
"Elu karyawan Damar, kan? Ngapain ada di sini? Gak kerja?" Dia menatapku dari bawah, aku tidak bisa mengelaknya lagi.
"Hehehe, iya ... aku dapat jatah libur." Terpaksa aku tersenyum walau tampak kaku. Andre membalas senyumanku.
"Terus, ada perlu apa ke sini? Punya temen di sini?" cecarnya lagi.
Kepo amat ini orang, temen Damar nih gak ada yang beres.
"Aku mau ke unit apartemen temen, mau ngobrol tentang hal yang penting," jawabku asal.
"Ngobrol bukannya bisa di telepon ya?"
"Ini masalah penting, jadi harus berbincang empat mata. Kalau kamu ngapain ke sini? Bawa berkas banyak banget." Kulirik berkas yang menumpuk di telapak tangannya.
"Dimas, gue mau ketemu Dimas. Kita berdua lagi ada proyek bareng, Damar juga ikutan nanam saham di proyek ini." Dia begitu bersemangat.
"Oh," sahutku singkat.
"Oh iya, emangnya Dimas masih ada di sini? Bukannya dia pergi bekerja ya?" Ups, aku salah mengajukan pertanyaan.
"Kamu sudah tahu kalau Dimas tinggal di sini? Roni sama Damar ajah gak tahu kalau dia pindah ke sini. Kamu tahu dari siapa?" Andre menelisik raut wajah.
"Eum, anu ... itu, aku tadi sempat lihat Dimas pergi. Tapi, gak tahu juga sih, mungkin dia ada di unitnya." Aku berusaha menormalkan tekanan jantung.
Tiiiiiing
Pintu lift terbuka, Andre pamit karena harus pergi menemui Dimas. Sementara aku berpura-pura naik ke lantai enam belas untuk mengelabuinya. Setelah di rasa aman, aku kembali lagi ke lantai empat belas, ke luar dari pintu lift. Mengintip koridor apartemen, melihat siapa saja yang berlalu lalang.
"Hosh, aman." Kakiku segera melangkah ke nomor unit apartemen. Aku mengetuk pintunya sambil menoleh ke kiri-kanan.
"Wulan, kenapa lama sekali? Kamu keluyuran ke mana aja?" Ibu berdiri di ambang pintu. Aku menghindari tubuh Ibu, segera masuk kemudian menutup daun pintu kembali.
"Wulan nabrak orang di lobi, Bu. Makanya lama."
"Nabrak gimana? Memangnya lama kenapa?" cecar Ibu masih penasaran.
Kami berdua duduk di sofa, Ibu masih menunggu jawabanku.
"Wulan gak sengaja nabrak orang, dia bawa berkas banyak banget. Jadi, Wulan pungutin tuh satu-satu berkasnya."
__ADS_1
"Owh, ibu pikir nabrak orang gimana."
"Wulan mau mandi dulu, Bu." Aku meninggalkan beliau ke kamar tidur.
***
Beberapa hari telah berlalu, besok siang adalah hari pertunanganku dan Damar. Kami diboyong lagi ke rumah Tante Iren karena gaun dan segala macamnya ada di sana. Lagipula, kami bertiga tidak mempunyai kendaraan sendiri.
Aku, Ibu, Selena dan Tante Iren pergi ke salah satu spa yang terkenal di kota ini. Gedungnya memiliki dua lantai, interiornya begitu bagus, lantai keramiknya berkilauan seperti cahaya lampu. Ibu sampai tertegun melihatnya, jujur saja, aku dan Ibu baru pertama kali pergi ke tempat seperti ini. Melihat rincian perawatan dan tabel harganya, membuat Ibuku sesak napas. Kalau aku, memang tahu harganya pasti mahal. Makanya sudah tidak terkejut lagi.
"Bu, jangan pingsan di sini!" Aku menyenggol pinggangnya.
"Iya, Ibu gak mungkin pingsan, tapi, badan Ibu masih gemetaran nih."
"Ada apa, Ning?" Tante Iren memperhatikan kami yang sejak tadi berbisik.
"Gak apa-apa, Tan. Ibu agak meriang badannya."
