
"Nak Damar, ada tamu. Gak boleh gak sopan begitu." Ibu mengusap dadanya.
Mereka berdua—orang tuaku hanya mampu menatap aku yang digendong Damar.
"Bu, usir saja dia! Dia meracuni pikiran Wulan agar pertunangan kami dibatalkan." Ucapan yang ke luar dari mulut Damar membuatku tersentak.
"Jangan memfitnah orang sembarangan! Bu, apa Ibu mau punya calon menantu yang kasar seperti dia?" Aditya tak mau kalah. Dia menghardik Damar.
"Nak Adit, Bapak mohon tunggu di luar sejenak! Ini masalah keluarga kami. Orang luar tidak berhak ikut campur." Aku kesal karena Bapak berbicara seperti itu. Damar merasa punya bantuan darinya. Seringai licik kembali terbit di sudut bibir pria yang masih menggendongku ini.
"Maaf, Nak Adit. Setelah ini kita bisa berbincang lagi." Ibu membimbing Aditya ke arah pintu utama. Mereka berbisik-bisik sebentar barulah Aditya ke luar dari unit apartemen ini.
"Turunin aku! Sampe kapan aku di gendong begini?" protesku tapi masih tak digubris oleh Damar.
"Bu, Pak. Bagaimana kalau pernikahan kami berdua di majukan? Apakah Ibu dan Bapak tidak keberatan?"
"Heh, apa maksudmu, Damar? Aku gak mau menikah denganmu! Lepaskan aku!" Tubuhku bergerak-gerak liar.
"Nak Damar, turunkan Wulan agar tanganmu tidak pegal." Ibu menghampiri kami berdua, beliau memegang tangan Damar.
Damar menurut, dia menurunkan tubuhku. Ibu melihatku dengan tatapan sendu. Membelai rambutku yang berantakan.
"Nak Damar, silakan duduk dulu! Ibu bawa Wulan ke kamar dulu, ya. Dia harus berganti pakaian." Ibu membimbingku ke kamar.
Kulihat Damar dirangkul oleh Bapak, mereka duduk berdampingan tanpa sepatah kata pun yang ke luar dari mulutnya.
Sesampainya di kamar, aku dan ibu duduk di pinggiran ranjang. Kupeluk tubuh beliau yang mulai berisi. Mencurahkan isi hati, aku menangis sejadi-jadinya tanpa berbicara apa pun. Ibu membelai rambut dan menepuk punggungku.
"Wulan, coba ceritakan pada Ibu. Apa yang kalian berdua lakukan? Kenapa penampilan kalian sama-sama berantakan? Kalian berdua bertengkar?" Ibu mengurai pelukan setelah tangisanku mereda.
"Kalian berdua bertengkar karena Adit?" Ibu bertanya lagi karena mulut ini masih bungkam seribu bahasa.
__ADS_1
Aku bingung harus menjawab apa, perasaanku saat ini masih belum kuketahui. Ingin rasanya pergi menjauh sejenak dari mereka semua. Menenangkan pikiran yang selama beberapa bulan ini mulai tak karuan.
"Bu, apakah Ibu mau kalau Wulan disakiti?"
"Maksud kamu apa, Nak? Kami berdua hanya ingin kamu bahagia, orang tua mana yang mau melihat anaknya menderita?" Ibu merapikan anak rambut, menyisipkannya ke daun telinga.
"Kalau Ibu mau Wulan bahagia, putuskan perjodohan ini! Batalkan rencana kalian." Tatapanku sendu, mengiba pada wanita yang melahirkanku.
"Tidak bisa, Ibu punya alasan tersendiri mengapa kamu dan Damar harus dijodohkan." Aku menepis tangan ibu yang masih mengelus rambut.
"Ibu mau melihat Wulan menderita kalau begitu. Lihat wajah Wulan, Bu! Lihat penampilan Wulan sekarang! Ini semua karena Damar." Suara ini mulai meninggi.
"Kalian berdua bertengkar sampai bergelut seperti anak kecil?" Ibu masih belum mengerti apa yang kumaksud.
"Bu, Damar itu hendak memperk0sa Wulan. Dia menciumi Wulan secara paksa. Apa ini yang Ibu mau? Anak Ibu dilecehkan olehnya." Kembali air mata mengalir deras. Aku tidak sanggup lagi mengingat kejadian tadi.
"Jadi, Damar hampir berbuat keji padamu? Kalau begitu, Ibu akan menyetujui permintaan Damar tadi. Ibu mau kalian berdua menikah secepatnya." Ucapan yang ke luar dari mulut Ibu membuatku berang.
"IBU!" pekikku geram.
