
Ada seorang pria muda seumuran aku menghampiri Bapak tadi.
"Pak, Bapak belum pulang? Semua pekerjaan Bapak sudah selesai, kan?" Aku baru menyadari satu hal, ternyata pria paru baya ini adalah karyawan di coffe shop ini. Terlihat jelas bahwa dia dihormati, dugaanku terhadap Wulan ternyata salah besar.
Plakk
Tepukan di pundak membuatku tersentak dari pikiran yang berkecamuk.
"Damar, Elu dengerin obrolan kita, kan? Bengong mulu dari tadi." Andre menepuk sekaligus menegur.
"Eum, gue denger," sahutku singkat. Walaupun tidak tahu apa-apa tentang obrolan mereka.
Minuman dan cemilan yang aku pesan sudah tiba. Kami melanjutkan obrolan lagi. Sudah gatal rasanya tidak mengeluarkan uang selama satu hari ini. Andre sejak tadi mentraktir kami, mulai dari makan siang sampai minum di coffe shop ini.
Sebaiknya, setelah ini aku pergi ke Mall saja. Menghabiskan waktu untuk menghabiskan uang dengan barang-barang yang aku suka.
Hari demi hari telah berganti. Tak terasa, dua bulan telah berlalu. Kak Mutia sesekali datang ke rumah untuk bertemu kami. Ternyata, tak bisa melihat dia setiap hari membuat kami merasakan kehilangan dan kehangatannya. Jujur saja, walaupun dia cerewet dan sok menasehati aku selama menjadi adiknya, tapi, sifatnya yang penyayang membuatku merasa kehilangan.
Pagi ini aku bangun dengan perasaan tak biasa.
Sidang tesisku akan dilaksanakan siang nanti. Deg-degan? Tentu saja, aku sudah menyiapkan beberapa jawaban yang mungkin saja akan ditanyakan oleh empat orang penguji termasuk salah satunya pembimbing. Semua penelitian yang aku kerjakan dari awal akan menjadi akhir ketika di sidang nanti bisa dipertanggungjawabkan. Semoga saja aku mampu melalui proses sidang yang akan dilaksanakan selama satu setengah jam.
Setelah mandi dan sarapan, aku meminta doa pada orang tua dan Selena. Tak lupa juga agar mereka mendukung apa yang aku lakukan setelah sidang tesisku selesai.
Selena harus pergi ke kampusnya karena dia memiliki jadwal kuliah pagi. Sementara aku, dengan perasaan tak menentu harus berusaha semaksimal mungkin untuk tampil memukau di depan para penguji. Beberapa bahan materi yang aku siapkan, aku baca ulang dan memahami lebih dalam lagi.
Aku melihat Papi yang masih berada di dalam rumah, beliau berjalan mendekati Mami dan duduk bersama Mami. Mereka berdua berbincang dengan serius. Aku yang duduk tak jauh dari mereka, jadi penasaran.
"Tumben Papi gak pergi bekerja? Lagi meliburkan diri ya, Pap?" Pandangan kami bertemu.
__ADS_1
"Sengaja, kami berdua mau mengantar kamu ke kampus. Biar kamu semakin lancar sidangnya karena adanya dukungan dari kami." Baru kali ini aku mendengar sebuah perkataan yang begitu membahagiakan.
Bagaimana bisa aku tidak mencintai keluarga? Mereka selalu mendukung apa yang aku lakukan, ya, terkecuali tentang perjodohan itu. Selebihnya, mereka semua selalu mendukung dan memberikan semangat padaku.
"Yakin? Kerjaan di kantor gimana tuh?"
"Ada asisten Papi yang mindahin jadwalnya. Kamu gak usah mikir macem-macem!"
"Oke deh, Pap. Biar Damar ke kamar dulu bentar. Mau mengecek lagi barang-barang yang akan dibawa nanti." Aku meninggalkan keduanya.
Sayup-sayup terdengar suara Mami yang begitu bersemangat.
"Akhirnya, semoga Damar lulus. Mami gak sabar punya mantu seperti Wulan. Anaknya sopan, gak banyak omong dan sederhana." Aku mencebik mendengar perkataan itu yang ke luar dari mulut ibuku.
"Belum tahu aja tuh Mami kalau gadis itu bar-bar dan seenaknya," cibirku lirih, sambil melangkah melanjutkan perjalanan ke arah tangga lantai dua.
