Damar (Bukan) Untuk Wulan

Damar (Bukan) Untuk Wulan
Pesta Pertunangan part 2


__ADS_3

"Selamat ya, gue gak nyangka ternyata cewek yang Elu bawa pas wisuda kemarin itu adalah calon istri Elu." Perempuan ini mengulurkan tangannya, tapi, aku mengacuhkannya.


"Sejak kapan Elu ada di daftar undangan tamu acara ini?" Tatapanku sinis..


"Gue ke sini karena ini." Dia menunjukkan kamera digital. Keningku mengerut seolah meminta penjelasan yang lebih.


"Gue ke sini karena pekerjaan, ini pekerjaan sampingan gue sebelum diterima kerja di perusahaan." Dia menjelaskan.


"Owh," sahutku acuh.


"Damar, kamu gimana sih? Ngapain di sini? Ayo kita berkumpul! Acaranya sebentar lagi di mulai." Tanpa ba-bi-bu lagi, Mami menarik lenganku.


"Selamat bekerja!" Dia tersenyum ke arahku.


Aku tidak tahu bahwa lulusan pasca sarjana sepertinya, mau mau saja menjadi videografer di acara pertunangan ini. Lusi, Lusi, syukurlah ini hanya pekerjaan sampingan.


Tamu undangan sudah memenuhi ballroom hotel. Pemandu acara mulai bersuara. Lebih baik, aku tidak bercerita tentang satu persatu acaranya, karena menurutku begitu membosankan. Apalagi mulutku ini sudah kaku saking lamanya berusaha tersenyum tipis ke arah mereka yang menyapa.


Tibalah acara tukar cincin, kami berdua naik ke atas panggung dengan dekorasi ala lamaran atau yang disebut backdrop. Setelah pemandu acara menyampaikan pesannya, kami mulai bertukar cincin.


Wulan terlihat gugup, tangannya bergetar hebat. Aku berusaha untuk menenangkannya, kuremas tangannya agar dia bisa tenang. Kami bertukar cincin begitu ada arahan dari pemandu acara. Semuanya bertepuk tangan ketika cincin sudah melingkari jari manis kami berdua.


Banyak pasang kamera menyoroti kami berdua di atas sini, aku berusaha memaksakan senyum. Wulan meremas tangannya, di sudut matanya ada yang hendak terjatuh. Aku berusaha mengusap air matanya yang hendak mengalir dengan pelan.


"Elu kenapa nangis begini? Terharu ya karena tunangan sama gue?"


"Ck, yang benar saja. Aku sedih kenapa gak bisa bertunangan dengan orang yang aku cintai." Suaranya terdengar samar-samar.


"Elu pikir gue mau begini? Ini semua karena orang tua kita yang kolot. Zaman udah touchscreen tapi pikiran mereka masih telepon berkabel."


"Kita harus secepatnya melakukan rencana itu." Kami berdua malah mengobrol di atas backdrop sampai-sampai ditegur oleh pemandu acara. Kami berdua turun, menghampiri meja masing-masing dan duduk di sela-sela anggota keluarga lainnya. Tamu undangan mulai menikmati hidangan. Aku malas untuk mengisi perut, tadi sebelum berangkat sempat makan roti keju dan yogurt. Jadi, perut ini tidak perlu diisi lagi.


Ngantuk mulai menguasai, beberapa kali aku menguap dan lupa menutup mulut, sampai-sampai Mami bergerak cepat menutupnya.

__ADS_1


"Kamu kok bisa ngantuk begini? Masih sore ini, Damar." Beliau mencubit pahaku.


"Ck, Mam." Kutepis tangan itu.


"Kapan sih kelarnya? Perkenalan keluarga ajah dari tadi gak kelar-kelar juga. Damar udah bosen." Bukannya mengeluh, aku hanya menunjukkan reaksiku terhadap acara ini.


"Kamu itu, ini acara penting kalian. Masih saja jadi pengacau di acara sendiri."


"Nope, ini bukan acara kami. Ini acara kalian, para orang tua kami yang egois."


"DAMARRRRR!" pekikan suara Mami membuat perhatian tamu undangan teralihkan.


"Mam." Selena yang duduk di samping Mami menyenggol pinggangnya.


"Heheh, maaf semuanya. Damar usil, jahilin Maminya." Mami mencairkan suasana, senyumnya tampak sekali dipaksakan. Tamu undangan beraktivitas seperti biasa.


"Awas kamu nanti," bisik wanita yang melahirkan aku.


