
"Biasa Tante, kami udah makan mau pulang dari sini. Eh, ada Tante di sini, ya udah deh kami mampir." Dia saudara Kelvin—suami Kak Mutia. Dia melirikku tak suka.
"Begitu ya, Tante pikir baru mau makan, biar sekalian satu meja."
"Heheh, gak usah Tante, malah gak enak kalau gabung. Ada kuman gak kelihatan."
"Maksud kamu apa?" Tante Iren mengernyit.
"UPS, enggak apa-apa kok, Tante. Kami pamit dulu Tan." Mereka cipika cipiki dengan Tante Iren. Tak menganggap aku ada, mereka langsung melewatiku, berjalan dengan angkuh.
"Wulan, jangan hiraukan mereka! Maklum, OKB wajar begitu. Padahal dulu Tante tahu keadaan mereka seperti apa, lima tahun ini keuangan mereka berubah, eh malah jadi sombong." Aku tersenyum getir.
"Yang satunya siapa, Tan?"
"Dia itu Anya—sepupu Vina." Aku mengiyakan.
Percakapan kami disela oleh seorang pramusaji, satu persatu hidangan di sajikan di atas meja. Kami menyantapnya tanpa ba bi bu lagi.
Kami mengobrol sejenak, lebih tepatnya beliau yang mengoceh tentang acara pertunangan itu.
"Tan, undangannya berapa orang? Gak usah meriah banget kalau bisa, Tan! Cukup lima puluh orang saja."
"Lima puluh itu keluarga Mami, Papi dan Kelvin belum cukup, Sayang. Keluarga besar saja seratus lebih, belum lagi kolega dan rekan kerja Papi, duh harus ngundang lima ratus orang kayaknya." Tante Iren seperti menerawang.
"Tan, jangan gitu! Buang-buang duit karena pertunangan ini gak akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan." Astaga, mulutku malah keceplosan. Aku menutup mulut dengan telapak tangan.
"Maksud kamu apa, Wulan? Bisa-bisanya berpikiran negatif begitu. Kamu mau lihat Mami jantungan? Huh?" Bola mata beliau melotot.
"Astaghfirullah, Tan. Jangan ngomong gitu!" Aku merasa bersalah.
"Kita pulang sekarang! Kita tunggu orang tuamu di rumah, baru kita bicarakan lagi tentang ini."
Akhirnya kami berdua beranjak dari tempat duduk, kembali masuk ke dalam mobil. Pak Dadang segera menyalakan mesin kendaraan, mobil pun meluncur memecah jalanan siang menuju sore.
Kami tiba di depan rumah, ada dua orang yang menunggu kedatangan kami di teras, Ibu dan Bapak dengan santainya duduk di lantai teras, Bapak mengipas-ngipas wajahnya dengan topi yang beliau pegang. Ada dua tas besar yang tergeletak di samping mereka.
"Ibu, Bapak? Kenapa menunggu di sini?" Aku bergegas menghampiri beliau.
__ADS_1
"Kalian kenapa gak langsung masuk saja?" Tante Iren menggelengkan kepalanya melihat sahabatnya itu.
"Gak apa-apa, biar kami nunggu di sini. Di sini lantainya dingin, bisa sambil leyeh-leyeh juga."
"Sembarangan, ayo kita masuk dulu!" Mereka berdua berdiri.
Tanganku meraih tangan mereka bergantian untuk bersalaman. Kami melangkah bersama, masuk dan duduk di ruang keluarga. Dua tas tadi dibawa Pak Dadang ke kamar tamu yang aku tempati.
"Kalian berdua pasti capek, sebaiknya makan dulu baru beristirahat!" Tante Iren memulai perbincangan dengan orang tuaku.
"Gak usah, males. Kita udah makan, cuma butuh mandi biar badan gak lengket." Ibuku tersenyum tipis.
"Langsung ke kamar kalian saja! Malam ini biar tidur di sini dulu, besok barulah kalian pindah ke apartemen yang sudah kami sewa selama setahun." Ucapan Tante Iren membuat orang tuaku terperangah tak percaya.
"Kenapa setahun? Lama sekali. Kita di sini cuma seminggu ajah, kan?" Ibuku terlihat bingung.
"Sebulan, kalian temani Wulan selama sebulan penuh di sini."
"Tante, Wulan harus bekerja setelah acara pertunangan. Ibu dan Bapak hanya berdua di apartemen kalau begitu. Terus, lokasi apartemen ke tempat kerja lumayan jauh, Tan. Butuh waktu, kasian Ibu dan Bapak kalau harus selalu berada di dalam apartemen." Aku menyampaikan uneg-uneg.
