Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Rencana Fitness


__ADS_3

Aditya menyapa kami di depan Tante Iren, ada pria yang menyapa kami, tentu saja menimbulkan pertanyaan.


"Nak Adit, dia itu teman sekolah Wulan," jawab Ibu melirik calon mertuaku.


"Oh iya, Nak Adit boleh datang ke pernikahan Wulan tiga minggu lagi. Biar Wulan nanti yang ngirimin undangannya." Ibu kembali berucap.


Aditya bergegas pamit pada kami setelah menanyakan kabar kami. Raut wajahnya terlihat murung, aku jadi tidak enak padanya. Apa benar yang Damar ucapkan kalau dia memiliki rasa suka padaku? Sejenak kuhela napas ini, berusaha untuk menenangkan diri. Kami berempat pergi meninggalkan restoran ini setelah Tante Iren membayar semuanya.


Aku dan Ibu turun di depan gedung apartemen. Kami mengajak Kak Mutia dan Tante Iren untuk mampir sebentar, tapi, mereka menolak karena sudah letih. Apalagi Kak Mutia hamil muda, dia harus sering beristirahat untuk menjaga kandungannya.


Aku dan Ibu berjalan santai di dalam lobi. Karena besok tidak ada acara, aku ingin mengajak Ibu ke tempat fitnes milik Adit. Kami sudah berada di dalam lift, Ibu ternyata mudah sekali beradaptasi dengan lingkungan apartemen. Beliau bisa memencet tombol lift, memanggil petugas kalau dibutuhkan. Semenjak hidup di Ibu kota selama hampir sebulanan ini, beliau sepertinya biasa dengan troli belanja dan kebiasaan lainnya yang tidak pernah dilakoni di kampung.


Kami berdua berjalan beriringan di koridor, aku menoleh, menatap Ibu.


"Bu, Besok sore kita pergi fitnes di tempat Adit! Sayang banget nih punya kartu ekslusif tapi gak dipake." Aku memulai pembicaraan.


"Fitnes? Adit? Wah, benar juga apa katamu. Ibu belum pernah ke sana, kita ke sana besok. Ibu mau nyoba alat-alat fitnes, kamu ajarin Ibu, ya!" Ibu bersemangat, aku pun tersenyum puas melihat reaksi beliau. Akhirnya aku ke sana juga, lumayan menambah stamina sebelum hari pernikahan.


"Bu, kita ke sana seminggu dua kali. Gimana? Wulan agak bosan kalau di apartemen terus." Aku kembali membujuk Ibu.


"Memangnya gak capek kalau sampai dua kali seminggu?" tanya Ibu menghentikan langkahnya.


"Apalagi hari pernikahanmu semakin dekat. Seharusnya kamu luluran atau pijat apa gitu. Iren pasti ngajakin deh sebelum kalian menikah," ucap Ibu lagi.


"Gak capek kalau cuma seminggu dua kali, Bu. Tiga hari sebelum hari-H, Wulan gak ke fitnes lagi," timpalku.


"Iya, iya. Kita bareng-bareng ke sana," lanjut Ibu. Aku menggandeng lengan beliau, kuketuk pintu unit apartemen. Setelah terbuka kami masuk dan duduk di sofa.


"Kalian kelihatan capek, memangnya ngapain saja tadi?" Bapak menyusul kami duduk setelah menutup pintu.


"Biasa, Pak. Ting ting baju pengantin. Ibu juga harus buat seragam keluarga. Semua biaya dari Iren." Ucapan Ibu membuatku terkekeh.


"Bukan ting-ting, Bu tapi fitting," kocak sekali mendengar dari Ibu.

__ADS_1


"Iya, pokoknya itulah." Kepala Ini bersandar ada kepala sofa.


"Lebih capek Wulan, Pak. Wulan harus fitting tujuh kebaya dan gaun pengantin. Ribet banget masangnya," kuembuskan napas ini dengan cepat.


"Ya sudah, istirahat saja dulu!" seru bapak.


"Oh iya, coffe shop Damar apa kabarnya? Masih rame?" tanya bapak.


"Kayaknya masih, Pak. Wulan udah gak kerja di sana lagi, jarang ke sana karena gak dibolehin Damar," sahutku.


"Memangnya kenapa?" tanya beliau sambil menatapku lekat.


"Biasa, Damar. Dia kan orangnya cemburuan. Gak bisa lihat Wulan ngobrol sama temen sendiri." Punggung ini bersandar, berusaha untuk menenangkan diri.


