Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Menemani Selena


__ADS_3

"Ikutan nimbrung juga, Pak?" Lena terkekeh pada Riki.


"Biar tidak ada yang salah paham saja. Wulan itu adalah sepupu Bos Damar. Pantas saja mereka dekat banget." Aku terperangah mendengar penuturan Riki.


"Mas Riki tahu darimana?" Kali ini Cindy yang berbicara.


"Tentu saja aku tahu. Berantem dan saling protektif seperti mereka itu hanya bisa dilakukan antar saudara, kalau bukan saudara kandung, ya saudara sepupu." Jelas Riki panjang kali lebar.


Aku hanya mampu terdiam, kulihat Lena dan Cindy mengangguk seakan setuju dengan apa yang Riki katakan.


"Kalian berdua, kembali bekerja! Ada yang harus aku sampaikan pada Wulan."


"Eheeemm, di sini tempat kerja lho, Pak. Jangan macam-macam!" Cindy menggoda pria itu.


"Apa-apaan kamu, Cin? Ini juga masalah kerjaan."


"Siap, Pak. Kami kembali bekerja." Lena menarik lengan Cindy. Keduanya pergi meninggalkan kami berdua di sisi coffe shop.


"Wulan, maaf atas ucapan yang tadi. Sumpah aku tidak tahu kalau kalian itu adalah keluarga. Tadi aku mendengar percakapan antara kamu dengan Ibu Iren. Kalian berdua akrab seperti keluarga. Dari sanalah aku tahu kalau kamu itu keponakannya Ibu Iren, benar kan?" Ternyata dia cuma menduga-duga. Rasa sakit hatiku masih ada, tak akan hilang begitu saja.


"Begitulah, saya memang sepupu Damar, karena itulah dia seenaknya memanggil saya, Pak. Sudah kebiasaan dari dulu." Lebih baik aku berpura-pura saja. Toh, pernyataan ini jelas masuk akal.


"Maaf ya, Pak. Saya harus kembali bekerja." Kutinggalkan dia seorang diri.


Bodoh sekali kamu Wulan, kenapa malah suka sama pria seperti Riki?


Perasaanku padanya semakin berkurang, entah kenapa sejak mendengar tuduhannya, rasa suka itu tidak seperti biasanya.


Selesai bekerja dan kembali ke kost-an, malamnya ada tamu yang datang. Kedatangannya kali ini membuatku bertanya-tanya.


Aku membuka pintu kost-an, melihat wajah itu yang menyengir lebar menampakkan deretan gigi putihnya.


"Selena, ngapain kamu ke mari?" Tanpa kupersilakan masuk, dia menerobos masuk begitu saja. Gadis itu tidak menjawab pertanyaanku. Dia malah mengitari seluruh kamar ini.


"Heeum, bener juga apa yang Mami bilang. Kamarnya lembab, kumuh dan gak banget deh." Aku lelah mendengar kata-kata itu.


"Aku nyaman hidup di sini. Semuanya disiplin, ya walaupun masih saja ada satu dua orang yang bandel."


"Kamu ngapain ke mari? Mana udah malam begini." Dia masih terdiam, tak menjawab pertanyaanku.

__ADS_1


"Baru jam tujuh, Kak. Jam segini tuh belum malam." Dia duduk di kisi-kisi ranjang. Bunyi kriet memenuhi ruangan karena dia sengaja bergoyang ke depan dan ke belakang.


"Sel, itu ranjangnya berderit."


"Gue tahu, Kak. Biar ambruk sekalian, terus Kakak mau pindah deh ke tempat lain." Dia tertawa mengejekku.


"Pede amat, di sini udah enak lingkungannya."


"Terserah deh, masalah itu urusannya sama Mami. Sekarang ini Selena mau ngajak Kak Wulan ke suatu tempat. Pasti Kakak suka di sana, kita membuang stres dulu." Dia mengerjapkan mata berulang kali, menatapku lekat setelahnya.


"Aku capek, Sel. Besok pagi harus kerja lagi. Pas waktu libur aja deh kita jalan berdua." Aku menolak.


"Yaelah, Kak. Gampang itu, minta tukeran shift ajah sama rekan kerja Kakak! Toh itu coffe shop juga milik Mas Damar, rileks ajah lah! Semuanya bisa diatur." Dia mendorong tubuhku ke kamar mandi.


