Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Menolong Wulan Dan Selena


__ADS_3

Ada Riki dan beberapa penghuni kost-an ini. Aku semakin mendekat, menatap mereka yang sepertinya kebingungan.


"Ada apa ini? Kenapa penuh orang di sini?"


"Wulan, kamu tidak kenapa-kenapa?" Riki menggeret lenganku.


"Lepasin!" Aku menepis tangannya.


"Kamu gak apa-apa? Dia bilang kamu pingsan di kamar ini. Setelah kita buka kamar ini, kamu tidak ada di dalam sana." Aku mengernyit heran mendengar ucapan teman kost.


"Aku tidak apa-apa, aku baru pulang dari--," Aku harus memikirkan sebuah alasan yang tepat.


"Kamu dari mana, Lan? Kenapa hari ini tidak bekerja?" Pria itu mengernyitkan keningnya.


"Aku baru pulang dari rumah sakit." Maaf, aku harus berbohong pada kalian. Tidak mungkin aku mengatakan baru saja ke luar dari hotel.


"Sakit apa Kamu?"


"Semalam tiba-tiba saja demam setelah makan malam dengan Selena." Kulanjutkan kebohongan ini.


"Selena? Siapa dia?" Mas Riki masih di depan kamarku. Sementara yang lain mulai meninggalkan tempat ini satu persatu. Cuaca di siang hari menjelang sore ini begitu terik, sampai-sampai keringat di pelipis bercucuran.


"Selena, adik Damar."


"Kamu pergi sama dia? Kalian dekat banget ya?" Ada raut tak biasa yang dia tampakkan padaku. Dia begitu tertarik ketika aku membahas Selena.


"Iya, aku pergi bareng Selena. Namanya juga adik sepupu. Udah dulu, ya Mas. Aku harus masuk dan beristirahat." Aku mengusir Riki secara halus.


"Selamat beristirahat." Pria itu pergi setelah aku menutup pintu kamar.


Aku penasaran dengan siapa yang membuat cerita palsu kalau aku pingsan di kamar. Ingin rasanya bertanya sama Riki. Tapi, biarlah, malas untuk membahas ini dengannya.


Aku berganti baju, mencuci baju ini agar bisa dikembalikan pada Damar.

__ADS_1


***


POV Damar


Dia pergi dari hadapanku, kini tubuhku terduduk di kisi-kisi ranjang. Semoga saja kejadian ini tidak tersebar. Aku mengingat kembali kejadian tadi malam. Wulan seperti perempuan yang sudah hilang akal sehatnya setelah meminum minuman keras.


"Lepasin dia!" Aku segera menampakkan diri setelah melihat Wulan bersama pria itu. Selena dan Robi ada di belakangnya. Selena bergelayut mesra di lengan kekasihnya itu. Dasar anak nakal, dia tidak bisa memilih pria baik-baik. Malah pria seperti Robi yang dia pacari.


"Lepasin!" Aku menarik tubuh Wulan dari pria itu.


"Robi, lepasin adik gue atau gue laporkan kalian pada polisi."


"Elu siapa sih? Datang-datang malah main bentak." Robi menyerangku lebih dulu. Dia menghamburkan dirinya padaku, tangannya mengepal erat hendak meninju tubuhku.


"Vangke, berani kalian ya main keroyokan." Aku meletakkan tubuh Wulan di atas kursi terdekat. Dia masih menceracau tak jelas.


Aku melawan mereka berdua, mereka kalap karena efek alkohol. Beberapa kali kepalan tangan mereka mengenai wajahku. Aku tidak mau kalah, dengan gesit aku menghindar dan melayangkan pukulan pada mereka bergantian.


"Rasakan ini!" Kepalan tanganku begitu kuat dan menyentuh rahang mereka satu persatu.


"Dua perempuan ini adik saya, mereka mau membawanya pergi entah ke mana." Aku memekik karena suaraku seperti tidak terdengar saking kerasnya musik di pub ini.


"Apa buktinya kalau mereka adik Kamu? Jangan membuat keributan di tempat ini!" Dua pria berbadan besar menghalangi jalanku.


Aku berpikir sejenak, kemudian kuambil hape di dalam tas pinggang yang kukenakan. Mencari foto Selena dan Wulan yang ada di sana. Ya, aku punya foto Wulan, menyimpannya di dalam galeri hape ketika dia makan malam bersamaku. Aku menyimpannya tanpa sepengetahuan Wulan.