"Temen sendiri? Owh, maksudmu Aditya, ya?" Bapak memastikan. Kutanggapi dengan anggukan kepala.


Sore ini kami beraktivitas seperti biasa. Senja mulai menampakkan wujudnya, kami melakukan kewajiban dan menyantap hidangan setelahnya. Tepat pukul tujuh malam lebih dua puluh menit, ada yang mengetuk pintu depan.


"Biar Wulan saja yang buka," seruku ketika melihat bapak tergopoh.


Kuputar kenop pintu, daun pintu terbuka perlahan. Ada wajah yang tersenyum lebar di sana.


"Mas Damar, ngapain malam-malam ke sini?" Baru saja dia menelpon, belum setengah jam setelah makan malam. Eh, dia sudah ada di sini.


"Aku kangen, makanya aku ke sini," senyumnya merekah.


"Mas, jangan kenceng-kenceng gitu! Bapak sama Ibu belum tidur, lagi nonton TV tuh." Tunjukku padanya dengan dagu.


"Aku gak disuruh masuk nih?" Kernyitnya.


"Masuk ajah!" seruku.


"Kamu di tengah pintu gitu. Mana ini makin lebar." Plak, tangannya memukul bokongku.

__ADS_1


"Mas, gak boleh. Belum akad." Aku memukul dadanya yang bidang.


"Ayolah, kita ngobrol di dalam kamarmu!" Dia mendorong tubuhku masuk sementara kaki kirinya mendorong daun pintu agar tertutup.


"Damar, siapa yang nyuruh kamu masuk ke kamarnya Wulan?" Bapak menatap calon menantu dengan tajam.


"Hehe, gak apa-apa, kan, Pak? Pintu Damar buka kok." Dia malah terkekeh, tak tahu malu dasar ini orang satu.


"Gak boleh! Duduk di balkon saja! Di sana sudah ada tempat duduknya." Bapak kembali menentang keinginan Damar.


"Iya, Pak." Akhirnya dia mengiyakan juga.


Aku dan Damar menuju balkon. Lampu di sini masih menyala terang. Kami duduk bersebelahan, tangannya melingkari pinggangku. Kepalanya bersandar pada pundak ini.


"Sayang, hari ini aku capek. Butuh dukungan dari kamu." Dia bersikap manis dan manja seperti bocah. Baru kali ini aku melihat sikap yang tak terduga dari Damar.


"Memangnya kerja apa ajah tadi, Mas? Aku harus dukung seperti apa? Capek bukannya istirahat di rumah, malah ke sini." Kuusap beberapa kali lengannya yang melingkari pinggangku.


"Butuh asupan vitamin C darimu." Kepalanya mendongak, menatapku lekat.


"Vitamin C ya dari jeruk, kenapa malah dariku?" Aku masih belum mengerti apa yang dia ucapkan.


"Vitamin ciuman," bisiknya tepat di daun telinga. Aku tidak menyangka bisikannya barusan membuatku merinding dan merasakan gelenyar aneh. Ada sesuatu yang sepertinya bangkit dari dalam diri, tapi, aku tidak tahu apa itu. Sepertinya aku pernah mengalami ini, tapi aku tidak mengingatnya.


"Mas, jangan gitu, ah! Ada Ibu dan Bapak di sana. Gerakan kita bisa dilihat dari sana." Damar semakin agresif, gerakan tangannya mulai menggerayangi lekukan tubuhku.


"Mas Damar!" Kupukul lengannya keras. Dia membuatku sesak napas, udara yang ada di sekeliling seperti tak dapat ditampung.


"Aku merindukanmu." Kepalanya yang tadi bersandar di pundak, mulai bergerak liar. Embusan napasnya terasa panas dan menggelitik wajah ini.


Aku berusaha untuk menahan gejolak dalam diri. Rasanya membuatku semakin susah untuk bernapas. Bibirnya mulai mendekat cepat, tapi, ada suara gedebum yang membuat kami berdua menghentikan gerakan. Tatapan mata kami bertemu dan terbelalak.


"Suara apa tadi?" tanyaku panik. Aku takut terjadi apa-apa dengan Ibu atau Bapak. Suaranya begitu kencang.

__ADS_1


Aku berdiri, begitu pun Damar. Kami berdua membuka pintu balkon, ada pemandangan yang mengejutkan kami berdua. Kami saling berpandangan kemudian menatap keduanya bergantian.


"Mas, mereka ..." Aku tidak sanggup berkata-kata lagi.


__ADS_2