
Andre menghampiri kami, dia bersalaman dengan Ibu. Dia tidak mengerti keadaan kami apa gimana? Tangan kami sibuk memegang barang-barang yang agak berat ini.
"Maaf ya Ndre, kita lagi buru-buru." Aku berjalan lebih dulu. Aku tidak menggubris perkataannya. Ibu dan Bapak menyusul. Beliau tampak tidak ramah pada Andre. Bisa saja karena dia langsung menodong ucapan bahwa aku cantik, dia kan seorang pria, dan aku anaknya yang sudah bertunangan. Pikiran orang tua kolot pasti begitu. Mereka selalu curiga pada pria-pria di dekat anaknya. Mereka pikir anaknya ini menjadi incaran pria-pria di luar sana, padahal aku sadar diri bahwa aku seorang perempuan yang biasa saja.
"Bapak ternyata sudah tua, ya. Bawa barang beginian sudah capek luar biasa." Beliau duduk bersandar di sofa.
"Kita memang sudah tua dan seharusnya sudah punya cucu, Pak. Wulan saja itu yang belum nikah. Kalau dia ada di kampung, pasti ditanya mulu sama tetangga." Lah, Ibu, bapak bilang A malah merembet bahas ke hal Z.
"Peduli apa sama omongan tetangga, Bu. Kalau misalnya menikah memangnya mulut mereka gak berhenti ngomongin? Orang belum menikah ditanya kapan nikahnya? Orang sudah menikah belum memiliki keturunan, ditanya lagi, kapan punya anaknya? Udah punya anak ditanya lagi, kapan nambah anaknya? Begitu terus gak abis-abis. Ribet amat hidup, sampe ngurusin urusan orang segala. Pertanyaan itu gak akan pernah selesai kalau berada di lingkungan katrok kaya di kampung Ibu dan Bapak. Pikiran mereka masih dibawah standar. Kurangnya wawasan tentang privasi sampai sibuk mengurusi hal rumah tangga orang lain." Aku berucap panjang kali lebar. Dada ini naik turun karena berusaha menahan emosi.
"Lan, lihat Ibumu! Hampir jatuh barang-barang yang dibawa."
"Wulan malas kalau ladenin Ibu dan Bapak. Wulan mau ke coffe shop dulu, mau pamitan sama rekan kerja di sana." Aku meraih tas selempang kesayangan, tas yang warnanya sudah kusam.
Kulihat isi dompet yang semakin menipis. Makan, minum memang diberikan Tante Iren. Tapi, kalau harus ke mana-mana, aku memakai uang pribadi. Bagaimana ceritanya kalau aku menjadi pengangguran? Gak mungkin, kan?
Aku memesan ojek online, menunggu di lobi. Kulihat Andre yang berbincang dengan seseorang yang tidak aku kenal. Mereka tampak akrab karena gestur yang ditampakkan begitu santai.
"Wulan."
"Dimas, sejak kapan dia ada di sini?" Pria itu menghampiri aku yang duduk seorang diri.
"Ngapain sendirian di sini?" Tanpa ba-bi-bu dia duduk di sebelahku.
"Nungguin Bang ojek."
"Memangnya mau ke mana? Aku anterin ya?"
"Makasih ya, aku gak mau ngerepotin kamu," tolakku sambil menggeleng cepat.
"Gak ngerepotin, kok. Memangnya mau ke mana?"
"Kamu harus kerja, bisa-bisa telat ke kantornya. Udah jam sembilan lebih lho."
"Aku balik ke sini karena ada berkas yang ketinggalan. Sekalian meeting sama Andre."
"Ayolah, Aku anterin," bujuknya lagi.
"Aku gak bisa batalin orderannya. Kasian bapak ojeknya."
__ADS_1
"Tenang saja, aku yang bayar. Kalau dia sampai, biar aku kasih duitnya langsung."
"Udah, gak usah banyak mikir. Sekalian kita bisa sambil ngobrol di dalam mobil. Kamu beberapa hari ini sibuk, gak ada di apartemen. Aku nyoba ngetuk tapi gak ada jawaban."
"Aku lagi di rumah saudara, wajar kan, soalnya ibu dan bapak baru sampai beberapa hari ini."
Dering hape berbunyi membuat kami mengalihkan perhatian.
"Dari Pak Ojek," ucapku melirik Dimas.
"Kita jalan sekarang!" Kami beranjak dari tempat duduk, aku mengobrol sebentar dengan orang di seberang telepon.
"Itu dia! Plat kendaraannya sama." Tunjukku pada Bapak pengendara motor.
