Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Perasaanku


__ADS_3

"Selena." Wulan yang tersadar, melepaskan tangannya dari cengkramanku.


"Maaf kalau mengganggu, gue ke dapur dulu." Gadis itu segera berlari meninggalkan kami.


"Gara-gara kamu, dia jadi salah paham tentang kita."


"Salah paham? Memangnya Elu tahu apa yang Selena pikirkan? Hebat ya, bisa baca pikiran orang." Aku sengaja ingin melihat reaksinya.


"Tadi kita kan, seperti-," Wulan menggantung ucapannya.


"Ah, males. Aku mau tidur, udang ngantuk," ucapnya lagi.


"Tunggu dulu, jadi kerja apa kagak? Tiga hari lagi opening, kalau Elu gak mau, biar gue cari orang lain. Tapi, ingat syarat yang tadi."


"Besok, aku pikirkan dulu. Kalau syaratnya nyium pipi di depan keluarga kamu, aku malu. Orang berumah tangga saja tidak seharusnya mengumbar kemesraan di depan umum. Apalagi kita tidak memiliki hubungan apa-apa."


"Kita sudah bertunangan, Lan." Aku tidak tahu kenapa nada suara yang ke luar lebih tinggi dari biasanya.


"Itu hanya di mata orang-orang, sementara kita tidak menginginkannya."


"Eum, Elu bener. Tapi, syarat dari gue harus Elu penuhi kalau mau bekerja lagi."


"Besok aku pikirkan lagi, aku tidur duluan." Dia melangkah gontai, pundaknya melemas sambil menghela napas.


Aku lebih baik kembali saja ke dalam kamar. Toh perut sudah terisi dan mata pun kembali mengantuk. Kulihat ada seseorang yang tengah duduk di anak tangga paling atas, tersenyum lebar sesekali menaikkan alisnya.


"Ngapain Elu di sini? Bukannya tidur malah duduk kayak orang gak ada kerjaan." Aku menyepak kakinya.


"Santai ajah, Mas! Elu kasar banget sih. Gue nungguin kalian, kalau kalian berdua berbuat mesum di rumah, gue langsung teriak. Tapi, syukurlah kalian berdua udah mau tidur."


"Otak Elu pake! Ngapain gue berbuat gitu? Sarap emang Elu, Sel." Aku memaki gadis ini. Dia pikir kakak lelakinya yang satu ini serendah itu.


"Mana tahu, semuanya bisa saja terjadi. Kalian berdua sekarang semakin dekat. Gue juga bisa lihat pancaran sinar mata orang yang sedang kasmaran." Dia terkekeh geli.


"Ngarang, tidur sana!" Aku melewati badan Selena yang masih duduk santai di anak tangga.


"Mas, jujur ajah deh. Elu mulai suka sama Kak Wulan, kan? Kak Wulan juga mulai suka sama Elu. Tadi, gue sempet lihat dia nangis setelah ngelihat Elu dan siapa nama cewek tadi?"


"Lusi?" tanyaku tak yakin.

__ADS_1


"Iya, Lusi. Kak Wulan nangis, matanya merah. Gue pikir dia menangis gara-gara pertunangan kalian. Ternyata, pandangannya menuju ke Elu dan Lusi bergantian."


"Maksudnya apa kalau begitu? Kenapa dia bisa nangis? Pasti Elu bohong, Sel." Aku mencecarnya.


"Dia mulai suka sama Mas Damar. Kalau kalian sudah sama-sama suka, lebih baik lanjutkan saja hubungan ini, Kak."


"Enggak mungkin. Kita berdua sepakat gak akan melanjutkan ke jenjang pernikahan. Hanya sebatas pertunangan saja biar Mami dan Papi gak bawel." Bukannya munafik, memang ada rasa suka pada Wulan. Tapi, aku masih belum yakin seratus persen rasa suka yang aku rasakan. Bisa saja suka kepada teman, bukan rasa suka pada pasangan.


"Terserah deh, gue males ngasih pandangan ke Elu. Gue tidur duluan, bye." Gadis itu melambaikan tangannya, bergegas melangkah menuju kamarnya.


"Kalau cuma ngomong, semua orang tahu. Kita berdua yang mengalaminya. Apalagi ada rahasia di balik semua ini." Aku kembali masuk ke kamar. Berusaha untuk menenangkan diri agar pertanyaan yang sejak beberapa hari yang lalu, tak kunjung mendapatkan jawaban.


***


POV Wulan


Aku tidak habis pikir, kenapa aku bisa selemah ini? Aku tidak akan pernah menyukainya. Aku tidak akan pernah mencintainya, kita tidak akan pernah ditakdirkan untuk bersatu. Aku harus mencari seseorang yang benar-benar aku sukai. Semenjak mendapat respon yang tak baik dari Riki, rasa sukaku mulai menghilang seiring waktu.


Malam ini, walaupun ada di kamar, aku tidak dapat memejamkan mata. Syarat dari damar meragukanku. Bukan hanya rasa malu yang akan kudapatkan, tapi, juga cemoohan dari mereka. Masa iya menolak untuk dijodohkan, tapi, malah menciumnya. Walau hanya pipi, tapi, aku rasa itu bukan sesuatu hal yang etis untuk dilakukan.