"Kamu gak usah khawatir! Ada Mami yang akan menemani mereka biar gak bosen, untuk pekerjaan, kamu bisa minta dipindahkan ke cabang yang sebentar lagi dibuka. Dekat dari apartemen kamu."
"Cepat juga bukanya," gumamku seorang diri.
"Damar gak sabaran ingin cepat membukanya, grand openingnya tiga hari setelah acara pertunangan kalian."
"Apa? Secepat itu, Tante?"
"Iya, makanya Damar mulai sibuk. Memang ada orang kepercayaan untuk itu, tapi, dia juga memantau kondisi dan perkembangan di sana."
"Bersiaplah menjadi seorang istri calon pengusaha, Damar pasti bisa membahagiakan kamu dan anak-anak kalian, Tante yakin itu."
"Ini semua bukan karena materi, Tan. Memang segala sesuatunya bisa dibeli pake uang, tapi, tidak ada yang bisa membeli kebahagiaan dengan uang."
"Wulan, kamu itu bisa diam gak?" Ibu menepuk bahuku dengan keras.
"Duh, Ibu, sakit." Aku merengut.
__ADS_1
"Setidaknya, kalau punya uang. Kamu dan anak-anak nantinya tidak akan kekurangan seperti kami dulu." Tante Iren tampak bersedih. Bola matanya berkaca-kaca
"Iren, jangan pikirkan masa lalu! Yang berlalu, biarlah berlalu. Kita berdua sudah menghadapi tantangan hidup selama ini, kamu tidak sendirian." Ibu dan Tante berpelukan begitu erat. Ada air bening yang keluar dari sudut mata wanita itu.
Mereka berdua kenapa? Ada apa sebenarnya dengan masa lalu mereka? Tante Iren begitu sensitif, apa mungkin ada rahasia besar yang keduanya simpan rapat-rapat?
"Pak, mereka kenapa jadi melow gitu?" Bapak mengendikkan bahu.
"Masa iya Bapak gak tahu? Bukannya Bapak sahabat Tante Iren juga?" Bapak menggeleng ragu.
"Sahabat Iren itu ya, Ibumu. Mereka sahabat sejak kecil sebelum Bapak dan Ibumu kenal. Bapak juga tidak banyak tanya mengenai Iren, mereka kalau sudah bertemu dan mengobrol, selalu lama. Bapak pernah dicuekin karena itu, sampai menyebabkan kegaduhan diantara kami."
"Sampai segitunya?" Bapak mengangguk mantap.
"Bapak dan Ibu lebih duluan menikah?" Beliau mengangguk lagi.
"Iya, dua tahun kemudian barulah Iren menikah dengan Purnomo."
"Ibu susah hamil dulu, ya Pak? Anak Tante Iren ajah yang sulung itu kak Mutia, umur udah sekitar dua puluh sembilan tahun. Wulan masih dua lima, lho." Kami mengobrol berdua karena kedua wanita seumuran itu telah sibuk dengan dunianya.
"Ibumu pernah keguguran, dia sempat stres dan tak mau punya anak. Karena itulah usiamu jauh dari Mutia."
"Owh, begitu, Wulan baru tahu. Selama ini Ibu dan Bapak anteng-anteng ajah." Kutelisik raut wajah beliau.
"Sejak kapan kamu peduli tentang kehidupan kami di masa lalu? Kamu itu hanya tahu bekerja dan bekerja setelah lulus sekolah." Wajah Bapak berubah masam.
"Mau nanya tapi bingung mau nanya apa, Pak? Oh iya, satu hal yang selalu mengganjal di hati Wulan." Aku kembali mengingat hal penting ini.
"Memangnya apa itu?" Kedua alisnya bertaut.
"Nenek dan kakek Wulan di mana?
Memangnya mereka berempat udah meninggal? Kalau sudah meninggal, pasti ada makamnya, kan? Selama Wulan hidup, Bapak dan Ibu tidak pernah mengajak Wulan untuk ziarah ke makam mereka." Akhirnya pertanyaan yang sejak lama aku pendam, dikeluarkan hari ini.
"Pak, jawab dong!" Wajah Bapak seperti orang kebingungan. Pandangan beliau tertuju pada Ibu.
"Pak."
__ADS_1
"Eh iya, Lan." Bapak tersenyum kaku, tampak jelas sekali raut wajahnya.