Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Masa Kecilku Yang Tersembunyi


__ADS_3

Gemas aku sama orang satu ini, beberapa hari yang lalu ketemu di apartemen. Sekarang malah bertemu di rumah Damar. Sibuk sekali sepertinya sampai harus berada di mana-mana.


"Wulan, sebaiknya kamu pergi sekarang! Saya sedang ada tamu." Damar menyikut lengan karena sejak tadi aku belum menyelesaikan perkataan.


"Maaf, Pak karena telah mengganggu. Saya permisi dulu." Aku meninggalkan Damar, berpura-pura menjadi tamu di rumah ini.


"Saya permisi dulu, Mas Andre." Tanpa menunggu responnya, kaki dipercepat melangkah pergi meninggalkan rumah. Aku pergi ke taman samping, mengintip mereka di balik tanaman sambil berjongkok.


"Semoga gak ketemu sama Andre lagi. Satu apartemen sama Dimas ajah udah kelabakan, masa iya kudu ketemu teman-temannya yang lain." Aku mengembuskan napas sejenak.


"Non Wulan, ngapain di sana, Non?" Suara itu, suara Bi Inem. Selama ini beliau berhati-hati ketika berhadapan denganku. Kali ini, reaksi beliau tidak kaku seperti biasanya.


"Ada temen Damar yang datang, Bi. Jadi, aku harus berpura-pura bertamu karena masalah pekerjaan."


"Lho, kenapa begitu? Kenapa gak ngaku saja kalau besok kalian berdua bertunangan? Dia pasti diundang ke acara besok."


Dong dong amat aku ya, kenapa malah jujur sama Bibi. Dia kan gak tahu apa-apa tentang kami yang merahasiakan perjodohan kami.


"Heheh, iya Bi. Wulan lupa, tapi, Damar bilang aku pergi saja, biar temennya itu gak ngejekin dia mulu." Ups, semakin lihai aku berbohong.


"Oh begitu. Ya sudah, ikut Bibi ke belakang ayo, Non! Mau tidak?" ajak wanita yang sudah terlihat keriputnya.


"Memangnya mau ke mana, Bi?"


"Ikut Bibi ke dapur, Non Selena ada di sana juga. Buat cemilan sore katanya."


"Lah, perasaan baru minum kopi, sekarang pengen ngemil juga?"


"Ayolah, Non! Kalau ada Non Wulan, setidaknya Bibi masih aman."


"Tunggu dulu! Apa maksudnya, Bi?" Tangan wanita itu mencengkram pergelangan tangan.

__ADS_1


"Biar Non Selena gak berantakin isi dapur."


"Eum, oke deh." Aku mengekori langkahnya. Bukankah sudah tugasnya untuk membersihkan kekacauan sang majikan? Kenapa aku harus disangkutpautkan? Malas rasanya karena aku ingin berbaring sejenak sebelum membersihkan badan di sore ini.


Kami sudah tiba di dapur, Selena tengah sibuk berkutat dengan ayakan dan tepung. Sesekali dia melihat layar hape yang dilekatkan pada pintu kabinet dapur. Dia begitu berkonsentrasi sampai tidak menyadari kehadiran kami berdua.


"Non, ada Non Wulan juga nih. Biar cepet bikin cemilannya." Bibi membuyarkan konsentrasi Selena.


"Kalian berdua pergi ajah! Selena mau masak sendiri ajah. Nanti tinggal cicipi." Aku menelan ludah dengan berat. Rasanya seperti ada batu yang mengganjal di kerongkongan.


"Bi, Wulan ke kamar dulu saja kalau begitu. Mau mandi, dia pasti masih lama di sini." Aku melarikan diri dari situasi seperti ini.


Maaf, Bi. Bukannya gak mau nolong, aku lagi malas dan banyak pikiran juga. Toh besok sudah acara pertunangan, aku tidak boleh letih, setidaknya bisa tersenyum sambil menyapa tamu undangan walau lama kelamaan mulutku kaku karena terlalu sering tersenyum.


Aku mengintip ke ruang tamu, tidak ada satu orang pun di sana. Lega rasanya.


Ada seseorang yang menepuk pundakku, aku tersentak karena mendadak jantung ini berpacu lebih cepat.


"Aku pikir Andre masih ada. Kamu tuh ngagetin orang ajah." Aku mengelus dada, berusaha menormalkan detak jantung.


