Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Acara Pertunangan H-1


__ADS_3

Damar, dia membelaku agar kembali bekerja. Kedatangannya seperti angin segar yang membuatku merasa lega.


"Yang bener ajah, Mar. Nanti apa kata orang kalau istrimu kerja di tempat usahamu sendiri? Mami malu kalau temen arisan tahu." Ucapan Tante Iren membuatku tersentak. Aku melirik ke arah Ibu yang tangannya mengepal menahan emosi diri. Aku sadar diri bahwa kami memang bukan dari kalangan keluarga berada.


"Mam, Mami kenapa mikirin apa kata orang? Coba sekali-kali Mami mikirin perasaan Wulan? Lihat dia! Selama ini dia tertekan karena harus menuruti kemauan Mami. Bukan cuma dia saja, Damar juga merasakan hal yang sama karena keinginan kalian semua." Pria itu tampak sangar, tak seperti biasanya yang hanya ketus dan datar.


"Kalau Tante malu karena Wulan berasal dari keluarga miskin, Tante batalkan saja pertunangan ini! Wulan malah bersyukur kalau semua ini batal." Aku menimpali.


"Tidaaakkkk! Kamu salah paham maksud Tante seperti apa. Yang Tante maksudkan bukan seperti itu. Tante malu karena nanti harus berhadapan dengan segudang pertanyaan dari mereka, dipikirnya anak Tante gak bisa nafkahi kamu sampai-sampai harus bekerja di coffee shop." Ibu meraih tangan Tante, pikiran Ibu berubah seiring ucapan yang ke luar dari mulut sahabatnya.


"Mam, ini keinginannya sendiri. Buat apa repot harus menyikapi pendapat orang lain? Kita tidak bisa memuaskan semua orang akan keputusan yang kita tentukan. C'mom Mam!" Damar menyudahi perkataannya, dia melangkah pergi meninggalkan kami semua.


Apa yang dia ucapkan memang benar, aku tidak menyangka bahwa dia memiliki prinsip hidup seperti itu. Kita memang tidak bisa membahagiakan semua orang tentang pilihan apa yang kita buat. Setidaknya itu baik untuk diri sendiri, toh, yang menjalani diri sendiri, bukannya orang lain. Buat apa merasa terbebani dengan hal remeh temeh seperti itu?


Tante Iren menghela napasnya, beliau merasa enggan memanggil anaknya. Mulutnya ragu untuk memanggil Damar.


"Ya sudah, kalau itu maumu. Mami izinkan untuk bekerja di sini. Tapi ingat, hanya untuk empat bulan saja. Setelah itu kamu resign dari sini!" Aku bersyukur sekali karena permintaanku dikabulkan oleh Tante. Setidaknya, dalam waktu empat bulan, aku bisa bekerja.


"Makasih Tante," kataku sambil tersenyum.


"I'm coming! Kopi datang." Selena membuka pintu, Pak Dadang masuk membawa dua bucket berisi gelas kopi.


"Ada apa ini? Kok, mukanya pada aneh begitu?" Selena meletakkan empat gelas kopi di atas meja. Tak ada sahutan dari kami.


"Pak, sisanya bawa ke belakang! Cari ajah karyawan Mas Damar, kasih ke mereka, kalau ada lebihnya buat Bapak, kalau gak ada Bapak beli kopi instan botol saja di warung!" Selena terkekeh geli melihat reaksi Pak Dadang yang masam, keusilannya ampuh membuat orang sebal.


"Sana, Pak! Buruan!"


"Iye, Non, iye," sahut pria itu sambil berlalu pergi.


"Kenapa sih? Kok pada tegang semua?" Selena mengernyit, menatap kami bergantian.


"Gak ada apa-apa," jawabku.


Dia bergabung bersama kami, duduk bersebelahan dengan Maminya. Mulutnya berbicara dan bertanya tentang coffee shop ini. Aku duduk bersandar, berusaha menetralkan pikiran dari hal-hal yang negatif.

__ADS_1


Jam demi jam berlalu, senja telah tiba, kami harus segera pulang untuk beristirahat karena harus bersiap untuk acara pertunangan besok. Parahnya, akan tidak diizinkan pulang dengan masuk ke mobil yang disetir Pak Dadang.


"Kamu pulang sama Damar ajah! Bentar lagi dia juga pulang tuh. Bye, Sayang!" Tante Iren menutup pintu kendaraan. Mobil itu segera menjauh dari pelataran parkir.


"Ck, selalu saja begini," keluhku lesu.


"Woi, ngapain Elu? Kenapa gak pulang sama mereka?" Pria itu berdiri tepat di sampingku.


"Biasa, gara-gara Tante, siapa lagi sih."


