
Dengan cepat, kaki ini melangkah, menghampirinya yang tengah tersenyum sumringah.
"Mas, ngapain kamu naik motor segala? Kalau Tante Iren tahu, bisa-bisa dimarahi." Agak khawatir juga karena dia pernah mendengar ceritanya yang mengalami kecelakaan.
"Aku udah belajar motor ini dari semalam, sekarang udah lancar. Ayo naik! Gak usah mikirin omelan Mami." Dia menepuk jok motor belakang, helem disodorkannya padaku.
"Katanya harus pergi ke kampus, kenapa malah jemput aku?" Bola mata berputar malas.
"Maaf, apa Anda Mbak Wulan? Atau Anda kenal dengan nama itu?" Kami berdua sontak melihat Bapak ini. Dia tiba-tiba berada di sampingku.
"Astaga, saya lupa. Maaf ya, Pak. Saya kasih ongkosnya saja. Tunggu sebentar." Belum sempat mengambil dompet, Damar menyodorkan uang pada Pak ojek. Dia berterima kasih kemudian berlalu pergi.
"Ngasihnya banyak amat," protesku.
"Gak apa, anggep ajah sisanya sedekah. Ayo naik! Keburu telat aku ke kampus." Dia tak sabaran.
"Siapa suruh jemput." Sambil memakai helem, aku berusaha untuk duduk di jok belakang.
Motor ini melaju cepat, aku refleks memeluk pinggang Damar dengan kencang. Beberapa menit berselang, akhirnya sampai juga di depan bangunan coffee shop.
"Pusing, kenceng banget tadi tuh." Aku menepuk kepalanya yang mengenakan helem.
"Maaf, Yang. Aku buru-buru," jelasnya singkat.
"Ya sudah, berangkat sana!" Aku mengusirnya.
"Gak bisa gitu, dong. Aku mau minta ongkos ojek." Bibirnya tersenyum lebar.
"Hah? Ongkos? Ya sudah aku ambil uang dulu." Baru saja tangan merogoh isi tas, tangan tunanganku itu menarik lenganku, tubuh ini sempat tertarik mendekati badan motor.
"Ongkosnya ini!" Tunjuknya pada pipi kanan kiri.
__ADS_1
"Ck, kebiasaan," decakku kesal. Bukan karena kesal sih sebenarnya, tapi, aku malu karena ini di tempat umum. Apalagi ini di depan tempat kerjaku, gak enak kalau rekan kerja yang lain melihatnya.
"Yank, ayo buruan!" Dia masih menagih.
Dengan cepat aku mengecup pipi kanan kirinya, kemudian berlari masuk ke dalam gedung. Suara deru motor diiringi bunyi klakson membuat menoleh ke arah Damar yang ada di jalan raya. Dia melambaikan tangannya padaku.
"Ehem, pagi-pagi udah romantis saja," deheman mas Riki terdengar, kepala sontak menoleh.
"Eum," sahutku menanggapi.
"Lan, tiga hari lagi aku harus mengajari Cindy di tempat yang lama. Masalah kasir dan stok opname, aku serahkan padamu selama aku di sana. Marlena sepertinya belum teliti untuk mengerjakannya." Dia memberikan aku tugas lain.
"Boleh, Mas. Akan aku coba menanganinya."
Setelah beberapa menit berbincang tentang pekerjaan, kami kembali bekerja untuk persiapan membuka coffee shop.
Hari demi hari berlalu, sudah hampir dua mingguan coffee shop ini dibuka. Sejak itu, aku terus menerus memaksa Damar untuk mencari kakek nenek di kampung. Kupaksa dia untuk mencari informasi lanjutan. Entah cara apa yang dia pakai untuk meyakinkan Tante Iren. Malam ini, dia menjemputku, mengajak makan ke suatu tempat yang katanya sih begitu indah.
Kami berdua tiba di restoran itu, dari luar saja terlihat estetik dengan hiasan ala-ala kerajaan Korea.
"Mas, nanti itu gigi kering kalau lama-lama sumringah." Bukannya menutup mulut, dia malah menjawil hidungku.
"Kalau kering bisa dikasih asupan cairan sama kamu," ujarnya sambil terkekeh geli.
