Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Bukan Kenyataan


__ADS_3

Wanita paru baya tersebut melihat punggung Wulan sampai tak terlihat lagi.


"Siapa sih, Mam?" Mutiara—sang anak masih menunggu ucapan ibunya.


"Mama ingat-ingat dulu deh, sepertinya harus bicara sama Papa juga." Beliau mendadak membuat anaknya bertanya-tanya.


Mutiara mengalihkan pembicaraan daripada harus penasaran dengan apa yang ibunya ucapkan. Apalagi sang Ibu tidak jelas dengan ingatannya. Ibu dan anak tersebut mengganti topik.


Jam telah berganti dengan cepat. Coffe shop itu sudah tutup. Seperti biasanya, Wulan berjalan kaki menuju kosan. Ada beberapa rekan kerja yang ingin mengantar dia pulang, tapi, Wulan yang terbiasa mandiri tidak ingin merepotkan orang lain. Tibalah dia di gedung kosan tua tersebut. Dia melangkah gontai masuk ke dalam kamar kos. Membuka sepatu dan jaket. Pekerjaan hari ini membuatnya lebih lelah dari biasanya.


Dia berbaring di kasur lantai. Tangannya direntangkan. Perlahan, mata Wulan terpejam begitu saja saking lelahnya.


Wulan bernapas dengan terengah-engah, seolah ia berada di situasi yang membuatnya berpikiran buruk.


Ia terbangun dari tidurnya dan mengusap wajahnya yang basah oleh tetesan keringat.


"Mimpi apa aku tadi? Kenapa begitu menakutkan?" Wulan berucap dengan napasnya yang memburu.


Gadis itu mengambil air dingin untuk melegakan tenggorokan. Ia dengan santainya kembali ke kasur tadi setelah mulai tenang dan melanjutkan tidurnya kembali.


***


Di rumah keluarga Damar.


Suara bel di pintu depan membuat Damar terbangun dari tidurnya. Pria itu tertidur di sofa ruang tamu karena pusing melanda.


"Duh, kepalaku pusing sekali." Keluh Damar sambil memegang kepala.


Bel berbunyi lagi.


Damar mengamati keadaan di sekitarnya. Dia baru menyadari bahwa hari sudah pagi menjelang siang hari.


Suasana di rumahnya seolah tak ada tanda kehidupan selain dirinya seorang diri.


"Kemana bibi atau siapapun itu? Kenapa salah satu dari mereka masih tak membukakan pintu?" gumam Damar kesal.


Kali ini bel berbunyi lagi dan lagi seolah tidak sabaran.

__ADS_1


"Berisik banget sih." Gerutu Damar yang akhirnya bangkit dan berjalan ke arah pintu.


Klak, pintu telah terbuka.


"Damar, temen-temen sudah nunggu di tempat biasa." Ternyata yang ada di depannya adalah Roni.


"Elu ngapain sih, jam segini malah nongol di rumah gue?" Damar begitu kesal.


"Ini udah siang, bukan pagi lagi. Elu ngigo apa ngimpi? Eh, sama aja sih ya?" Roni memiringkan kepalanya seolah sedang berpikir keras.


"Astaga, kenapa mereka malah membiarkan aku ketiduran di sini? Mana perutku udah laper." Damar merasa ada kejanggalan.


"Buruan mandi! Kita semua udah nunggu di tempat biasa." Roni mengguncang bahu sahabatnya dengan cepat.


"Dimana Mama dan Papa? Selena sama kak Mutia juga tak terlihat." Damar menoleh ke segala arah. Dia merasa heran bahwa di rumahnya tidak ada seorang pun kecuali Roni yang kini ada di depannya.


"Ah, kelamaan Elu, Mar. Gue cabut duluan deh. Mereka semua nungguin dari tadi. Kalau Elu gak cepetan berangkat, bisa-bisa ketinggalan." Roni menjelaskan sesuatu yang tidak dimengerti oleh Damar.


"Ketinggalan apaan ya? Kok sepertinya ada yang aneh." Roni segera pergi dari hadapan Damar. Dia setengah berlari meninggalkan teras rumah.


"Lho, dari tadi aku jalan di tempat apa gimana sih?" gumamnya heran.