"Ini dia, foto keluarga kami!" Aku memberikan hape itu sebagai bukti. Mereka berdua menatap layar hapeku kemudian beralih menatap Wulan dan Selena yang tergeletak di atas sofa.


"Baiklah, kami percaya kalau mereka keluargamu. Bawa pergi mereka dari sini! Jangan sampai aku melihatmu menginjakkan kaki di tempat ini lagi! Dasar biang onar." Mereka meninggalkan aku, sementara Robi dan temannya terkapar di lantai karena pukulan yang aku berikan pada mereka yang cukup kuat.


Aku menggotong tubuh Selena dahulu ke dalam mobil yang ada di pelataran parkir. Barulah aku menggotong tubuh Wulan. Kulihat jam digital yang ada di dasbor.


"Sial, udah jam dua pagi." Aku menutup pintu kendaraan rapat-rapat. Mengendarai mobil ini, melihat sekeliling kawasan ini.

__ADS_1


"Sebaiknya aku menginap di hotel itu." Akhirnya aku putuskan untuk bermalam saja di hotel dekat sini. Besok setelah mereka bangun, barulah aku mengantar pulang.


Aku masuk dan meninggalkan mereka berdua yang sudah tertidur di dalam kendaraan. Memesan kamar ini pada resepsionis.


"Maaf, Pak ... hanya ada dua kamar yang tersedia. Itu pun kamar dengan single bed." Aku melongo tak percaya.


"Tiga kamar, Mbak. Masa iya cuma dua saja. Mana kasurnya single. Gak cukup untuk kami bertiga."


"Maaf, hanya itu yang tersisa di hotel kami ini, Pak." Daripada harus berkeliling mencari tempat lainnya, aku mengiyakan saja. Setelah membayar dan mendapatkan kunci kamar, aku membawa Selena di lantai tujuh. Untung saja dia tertidur, jadi aku bisa menggotongnya dengan mudah. Dia harus tidur dengan Wulan. Sementara aku tidur sendiri di kamar yang masih di lantai yang sama, hanya jaraknya saja yang agak jauh.


Wulan masih tertidur, dia kugotong sampai di lift. Badanku terasa remuk redam. Sebentar saja aku menurunkan tubuhnya di atas lantai lift.


"Mana minumannya? Berikan lagi padaku!" Dia menceracau di pagi buta.


"Udah mabuk masih nyusahin ajah."


Tiiing


Pintu lift terbuka, aku menggendongnya lagi sampai ke kamar, merebahkannya di atas ranjang.


"Astaga, aku salah kamar. Seharusnya dia kubawa ke kamar yang ada Selena di dalamnya." Aku duduk sejenak untuk beristirahat. Detak jantung ini sampai berdegup kencang, napas tersengal-sengal.


Setelah lima menit aku beristirahat, kuraih tubuh yang tergeletak di ranjang. Menatapnya sekilas.


"Heum, minumannya enak." Perempuan ini mengigau. Belum sempat aku menggendongnya, Wulan segera memeluk leherku. Aku terhempas berada di atas tubuhnya. Bau alkohol menguar menusuk hidung. Dia tersenyum lebar, kelopak matanya masih terpejam.


Melihatnya secara dekat, refleks membuatku menyentuh wajah itu.


"Pipi kamu lembut, Lan." Aku mengusap-usap pipinya dengan telapak tangan.


"Eumh." Dia melenguh. Napasku tertahan melihat ekspresi wajahnya.


Tangannya semakin erat melingkari leherku. Kuberanikan diri mengecup keningnya. Detak jantungku begitu cepat, baru kali ini aku mengecup seorang perempuan. Dulu, aku pernah menjalin hubungan, tapi, saat itu kami sama-sama malu untuk melakukan hubungan fisik, jangankan kecupan. Berpegangan tangan saja membuatku panas dingin.

__ADS_1


Bibir Wulan bergerak, dia tertawa kecil. Tiba-tiba saja tangannya meraih wajahku, kelopak matanya masih terpejam.


"Wulan, apa-apaan ini?" Aku berusaha keras untuk menolak gejolak di dalam diri.


__ADS_2