Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Acara Wisuda


__ADS_3

"Ini ada tisu nempel di rambut Elu. Tadi ngaca gak sih?" Dia memberikan selembar tisu tipis padaku.


"Tinggal dibuang, malah dikasih ke aku."


"Gak usah bawel! Ayo berangkat!" Dia berjalan pergi.


"Tante dan yang lainnya mana?" Aku mengekori langkahnya.


"Sudah berangkat duluan, mereka sengaja ninggalin kita agar berangkat bareng." Aku berhasil menyusul langkahnya dengan susah payah.


"Elu gak nyaman banget pake sepatu heels begitu."


"Emang, aku gak pernah make ginian. Takut keseleo."


"Kalau acara wisuda gak apa-apa, toh Elu cuma duduk doang, gak naik ke panggung." Damar membuka pintu kendaraan untukku.


Eits, tunggu dulu ... kenapa dia malah perhatian begini? Gak salah nih bukain pintu untukku?


"Woi, ngapa bengong! Buruan masuk!" Tangannya mendorong punggung dengan kasar.


"Iya, iya." Baru saja aku berpikir positif tentangnya, tapi, perlakuan kasarnya barusan membuatku menarik pikiran tadi.


Kami berdua terdiam, tak berkata sedikit pun. Dia berkonsentrasi pada jalanan di depannya. Selang beberapa menit kemudian, kendaraan berhenti. Dia turun dan membuka pintu mobil untukku. Tangannya meraih tanganku.


"Apa-apaan ini?" Kedua alisku bertaut.


"Udah, ikutin ajah! Ini cuma akting di depan Mami."


"Tapi, gak di sini aktingnya. Nanti pas acara aktingnya."


Aku menepis tangannya.


"Eh, ada Pak Damar ... sama siapa tuh, Pak?" Seorang gadis seusia Selena berdiri di samping Damar.


"Gak usah tanya hal pribadi," ketusnya.


Dia memang kasar sama semua perempuan nih. Sama muridnya ajah begini.


"Ayo ke luar!" Damar berusaha menekan emosinya.


"Wah, baju couple. Jangan-jangan kalian berdua sudah-,"


"Berisik, ayo kita pergi dari sini, Lan!" Kami berdua bergandengan tangan. Dia mencubit tanganku sebagai tanda agar menerima genggaman tangannya.


"Damar, pelan-pelan! Aku make sepatu hak tinggi nih. Kalau aku jatuh gimana?"


"Kalau Elu mau jatuh, tinggal meluk badan gue ajah. Sesimpel itu, kok." Aku merengut mendengar ucapannya yang sembarangan.


"Kenapa diem? Mau dipraktekin?"


"Apaan sih, jangan ngada-ngada!" Aku menyenggol pinggangnya dengan keras.

__ADS_1


"Wah, kalian berdua cocok meong." Selena menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Bola matanya berbinar-binar cerah. Dia berjalan di sebelah kiri Damar.


"Minggir Sel!" titahnya.


"Kasar amat, Mas. Awas aja nanti." Selena ngedumel.


"Mau gue tambah hukumannya? Jadi sebulan juga lumayan tuh."


"Dih, Mas Damar tega ya. Ogah gue, Mas." Selena merengek.


"Makanya minggir dan diam!" pekik Damar.


Selena setengah berlari meninggalkan kami, dia menuju arah pintu auditorium gedung universitas ini. Sayang sekali wisudanya di kampus, bukan di gedung hotel atau tempat lainnya. Kami berdua masuk, duduk berdampingan. Dia wisuda pasca sarjana, pasti gilirannya belakangan. Setidaknya aku bisa santai.


"Om dan Tante mana? Seharusnya mereka udah tiba." Aku mencari keberadaan orang tua Damar. Ada yang melambai padaku, ah di sana, di sana ada Tante Iren dan Om Purnomo.


"Damar, aku pengen ke sana. Bosen di sini gak ada temen ngobrol." Aku merengek padanya.


"Ya udah, ngobrol sama gue ajah. Gue gak mau nganterin Elu ke sana. Udah penuh banget, bentar lagi acara dimulai." Aku kecewa dengan pernyataannya. Pria itu memakai baju toga wisuda yang berbeda dengan kumpulan orang di sini.


Sudah satu jam aku termenung, dua jam dan akhirnya nama Damar di panggil. Aku berusaha bertepuk tangan untuknya. Dia berdiri, berjalan menuju panggung. Selena mengekori langkah kakaknya, dia memotret beberapa momen berharga sang kakak. Setelah beberapa saat, pria itu kembali ke tempat duduk, begitu pun Selena.