Kakinya merasakan sesuatu yang janggal. Dia mencoba menapaki anak tangga lagi. Tiba-tiba saja badannya berguncang hebat.


"Damar, bangun!" Ada sebuah suara sayup-sayup terdengar.


"Uhh." Damar memicingkan mata, tiba-tiba saja di depannya ada sang Ibu yang tengah menepuk udara di depan wajah.


"Kamu kenapa sih? Mimpi apa sampai begitu?" Ibunya mulai menepuk pipi Damar.


"Astaga, Mam. Cuma mimpi ya?" Damar segera terduduk sambil memperhatikan sekeliling. Pemuda itu mengucek kelopak mata berulang kali.


"Iya, kamu sampai ngigo segala lho tadi. Emangnya mimpi apa sih?" Sang Ibu duduk di samping anaknya.


Damar tampak berpikir keras. Namun, dia menggeleng cepat karena tidak mengingat apa mimpinya tadi.


"Ya udah, mandi dulu sana! Sore-sore tidur malah bikin linglung. Cepetan mandi! Bentar lagi adzan Maghrib." Ibunya memberikan peringatan.

__ADS_1


"Iya, Mam." Pemuda itu bangkit dari tempat duduknya, dia segera melangkah perlahan menuju arah tangga. Mulutnya menguap berkali-kali.


Mutiara—anak tertua sedang berbincang dengan sang Ibu di meja makan.


"Mam, pesta pernikahan sama Kelvin nanti jadinya di mana nih?" Mutia tidak sabaran.


"Terserah kalian, bukannya kalian yang mau nyari tempatnya. Malah nanya Mama." Sang Ibu tidak mau ikut campur dalam urusan pernikahan Mutiara.


Jujur saja, Ibunya tidak terlalu suka dengan karakter Kelvin.


"Mama jangan gitu dong! Bentar lagi dia itu jadi menantu di keluarga ini." Mutiara mengerucutkan bibirnya.


"Kalian harus pergi dari rumah! Kamu itu anak perempuan, kamu harus ikuti suami kamu kemanapun dia pergi."


"Jadi, Muti gak boleh tinggal di rumah ini bareng Papa dan Mama?" Ibunya memutar bola matanya.


"Bukannya gak boleh, sesekali kamu bisa menginap kok. Mama cuma ingin kamu tahu aja kelakuan suami kamu nantinya. Dibilangin udah kebal saking cintanya kamu sama dia terlalu besar."


"Mam, Kelvin gak seburuk itu. Dia hanya belum bisa mengontrol emosinya ajah, lama-lama dia--,"


"Udahlah ... gak usah dibahas lagi! Mama mau sholat Maghrib dulu." Wanita berusia lima puluhan tersebut meninggalkan anaknya yang duduk seorang diri.


Dia malas menasehati anaknya tentang calon suami yang sebentar lagi akan menjadi menantu di keluarga ini. Tugasnya menjadi seorang Ibu sudah dijalankan dengan baik, kali ini cukup dia doakan saja agar anak sulungnya itu mempunyai kehidupan rumah tangga yang berbahagia dengan pria pilihan sendiri.


Damar yang sudah siap turun, mematut dirinya kembali di depan cermin. Matanya kini tertuju pada benda hitam yang teronggok di meja. Dia melihat isi dompetnya yang hanya tinggal dua ratus ribu saja.


"Padahal, baru tiga hari. Besok gue harus makan apaan ini." Dia sudah tidak sanggup untuk membeli barang-barang yang dia inginkan.


Ada sebuah jam tangan yang dia incar ketika berada di pusat perbelanjaan di ibu kota. Dia harus sabar menunggu sampai kartu ATM-nya dipulangkan kembali padanya.


"Damar, ada temanmu di depan, Nak!" panggil sang Ibu.


Damar segera ke luar kamar, menyahut perkataan Ibunya.


"Siapa yang ke sini di waktu makan malam?" Dia segera menuruni anak tangga dengan cepat. Kakinya menuju ke ruang tamu yang ada di dekat pintu utama.


Damar terperangah melihat siapa yang datang. Dia tidak menyangka bahwa orang di hadapannya itu berani menginjak rumahnya.

__ADS_1


__ADS_2