintu kututup, tak kuhiraukan ucapan Ibu. Situasi tadi membuatku curiga pada mereka berdua. Apa yang sebenarnya mereka rencanakan? Dan pada siapa rencana itu dilakukan?


"Arrgh," jeritku berusaha mengenyahkan pikiran negatif.


Aku mandi berendam di bathtub menggunakan air hangat. Sesekali aku menenggelamkan kepala, menahan napas di dalam sana dan menyembul lagi setelah beberapa detik. Hal ini aku lakukan ketika pikiranku sudah ke mana-mana. Aku berusaha untuk membebaskan pikiran dari rasa yang berlebihan.


Sayup-sayup terdengar suara ketukan pintu kamar. Aku bergegas menyelesaikan misi di kamar mandi. Setelah bersih, aku memakai handuk kimono. Rambut yang masih basah tak kuhiraukan. Kaki tetap melangkah ke daun pintu kamar.

__ADS_1


"Ada apa, Bu?" Tanganku sibuk mengumpulkan rambut ke bagian kanan.


"Lan, barusan ada Dimas di depan pintu. Masa iya malam-malam begini mau ketemu kamu. Ibu gak izinkan, jadi, Ibu bilang saja kalau kamu sudah tidur." Ibu mengadu.


"Dimas?" tanyaku, Ibu mengangguk singkat.


"Iya, tadi ada yang mengetuk pintu. Dia bilang Dimas, Ibu buka saja. Dia nyari kamu padahal ada seorang gadis yang bersamanya. Dimas itu pasti peleboi, ituh yang banyak ceweknya." Ibu menatap langit-langit.


"Apa hubungannya Dimas sama playboy, Bu?" Ingin tertawa melihat reaksi Ibu tapi aku tahan.


"Dia itu suka sama kamu, Lan. Ibu melihatnya sering mandangin wajahmu kalau dia bertamu. Eh, tadi nyari kamu padahal ada gadis lain yang bersamanya. Mana Ibu lihat mereka berdua masuk ke unit apartemennya Dimas. Pasti mereka mau berbuat mesum." Ibu mulai bergosip khas emak-emak kampung yang julid pada tetangganya.


"Bu, gak boleh suudzon gitu deh. Mungkin gadis itu saudaranya atau rekan kerjanya di kantor yang bertamu." Kucoba menepis perkataannya.


"Ini sudah malam, Lan. Gak mungkin ada yang bertamu jam segini." Ibu bergidik mengingat kejadian tadi.


"Buktinya tadi Dimas nyari Wulan. Udah deh, Bu! Gak usah kepo gitu! Wulan mau ngeringin rambut setelah itu tidur." Tanpa basa-basi lagi aku menutup pintu.


Telinga ini mendengar suara Ibu yang menggerutu.


Kuraih alat pengering rambut, mengeringkan rambut ini kemudian segera tidur di atas pembaringan. Tak kuhiraukan lagi pikiran-pikiran yang menghinggapi kepala ini.


***


Jam delapan pagi aku harus pergi bekerja, Damar tidak bisa menjemput karena harus pergi ke kampus. Pekerjaannya semakin banyak, aku tidak boleh terlalu mengandalkan Damar. Toh, ada ojek online yang bisa mengantarku pergi.


Baru saja kaki berada di ambang pintu, kulihat dua orang yang aku kenal, mereka berjalan beriringan sambil mengobrol di koridor apartemen. Aku mengurungkan niat untuk segera bekerja. Mereka berjalan di depanku, dengan langkah berjinjit, aku mengikuti langkah mereka. Aku pikir mereka turun menggunakan lift, tapi, mereka berdua malah berbelok ke pintu darurat.


"Sepertinya mereka memang merencanakan sesuatu." Rasa penasaranku teramat besar, kaki ini mengikuti mereka dari jauh, sayang sekali pintu darurat itu tertutup rapat. Kucoba untuk menempelkan daun telinga pada daun pintu.


"Ck, sial, gak kedengaran," decakku kesal.


"Aduh." Tiba-tiba pintu itu terbuka dan mengenai kening. Kening terasa nyeri, suaraku yang mengaduh membuat mereka kelabakan. Aku berusaha bersembunyi di balik punggung beberapa orang yang baru saja melintas. Aku berbaur dengan beberapa orang yang tidak dikenal. Mereka masuk ke dalam lift, begitu pun aku.


Mereka berdua pun masuk, satu lift denganku. Kepala pria itu menjulur mencari sesuatu.

__ADS_1


"Lho, Wulan ... kamu mau berangkat kerja?" tanya seseorang yang membuat jantungku hampir meloncat dari tempatnya.


__ADS_2