Dimas menghampiri Bapak itu, memberikan selembar uang berwarna biru, nominal dua kali lipat dari ongkos ojek.
"Udah aku bayar, ayo kita berangkat!" Pria itu tidak sopan, menarik tanganku begitu saja.
"Dimas, lepasin dong!" Aku menepisnya.
"Cuma tangan ajah, masih aman. Gak apa-apa kan, Lan?" Dia mengerlingkan sebelah mata.
"Iya, iya ... kuat amat ya. Sampai tangan gue sakit."
"Rasakan itu!" Aku merengut, sengaja menampakkan ekspresi tidak suka. Aku memang tidak suka disentuh dengan lawan jenis walau itu bergandengan tangan.
"Masuk!" titahnya seraya membuka pintu mobil. Tapi, aku malah membuka pintu penumpang.
"Lho, kenapa di belakang, Lan? Seharusnya di depan, kalau begini biar aku panggilkan sopir sewaan saja."
"Ck, iya ... aku pindah sekarang." Mau tak mau aku pindah ke kursi depan.
Akhirnya kendaraan ini melaju juga, entah sengaja atau memang cara menyetirnya, kendaraan ini meluncur seperti siput. Pelan bahkan selalu disalip kendaraan lain di belakang.
Dimas bertanya berbagai macam hal, ada yang aku jawab asal, ada juga yang aku jawab secara jujur.
"Kamu punya pacar gak sih, Lan? Kalau dijemput selalu naik ojek online. Aku gak pernah lihat kamu jalan bareng cowok." Dia melirikku.
"Entahlah, hubungan kami rumit. Aku juga gak tahu kita itu pacaran atau apa." Aku mencari aman, karena tatapan Dimas begitu serius ketika membahas tentang pasangan.
__ADS_1
"Gak usah ladenin cowok begitu, Lan! Mending sama yang pasti-pasti ajah, seperti aku contohnya." Aku mengernyit heran.
"Seperti kamu, gimana?"
"Seperti aku. Biarkan aku yang jadi cowok kamu. Lebih baik kamu hindari saja pria itu! Toh dia juga tidak jelas."
"Kamu pasti bercanda." Aku tertawa untuk meredam perasaan gugup.
Gak mungkin dia suka sama aku, di kantornya pasti banyak perempuan cantik-cantik. Sementara aku, ya penampilanku begini ajah.
"Aku serius." Kendaraan berhenti, tatapan mata Dimas menghunjamku penuh makna.
"Dimas!" pekikku ketika tangannya mulai meraih tanganku.
"Aku gak bercanda, aku melihat ada kesederhanaan dalam dirimu. Aku melihat kecantikan wanita yang apa adanya. Wajahmu alami tanpa polesan make up tebal. Kamu begini saja udah cantik, Lan. Apalagi kalau dandan dan pake baju bagus, bisa-bisa aku mengurungmu seharian di kamar."
"Jangan macam-macam kamu, ya!"
"Gak aku mengumpamakannya kalau misalkan kita sudah menjadi suami istri, pasti aku kekep mulu di kamar."
"Aku turun di sini saja. Males ladeni candaan kamu, Mas."
"Iya, sorry ... aku lanjutin lagi nih. Kita lanjut ngobrol di coffee shop nanti."
Kendaraan melaju kencang, selang beberapa menit akhirnya bangunan yang aku rindukan itu tampak di depan mata.
"Oh iya, aku lupa. Kamu udah gak kerja di sini lagi?"
"Eh, itu ... aku masih kerja tapi pindah cabang." Hampir saja aku bilang gak kerja lagi.
Kami masuk dan duduk kursi yang ada di dekat jendela. Dia memesan kopi americano untuk dirinya sendiri, sementara aku dipesankan caramel macchiato.
"Eh, kamu masih ingat kopi kesukaanku?"
"Tentu saja cantik." Dia tersenyum lebar.
Aku mengitari sekeliling, ingin rasanya mengobrol dengan mereka. Tapi, kondisi pagi ini mulai banyak konsumen yang berdatangan. Lebih baik aku berbincang ketika mereka beristirahat nanti. Aku meminumnya tanpa menggunakan sedotan, lebih enak karena busa yang dihasilkan susu lebih terasa.
"Wulan, kalau minum pelan-pelan! Nih busanya nempel." Dimas menyeka sudut bibirku sambil tersenyum gemas.
__ADS_1
"Kalian berdua sedang apa di sini?" Nada suara itu seperti orang yang penuh amarah. Aku melihatnya, menelan ludah dengan berat.