"Dih, gak usah inget-inget itu lagi deh." Bibir ini mengerucut, karena ucapannya membuatku tersipu. Aku tahu apa yang dia maksud, selama beberapa hari ini dia selalu saja membuat napasku sesak karena belitan benda lunak yang ada di mulut.
"Eh, itu meja kita Sayang!" Tunjuknya.
Ada seorang karyawan yang mengiringi kami. Di tangannya ada buku menu, setelah kami duduk dengan nyaman, tangannya menyodorkan menu itu sambil tersenyum kemudian berlalu pergi.
Kami memesan apa yang kami inginkan. Memencet tombol merah yang ada di meja. Setelah pesanan kami tiba, sesudah menunggu kurang lebih lima belas menit, akhirnya makanan kami datang. Seperti pasangan lainnya, adakalanya kami berdua saling suap-suapan. Tatapan mata Damar tertuju di satu titik. Dia melihat kedua benda kembar yang malam ini agak menonjol. Menyesal sekali aku mengenakaj baju yang dibelikan Selena ini. Walau pun memakai jaket, tetap saja tonjolannya terlihat jelas.
__ADS_1
"Mas, jangan liatin gitu! Kalau makan tuh ya udah, makan ajah!" Aku menutup jaket yang terbuka dengan telapak tangan.
"Malam ini, kamu seksi." Dia semakin membuatku gelisah.
Aku tidak menyahut sama sekali, berpura-pura sibuk menyantap makanan. Setelah makanan kami berdua sudah tandas, barulah aku memulai percakapan. Damar berpindah tempat duduk, dia kini berada di sampingku.
"Mas, jangan deket-deket! Banyak orang ini." Aku mendorong dadanya.
"Owh begitu, kalau gak ada orang, berarti lebih deket dari ini, boleh-boleh saja dong." Dia mengerlingkan sebelah mata.
"Gak usah macam-macam deh, Mas! Kita kembali ke bahasan utama tentang kakek nenek. Kalau Mas Damar gak bisa menemukan mereka, Wulan bener-bener menunda pernikahan. Wulan ingin mereka hadir di pernikahan kita." Aku menegaskan pada Damar, apa yang kuucapkan tadi tidak main-main.
"Tenang saja, Mami menyebutkan satu tempat. Kakek nenekmu ada di tempat kawasan wisata. Wisata kayangan api, ya, itu yang Mami ucapkan. Secara tidak langsung, Mami tidak menyebutkan alamatnya, tapi Mami memberikan satu klu yang pasti." Wajahnya begitu cerah.
"Wisata kayangan api?" tanyaku memastikan.
"Iya, mereka ada di sana. Orang tuamu berasal dari desa yang terletak di dekat wisata itu. Jadi, dua kakek nenekmu pastinya berdekatan." Dia tampak bersemangat.
"Jadi, kita harus pergi ke sana dan memastikannya, Mas?" Kutatap wajah itu.
"Harus, kita harus pergi dan mencari keberadaan mereka. Setelah itu barulah kita membicarakan tentang akad pernikahan. Resepsinya bisa ditunda, yang penting halal dulu." Dia mengulum bibirnya. Tatapannya masih terpaku padaku.
"Gak usah mikir ke sana dulu, Mas! Kita fokus nyari kakek nenek."
"Iya, aku tahu Yang. Jadi, kapan kita mau pergi liburan berdua? Seenggaknya dua hari satu malam, nginep di sana juga enak tuh." Lelaki ini semakin mendekat.
"Memangnya Ibu dan Bapak gak curiga kalau kita cuman berdua saja? Mereka pasti tidak mengizinkan aku pergi wisata dan menginap di sana. Aku yakin sekali kalau mereka pasti keberatan." Ucapan yang baru saja ke luar dari mulutku, membuat Damar berpikir keras.
"Eum, gimana ya? Cara apa yang harus kita lakukan agar mereka mengizinkan kita pergi." Dia masih saja berpikir.
Mendadak seringainya begitu lebar, tatapannya begitu lekat padaku.
__ADS_1
"Ide yang aku punya ini, pasti bisa diterima mereka. Kamu tidak perlu khawatir! Aku sudah memiliki jalan keluarnya." Dia meraih tanganku dan mengecup punggung tangan.
Aku jadi penasaran, apa yang akan dia lakukan agar rencana ini berhasil.