"Hei, sakit tau." Aku mengusap bekas kulit kepala yang dia cabut tadi.


"Damar, banyak banget sih nyabutnya? Kamu sengaja ya? Kalau rambutku botak gimana? Mau tanggung jawab?"


"Elah, cuma rambut doang. Nih, ternyata bukan uban. Kena bedak bayi mungkin." Dia meletakkan beberapa helai rambut itu di telapak tangan.


"Ck, bisa-bisanya pergi gitu ajah." Aku berdecak kesal.


Kulihat helaian rambut dengan saksama, ada bercak putih di sana, pantas saja dia berpikir bahwa ini uban.


"Gara-gara Selena ini, tepungnya bertebaran." Aku masuk ke kamar. Bapak dan Ibu tengah duduk di pinggiran ranjang, Ibu tengah memijat punggung Bapak.

__ADS_1


"Darimana saja kamu, Lan? Kami sudah mandi dan bersiap menunggu adzan maghrib."


"Biasa, Bu. Damar tuh gak bangunin Wulan, tadi ketiduran di mobil."


"Wulan mau mandi nih." Aku meraih handuk yang tergantung di kenop pintu kamar mandi. Membawa satu pasang baju tidur ke kamar mandi. Setelah beberapa menit berselang, aku ke luar dengan wajah dan badan yang segar.


"Buruan sholat! Adzan udah selesai, Nak." Aku mengerjakan kewajiban. Setelah itu mengobrol sebentar bersama Ibu dan Bapak.


"Bu, yakin nih kalau Wulan harus menikah dengan Damar? Diantara kami tidak ada sedikit pun rasa cinta, yang ada kami berdua selalu bertengkar tak mau mengalah." Aku mengawali pembicaraan.


"Berantem itu juga salah satu dari benih-benih cinta, Lan. Dulu saja Bapak dan Ibu musuh bebuyutan masa kecil."


"Bapak, jangan samakan dengan kalian berdua! Wulan sudah dewasa, dia juga, jadi tidak seharusnya disamakan dengan bocah." Aku merengut kesal.


"Sabarlah, Lan! Kalian berdua itu pasti sudah ditakdirkan berjodoh sejak kalian berdua masih kecil. Waktu keluarga Damar pindah, kamu sampai sakit gak mau sekolah, kamu malah ingin ikut bersamanya. Begitu pula Damar, dia sampai menunda keberangkatan ke Jakarta, kalian berdua menghilang dari pandangan kami. Kami semua mencari kalian sampai seharian tapi gak ketemu juga, eh akhirnya kalian berdua pulang karena hari sudah malam, dan kalian berdua kelaparan." Ibu mengenang masa lalu kami. Aku bahkan tidak bisa mengingatnya mau bagaimana pun aku mencoba.


"Gak mungkin, Bu. Masa iya kami berdua sedekat itu? Kenapa Wulan gak ingat ya? Padahal Ibu bilang Wulan itu masih SD pas Damar pindah ke luar kota." Ada raut wajah penuh keraguan di sana. Bapak bungkam enggan menanggapi perkataanku.


"Bu, Pak ... kenapa kalian berdua diam saja? Kenapa Wulan tidak ingat apa-apa tentang masa kecil bersama Damar dan yang lainnya?" Pertanyaanku bagaikan angin lalu. Mereka berdua bungkam seribu bahasa.


Aku berusaha mengingat kembali kenangan itu. Memijit pelipis sambil berkonsentrasi.


"Damar," lirihku tanpa sadar.


"Wulan, kamu tidak perlu mengingatnya, Nak! Biarkan kami yang bercerita tentang kisah bahagiamu di waktu kecil." Suara Ibu sedikit bergetar.


"Kenapa, Bu? Wulan Ingin mengingatnya, Wulan ingin merasakan kembali perasaan itu." Kucoba untuk mengingat.


Mendadak kepala ini pusing, rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum kecil di sekitar kepala. Aku menekan dengan kedua telapak tangan, menekan sekuat tenaga.


"Wulan, kamu kenapa?" Ibu mengusap keringat yang bercucuran dari pelipis.

__ADS_1


"Wulan, hentikan! Kamu tidak perlu mengingat, Nak! Tolong, Ibu mohon." Pandanganku kabur setelah dipeluk oleh beliau.


"WULAAAN!" teriakan itulah yang terakhir kali aku dengar sebelum kesadaranku menghilang.


__ADS_2