
"Elah, Sel ... kita seharusnya eksplor kota kecil seperti ini. Kalau di kota besar banyak penduduk, sumpek." Damar beralasan.
"Owh, begitu," sahut Selena yang kembali terdiam.
Aku tidak tahu harus memulainya dari mana. Semoga saja ada petunjuk lanjutan yang kami dapatkan di sini. Taksi sudah tiba di depan gedung hotel yang Damar pesan. Kami bertiga turun, barang-barang dibawakan oleh porter hotel.
"Pak, tungguin kami ya! Saya ingin berbincang dulu dengan adik saya." Damar menyuruh Pak sopir menunggu.
"Mas, ngapain lagi?" Dia berbincang dengan Selena, aku mendekati mereka. Porter membawa barang-barang kami di lobi dekat dengan meja resepsionis.
"Sel, Elu masuk saja ke kamar! Kami berdua harus ke tempat wisata kayangan api. Barcode scannernya nanti gue kirim via aplikasi hijau. Kode booking ada di sana." Jelas Damar.
"Mas, yang bener ajah kalian berdua ninggalin gue. Liburan apa kalau begini?" protesnya pada kami. Gadis itu melirikku sekilas.
"Sorry, ini penting banget buat kami berdua. Elu istirahat saja dulu di kamar!" Damar menyuruh adiknya. Setelah itu dia menarik lenganku agar masuk ke dalam taksi tadi. Kami melanjutkan perjalanan ke tempat wisata.
Entah berapa lama kami berada di jalan raya. Aku mulai gelisah, timbul rasa ragu.
"Yang, kamu tahu nama dua kakek nenekmu? Walau pun kita tahu tempatnya, kalau tidak tahu namanya rasanya percuma saja." Damar memulai pembicaraan setelah beberapa lama terdiam.
"Aku udah motret buku nikah ibu dan bapak. Di sana ada bin dan binti, pastinya nama kakek dua-duanya jelas sekali." Aku menyodorkan hape pada Damar, menunjukkan foto buku nikah orang tuaku yang semalam aku potret secara sembunyi-sembunyi.
"Kamu pintar juga ya, sampai kepikiran hal itu." Damar mengembalikan hapeku.
"Pastinya dong, sudah sejak dulu aku ingin memeluk kakek nenek. Semoga saja mereka berempat masih hidup. Kakek Mustofa dan Kakek Suwito, semoga mereka baik-baik saja." Aku membaca nama yang tertera pada foto buku nikah itu.
"Jadi, kita memulai pencariannya di mana?" tanya Damar.
"Tentu saja dekat dari tempat wisatanya. Kita cari di sekitar sana, setelah itu barulah mencari lokasi yang agak jauh," jelasku.
Aku merasa ada keanehan dengan sopir ini. Sejak tadi dia melirik pada kami bergantian. Apa dia mau berbuat jahat? Tapi, kenapa harus menunggu sekarang? Mata ini menyipit, melihatnya dengan intens. Dia tampak salah tingkah ketika pandangan kami bertemu.
__ADS_1
"Tempat wisatanya sudah terlihat dari sini, Yang." Mas Damar menoleh ke arah jendela.
"Kita turun di sini saja! Gak usah turun tepat di tempat wisatanya," usulku.
"Pak, berhenti di sini saja!" seru tunanganku.
Setelah Damar memberikan ongkos taksi, kendaraan itu pergi menjauh.
"Bapak tadi aneh banget, Mas. Tadi dia lirik-lirik kita waktu ngobrol tentang kakek nenek." Kuberitahu saja dia.
"Biarkan saja! Gak usah dipikirin, toh dia udah pergi."
"Ayo kita mulai mencari!" ajaknya, tangannya mengandeng lenganku.
"Kamu gak capek, Mas?" tanyaku memastikan.
"Enggak, tadi di kereta tidur mulu. pengen gerakin kaki nih." Dia tersenyum padaku.
"Kita pulang saja ke hotel, yuk! Besok lanjut lagi pencariannya!" Terpaksa aku mengajak Damar kembali ke hotel.