"Kamu duluan saja masuk! Biar langsung ditangani pijat dan perawatan lainnya. Besok acara spesial anak-anak kita, jangan sampai sakit duluan." Tante Iren begitu khawatir, padahal aku hanya berbohong agar Ibu tidak diejek karena gemetar melihat harga spa di sini.
"Terserah kamu saja," jawab Ibu pasrah.
"Ayo, Kak! Gak usah canggung gitu." Kami melangkah bersama masuk ke dalam ruangan perawatan.
Beberapa jam kemudian, hari telah berganti sore. Kami ke luar dari gedung spa dengan wajah glowing sekaligus badan yang segar. Tante Iren mengajak kami pergi ke coffe shop cabang baru. Kebetulan sekali ini bisa jadi kesempatan aku untuk membujuk Tante agar bekerja di cabang yang baru ini.
"Pak Dadang, belikan kopi di Starbeks dekat sini untuk sepuluh orang ya!"
"Menunya apa ajah, Nyonya?"
"Selena ajah yang milih! Dia tahu selera anak-anak muda zaman sekarang! Ikut Pak Dadang ya Sel! Mami, Ibu dan Kakak ke luar duluan."
"Iya, Mam," jawab gadis itu terpaksa.
Kami bertiga turun dari kendaraan yang berhenti di pelataran parkir. Masuk ke dalam coffee shop yang akan dibuka dua hari setelah acara pertunangan.
"Wah, bagus ini daripada tempat yang lama, Tante. Lebih betah pastinya pelanggan yang datang." Memang tampilannya serupa, tapi masih saja memiliki perbedaan dan ciri khas dengan gambar karikatur yang ada di dinding.
"Semoga saja di sini lebih ramai dari tempat yang lama, biar Damar bisa membuka cabang yang ketiga." Aku dan Ibu mengaminkan harapan beliau.
__ADS_1
"Bu, Damarnya mana? Saya pikir dia sudah datang bersama Ibu." Adas seorang pria yang tidak kukenal menghampiri. Dia bersalaman dengan Tante Iren.
"Kami mampir bentar, mau tahu persiapannya sudah berapa persen. Eh, ternyata sudah jadi semua."
"Begitulah, Bu. Tugas kami sekarang menata bahan-bahan logistik di tempat penyimpanan. Menyusun alat pembuatan kopi dan alat masak lainnya." Dia menjelaskan singkat.
"Ada berapa orang kalian?" tanya Tante Iren.
"Kami berempat, Bu. Saya dibantu oleh tiga karyawan lainnya."
"Ya sudah, lanjutkan pekerjaan kalian! Nanti kalau kopinya datang saya panggil."
"Baik, Bu." Pria itu bergegas pergi meninggalkan kami bertiga.
"Ayo kita duduk di sofa itu ajah!" ajak Tante.
Kami duduk bersebelahan, menunggu kedatangan Selena dan Pak Dadang.
"Tante, Wulan bisa pindah kerja di tempat ini, kan?"
"Yakin, kamu mau kerja lagi? Sudahlah, gak usah kerja, besok tunangan, tiga bulan lagi menikah. Nanggung kalau cuma kerja empat bulanan."
"Tapi, Tante ... buat Wulan itu empat bulan begitu lama. Bisa-bisa mati berdiri kalau gak ada kegiatan selama empat bulan." Nada suaraku mulai meninggi. Entah sejak kapan aku mulai berani menolak keinginan Tante Iren.
"Wulaaann," panggil Ibu sambil melotot.
"Anak tunggalmu ini, lihatin tuh! Mau dikasih kehidupan yang layak dan enak malah nolak." Wanita itu mengadu pada Ibu.
"Tante, tolong dong ngertiin perasaan Wulan! Wulan gak mau jadi boneka Tante dan keluarga Tante lagi."
"Wulan! Kamu ngomong apa?!" Ibu membentakku.
"Maaf, Iren. Dia itu memang keras kepala, nanti aku bilangin dia pelan-pelan, dia pasti mau mengerti."
"Ehem," suara itu mengalihkan perhatian kami bertiga.
Sejak kapan dia masuk ke sini? Tatapannya menatap Tante Iren dengan tajam.
"Biarkan dia bekerja di tempat ini!"
__ADS_1
Aku merasa ada yang membelaku, perasaanku begitu lega.