
"Wulan." Dia mengguncang tubuhku.
"Paan sih, sakit tau!" Cengkramannya begitu terasa.
"Elu dari tadi bengong, mikirin apaan?" tanyanya menatapku lekat.
"Aku rasa cara ini terlalu ekstrim. Aku takut." Lebih baik aku mengatakannya daripada aku pendam sendiri.
"Cuma ini satu-satunya cara. Kita melakukannya sebulan setelah acara pertunangan. Kita hanya akting, tidak melakukannya beberan."
"Iya, tapi, tetap saja nama baik keluarga yang dipertaruhkan. Kalau banyak orang yang tahu bagaimana? Bagaimana kita akan menjelaskannya pada mereka?" Memang beginilah aku, selalu over thinking terhadap sesuatu yang belum pernah aku lakukan sebelumnya.
"Udahlah, gak usah dipikirin sekarang! Kita masih punya waktu." Dengan santai, Damar merubah posisi duduk. Paha kanannya menumpu di paha kiri. Dia bersiul senang. Memang idenya itu brilian, tapi, ada konsekuensi yang harus kita terima, bahkan dua keluarga.
Kami masuk kembali ke rumah, kembali ke kamar masing-masing. Kurebahkan diri di atas ranjang yang empuk. Pikiran ini berserabut tak menentu. Lama kelamaan, aku menguap tanda mengantuk sudah menguasai. Mata terpejam tak sadarkan diri.
***
Tok, tok.
Suara ketukan pintu membuatku terbangun. Aku meraih hape, melihat waktu sekarang.
"Astaga, aku telat bangun." Tanpa berpikir panjang, aku tergopoh mendekati pintu kamar kemudian memutar kenopnya.
"Non Wulan. Maaf mengganggu, ditunggu Ibu di meja makan."
"Maaf, Bi. Aku telat bangunnya, aku mandi dulu." Pintu kamar tertutup. Bergegas aku masuk ke kamar mandi. Jam tujuh baru bangun, bisa-bisa kena semprot tuan rumah.
Entah kenapa aku merasa nyaman di tempat tidur, mungkin karena efek ranjangnya yang empuk membuat tidur lebih pulas.
Aku berganti pakaian, ke luar dari kamar, berjalan mengendap-endap.
"Wulan, ngapain?" Pria itu berkacak pinggang, alisnya bertaut.
"Hehehe, malu kalau ketemu kalian. Aku telat bangunnya," cengirku merasa tak enak.
__ADS_1
"Kelakuan tuan putri memang begitu." Dia mencengkram pergelangan tangan, menarikku untuk mengikuti langkahnya.
"Mau ke mana?"
"Sarapan, gue udah laper, makanya gue susul." Aku menyapa penghuni rumah ini setelah tiba di meja makan. Meminta maaf pada mereka karena terlambat hadir di meja makan. Kami menyantap hidangan pagi tanpa berkata apa-apa. Hanya ada suara sendok garpu yang beradu dengan piring.
Selesai sarapan, kami menjalani aktivitas sehari-hari. Kecuali aku dan Tante Iren.
"Katanya acara wisuda, Tan. Kenapa rumahnya malah mendadak sepi?"
"Selena masih ada kelas kuliah, Om kamu harus bekerja sampai jam dua belas. Sementara Damar harus pergi ke coffe shop cabang barunya untuk memeriksa keadaan di sana."
"Mau buka yang baru? Di mana, Tan?"
"Di Jakarta Barat, jalan Mandala Utara."
"Lumayan jauh dari sini, Tan."
"Betul, tapi, kalau dia sanggup kenapa tidak?"
"Tapi, acaranya nanti bagaimana?"
"Mau ke mana, Tan?"
"Sudah, ikut saja! Kita ke SPA dulu untuk melemaskan otot-otot." Wajah beliau begitu berbinar.
Kami berdua masuk ke dalam taksi online, kendaraan ini meluncur memecah jalanan ibu kota di pagi hari. Sudah hampir jam sembilan pagi. Kami turun setibanya di tempat tujuan.
"SPA-nya gede banget," lirihku takjub.
"Ayo masuk, Sayang!" Beliau menggandeng tanganku. Kami berdua masuk dan disambut dengan salah satu karyawan.
"Sepertinya mahal, Tan," gumamku pelan. Aku melirik harga pada katalog yang Tante Iren pegang.