"Wulan, Ibu tahu tentang penyakit Damar. Karena itulah kalian berdua dijodohkan. Kamu itu ibarat sebuah obat untuk emosional Damar. Sejak kecil anak itu bisa diam ketika berada di dekatmu. Kami semakin mantap untuk menjodohkan kalian ketika kamu berhasil membuat emosi Damar menurun." Cerita dari Ibu membuatku semakin berang.
"Jadi, Ibu menjadikan aku sebagai tumbal dan pelampiasan emosi Damar? Kalau Wulan dibunuhnya bagaimana, Bu? Tadi saja Wulan hampir ditidurinya." Aku tidak terima dengan keputusan Ibu.
"Dia tidak akan mungkin bisa menyakitimu. Dia berbuat seperti itu pasti memiliki alasan." Lagi-lagi Ibu malah seperti mendukung perbuatan Damar.
"BU, ANAK IBU ITU DAMAR ATAU WULAN? KENAPA IBU SELALU MEMBELANYA? APA KARENA KEKAYAAN YANG DIMILIKI ORANG TUA DAMAR? SAMPAI IBU BISA BERPIKIRAN GILA SEPERTI INI?" teriakku seraya beranjak dari tempat duduk. Napasku tersengal, rahang ini mengeras, kutatap wajah wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Aku semakin membencinya, tak ada lagi yang bisa kuharap darinya.
"Wulan, ibu mohon dengarkan ibu dahulu, Nak!" Tangan itu meraih tangan ini tapi segera kutepis. Kali ini aku bergegas ke luar, ke ruang tengah menemui Damar dan Bapak yang berbincang.
"PERGI DARI SINI! JANGAN SAMPAI AKU MELIHAT WAJAHMU LAGI!" Kudorong tubuh Damar dari sofa sampai dia terjungkal karena mendapat serangan mendadak dariku.
__ADS_1
"Wulan, kamu kenapa?" Bapak menarik lenganku agar mendekatinya.
"Pak, jangan pernah izinkan dia kembali ke tempat ini! Kita bereskan barang-barang kita dan pergi dari sini." Aku tidak main-main, emosiku sudah sampai di ubun-ubun.
"Wulan, kamu masih marah tentang tadi? Aku sudah meminta maaf padamu." Pria itu kembali bersimpuh di kakiku seperti seseorang yang tidak punya harga diri.
"Mulutmu saja itu, nanti kalau emosi lagi bisa-bisa aku seperti Zayn, babak belur karena emosionalmu yang gak karuan." Aku menginjak pahanya sebagai pelampiasan emosi. Dia diam, tak bergeming.
"Wulan!" Ibu menjerit karena melihat Damar yang terinjak oleh kakiku.
"Tidak, aku berjanji akan berusaha untuk mengendalikan emosi diri. Tapi, ada syaratnya, kita berdua harus menikah bulan depan." Dia memaksakan kehendak.
"Mana kamu yang dulu? Yang bersemangat untuk membatalkan perjodohan ini. Yang sudah memiliki rencana heboh untuk membatalkan pernikahan kita, mana Damar yang itu? Aku lebih menyukai Damar yang lama, kamu bukan Damar yang aku kenal." Aku mendorong tubuhnya dengan kencang sampai dia terjerembab di atas lantai tanpa alas.
"Wulan, maaf karena membuatmu salah paham." Pria itu berdiri tepat di hadapanku.
"Pak, kita tinggalkan mereka berdua!" Kulirik Ibu yang menarik lengan Bapak.
Lihatlah mereka, orang tua macam apa yang memberikan kesempatan pada monster di depanku ini? Mereka berdua sungguh dibutakan oleh kekayaan keluarganya.
"Lan." Dia mendekati tubuhku tapi aku bergerak cepat menghindar.
"Jangan mendekat!" Aku tidak akan luluh dengan tatapan matanya yang memohon dan mengiba.
Aku meludah tepat di wajahnya, tak terima diperlakukan semena-mena. Kupikir dia bakalan mengamuk, dia hanya mengusapnya dengan telapak tangan.
Tatapannya masih sama, pria ini seperti memiliki tiga kepribadian, aku bingung dengan sikapnya yang bisa berubah-ubah dengan cepat. Apa dia memiliki kepribadian ganda? Atau ada penyakit mental lainnya yang dia punya? Kenapa orang tuaku tidak bertindak cepat setelah kuceritakan hal tadi? Kembali banyak pertanyaan yang muncul seiring aku mengaitkan kejadian demi kejadian.
"Ya Allah, kapan hidupku akan tenang seperti dulu? Sebelum bertemu dengan keluarga mereka," lirihku pelan hampir tak terdengar.
Ada yang membuka pintu unit apartemen ini, dia memanggil nama Damar dan menatapku dengan lekat.
__ADS_1
"Kalian berdua kenapa? Pintunya tidak dikunci." Dia masuk tanpa ba-bi-bu lagi.
"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Damar menghadang tubuhnya agar pria itu tidak mendekat.