"Uhuk, uhuk." Suara batuk itu mengalihkan perhatian, aku melihat Ibu meraba bagian kiri ranjang.


"Lan, kamu di mana?" panggilnya dengan suara serak.


"Kenapa belum tidur? Udah jam berapa ini?"


"Ini mau tidur, Bu." Aku merebahkan diri di sisi kiri Ibu.


Ibu memelukku erat, aku mengingat masa lalu ketika kami saling berpelukan di jam tidur. Masa di mana aku mengalami kesusahan karena perut tidak terisi penuh. Ya, aku dan kedua orang tuaku pernah mengalaminya. Saat itu, aku baru saja masuk ke sekolah menengah pertama. Mungkin karena mendapat pelukan dan kehangatan dari Ibu, mata ini mulai memanas dan terpejam dengan sendirinya.


Keesokan paginya, aku dan kedua orang tuaku sudah bersiap pulang ke apartemen. Aku bingung harus memutuskan syarat dari Damar. Jam sudah menunjukkan angka delapan, semua barang-barang hantaran memang masih ada di mobil, kami tinggal memanggil Pak Dadang saja untuk mengantar ke apartemen. Aku menyuruh kedua orang tuaku masuk ke mobil dahulu.


"Damarnya ada, Tan?" Aku melihat mereka tengah duduk di ruang tamu.


"Damar masih siap-siap mungkin, katanya mau ke coffee shop yang lama, setelah itu baru ke kampus."


"Owh, begitu. Selena mana?"


"Pagi Kak Wulan, kenapa gak mau sarapan bareng tadi? Malu sama gue, ya?" Selena berdiri di balik punggung.

__ADS_1


"Malu kenapa, Sel?"


"Semalam mas Damar sama Kak Wulan sedang-,"


"Aduh, sakit Mas." Tiba-tiba Damar muncul dan mencubit pipi Selena dengan keras.


"Kalian berdua kenapa? Pagi-pagi sudah ribut." Kepala keluarga menegur mereka. Aku tidak mempedulikan kelakuan mereka berdua. Aku mendekati orang tua Damar.


"Tante, Om. Wulan pamit dulu ya. Kapan-kapan main ke sini lagi."


"Iya, hati-hati ya, Nak!" Aku bergantian bersalaman dengan mereka.


"Damar, gue pulang ke apartemen dulu." Aku berjabatan tangan dengannya. Dengan cepat aku mengecup pipinya di hadapan semua orang. Damar tampak terkejut karena tindakanku yang tanpa aba-aba.


"Syaratnya udah aku penuhi, bye," bisikku tepat di daun telinganya.


"Wulan pulang dulu." Setengah berlari aku meninggalkan mereka. Kudengar suara Selena yang terkekeh dan mengejek Damar.


"Dasar Selena. Gak tahu apa kalau Masnya itu yang ngasih syarat." Sumpah, hal ini begitu memalukan.


Aku masuk ke dalam mobil, mereka dengan sabar menunggu. Tanpa menunggu aba-aba, kendaraan ini meluncur memecah jalanan ibu kota.


Hampir satu jam kami ada di perjalanan, macet melanda jalanan ibu kota. Sepuluh menit kemudian barulah kami tiba di gedung apartemen.


"Pak Dadang, kami minta tolong ya biar ngangkat bareng-bareng ke lantai atas."


"Tidak perlu, Bu! Ada lift khusus untuk mengangkut barang-barang penghuni apartemen." Aku memberikan informasi yang belum mereka ketahui.


Kami bertiga bergegas masuk ke dalam lift, Pak Dadang seorang diri mengangkut barang-barang hantaran tadi. Kami bertiga menunggu di depan pintu lift khusus barang. Biar kami saja yang membawanya masuk ke apartemen.


"Makasih ya Pak, biar kami bertiga yang bawa masuk. Bapak pulang saja! Sekali lagi terima kasih." Beliau mengangguk dan kembali turun menggunakan lift biasa.


"Berat juga, barang-barang ini semua kalau ditotal pasti puluhan juta."


"Jual ajah kalau Ibu mau." Aku menimpali perkataan Ibu.


"Sembarangan kamu, Lan. Mana mungkin Ibu jual, ini punyamu. Barang-barang pribadimu, bisa dipakai kalau kamu main ke rumah Damar. Biar bajumu gak itu-itu saja." Ibu mulai mengoceh.


"Memangnya ada yang salah dengan baju Wulan selama ini? Wulan nyaman kok makenya, Bu." Aku merengut karena mereka kini mulai memperhatikan penampilanku.

__ADS_1


"Kamu cantik kok, Lan." Suara itu membuat kami bertiga mengalihkan pandangan.


"Sial, kenapa dia ada di sini?" Aku ketar-ketir, satu masalah belum selesai, ada masalah lainnya. Kapan hidupku bisa tenang kalau begini?


__ADS_2