"Santai saja! Toh kita gak tiap hari begini. Nikmati saja!" Kami terpisah ruangan karena memakai jasa pelayanan yang berbeda.
__ADS_1
Aku masuk ke sebuah tempat yang ada tempat tidurnya. Ada bolongan di kepala, aku disuruh melepaskan pakaian. Karyawan itu memberikan handuk untuk melilit tubuhku. Setelah itu, aku dibimbing naik ke ranjang seperti brankar di RS. Aku berbaring telungkup, hidungku bisa bernapas berkat lubang tadi. Karyawan itu memijat punggungku.
Aku merasa rileks dan enteng. Terkadang, pijatannya terasa sakit di titik tertentu. Setelah sesi pijat selesai, ada dua sesi lainnya yang harus dikerjakan. Entah berapa lama kami di sini, Tante Iren masuk ke ruanganku. Beliau terlihat lebih fresh dari sebelumnya.
"Kita ngurusin wajah sekarang, ayo kita pindah lagi!" Aku memakai kembali bajuku dan mengekori beliau.
"Tan, udah jam sepuluh lebih. Apa gak bakalan telat kalau begini?"
"Tenang saja! Salon kecantikannya pas di samping SPA ini, ayo!"
Aku mengikuti beliau, tak membantah lagi. Lebih baik aku ikuti saja kemauan Tante Iren daripada harus berdebat dengannya.
Kami masuk, duduk di tempat yang sudah disediakan. Ada karyawan yang mendekat, kami dibimbing ke dalam ruangan. Tante berkonsultasi dengan masalah wajahnya dan menunjuk wajahku. Kami mendengar penjelasan dokter kulit. Beberapa menit kemudian, kami masuk ke ruangan berbeda.
Aku melihat alat-alat yang belum pernah aku lihat sebelumnya. Mau bertanya tapi khawatir membuang waktu mereka karena meladeni pertanyaanku.
Aku pasrah, menurut pada apa yang mereka kerjakan. Mereka sudah selesai dengan pekerjaannya, aku kembali ke sebuah ruangan dan melihat Tante Iren. Wajahnya begitu cerah dan sehat.
"Kamu lihat kaca tuh!" Tunjuk beliau.
"Wah, kenyel-kenyel gini, Tan." Aku menekan pipi berulang kali.
"Manjur, langsung ngefek. Ayo kita pulang dan bersiap! Gak usah dandan menor, kita berdua udah cantik alami." Wanita paru baya itu terkekeh.
"Tante bisa ajah." Kami berdua ke luar dari tempat ini. Taksi sudah menunggu, kami masuk dan kendaraan ini segera meluncur pergi.
"Tan, udah jam dua belas kurang sepuluh menit nih. Wulan mau mandi lagi terus siap-siap." Kami sudah berada di depan teras rumah.
"Pas banget kan, waktunya?" Aku mengangguk.
Kami kembali ke kamar masing-masing, bersiap-siap untuk menghadiri acara wisuda Damar. Aku berdandan seperlunya saja. Tidak perlu terlalu mencolok, aku tidak suka. Kebaya modern yang aku gunakan terlihat pas di lekuk tubuh. Kutata rambut agar terlihat menawan dan menarik. Tengkukku terlihat jelas karena rambut ini sengaja aku sanggul tapi dengan sanggul masa kini yang sudah aku pelajari sebelumnya.
"Ini karena aku tidak mau mempermalukan keluarga tante Iren dan diri sendiri." Aku menatap pantulan diri di cermin.
"Wulan, udah siap belum?" Suara itu, suara Damar. Aku bersemangat untuk membuka daun pintu. Tatapan kami beradu sepersekian detik. Aku melihat penampilannya yang lebih resmi kali ini. Dia terlihat segar dengan rambut klimis itu. Penampilannya seperti seorang pria yang berwibawa, aku tidak salah memilih baju couple ini. Dia cocok memakainya.
__ADS_1
Tiba-tiba dia menarik pinggangku, tubuh kami menempel. Wajahnya mendekati leherku, embusan napasnya terasa panas.
"Damar, kamu ngapain?" Aku berusaha mendorong tubuhnya. Detak jantungku sudah tidak karuan rasanya. Ada sesuatu yang bergejolak dan berdesir hebat.