"Terserah." Sengaja aku sahut agar amarah Mami terpancing kembali. Aku yakin sekali kalau seorang Ibu itu tidak suka didebat, tidak suka dikomentari oleh anak mereka sendiri. Mereka merasa bahwa pengalaman hidup yang mereka alami lebih banyak ketimbang anak-anaknya, karena itulah mereka selalu mendominasi sebuah keputusan tanpa ada perbincangan terlebih dahulu pada anak-anaknya. Itulah sifat Ibuku yang mendominasi kami—anak-anaknya. Aku sudah bosan hidup dengan aturan mereka, bahkan dengan perjodohan ini.


Tanpa menyahut, aku menggeser kursi. Tak kuhiraukan ucapan Mami dan melenggang pergi dari tempat ini. Tujuanku hanya satu, ingin segera masuk toilet. Sesampainya di sana, aku mencuci wajah di wastafel. Berusaha untuk meredam rasa kantuk. Aku termenung seorang diri, menatap tampilan diri pada pantulan cermin.


Entah apa yang kurasakan saat ini, antara marah, kecewa, bahagia, dan khawatir bercampur aduk menjadi satu. Baru kali ini, di usia yang sebentar lagi dua puluh enam tahun, aku merasakan emosi yang berbaur menjadi satu.


Tak kuhiraukan orang-orang yang ke luar masuk. Badanku tetap tak bergeming dari tempatnya. Aku merapikan rambut yang masih lembab karena terkena air untuk membasuh wajah tadi. Setelah rapi, aku berusaha mengembuskan napas sejenak barulah aku ke luar dari ruangan ini.


Baru beberapa langkah, ada suara yang memanggilku.


"Damar!" Aku menoleh, menatapnya datar, tak kuhiraukan panggilannya.


"Damar, Elu kenapa? Sakit? Wajah Elu pucat," cecar perempuan ini. Aku hanya menggeleng cepat, melanjutkan langkah tanpa mempedulikan keberadaan Lusi.


"Damar, Elu dijodohin ya? Gue denger tadi ada yang ngomongin ini waktu acara tukar cincin." Perkataannya membuatku menghentikan langkah.

__ADS_1


"Jangan dengerin mereka! Mereka tidak pernah tahu perasaan kami berdua," sahutku sambil berlalu pergi.


"Tunggu dulu!" Lusi merentangkan kedua tangannya di depanku. Dia berhasil menyusul.


"Gue tahu Elu terpaksa menerima semua ini. Begitu pun dia, gue sebagai seorang perempuan tahu kalau dia itu tidak mencintaimu." Mendengar perkataan Lusi, ada rasa sakit di ulu hati.


"Elu gak usah ikut campur dalam urusan gue! Ingat Lusi, Elu itu temen karena kita pernah satu jurusan, gak lebih. Jangan sok tahu tentang perasaan kami."


"Damar, Elu tahu tidak?" Aku menautkan kedua alis.


"Mas Damar!" panggilan itu membuat obrolan kami terputus.


"Apaan, Sel?" Aku menoleh padanya.


"Lho, siapa tadi Bang?" Selena mengintip dibalik tubuhku.


"Owh, dia itu-," Ketika menoleh ke arahnya, Lusi sudah tidak ada di tempatnya semula.


"Ayolah kita ke sana! Tamu undangan sebentar lagi pulang. Acaranya juga hampir selesai." Dia mendorong punggungku.


"Elu duluan saja! Nanti gue susul." Selena menghentakkan kakinya, dia tampak kesal karena aku tidak mengikuti langkahnya.


"Damar," suara itu kembali terdengar.


"Lusi, Elu tadi ke mana?"


"Sorry, mendadak gue kebelet, heheh." Dia menyengir sebentar kemudian berubah serius.


"Elu ngomong apa tadi?" Sebenarnya malas menanyakan hal ini. Tapi, membuatku penasaran juga karena aku tidak pernah melihat raut wajahnya yang begitu serius seperti tadi.


"Eum, sebenarnya-," Dia menggantung ucapannya sambil menghela napas panjang.


"Sebentar gue suka sama Elu." Baru kali ini aku mendengar pengakuan seorang perempuan.

__ADS_1


Aku mendengar suara benda yang terjatuh. Suara itu membuat perhatianku teralihkan. Aku mencari asal suara, dia berlari, sesekali melihat kami dan terus menjauh. Aku harus menyusulnya.


"Damar!" Tak kuhiraukan panggilan Lusi. Aku melangkah cepat mencari keberadaannya.


__ADS_2