
"Hei ... Wulan, bangun! Elu ngigo ya?" Kulihat kendaraan berhenti. Tangannya terulur mencubit pipiku. Ternyata, itu semua hanya mimpi buruk.
"awww, sakit." Aku menepis tangannya.
"Lagian bilang tidak, jangan, entah ngigo karena apa." Dia menggerutu.
"Udah, jalan ajah lagi!" Suaraku masih serak. Aku berusaha mengucek mata pelan agar tidak kembali tertidur.
Sesampainya di sana, seperti biasa, nyonya rumah ini menyambutku dengan penuh suka cita.
"Wulan, orang tuamu tiga hari lagi akan datang ke kota ini. Jadi, lusa kamu dan Damar harus mencari kontrakan yang pas untuk tempat tinggalmu dan mereka. Pindah saja dari kost-an kumuh itu." Tanpa basa-basi, beliau langsung berbicara pada intinya.
"Tapi Tante-,"
"Sudah Mama duga kalau kamu pasti bilang tapi. Gak ada kata lain selain tapi?" Beliau mendesis.
"Maaf, Wulan gak enak kalau harus selalu merepotkan keluarga ini." Aku berkata jujur, tentu saja aku tidak mau berhutang budi, aku takut kalau tidak bisa membalasnya.
"Tenang saja! Kamu itu bagian dari keluarga ini. Bukan orang asing."
Damar sudah tidak ada di sini, entah dia pergi ke mana.
"Kamu udah makan belum, Sayang? Kalau belum Tante anter ke dapur."
"Sudah, Tan."
Suara perut ternyata tidak bisa dibohongi, buat malu saja suara perut ini. Bisa-bisanya berbunyi di saat sekarang.
"Tuh, perut kamu ajah protes minta diisi. Ayo ikut Tante." Aku tersenyum kikuk, tanpa protes sedikit pun.
Beliau menemani aku di meja makan, sesekali mengusap kepalaku. Melihat caraku makan dan tersenyum tipis.
"Gak nyangka Kamu udah gede begini. Dulu, waktu kamu balita, kamu selalu menjadi adik kesayangan Mutia sampai-sampai Damar cemburu dan mengajak ribut sehingga kalian berdua saling adu pukul."
"Apa? Beneran, Tan?" Beliau mengangguk.
Ternyata dari kecil, kita sudah menjadi musuh.
"Itu semua berlangsung hanya beberapa bulan, ternyata Damar tidak cemburu padamu. Dia cemburu pada kakaknya karena sering bermain denganmu, dia ingin kamu bermain dengannya. Semenjak itu kalian berdua sering menghabiskan waktu bersama sampai usia sepuluh tahun. Kalian saling melindungi di sekolah dasar, satu orang basah, dua-duanya ikutan basah karena mandi di sungai." Tante begitu meresapi setiap perkataan mengenai masa kecil kami.
"Kami sedekat itu?" Beliau mengangguk.
__ADS_1
"Hingga saatnya kita harus berpisah karena Tante sekeluarga harus pindah ke ibu kota. Damar selalu menginap di rumahmu, dia selalu tidur bersamamu sebelum kita benar-benar pindah." Beliau mengembuskan napas sejenak.
"Sejak itu, kami tidak tahu lagi tentang kabar keluarga kalian. Kami sekeluarga menghadapi masalah yang cukup sulit setelah setahun pindah, apalagi waktu itu Selena masih balita, kami terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan untuk menata ulang keuangan keluarga." Ternyata beliau bukan seorang wanita yang biasa saja. Beliau salah satu wanita tangguh yang berjuang agar keluarganya terselamatkan. Aku jadi kagum sama Tante dan Om yang bisa dikatakan merintis dari nol, sampai sekarang rumah dan kekayaan mereka bisa dikatakan orang berpunya.
Makanan di piring sudah habis, aku mencuci bekas makanku. Beliau sudah melarang tapi aku tidak peduli.
"Gimana, kamu sudah bisa mengingat Damar dan kehidupanmu waktu kecil?" Aku menggeleng lemah.
"Gak ada ingatan tentang itu, Tan."
"Kamu gak pernah amnesia, kan? Masa iya gak ingat kehidupan masa kecil?" Aku cuma bisa mengendikkan bahu.
"Oh iya, baju couple kemarin sudah dibawa? Besok kalian harus memakainya! Jam satu siang kita berangkat ke gedung acara."
"Iya, Tan. Udah Wulan bawa."