Aku berusaha mengecek barang lagi, biasanya, kamar ini begitu berantakan. Kalian tahu sendiri, kamar pria bujang itu seperti apa. Kamarku juga sama seperti pria bujang lainnya, yang membedakannya hanya ada di meja belajar. Buku-buku yang aku punya tetap tertata rapi. Lagipula, ada Bibi yang membersihkannya. Jadi, aku bisa santai tidak perlu repot-repot.
"Kita berangkat sekarang ajah. Damar sudah siap nih, walaupun ada rasa berdebar-debar." Aku meraih tas ransel yang berisi bahan dan barang-barang keperluan selama tesis.
"Oke, ayo berangkat!" Mama begitu bersemangat. Mereka berdua berjalan saling bergandengan tangan.
Kami diantar oleh pak sopir. Terpaksa aku mengikutinya. Kami memang golongan orang mampu. Tapi, kalau disamakan dengan crazy rich, tentu saja berbeda. Papi masih harus bekerja sebagai seorang direktur utama. Perusahaan itu juga bukan milik keluarga. Karena itulah, orang tuaku menginginkan kami—anak-anaknya untuk menggeluti dunia bisnis dan tidak terpaku pada jam kerja ketika bekerja di kantor.
Kami tiba di kampus, semuanya ke luar dari kendaraan kecuali pak sopir. Aku segera mencari ruangan yang digunakan untuk sidang tesis.
Semoga power points yang gue siapkan untuk presentasi nanti bisa membuat mereka berpikir bahwa gue layak lulus pasca sarjana.
Aku berusaha menenangkan diri, orang tuaku menunggu di kursi yang jaraknya lebih jauh. Karena mereka tidak mau mengganggu konsentrasi beberapa mahasiswa yang sedang duduk menatap layar laptopnya.
__ADS_1
Aku masuk setelah mendapat giliran. Kucoba untuk menghela napas sejenak dan berusaha menenangkan diri dan pikiran. Aku harus tetap fokus.
***
POV Wulan
Ibu dan Bapak begitu bergembira karena satu bulan lagi aku akan bertunangan dengan Damar. Mereka bergantian mengobrol denganku via telepon. Malas rasanya harus mendengar hal yang diulang-ulang sejak awal percakapan. Siang ini aku masih berada di kost-an, jatah libur hanya dihabiskan untuk beristirahat di kamar tanpa berbuat apapun kecuali makan.
"Pak, udah ya. Dari tadi ngomongin Damar terus." Aku berusaha memutuskan panggilan lebih dahulu.
"Jangan gitu dong, Lan!" Malah suara Ibu yang terdengar.
"Wulan mau tidur lagi. Mumpung libur mau istirahat sebentar, capek sekali seminggu ini, Bu, Pak."
"Ya udah, jangan sampai lupa hubungi Iren. Gak usah banyak alasan, nanti Ibu sampaikan pada Iren kalau nomornya sudah Ibu kasih padamu."
"Iya,Bu." Panggilan telepon terputus.
Aku menghela napas panjang, padahal sengaja pura-pura lupa biar mereka tidak tahu nomor hapeku. Tapi, malah begini jadinya. Aku sudah tidak bisa berkutik lagi ketika Tante Iren tahu nomor teleponku, beliau pasti menghubungi kapanpun sesukanya.
Aku melempar hape di atas kasur. Badan ini kurebahkan sejenak sebelum tidur siang. Tapi, ada suara ketukan pintu yang membuatku terganggu. Ketukan pintu itu tidak mau berhenti.
"Siapa sih? Pasti orang sebelah deh, ck." Aku bangkit, mencoba mengintip dari jendela kaca. Tapi, ternyata aku salah, ketukan pintu tersebut dari depan kamarku.
"Siapa ya? Aku tidak punya teman-teman yang tahu tentang kost-an ini, kecuali rekan kerja di coffe shop.
Pintu kamarku masih saja diketuk dengan tidak sabar.
Aku memutar kenop pintu begitu pelan. Melihat siapa yang ada di luar sana. Mata ini terbelalak melihat keberadaan seseorang di balik pintu.
__ADS_1
Tidak mungkin, kenapa bisa tahu kalau aku ngekost di sini?
Kaki ini seperti lemah tak berdaya, aku berusaha untuk tersenyum walaupun sebenarnya malas melihat keberadaan seseorang di depanku.