"Ya sudah, masuk mobil sana!" Dia menekan tombol hitam, mobil itu pun mengeluarkan suara.


"Lah, emangnya kamu masih belum mau pulang?" Aku melihatnya yang berbelok ke arah pintu masuk.


"Ada yang ketinggalan, duluan ajah!" Dia segera berlalu pergi.


Dengan kesal aku masuk ke mobil ini, menutup pintunya, menurunkan kaca jendela sampai pemilik kendaraan ini datang.


Dia masuk tanpa berucap sepatah kata pun, kendaraan ini bergerak cepat. Mulutku menguap beberapa kali, ngantuk mulai menguasai. Aku pun tertidur pulas dengan posisi bersandar.


Tubuhku berguncang beberapa kali, kepala mulai pusing. Kelopak mata perlahan membuka tapi segera menyipit begitu melihat pantulan cahaya yang begitu terang.


"Udah sampe ya." Tanganku menggeliat sampai tak sengaja menampar pipi Damar.


"Sorry, gak sengaja." Aku menangkupkan kedua tangan di depan dada.


"Elu tuh kebiasaan, lihat situasi kek. Ini di dalam mobil, bukan di rumah atau pun di kamar."


"Deileh, ngomel mulu kek emak-emak." Aku bergegas membuka pintu, dia pun menyusul.


"Dasar cewek ileran." Spontan aku mengusap dua sudut bibir, melihat apakah benar apa yang dia katakan.


"Sialan, Damar, aku gak ileran." Aku mengejarnya, dia berlari menjauh. Kami berdua berkejaran sampai mengelilingi tiang teras rumah.


"Damar, tarik gak kata-kata tadi!" Mataku melotot menatapnya.

__ADS_1


"Kagak, Elu emang ileran gitu kok. Mulutnya mangap pas tidur." Dia membuat ekspresi wajahnya yang seolah menirukan aku ketika tidur di mobil tadi.


"Enggak, aku gak gitu. Kamu bohong!" Aku berusaha menggapai tubuhnya, dia menghindar dengan cepat dan mengitari tiang lagi. Kami berdua berputar mengelilingi tiang tersebut.


"Mau nonton videonya? Gue punya nih." Dia mengerjap berkali-kali.


"Bohong, kamu kan sibuk nyetir. Kapan coba ngerekamnya?"tanyaku masih tidak percaya.


"Tentu saja pas udah sampai, gue ngerekam sejak tadi lho, pas udah selesai barulah gue bangunin Elu." Dia tertawa puas setelah berhasil membuatku malu.


"Tau ah, males." Aku mengacuhkannya, sengaja tidak mengejarnya lagi. Kaki melangkah cepat ke dalam rumah.


"Hei cewek ileran." Dia menggodaku lagi, tapi, aku tidak meresponnya. Aku melirik ke arahnya, melihatnya yang sudah semakin dekat, kemudian aku cengkram kerah bajunya. Meninju dadanya beberapa kali.


"Sakit, Lan." Dia meraih kedua tanganku.


"Dih, cowok apaan begitu. Cuma segitu doang sakit."


"Mau gue bales? Biar tahu rasa sakitnya?"


"Cieee, udah main pegangan tangan ajah. Mana dari tadi mesra banget tuh, sampe manggil nama segalanya." Selena duduk menopang dagu di anak tangga. Kami tidak melihatnya tadi.


"Anak kecil, pergi sana!"


"Jangan mau kalau dicium Mas Damar, Kak! Dia itu hobinya gigit orang, bisa-bisa bibir Kakak digigit sampai luka."


"Dibilang minggat, masih ganggu ajah!" Selena terkekeh kemudian dia berdiri, menapaki anak tangga satu persatu.


"Damar, lepasin! Aku mau mandi, udah sore nih."


"Mau berenang gak?"


"Hah, apa? Berenang? Gak mau ah." Aku menolaknya, jujur saja aku tidak bisa berenang. Lagipula aku tidak punya pakaian renang, malu juga kalau harus memamerkan bentuk tubuh pada pria ini. Bukan hanya dia saja, termasuk pria-pria lainnya di luar sana.


"Assalamualaikum, Damar. Gue panggil dari tadi ternyata ada di sini."

__ADS_1


"Loh, kamu kan ... kenapa ada di sini segala?" Aku langsung menepis kasar tangan Damar, melihat seorang pria yang datang ke rumah ini. Dia berdiri di samping sekat rumah yang menghubungkan ruang tengah dan ruang tamu.


"Eum, iya aku di sini karena itu, eum ... karena anu-," gugup sekali sampai aku bingung harus berkata apa.


__ADS_2