"Eh, ngapain nih? Kenapa aku harus ke kamar mandi? Aku udah mandi tadi sore."


"Ganti baju dulu nih! Gue bawa baju bagus buat Kakak Wulan, calon Kakak Ipar yang paling cantik." Dia mengedipkan sebelah mata.


Kubuka tas belanjaan yang dia sodorkan, melihat baju seperti itu membuatku tidak nyaman.


"Gak ah, aku gak pernah make pakaian mini begini." Aku menolak pakaian tersebut.


"Ini jaketnya, bisa dipakai. Yang ini dalemannya, jeans-nya harus sobek-sobek begini."


"Tapi, itu pendek banget."


"Coba ajah dulu, Kak! Gue juga pakai yang seperti ini. Lihat saja penampilan gue!" Dia memutar badannya 360 derajat dengan tangan terbuka.


"Buruan! Apa mau nunggu malem baru kita ke luar?"


"Ta-tapi, Sel."


"Gak ada tapi-tapi!"


"Janji satu hal, cuma malam ini ajah! Gak ada kata lain kali." Gadis itu mengangguk mantap sambil menempelkan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O.


Aku berganti pakaian dengan baju yang dia bawa. Tak sampai disitu, dia mengurai rambutku sekaligus menyisirnya. Wajahku juga dipoles dengan tangannya yang terampil dan lincah.


Dua puluh menit berlalu, dia mendorong punggung ini ke depan lemari pakaian yang ada kaca di tengahnya. Penampilan dan wajahku terpantul di sana. Aku melihat sosok yang berbeda jauh dengan diriku selama ini.

__ADS_1


"Tuh, cantik kan? Kakak aja yang cuek dengan penampilan. Kalau tiap hari begini, gue yakin kalau Mas Damar terpesona."


"Gak usah ngacok Kamu! Aku gak menginginkan perjodohan itu."


"Udah deh, gak usah dibahas! Sekarang juga, kita pergi!" Dia menarik lenganku.


"Tunggu dulu, Sel! Tas aku." Kuraih tas lama yang menjadi andalanku. Memasukkan hape dan dompet di dalamnya.


"Lho, masa iya pake sendal jepit sih, Kak?" Dia menatap kakiku.


"Astaga, lupa. Bentar ya!" Aku mengambil sepatu kets andalanku, walaupun sudah lama tapi masih bisa dipakai."


"Astaga, Kak Wulan. Jangan pake sepatu model gitu. Oh iya, sepatu yang dibeliin Mami ada di mana?" Dia mencari-cari sesuatu.


"Di dalam lemari." Gadis itu segera membuka lemari dan merogoh isinya.


"Pakai yang ini, Kak! Pasti cocok." Dia menyodorkan sepatu hak tinggi tersebut.


Kami pergi dari kost-an ini, dia menyetir mobil sendiri. Dia mengajakku makan malam ke suatu restoran yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya. Kami menikmati makan malam dengan tenang. Satu jam kemudian, Kami tiba di suatu kawasan.


"Sel, ini tempat apa?"


"Ayo ikuti Selena, Kak! Kita bersenang-senang di sini."


"Di sini tempat apa?"


"Cuma tempat karaoke saja, Kak." Dia menggandeng lenganku, kami masuk ke dalam sana.


"Ini beneran tempat karaoke?"


"Iya, santai ajah ngapa!"


Kulihat jam yang ada di layar hape, sudah jam sembilan malam. Aku merasa ada yang aneh dengan tempat ini.


"Sel, bau apaan ini? Kok kepala Kakak bisa pusing begini?" Bau itu, belum pernah aku mencium bau yang menyengat dan menusuk hidung.


"Kakak mau coba nyicip? Enak banget itu, Kak. Baunya memang sedikit menyengat."


Dia membawaku duduk di sofa yang begitu indah dan mahal. Bahannya terbuat dari kulit sintetis tapi begitu lembut, tidak kaku. Kami berdua duduk, gadis itu dengan cueknya mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi.

__ADS_1


"Selena! Kamu ... ngapain kamu di sini? Siapa dia?" Seorang pria menyapa kami. Aku tidak jelas melihat wajahnya karena penerangan di tempat ini begitu redup.


__ADS_2