"Gimana kalau setelah makan malam kita kembali mencari? Aku khawatir Selena curiga kalau kita mencarinya besok. Kalau dia tahu, bisa gawat, dia bisa ngadu." Damar mengusulkan.
"Boleh juga sih, tapi, apa dia gak keberatan kalau kita tinggalkan dia lagi di hotel? Gawat kan kalau dia malah merajuk dan minta pulang?" Aku sudah tahu dengan emosional Selena. Dia itu labil dan tidak berpikiran jauh. Sering mengambil keputusan secara gegabah yang akhirnya bisa merugikan diri sendiri.
"Kita bilang saja kalau tadi ketemu temanmu di sini. Nyari alasan yang masuk akal." Aku menyetujui saran Damar.
Kami berdua kembali ke hotel, beristirahat sejenak sebelum mandi sore dan menjalankan kewajiban. Selena begitu sumringah, dia menyisir rambutnya sambil tersenyum tipis.
"Sel, kamu kenapa? Ada yang lucu?" cecarku melihat ekspresinya yang tidak biasa.
"Enggak ada apa-apa. Ayo kita turun, Kak!" ajaknya.
__ADS_1
Kami berdua menjemput Damar turun ke restoran hotel. Kami bertiga makan malam bersama di restoran yang ada di hotel ini. Beberapa kali Selena mengitari sekeliling, kepalanya sesekali memanjang, melihat sesuatu atau bisa saja seseorang yang dia tunggu kedatangannya.
"Sel, kamu nungguin siapa?" tanyaku penasaran.
"Eh, gak lagi nungguin siapa-siapa kok, Kak." Dia tampak salah tingkah.
"Sel, kita berdua mau jalan sebentar. Gue mau beli sesuatu yang hanya ada di tempat ini." Damar mulai bersuara. Akhirnya kami berdua akan memulai pencarian lagi.
"Yang bener kalian mau pacaran di luar sana?" Bukannya keberatan, Selena malah tampak kegirangan.
"Iya, kita pergi dulu! Elu gak usah ke mana-mana! Tungguin kami pulang!" Damar segera mengajakku pergi dari restoran. Aku sengaja mengantongi tas berukuran kecil, melipatnya menjadi dua dan menyelipkan di dalam kantong celana.
Kami berdua menggunakan taksi online. Tas yang tadi aku keluarkan dan mulai memakainya dengan benar, hape dan dompet kumasukkan ke dalamnya.
"Yang, kita nyari mulai dari mana lagi nih?" tanya Damar memulai pembicaraan.
"Kira-kira lima ratus meter dari lokasi terakhir, Mas. Jangan sampai melewatkan Kakek Suwito dan Kakek Mustofa." Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku harus berhasil menemukan mereka.
"Maaf kalau boleh saya tahu. Kalian berdua ini mencari siapa?" Sopir taksi menepikan mobilnya.
"Lho, Pak. Kenapa malah berhenti?" tanyaku tak suka.
"Maaf, ya Mbak, Mas. Saya dengar kalian menyebutkan Pak Mustofa, memangnya ada perlu apa, ya? Apa Pak Mustofa memiliki hutang pada salah satu dari kalian?" Kami dicecar pertanyaan.
"Tidak ada hubungannya dengan Bapak. Cepat jalan!" seru Damar mulai meninggi.
"Tunggu dulu, Mas!" Aku harus bisa memastikan siapa Mustofa yang sopir ini maksud.
Aku beralih menatap pada sopir ini. Sopir ini mungkin tahu sesuatu, bisa juga dia ini adalah tetangga Mustofa—kakekku.
"Pak, memangnya Bapak kenal Pak Mustofa? Pak Mustofa yang punya anak namanya Ningsih." Pak sopir ini tampak ragu.
__ADS_1
"Pak, Mustofa itu yang Bapak maksudkan? Tolong bawa kami ke alamat rumah Pak Mustofa yang saya sebutkan ciri-cirinya, beliau memiliki tiga anak, salah satu anaknya bernama Ningsih. Kita ke alamatnya sekarang, Pak! Jangan khawatir tentang ongkosnya, kami bisa memberikan lebih." Aku membujuk sopir ini, dia masih bungkam. Tatapannya begitu lekat padaku.