Satu persatu rangkaian acara sudah ditampilkan. Akhirnya, saatnya makan-makan di luar bersama keluarga. Perutku berontak sejak tadi.


"Eits, sebelum makan-makan di restoran, kita foto-foto dulu!" Selena menjadi fotografer dadakan. Aku begitu canggung karena dilihat banyak orang yang tidak dikenal.


Om dan Tante tak kalah bergaya ketika berswafoto dengan kami. Selena meminta bantuan pada orang lewat agar memotret kami sekeluarga. Sepertinya ada yang kurang, apa ya? Aku berpikir sejenak.


"Kak Mutia dan Bang Kevin udah ada di restoran, mereka yang mentraktir hari ini," jawab Selena.


"Owh, begitu."


"Kalian berdua ayo foto lagi!" Tante mengarahkan gaya pada kami. Aku dan Damar bergandengan tangan, saling menatap, mereka memotret kami.


"Nah, gitu dong."


"Satu lagi Mam, gaya cium kening boleh lah, Mam." Ucapan Selena membuatku tersentak.


"Seru juga tuh, ayo Nak praktekkan!"


"Tante, ini tempat umum. Malu kalau begitu."


"Gak usah berisik! Iyain ajah ngapa sih." Damar menimpali.


"Lah, kamu enak, aku rugi."


"Pede amat Elu ya." Damar memegang pundakku. Bibirnya mengarah ke kening dan mengecupnya.


"Sel, udah belum?" tanyaku tak sabar ingin mendorong tubuhnya.


"Belum, flash-nya malah mati. Tahan sebentar!"

__ADS_1


Kakiku sudah kebas, tanganku keram karena berdiri tak bergerak sedikit pun. Semoga saja detak jantungku tidak terdengar olehnya.


"Sudah." Aku mendorong tubuh Damar.


"Elah, kening Elu bau terasi apalagi yang di bawah." Dia menghina.


"Damar!" pekikku tak terima.


"Apa Sayang? Mau lagi? Mau dicium di mana?" Senyumnya—seperti menyeringai lebar.


"Apaan sih, males ah." Aku melangkah pergi meninggalkannya. Menarik lengan Selena. Tante menyengir lebar melihatku yang merajuk.


"Cieee, udah ada yang dekat nih, Mam. Buruan halalin mereka, Mam!" Selena menggoda.


"Sel, jangan gitu, aku capek banget. Bisa gak sih diem ajah!"Mukaku merengut.


"Sorry, Kak."


Kami masuk ke dalam mobil masing-masing. Aku diusir dari mobil Tante Iren, aku harus masuk ke mobil Damar. Hening, tak ada percakapan diantara kami.


Sepersekian menit, Damar membuka percakapan.


"Tuh muka lecek amat, mau gue seterika?"


"Gak lucu." Aku malas menanggapi.


"Lan, itu kayanya Bokap Nyokap Elu yang kampungan itu!"


"Mana, mana?" Sontak aku melihat arah telunjuknya.


"Tapi boong." Tawanya membuatku kesal.


"Ngeselin banget jadi orang."


"Hahaha," tawanya belum reda.


Kendaraan berhenti di sebuah bangunan bergaya Eropa. Restoran ini terbilang mahal karena desain interiornya diimpor langsung dari Eropa. Begitu pun bahan-bahan makanannya.


"Yakin mau makan di sini?"


"Iya, ayo ke KUA ... eh, ayo ke luar!" Damar kembali terkekeh.


Dia suka banget sih jadiin aku bahan ejekan. Awas aja nanti kalau perjodohan ini dibatalkan. Aku akan membuat perhitungan dengannya.


"Lan! Ayo masuk! Ini acara wisuda gue, awas ajah jangan sampai Elu obrak-abrik!" Aku terpaksa mengikutinya.


Selena, Tante Iren dan Om Purnomo mendekati kami. Kami berjalan beriringan. Ada dua orang yang melambai pada kami. Kami segera menuju ke meja tersebut. Tak ada menantu Tante Iren di sini, yang aku tahu, perempuan satunya itu adalah kakak kandung Kevin—ipar Kak Mutia.


Tak sengaja, aku menyenggol orang di sebelah ketika menarik kursi. Aku menoleh pada orang tersebut, meminta maaf.


"Apa katamu? Maaf?" Orang itu mengamuk. Mata kami saling berpandangan, aku tidak menyangka kalau dia ada di sini.

__ADS_1


Kenapa malah ketemu sama ini orang? batinku malas.


__ADS_2