"Ya sudah, kamu ngobrol dulu sama Damar! Biar kalian gak kaku lagi untuk acara wisuda esok." Aku tidak membantah, segera kaki melangkah ke ruang tengah. Tapi, tak ada Damar di sana.
"Mana dia? Memangnya mau ngobrol apaan ya? Aku juga bingung." Tanganku menggaruk rambut yang tidak gatal.
"Kak Wulan, ngapain berdiri sendirian di sini?" Selena menghampiri.
"Eh, oh itu ... kakak nyari Damar, aku pikir dia ada di sini, ternyata gak ada."
"Apa? Kamarnya? Enggak deh, aku gak mau ke sana." Aku menolak, bisa-bisa nanti kepergok dan benar-benar langsung bawa ke KUA.
"Hehehe, takut langsung dinikahi ya?!" Gadis ini bisa menebak apa yang aku pikirkan.
"Biar Selena ajah yang panggilin Mas Damar." Dia menawarkan diri.
"Boleh deh, makasih ya Sel." Gadis itu melangkah pergi.
"Kak Wulan duduk saja dulu!" pekiknya sambil berjalan pergi.
Aku duduk di sofa tunggal, berusaha keras agar besok siang di acara itu ekspresi yang aku tampakkan tidak sekaku biasanya.
"Wulan, ada apa?" Pria itu berdiri di depanku seraya bersedekap.
"Ada yang mau aku bicarakan sih, tapi, kalau kamu keberatan, ya enggak apa-apa." Aku tidak sanggup melihat bola matanya. Apa dia sudah mengantuk di jam segini? Matanya merah dan sayu.
"Kita duduk di taman saja! Jangan di sini, kuatir ada mata-mata dan telinga di kanan kiri." Dia melirik ke arah Selena dan Tante Iren yang mengobrol di anak tangga paling bawah. Sesekali mereka melirik kami, mata kami sempat beradu pandang.
__ADS_1
"Ayo, kita ke sana!" Aku beranjak dari tempat duduk, mengekori langkah pria ini.
Kami kini berada di taman, duduk bersebelahan di bangku kayu panjang.
"Memangnya mau ngomong apaan?" Dia memulai pembicaraan.
"Kamu gak keberatan kalau misalnya ngobrol sama orang tuaku?" Aku ragu mengucapkan rencana ini.
"Memangnya apa yang harus gue omongin sama orang tua Elu?" Alisnya bertaut.
"Eum, gimana ya ... Kamu coba ajah ngomong sama Ibu dan Bapak kalau Kamu gak setuju dengan perjodohan ini. Siapa tahu kalau kamu yang membatalkannya, mereka mau mengerti." Aku lega karena sudah menyampaikan pendapatku.
"Gue malah punya ide yang lebih menarik dari itu. Ini bisa kita lakukan berbarengan supaya hasilnya lebih maksimal." Senyumnya begitu lebar. Tatapannya berubah menjadi semangat yang berkobar.
"Kamu yakin dengan rencana yang kamu punya?"
"Tentu saja, gue yakin 100 persen. Tapi, Elu harus pintar aktingnya!"
"Akting?" Dia mengangguk.
"Kamu harus menjiwai peran yang sudah gue siapkan untuk kita."
"Apa itu?" Aku semakin penasaran.
"Setelah gue dapat orang yang tepat untuk memerankan tokoh ini, gue akan ngasih tahu Elu secepatnya."
"Kapan kita akan melakukannya?" Kepala Damar mendekati daun telinga.
"Satu bulan setelah acara pertunangan agar kita tidak dicurigai," bisiknya.
"Yah, kelamaan." Aku mendorong bahunya.
"Eits, ini semua agar rencana kita lebih bisa dipercaya. Kalau terburu-buru, bisa-bisa rencana ini berantakan."
"Memangnya apa rencanamu?" Kepalanya kembali mendekat, mulutnya berbisik di daun telinga. Embusan napasnya serasa menggelitik daun telingaku. Kata-kata yang dia ucapkan membuat bola mata ini membola.
"Damar, kamu yakin dengan rencana ini?" Senyumnya begitu lebar. Dia yakin sekali dengan rencananya itu.
"Tapi, sepertinya ini berlebihan."
"Elu tuh mau apa gak kalau pernikahan dibatalkan?" Aku mengangguk mantap.
__ADS_1
"Jadi, kalau mau pernikahan batal, kita harus melakukannya." Seringai licik terbit di sudut bibirnya.
Apa rencana ini tidak keterlaluan? Entah kenapa naluriku menyuruh untuk tidak melakukannya. Pikiran ini berkecamuk hebat. Apakah harus dengan cara ini agar perjodohan kami batal?